Bab Seratus Empat Puluh Tujuh: Formasi Pedang
Atas perintah Yan Batian, berita kematian Yan Chen tidak disebarluaskan, dan Gu Nuo pun tidak tahu bahwa Yan Batian sedang bersiap untuk menghadapinya.
Ia berdiri di sana, menunggu Murian datang membawa pasukan untuk menyerangnya. Ia senantiasa memantau Kerajaan Qingmu serta para murid Paviliun Pedang. Begitu mengetahui bahwa 139 murid Paviliun Pedang telah tiba di ibu kota Kerajaan Qingmu, ia tahu bahwa pertempuran besar sudah di ambang pintu.
Gu Nuo terpaksa mengambil tindakan ini. Ia tahu persis seperti apa rupa para rakyat jelata yang telah ia "modifikasi". Jika ia menduduki kota-kota itu, ia pasti harus melenyapkan semua orang di sana. Namun, membunuh rakyat jelata yang "menggemaskan" ini membuatnya merasa tidak tega, sehingga ia memilih untuk menunggu kedatangan Murian.
Dalam tiga hari berikutnya, Murian mulai mengerahkan pasukannya seolah-olah untuk membuktikan perkataannya. Mereka terus mengambil sikap pasif, menunggu musuh untuk menyerang lebih dulu. Pada hari ketujuh, demi para anggota Paviliun Pedang, Murian terpaksa meninggalkan ibu kota dan memimpin pasukan besar bergerak menuju tempat perkemahan Gu Nuo.
Tiga belas hari kemudian, Murian tiba bersama pasukan besarnya di sebuah dataran lapang di wilayah perbatasan. Dataran ini sengaja dipilih oleh Gu Nuo karena lokasinya yang terbuka luas dan letaknya yang sangat dekat dengan kota raja.
Ketika pasukan musuh dan kawan saling berhadapan, suasana di medan perang langsung menegang. Gu Nuo tidak memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang pasukan Murian; ia ingin membuat Murian merasa putus asa, membiarkannya melangkah selangkah demi selangkah ke dalam jurang keputusasaan, dan merampas segala hal yang dimilikinya tepat di hadapan matanya, menghancurkan setiap impian yang ia miliki.
Keesokan harinya, Murian berjalan menghampiri Xiao Tian dan berkata, "Xiao Tian, lihatlah, itu adalah pasukan Gu Nuo. Aku berharap kau dapat menghancurkan pasukan artileri musuh untuk kami."
Xiao Tian melirik ke arah pasukan Gu Nuo dengan senyum dingin, lalu berkata, "Dulu aku bisa membuatnya 'mati', dan sekarang aku bisa membuatnya mati sekali lagi. Tunggulah kabar baik dariku di sini."
Mendengar perkataan Xiao Tian, Murian langsung menjawab, "Kalau begitu, aku serahkan semuanya padamu, Tuan Xiao Tian. Asalkan Tuan Xiao Tian berhasil mengalahkan pasukan artileri itu, aku akan segera memimpin pasukan untuk menyerbu."
Xiao Tian memimpin 138 orang rekan seperguruannya yang bersemangat tinggi keluar dari barisan pasukan, lalu berteriak lantang kepada Gu Nuo, "Gu Nuo, kau masih mengingatku, bukan?"
Melihat jubah putih dan pedang raksasa itu, Gu Nuo tentu tahu bahwa mereka adalah para murid Paviliun Pedang. Pada saat yang sama, tatapannya jatuh pada wajah yang begitu familiar, membangkitkan gelombang kemarahan di dalam dadanya. Dialah dan Yan Chen yang telah mengubah jalan hidupnya selamanya.
Gu Nuo melangkah maju dan bertanya, "Ada apa? Apakah kalian datang untuk memohon damai?"
Xiao Tian tidak menyangka Gu Nuo akan melontarkan pertanyaan seperti itu. Ia mendengus dingin dan berkata, "Aku datang untuk merenggut nyawamu. Kegagalanku membunuhmu di masa lalu membuatmu bisa hidup hingga selama ini, dan seharusnya kau berterima kasih padaku."
"Katakan apa yang ingin kau katakan, dan hentikan omong kosongmu. Jangan buang-buang waktu," jawab Gu Nuo acuh tak acuh, tidak memedulikan ucapan Xiao Tian.
Menahan amarah di dalam dadanya, Xiao Tian berkata, "Apakah kau berani bertaruh denganku, melihat siapa yang lebih kuat antara pasukan artierimu dan formasi pedangku?"
"Bertaruh?" Gu Nuo tersenyum dingin. "Lalu, apakah kau berani mempertaruhkan nyawamu sendiri dan nyawaku sebagai taruhannya?"
Dengan ekspresi penuh percaya diri seolah kemenangan sudah berada di genggamannya, Xiao Tian berkata, "Kenapa tidak berani? Aku hanya takut kau akan menarik kembali kata-katamu ketika kau kalah nanti."
Begitu Xiao Tian selesai berbicara, para murid Paviliun Pedang tertawa terbahak-bahak dengan sikap santai. Hal itu wajar saja, mengingat di Benua Utara, formasi pedang adalah susunan teknik tempur terkuat yang tidak pernah terkalahkan. Selain itu, pertahanannya belum pernah berhasil dijebol sekali pun. Dengan pertahanan seperti itu, formasi pedang ini berada di posisi yang tidak terkalahkan, belum lagi kemampuan menyerangnya yang luar biasa hebat.
Gu Nuo berjalan mendekati Ke Luo dan berkata, "Coba gunakan seribu prajurit artileri untuk menguji kekuatan formasi pedang itu."
Atas perintah Ke Luo, seribu prajurit artileri maju ke depan. Mereka memegang meriam esensi sihir, mengarahkannya ke arah musuh, lalu berdiri berbaris rapi sambil menunggu instruksi selanjutnya.
"Formasi pedang!" seru Xiao Tian begitu melihat musuh selesai mengatur formasi.
Mendengar perintah tersebut, ke-138 murid Paviliun Pedang segera mengepung Xiao Tian, membentuk lingkaran di sekelilingnya. Mereka mencabut pedang raksasa dari punggung, menggenggamnya erat dengan kedua tangan, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi.
Ketika Xiao Tian turut mengangkat pedang raksasanya, sebuah tirai cahaya tak kasat mata menyelimuti mereka semua. Sebuah pedang raksasa tampak samar-samar melayang di atas kepala mereka, memancarkan cahaya lembut serta gelombang kekuatan sihir yang begitu pekat.
"Pasukan artileri, tembak!"
Barisan pertama prajurit artileri segera melancarkan serangan begitu menerima perintah dari Ke Luo, sementara barisan kedua bersiap-siap di belakang. Begitu barisan pertama selesai menyerang, mereka mundur ke belakang untuk memberi jalan bagi barisan kedua melanjutkan serangan.
Sepuluh barisan prajurit artileri menyerang secara bergantian, membuat medan perang seketika diselimuti debu tebal. Di depan tirai cahaya, sebuah kawah raksasa kian dalam dan kian melebar, namun gempuran serangan yang tiada henti itu sama sekali tidak mampu melukai para murid Paviliun Pedang barang sedikit pun.
Begitu rentetan serangan artileri usai, semua orang menatap tegang ke arah formasi pedang tersebut. Saat debu mulai mereda, para prajurit Murian bersorak gembira. Formasi pedang itu sama sekali tidak runtuh, dan tidak seorang pun dari mereka yang mengalami cedera.
Seorang menteri berseru dengan penuh semangat, "Yang Mulia, dengan adanya formasi pedang ini, kita pasti mampu mengalahkan pasukan artileri musuh."
Murian mengangguk menyetujui, "Aku tidak menyangka pertahanan formasi pedang ini begitu luar biasa. Tampaknya aku sama sekali tidak perlu takut pada Gu Nuo, hanya saja, bagaimana dengan daya serangnya?"
Seolah merespons perkataan Murian, pedang raksasa di udara tiba-tiba menunjuk ke arah pasukan artileri. Pedang besar itu melesat terbang menuju barisan artileri, dan begitu mendekati sasaran, Xiao Tian berteriak lantang, "Pecah!"
Seketika itu juga, pedang raksasa tersebut terbelah menjadi ribuan pedang kecil yang bagaikan hujan badai, menghujani para prajurit artileri yang sedang bersiaga.
Orang-orang yang berada di jalur hujan pedang itu tidak sempat menghindar karena kecepatan pedang tersebut luar biasa cepat. Hanya dalam hitungan detik, pedang-pedang itu telah tiba tepat di hadapan mereka.
Pasukan artileri yang berjumlah seribu orang itu mengalami korban jiwa yang sangat parah. Lebih dari separuh prajurit tewas dalam serangan tersebut, sementara mereka yang cukup beruntung selamat pun menderita luka-luka yang sangat serius.
Hujan pedang itu perlahan-lahan memudar dan lenyap setelah menghujam, seolah-olah tidak pernah ada sebelumnya. Kendati demikian, luka-luka tikaman di tubuh para korban serta goresan pedang di atas tanah menjadi bukti nyata bahwa hujan pedang itu benar-benar wujud adanya.
Melihat pemandangan tersebut, Murian berteriak lantang, "Bagus!" Sesaat kemudian, ia berseru dengan suara bergema, "Berikan sorak-sorakan untuk kawan-kawan dari Paviliun Pedang!"
Pasukan Murian langsung bersorak meriah. Meskipun banyak di antara mereka yang bukan merupakan prajurit asli Kerajaan Qingmu, mereka tetap merasa gembira dan antusias atas kemenangan yang diraih oleh rekan-rekan mereka.
Berbanding terbalik dengan pasukan Murian yang tampak begitu gembira, para prajurit Gu Nuo berdiri dengan tenang di tempat mereka tanpa menunjukkan tanda-tanda kecut hati akibat kekalahan sesaat tadi. Sementara itu, para prajurit Kerajaan Serigala Timur saling bertukar pandang dengan ekspresi gelisah di mata masing-masing.
Gu Nuo mengatur beberapa orang untuk maju merawat yang terluka, lalu berjalan mendekati Ke Luo dan bertanya, "Bagaimana menurutmu tentang formasi pedang Paviliun Pedang itu?"
"Kekuatannya cukup bagus, dan pertahanannya juga sangat baik. Kurasa pedang raksasa itu bisa membelah diri maupun melakukan serangan tunggal. Itu adalah teknik formasi yang luar biasa, meskipun aku tidak tahu prinsip apa yang mendasarinya. Hnya saja, jumlah orang mereka terlalu sedikit."
Gu Nuo tersenyum tipis dan berkata, "Benar, jumlah mereka terlalu sedikit, dan itulah kelemahan fatal mereka. Konon, di Benua Utara, berbagai sekte lah yang mengendalikan kekaisaran-kekaisaran di sana, sehingga jumlah prajurit kekaisaran sangat sedikit. Begitu pula dengan para murid sekte yang jumlahnya amat terbatas; mereka menerapkan kebijakan pasukan elit. Mungkin itu akan menguntungkan dalam misi pembunuhan atau peperangan skala kecil yang melibatkan sedikit orang, namun untuk perang besar yang melibatkan ratusan ribu hingga jutaan prajurit seperti ini, hal itu tidak terlalu berguna."
"Mau bagaimana lagi, bukankah informasi yang dikirimkan oleh pasukan bayangan mengatakan bahwa populasi di Benua Utara memang sangat sedikit? Sebuah kerajaan yang agak besar pun hanya berpenduduk beberapa ratus ribu jiwa, bahkan lebih sedikit daripada Kerajaan Qingmu kita."
Menatap para murid Paviliun Pedang yang tampak begitu angkuh, Gu Nuo tersenyum kecil dan berkata, "Baiklah, mereka tampaknya terlalu cepat berpuas diri. Sudah saatnya kita mengerahkan seluruh kekuatan kita."