Bab 161: Burung Manting Terakhir di Belakang
Setetes darah, sedikit warna merah cerah, persis sama dengan warna yang terpancar dari sepasang mata Xu Lin.
Xu Lin sedang tersenyum, menggenggam erat pedang Giok Dingin di tangannya, sedikit demi sedikit terus menembus ke dalam rongga otak orang yang datang itu. Menatap wajah yang telah berubah kelabu karena kematian itu, kedua mata Xu Lin memerah, dipenuhi dengan rasa kegembiraan yang meluap-luap.
Ia ingin mengulurkan tangan untuk membelai wajah yang telah kehilangan jiwa itu, ingin menikmati sensasi saat suhu tubuh itu memudar sedikit demi sedikit. Itulah bukti bahwa kehidupan sedang musnah, dan segala sesuatu ini membuat Xu Lin merasakan ekstasi yang teramat sangat.
Membunuh adalah sebuah proses yang mendatangkan kenikmatan!
Tanpa bergerak, Xu Lin masih berbaring di dalam kepompong darah, diam-diam menatap wajah yang sudah tak bernyawa itu, lalu perlahan-lahan menarik pedang Giok Dingin dari rongga otak si korban. Pada saat itu, sebuah suara benturan keras tiba-tiba terdengar dari luar kepompong darah.
Asap mengepul memenuhi lorong di segala penjuru. Ketika kilatan petang dan angin badai berhamburan ke mana-mana, tiga sosok manusia terpisah ke dua arah secara bersamaan. Tubuh Sun Kuian berputar cepat di udara, dan ketika ia menoleh sambil berniat melarikan diri, sepedang cahaya dingin melesat lurus menusuk ke depan matanya.
Menghentikan gerak tubuhnya yang berada di udara, ia lalu berbalik dan mundur dengan tergesa-gesa. Namun, tepat di belakangnya, embusan angin dingin yang menusuk tulang tiba-tiba kembali bertiup kencang.
Sambil merapal firasat buruk di dalam hati, Sun Kuian mengibas mundur bendera besar di tangannya. Gelombang cahaya petang yang menderu bagaikan naga banjir yang keluar dari Laut bangkit menerjang ke depan. Pada saat yang sama, Li Shijie tertawa kecil dan membentangkan kipas lipatnya. Lapisan lingkaran angin mendadak terbentuk di dasar naga petang tersebut, lalu berputar berlapis-lapis hingga membentuk sebuah angin puyuh kecil. Dengan corong angin yang setajam pisau, angin puyuh itu dalam sekejap memadamkan sambaran petang tersebut hingga tak tersisa.
Memanfaatkan kesempatan ini, tubuh Sun Kuian melesat ke atas. Dengan pandangan yang menyapu cepat, ia mendapati jalan di depan maupun di belakang lorong ternyata telah sepenuhnya diblokade oleh Li Shijie dan Zhirou.
Tiada jalan di depan, tiada pula jalur di belakang. Menatap kepompong darah di posisi tengah, lalu melihat orang yang masih merangkap di atas kepompong tersebut, kilatan kejam melintas di mata Sun Kuian. Ia lantas berbalik dan menerjang ke sana.
Li Shijie melihat ke arah tujuan Sun Kuian, lalu berteriak keras kepada orang yang masih menelungkup di atas kepompong, "Luoli, cepat bangkit!"
Orang yang dipanggil Luoli itu tidak menunjukkan reaksi sama sekali. Wajah Li Shijie berubah menjadi sangat suram, dan tubuhnya pun langsung bergerak.
Namun, tepat saat Sun Kuian hampir mendekat, Luoli tiba-tiba bangkit. Saat ia menoleh, sebilah pedang telah tergenggam di tangannya, dan ia langsung menusuk dengan cepat.
Bilah pedang yang lurus dan tajam itu datang disertai suara deru angin yang memekakkan telinga. Bendera besar di tangan Sun Kuian tiba-tiba terkembang melawan angin, lalu dengan cepat membungkus pedang tajam yang sedang melesat menusuk itu secara keseluruhan. Ketika kilatan petang yang ganas bagaikan ular merayap dan berkeliling ke mana-mana, tangan Luoli yang memegang pedang mengeluarkan bau hangus. Kendati demikian, laju orang ini tidak berhenti sedikit pun, bahkan ia menerjangkan seluruh tubuhnya maju.
Li Shijie kebetulan menyaksikan pemandangan ini, dan ia juga melihat luka yang tampak mengerikan di wajah Luoli. Gerakannya langsung terhenti, lalu ia menarik tangan Zhirou yang hendak maju ke depan seraya berkata, "Lihat situasi dulu, ada kejanggalan!"
Kilatan petang menjadi amat panas, melata dan berkeliling ke seluruh tubuh Luoli bagaikan kelabang. Di tengah kepulan asap tipis dan semerbak bau hangus yang membubung, Sun Kuian berteriak lantang, "Bocah bodoh yang tidak tahu takut! Karena begitu terburu-buru mencari mati, akan Kukirim kau ke alam sana."
Usai berkata demikian, cahaya petang pada bendera besar di tangan Sun Kuian berkobar hebat. Kulit di sekujur tubuh Luoli mengepulkan asap tipis, menghitam dan mengelupas, sementara helai rambut serta pakaiannya mulai terbakar satu persatu. Kendati demikian, laju Luoli tetap tidak berubah, seakan-akan orang ini sama sekali tidak memiliki rasa sakit.
Zhirou yang berdiri tidak jauh dari sana menutup mulutnya dengan lembut, menatap Luoli yang mengamuk bagaikan hantu dengan penuh keterkejutan, melihat bagaimana ia terus maju tanpa memperdulikan nyawanya. Sementara itu, kedua alis Li Shijie telah berkerut rapat. Ia mau tidak mau menoleh untuk melirik kepompong darah yang telah robek itu. Sebenarnya apa isi benda di dalam sana, hingga mampu membuat Luoli menjadi gila seperti ini!
Melangkah melewati bendera besar yang diselimuti petang membara, sekujur tubuh Luoli di udara tampak hangus terbakar, persis seperti baru saja keluar dari dalam oven pemanggang, sama sekali tidak menyisakan wujud manusia. Dengan wajah yang sudah hancur tak dikenali lagi dan mata melotot lebar, ia menerjang hingga tepat di depan Sun Kuian, lalu mencengkeram tangan besar musuhnya yang memegang bendera, membuat Sun Kuian terperanjat dalam kepanikan.
"Enyahlah!" Bentak Sun Kuian dengan suara tajam sambil berusaha mengempas lepas tangan Luoli yang panas membara itu. Namun, bagaimanapun ia mencoba, tangan itu tidak dapat dilepaskan. Luoli terus mendesak maju ke sisi Sun Kuian, mendekap erat tubuhnya, lalu membuka lebar mulutnya yang penuh daging tercabik dan merobek leher Sun Kuian dengan giginya. Sun Kuian menjerit kesakitan bagaikan babi yang hendak disembelih, suara jeritan itu terdengar begitu memilukan.
Ini sama sekali bukan lagi pertarungan antar para praktisi, melainkan telah berubah menjadi pertarugan fisik antara binatang buas.
Namun, kelemahan fisik para praktisi kini tampak begitu jelas pada diri Sun Kuian. Ia terlihat ditekan jatuh ke udara oleh Luoli yang sudah separuh manusia separuh hantu, lalu meluncur jatuh secara vertikal ke bawah. Sun Kuian meronta sekuat tenaga, tetapi semua itu sia-sia belaka, hingga sebuah suara debuman keras bagaikan benda berat yang menghantam tanah bergema, dan segala sesuatunya pun kembali hening.
Li Shijie dan Zhirou mengedarkan pandangan mereka. Tampak Luoli terbaring tak bergerak di atas tubuh Sun Kuian di atas tanah di dalam lorong yang tidak jauh dari mereka. Lalu, bagaimana dengan Sun Kuian? Ia sudah lama kehilangan nyawa; kepalanya telah hancur berkeping-keping dengan otak dan darah terciprat di mana-mana, sementara tulang-tulang yang patah menonjol keluar dari keempat anggota tubuhnya. Orang ini tewas begitu saja?
Li Shijie benar-benar tidak habis pikir mengenai apa yang sebenarnya telah terjadi pada diri Luoli hingga mampu membuatnya menjadi begitu gila. Ia lantas kembali mengalihkan pandangannya ke arah kepompong darah tersebut, di mana seorang wanita yang belum sadarkan diri tergeletak di sisinya. Segala hal ini terasa begitu aneh.
Li Shijie merasa gentar, tetapi didorong oleh rasa penasaran, ia tetap dikuasai oleh keinginan untuk melangkah maju dan melihatnya sendiri. Misteri apa yang sebenarnya tersembunyi di dalam kepompong berwarna darah itu hingga sanggup mengubah Luoli menjadi wujud seperti itu.
Mengulurkan tangan untuk menggenggam tangan Li Shijie, tangan kecil Zhirou terasa sangat dingin. Justru karena secercah rasa dingin inilah Li Shijie berhasil mendapatkan kembali kesadarannya. Benar, di sini masih ada satu orang yang bisa dimanfaatkan.
"Zhirou, pergilah dan lihat harta apa sebenarnya yang tersembunyi di dalam kepompong darah itu. Aku akan maju ke depan untuk memeriksa keadaan Luoli dan Sun Kuian."
"Aku takut, Kakak Seperguruan. Bisakah kita pergi bersama saja?" Ucap Zhirou dengan wajah dipenuhi ketakutan.
"Boleh saja. Tapi kalau nanti kau melihat pemandangan kepala Sun Kuian yang hancur berkeping-keping serta wujud Luoli yang hangus sekujur tubuh, kau tidak boleh rewel padaku ya!"
Li Shijie berkata dengan wajah tanpa ekspresi, sengaja menyisipkan nada menyeramkan dalam suaranya. Mendengar ucapan Li Shijie tersebut, Zhirou buru-buru melirik sekilas ke arah tempat Sun Kuian dan Luoli tewas mengenaskan di depan sana. Ia sontak menciutkan lehernya karena ketakutan, lalu mengerucutkan bibirnya dengan sangat enggan dan berkata, "Kalau begitu, aku tetap akan pergi melihat harta itu saja! Tapi, Kakak Seperguruan harus berhati-hati ya!"
Li Shijie memasang ekspresi cerah ceria seraya berkata, "Tenang saja." Begitu kalimat itu usai diucapkan, Li Shijie melangkah pergi dengan langkah mantap dan tidak berantakan, tampak begitu santai seolah-olah sedang berjalan-jalan di taman belakang rumahnya sendiri.
Melihat sikap santai Li Shijie ini, perasaan Zhirou yang tadinya sempat merasa ciut pun ikut mereda. Ia kembali menatap kepompong darah yang tampak ganjil itu, menarik napas dalam-dalam, lalu berjalan mendekat dengan perasaan penasaran bercampur gelisah.
Sambil melirik tipis untuk mengamati Zhirou, Li Shijie tertawa dalam hati menertawakan kenaifan dan kebodohan wanita ini. Setibanya di dekat mayat Sun Kuian dan Luoli, ia terlebih dahulu memeriksa kondisi kedua jenazah tersebut secara hati-hati, dan setelah mendapati bahwa kedua orang ini benar-benar sudah mati tanpa harapan hidup, ia lantas memusatkan seluruh perhatiannya pada sosok Zhirou.
Wanita berwajah manis dan bersikap lembut ini telah kehilangan keangkuhannya seperti saat memegang kendali kemenangan tadi. Di hadapan keanehan kepompong darah tersebut, rasa takut justru mendominasi sebagian besar hati Zhirou.
Kepompong darah itu terdiam di tempatnya tanpa mengeluarkan suara, sementara celah yang robek tampak bagaikan mulut menganga dari sesosok monster, terbuka lebar dengan menyeramkan ke arah Zhirou.
Dengan langkah ringan ia maju mendekat, melirik sekilas ke arah Chen Wanru yang masih terbaring pingsan di tanah. Melihat wanita itu tidak menunjukkan tanda-tanda akan sadar, rasa leganya sedikit membuncah. Ia kemudian mengulurkan tangan yang sedikit gemetar, lalu membelai bagian tepi kepompong darah yang robek tersebut.
Sensasi aneh menjalar kembali ke dalam tubuh Zhirou, membuat ekspresi wajahnya sedikit menunjukkan keterkejutan, sebab sensasi ini terasa sangat ajaib, seolah-olah ia sedang menyentuh sebuah makhluk hidup.
Melangkah maju selangkah lagi, Zhirou sedikit membungkukkan badannya. Tepat ketika ia berniat mengintip untuk melihat benda apa yang ada di dalam sana, Li Shijie telah memfokuskan seluruh perhatiannya kepada Zhirou, bahkan ekspresinya sempat menunjukkan secercah rasa tidak sabar.
Dingin dan cepat, sebilah pedang tanpa belas kasihan kembali menusuk maju. Ketika Xu Lin yang bersembunyi di dalam kepompong melihat wajah Zhirou, tusukan pedang ini langsung dilancarkan.
Namun, bagi seseorang yang sejak awal sudah diliputi rasa takut, ketakutan justru memberikannya kewaspadaan ekstra, tidak seperti Luoli sebelumnya yang terburu-buru dan bertindak tanpa perhitungan. Oleh karena itu, meskipun tusukan pedang Xu Lin sangat cepat, Zhirou tetap berhasil menghindarinya.
Kendati demikian, pada raut wajah Xu Lin yang menyeringai kejam tidak terdapat kekecewaan yang berlebihan, sebab semua ini sudah berada dalam perhitungannya. Berhasil menusuk Luoli secara telak sebelumnya saja sudah merupakan sebuah keberuntungan besar, jadi jika tusukan pedang kali ini meleset, ya sudah biarkan saja meleset!
Mengeluarkan pekikan terkejut, Zhirou yang baru saja berhasil menghindari pedang dingin Xu Lin berniat melompat mundur. Namun, tubuhnya yang baru saja melesat ke udara dan melenting ke belakang itu tiba-tiba membeku di udara, lalu dengan kepala di bawah ia menghantam keras ke tanah. Sementara kedua lengannya tetap menempel di atas kepompong darah, dengan posisi menyerupai orang yang sedang melakukan gestur bersujud agung.
Sambil memegang pedang Giok Dingin, Xu Lin melompat keluar dari kepompong darah pada saat itu juga. Ia berdiri tepat di sisi Chen Wanru, lalu menatap Zhirou yang sedang merintih di atas tanah dengan nada penuh canda mengejek, "Nona, untuk apa bersujud sebesar ini kepada saya?"
Ekspresi wajah Li Shijie berubah terkejut terlebih dahulu, namun begitu melihat Xu Lin melompat keluar dari kepompong darah, air mukanya langsung berubah menjadi sangat buruk.
"Kecerdikan yang luar biasa, cara yang hebat! Penyergapan dan siasat yang diatur oleh rekan Dao ini sungguh luar biasa aneh!" Li Shijie telah bangkit berdiri. Sambil menatap tajam ke arah Xu Lin, kipas lipat di tangannya telah dibentangkan, menandakan ia siap bertarung sekuat tenaga.
Sambil menangis Zhirou bangkit berdiri. Dengan wajah dipenuhi rasa masgul, ia menatap ke arah Li Shijie lalu berteriak memanggil, "Kakak Seperguruan, selamatkan aku! Tanganku menempel erat, tidak bisa ditarik lepas!"
Mendengar ucapan tersebut, Li Shijie mengerutkan kening dan mengalihkan pandangannya ke arah posisi kedua tangan Zhirou berada, yang tak lain adalah bagian tepi dari celah kepompong darah yang robek itu. Namun, satu lagi pemandangan yang amat ganjil kembali terjadi, diiringi dengan suara tawa kemenangan Xu Lin yang berkata, "Rekan Dao, maafkan ketidaksopanan saya, saya menginginkan nyawa Anda!"