Bab Seratus Lima Puluh Empat: Gelombang yang Mengalir Deras
Klo segera mendatangi Guno. Melihat Guno yang tampak bersemangat, ia bertanya dengan heran, "Kau tampak begitu gembira. Adakah sesuatu yang membuatmu begitu bahagia?"
Melihat Klo datang, Guno tersenyum dan berkata, "Aku baru saja mendengar sebuah lelucon yang sangat menggelikan, jadi suasana hatiku sedang bagus."
Kemudian, Guno mengulangi perkataan utusan tersebut. Setelah mendengarnya, Klo turut tersenyum dan berkata, "Itu memang sangat lucu. Kau memanggilku pasti karena urusan ini. Kira-kira, apa rencana yang sudah kau siapkan?"
Guno mengangkat bahunya dan menjawab, "Rencana apa lagi? Bukankah Liu Ding datang untuk 'membantu' kita? Sesuai pepatah, balasan setimpal adalah sebuah kebajikan. Karena dia berniat membantu kita, sudah sepantasnya kita juga melakukan sesuatu untuknya."
"Maksudmu?"
Menatap ekspresi bingung di wajah Klo, Guno melanjutkan, "Liu Ding ingin membawa pulang putri kecil kesayangannya, jadi mari kita bantu dia mewujudkannya. Kudengar, ia sangat merindukan cucu perempuannya yang manis itu."
Klo berkata dengan nada cemas, "Ini agak sulit. Berdasarkan laporan dari Pasukan Bayangan, pertahanan di ibu kota Kekaisaran Yan Yang saat ini dijaga sangat ketat, entah apa yang sebenarnya sedang terjadi di sana."
"Begitukah? Kalau begitu, apakah Liu Yanran bisa dibawa keluar dengan selamat?"
Klo merenung sejenak sebelum menjawab, "Bisa, tetapi kita membutuhkan bantuan Pasukan Bayangan, dan harganya akan sangat mahal."
"Biaya bukan masalah. Kudengar para raja itu telah 'mengirimi' kita banyak harta karun, saatnya kita memanfaatkan benda-benda itu sekarang."
Melihat senyum penuh tipu muslihat di wajah Guno, Klo tahu bahwa pria itu sedang merencanakan sesuatu yang licik. Namun, karena barang-barang itu bukan miliknya, ia tentu tidak merasa keberatan. "Kalau begitu, aku akan pergi berdiskusi dengan Zhong Tian dan Zhong Di."
"Baiklah, segeralah bawa gadis itu ke sini. Akan sangat disayangkan jika kita melewatkan bagian yang paling menarik."
***
Sehari atau dua hari kemudian, utusan tersebut menyampaikan pesan Guno kepada Liu Ding. Di hari yang sama, para Pasukan Bayangan pergi dengan membawa harta kekayaan yang melimpah. Para raja merasa sangat murka, namun mereka tidak berani menghentikan para prajurit yang merampas harta benda mereka sendiri. Bagaimanapun juga, saat ini mereka hanyalah penguasa tanpa kekuasaan nyata, karena kendali penuh atas pasukan berada di tangan Guno.
Meskipun tidak berani menghentikan para prajurit tersebut, mereka sama sekali tidak berniat membiarkan masalah ini berlalu begitu saja. Satu persatu mereka mendatangi Guno, menuntut penjelasan yang masuk akal, atau mereka akan menarik kembali komando atas pasukan masing-masing.
Meskipun mereka tidak bisa serta-merta mengambil alih komando pasukan dalam waktu dekat, tindakan itu dapat memicu kekacauan di dalam barisan dan membuat para prajurit kehilangan kesetiaan kepada atasan mereka. Oleh karena itu, Guno terpaksa harus menghadapi mereka dengan serius.
Menghadapi para raja yang sedang bersitegang itu, Guno berkata, "Yang Mulia para raja, tenangkanlah diri kalian terlebih dahulu. Aku pasti akan memberikan penjelasan kepada kalian semua, jadi mohon bersabarlah."
"Baiklah, Tuan Guno. Sebaiknya kau memiliki penjelasan yang logis, jika tidak, kami tidak akan tinggal diam."
Para raja itu mengangguk berturut-turut. "Benar! Aku ingat betul bahwa urusan harta kekayaan bukanlah wewenang Tuan Guno untuk mengaturnya. Jika penjelasan Tuan Guno tidak dapat meyakinkan kami, maka kami pasti akan mengambil kembali hak komando atas pasukan kami."
Guno melirik tajam ke arah raja yang baru saja berbicara, membuat sang raja bergidik ngeri. Setelah suasana kembali tenang, Guno berkata, "Di sini, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada kalian, dan kuharap kalian bisa menjaga kerahasiaan ini. Aku pernah mengirim utusan untuk menemui Liu Ding dengan harapan ia mau berdiri di pihak kita dalam perang kali ini. Belum lama ini, pihak keluarga Liu juga mengirim utusan untuk membahas hal serupa dengan kita."
Mendengar perkataan Guno, para raja itu langsung bersemangat. "Tuan Guno, apakah yang kau katakan itu benar? Keluarga Liu bersedia bekerja sama dengan kita untuk melawan keluarga Yan?"
"Benar. Seperti yang kalian ketahui, keluarga Liu pada dasarnya memang berada di pihak kita untuk menumbangkan keluarga Yan. Meskipun kerja sama kita sebelumnya kurang menyenangkan, aku yakin kali ini kita akan dapat bekerja sama dengan sangat baik."
Bagaimana mungkin para raja ini peduli pada pengkhianatan keluarga Liu di masa lalu? Hal terpenting saat ini adalah bagaimana cara melewati krisis ini. Oleh karena itu, tidak ada seorang pun yang mempermasalahkan apa yang telah dilakukan keluarga Liu sebelumnya; yang mereka pedulikan hanyalah peluang kemenangan mereka yang kini semakin besar.
Guno melanjutkan, "Namun, kalian juga tahu bahwa ada banyak kerajaan di bawah naungan keluarga Liu, dan tidak semuanya ingin bergabung dengan kita untuk melawan keluarga Yan. Oleh karena itu, aku harus melakukan beberapa pendekatan. Sayangnya, dana yang dimiliki Kerajaan Qing Mu terlalu sedikit dan sama sekali tidak cukup untuk menghadapi begitu banyak kerajaan sekaligus, sehingga aku terpaksa meminjam sedikit dari kalian."
Mendengar penjelasan Guno, mereka akhirnya memahami situasinya. Satu persatu dari mereka berseru, "Tuan Guno, Anda terlalu sungkan! Jika Anda tidak membiarkan kami berkontribusi, bukankah itu berarti Anda meremehkan kami?"
"Betul sekali! Kita adalah bagian dari aliansi yang sama, membicarakan uang justru merusak kebersamaan. Entah apakah harta yang kami berikan itu sudah cukup atau belum?"
"Benar, jika kurang, mintalah lagi kepada kami, kami masih memilikinya. Selama keluarga Liu bersedia bersekutu dengan kita untuk melawan keluarga Yan, apa artinya sedikit harta benda? Aku benar-benar minta maaf atas kesalahpahaman kita terhadap Tuan Guno sebelumnya, izinkan aku meminta maaf di sini."
"Ya, kami semua teperdaya oleh hasutan orang lain. Kami ingin menyampaikan permintaan maaf kepada Tuan Guno terlebih dahulu. Jika ada hal lain yang dibutuhkan, silakan sampaikan kepada kami. Selama itu demi kepentingan melawan keluarga Yan, kami akan berusaha sebaik mungkin untuk memenuhinya."
Guno menatap dingin para raja yang begitu tidak sabar menyerahkan kekayaan mereka itu. Hatinya penuh dengan rasa jijik. Ia membatin, *Meskipun mereka serakah, haus sanjungan, dan gila kekuasaan, untungnya mereka masih tahu bahwa nyawa mereka jauh lebih berharga. Sekarang mereka berkata manis, tetapi begitu perang ini berakhir, gerombolan serakah ini pasti akan datang menuntut pengembalian harta mereka.*
Para raja yang tadinya merasa tidak puas itu akhirnya membubarkan diri dengan penuh semangat. Mereka menaruh harapan besar pada Kerajaan Qing Mu, percaya bahwa kerajaan yang mampu merayu keluarga Liu untuk berperang melawan keluarga Yan pasti akan mampu memukul mundur keluarga Yan dan merebut kembali wilayah kekuasaan mereka.
Para raja itu kembali tenggelam dalam hari-hari penuh kemewahan seorang diri, sementara Guno dan Klo terus-menerus menganalisis situasi, mengatur posisi pasukan, sekaligus memantau setiap pergerakan keluarga Yan. Guno sangat yakin bahwa keluarga Yan tidak mungkin tinggal diam tanpa mengetahui apa pun.
Sama seperti dugaan Guno, meskipun Yan Batian tidak mengetahui secara rinci apa yang dibahas antara keluarga Liu dan Guno, ia tetap tahu bahwa Liu Ding telah mengirim orang untuk menghubungi Guno—sebagian karena memang disengaja oleh Guno agar informasi itu bocor.
"Yang Mulia, tindakan keluarga Liu ini jelas-jelas menunjukkan niat mereka untuk memutuskan hubungan dengan kita. Tidakkah sebaiknya kita melancarkan serangan pendahuluan?"
"Benar, Yang Mulia. Keluarga Liu sudah merencanakan untuk menjatuhkan kita, kita tidak boleh tinggal diam menunggu ajal!"
Para raja dan menteri terus mendesak Yan Batian, berharap ia segera mengerahkan pasukan untuk menyerang keluarga Liu dan memusnahkan mereka beserta seluruh kerajaan di bawah naungan mereka. Tentu saja, terselip niat egois di benak mereka. Jika kerajaan-kerajaan itu berhasil dimusnahkan, wilayah yang bisa mereka kuasai kelak akan jauh melampaui apa yang mereka pegang saat ini.
"HMPF, aku pasti akan membereskan keluarga Liu, tetapi bukan sekarang waktunya. Prioritas utama kita adalah melenyapkan kerajaan-kerajaan kecil itu terlebih dahulu. Jika keluarga Liu berniat macam-macam, aku tidak akan melepaskan mereka begitu saja. Dulu, ketika keluarga Liu bersekutu dengan keluarga Yan, aku tidak pernah takut pada mereka, apalagi sekarang ketika mereka hanya bersekutu dengan Kerajaan Qing Mu yang kecil itu?"
Para raja itu sangat menyadari bahwa Kerajaan Qing Mu saat ini tidaklah sama seperti dulu, namun karena Yan Batian telah berkata demikian, mereka tentu tidak berani menentangnya. Mereka serempak bersorak, "Kebijaksanaan Yang Mulia tiada tandingannya."