Bab Lima Puluh Delapan: Tindakan
Sepasang mata kecil milik Sang Leluhur Tengkorak menatap penuh kebencian pada wanita berwujud ular putih. Api petir yang sebelumnya disemburkan Naga Awan ke tubuhnya kini telah padam, hanya asap kebiruan yang terus mengepul dari luka-luka yang memenuhi badannya. Namun, ia sama sekali tak peduli pada luka-luka itu, matanya hanya berisi kebencian yang membara.
Bagaimana mungkin Sang Leluhur Tengkorak tidak membenci? Semua siasatnya gagal total; setelah terluka parah, kini ia dikepung dari segala arah. Tak tampak sedikit pun kesempatan untuk membalikkan keadaan, namun ia tetap belum mau menyerah. Baginya, peluang selalu ada, bahkan kerap kali di saat hidup dan mati hanya sehelai rambut, situasi bisa berubah dalam sekejap. Leluhur Tengkorak yang telah bertahun-tahun menapaki jalan keabadian sangat paham akan hal itu.
Di ujung tanduk pun, masih ada harapan. Kondisi tanpa jalan keluar bisa saja berubah menjadi peluang hidup. Namun, bagi orang seangkuh dirinya, memohon ampun atau mengakui kesalahan adalah hal yang jauh lebih mustahil. Tatapan buasnya menyapu wajah-wajah di sekitarnya, lalu sudut bibirnya terangkat, seolah menertawakan diri sendiri, “Jaring langit begitu luas dan rapat, ya?”
Ia menatap sinis wanita berwujud ular putih, lalu memindahkan pandangan pada wajah tenang Sang Guru Qing Ming. Ia terkekeh dingin, “Sejak aku berubah menjadi arwah dan menguasai Kitab Rahasia Tulang Kering, entah sudah berapa orang tewas di tanganku, berapa banyak jiwa terkumpul dalam tubuh avatarku ini. Jika kalian membinasakanku, ribuan arwah itu akan lenyap tanpa sisa, sedangkan aku? Aku hanya kehilangan satu avatar saja!”
Sang Guru Qing Ming tetap diam, tatapannya sedingin salju, tanpa ekspresi. Sikap tanpa perasaan semacam ini adalah yang paling dibenci oleh Leluhur Tengkorak, karena ia tak bisa menebak apa yang ada di hati orang seperti itu.
Namun senyum di wajah Leluhur Tengkorak justru semakin lebar. Di wajah hitam legam dengan sepasang mata garang itu, senyum itu hanya menambah kesan menyeramkan. “Orang-orang jalan lurus selalu mengaku menyelamatkan dunia, slogan itu diulang terus-menerus. Begitu melihat orang yang mereka anggap sesat, langsung saja bicara soal benar dan salah yang tak bisa didamaikan, katanya demi menyelematkan umat manusia, ‘maka aku harus mewakili bulan untuk membinasakanmu!’”
Melirik ke arah semua orang, Leluhur Tengkorak mendengus lalu meludah ke tanah, “Huh, dasar omong kosong!”
Kemudian ia berteriak nyaring, hampir histeris, “Demi umat manusia, katanya? Itu semua alasan busuk untuk kepentingan sendiri! ‘Aku mewakili bulan untuk membinasakanmu?’ Dasarnya cuma karena menahan nafsu membunuh selama bertahun-tahun berlatih, jadi ingin melampiaskan dengan membunuh, bukan?”
Sekitar mereka hening, hanya suara gemuruh Leluhur Tengkorak yang bergema, semua mata menatap erat pada sosok yang mulai kehilangan kendali itu.
“Berkata seolah penuh keadilan, sok pahlawan, omong kosong!”
“Berlagak suci, membenci kejahatan, bualan semata!”
Tawa dingin keluar dari Leluhur Tengkorak, wajahnya tiba-tiba memerah, jelas ia sangat puas melampiaskan uneg-unegnya, apalagi tak seorang pun menyela makiannya.
“Keadilan yang kalian agung-agungkan, hanyalah kedok orang-orang keji yang suka berbuat curang diam-diam, menfitnah, demi kepentingan sendiri, menimpakan dosa pada orang lain!”
Tatapannya kembali bertemu dengan wanita ular putih, ia menyimpan senyum sinisnya, lalu dengan nada tegas dan garang berkata, “Jaring langit begitu luas dan rapat, ya?”
Kemudian ia tertawa nyaring, suaranya melengking dan menusuk telinga, namun jelas tawa itu berasal dari lubuk hatinya yang terdalam, tanpa kepura-puraan.
“Hakikat jalan langit! Baik manusia, arwah, maupun siluman yang menapaki jalan keabadian, bukankah semuanya hanya mencari cara untuk memaksa energi murni alam masuk ke tubuh sendiri demi keabadian dan pembebasan?”
Melihat semua orang diam, Leluhur Tengkorak menahan tawanya, kini wajahnya dipenuhi ejekan. Ia melanjutkan dengan suara yang lebih pelan, “Mencari keabadian itu sendiri adalah tindakan menentang langit! Jika sudah menentang alam yang melahirkan kita, apalah arti jaring langit yang luas dan rapat? Untuk apa bicara soal hukum alam? Kalau memang jalan yang kita tempuh semua menentang langit, kenapa tidak sekalian disambar petir saja hingga hancur lebur?”
“Hm...” Wanita cantik berwujud ular putih tiba-tiba mengangguk, tampak sangat setuju dengan perkataan Leluhur Tengkorak. Namun di wajahnya yang memesona, terselip keraguan polos bak anak kecil.
“Tengkorak tua, semua yang kau katakan itu, apa hubungannya dengan keinginanku membunuhmu?”
Leluhur Tengkorak tertegun, Xu Lin juga tercengang, sedangkan Guru Qing Ming tetap tanpa ekspresi. Para murid Kunlun di belakangnya pun tak bergerak, tetap mempertahankan formasi Naga Awan Pembantai Iblis.
Xu Lin mengerutkan dahi, merenungkan ucapan wanita ular putih. Ia jadi geli sendiri. Bukankah tadi yang dibicarakan soal hukum langit dan balasan? Leluhur Tengkorak sudah menjelaskan panjang lebar; di jalan keabadian, siapa pun yang kuat adalah pemenang, tak peduli cara apa yang digunakan, biarpun harus berkhianat saat petaka langit, yang penting menang. Tapi wanita ular putih itu malah menanggapi dengan santai.
Xu Lin memandang wanita ular putih dengan bingung, lalu kembali menatap Leluhur Tengkorak, menantikan apa yang akan terjadi selanjutnya.
Gigi Leluhur Tengkorak bergemeletuk, ia benar-benar merasa dipermainkan. Rasanya seperti memainkan lagu indah di hadapan seekor sapi, lalu terbuai oleh keindahan musik buatan sendiri. Tapi ketika membuka mata, sapi itu tetap mengibas ekor, asyik memakan rumput, tak peduli sama sekali. Sungguh membuatnya naik darah!
Ia merasa sangat tertekan. Begitu hendak meledak lagi, wanita ular putih itu malah melangkah mendekat dengan anggun.
Langkah demi langkah, gaun perak tipisnya melayang lembut, rambut hitam panjang menari ditiup angin, manik-manik di gaunnya berkilauan memantulkan cahaya pelangi, membuatnya tampak seperti bidadari turun ke bumi. Senyum manis merekah di wajahnya.
“Aku lahir dari alam, namun menempuh jalan yang menentang alam. Jika demikian, aku adalah manusia tanpa asal-usul. Langit memberiku anugerah, itu tak jadi bebanku. Langit membenciku, itu pun tak jadi bebanku. Aku adalah Perempuan Ular. Aku punya gairah, cinta, dan benci. Mulai hari ini, Perempuan Ular adalah namaku. Jika aku ingin membunuhmu, maka aku akan membunuhmu. Apa urusannya?”
Xu Lin memandang takjub saat Perempuan Ular melangkah mendekati Leluhur Tengkorak. Bahkan di mata Guru Qing Ming yang biasanya datar, kini tampak secercah kekaguman.
Betapa bebas, aku adalah aku, tak peduli pada langit dan bumi. Aku adalah Perempuan Ular; cinta dan benci ada di tanganku sendiri. Apakah ini disebut jalan iblis atau jalan suci? Tidak penting. Jika Perempuan Ular telah berkata, maka ia akan melakukannya. Dan ia pun bergerak.
Xu Lin sama sekali tak melihat gerakan Perempuan Ular; semua terjadi dalam sekejap, begitu cepat.
Tiba-tiba terdengar suara keras di telinga, dan ketika matanya fokus, tubuh Leluhur Tengkorak sudah terlempar keras ke tanah, layaknya karung pasir. Perempuan Ular tetap melangkah perlahan ke arahnya.
“Saat petaka langit, kau menggunakan tubuhku sebagai tameng, menanggung hukuman untukmu, tapi justru aku sendiri yang menderita luka berat. Walaupun kau kembali menggunakan sihir untuk memaksa ribuan arwah dalam tubuhmu menjaga avatar ini, lukamu tetap terlalu parah.”
Tatapannya tiba-tiba beralih pada Guru Qing Ming, dan di mata indah Perempuan Ular terselip rasa terima kasih, lalu ia kembali menatap Leluhur Tengkorak yang baru saja bangkit terpincang dari tanah.
“Andai waktu itu kau langsung melarikan diri, tak memaksa menyerap jiwa enam murid Kunlun untuk menambal tubuhmu, mungkin kini kau sudah selamat. Sayangnya, kau tak tahu bahwa di antara para murid itu, ada satu yang sudah mencapai tingkat Guru.”
Ia tertawa pelan, tawa yang penuh kegembiraan dan kelegaan, namun wajah cantiknya tetap polos. Bagi Xu Lin, senyum seperti itu justru merupakan bentuk kekejaman lain—pembunuhan yang lembut.
“Sudah terluka, masih nekat melawan. Akhirnya kalah juga kan? Jumlah Kunlun terlalu banyak, dua tangan tak bisa melawan empat, harimau pun tak mampu melawan kawanan serigala. Hal sesederhana ini saja kau tak tahu?”
Suara menghentak terdengar lagi. Tubuh Leluhur Tengkorak kembali terlempar seperti batu yang dilempar, Xu Lin masih tak bisa melihat bagaimana Perempuan Ular melancarkan serangannya.
Tiba-tiba, api hijau menyala dari mulut Leluhur Tengkorak yang tergeletak telentang di tanah. Setiap kali api hijau itu keluar, tubuh Leluhur Tengkorak yang semula besar menyusut sedikit, aura kematian di wajahnya semakin pekat, dan ia tampak semakin lemah.
Perempuan Ular tetap tersenyum, melangkah pelan seolah sedang berjalan-jalan menikmati pemandangan. Ia berkata lembut, “Akhirnya kau hanya arwah tua. Setelah petaka langit, bukannya bersembunyi, malah terus berbuat onar. Lihat, sekarang dapat balasannya. Kali ini biar kau kapok!”
“Aku... sial... kau... kau...” Leluhur Tengkorak bahkan belum sempat mengutuk, tubuhnya sudah melayang ke udara. Kini ia benar-benar tak mampu melawan, gerakan Perempuan Ular terlalu cepat, Xu Lin tak bisa menangkapnya.
Saat tubuh Leluhur Tengkorak hendak jatuh, tiba-tiba lagi-lagi kekuatan tak terlihat menghantamnya, membuatnya terpental ke sana kemari bak bola yang dipukul berkali-kali di udara.
Hinaan berubah menjadi jeritan, jeritan berubah menjadi isak, isak berubah menjadi hening. Yang tersisa hanya lidah-lidah api hijau yang muncul lalu lenyap di udara, sementara tubuh Leluhur Tengkorak yang besar kian lama kian menyusut seiring menguapnya api itu.
Dalam hati Xu Lin, timbul perasaan getir. Inikah kekuatan siluman setelah melewati petaka langit kedua? Tiba-tiba ia teringat catatan dalam sebuah kitab kuno yang pernah ia baca secara tak sengaja.
Setelah siluman melewati petaka langit kedua, kekuatannya melampaui manusia di tingkat yang sama. Artinya, siluman di tahap awal guru setara dengan manusia di tahap menengah. Jika setelah petaka langit, mereka mendapatkan pemurnian energi langit yang murni, kekuatan mereka bisa melonjak pesat, meski hanya sementara, namun sangat dahsyat.
Itu belum termasuk kemampuan bawaan siluman. Jika Perempuan Ular mengeluarkan kekuatan aslinya, entah bagaimana nasib Leluhur Tengkorak nanti.