Bab Seratus Lima Puluh Tiga: Utusan Keluarga Liu
Guno mendengarkan laporan dari pengawal rahasia, lalu bertukar pandang dengan Kloro. Ia bertanya kepada pengawal tersebut, "Apakah kau yakin mereka benar-benar membagi pasukannya menjadi dua jalur untuk menyerang kerajaan-kerajaan lain, bukan Kerajaan Qingmu?"
"Ya."
Mendengar jawaban singkat dari sang pengawal, Guno berkata, "Baiklah, terus selidiki, mundurlah."
Setelah pengawal itu pergi, Guno bertanya dengan nada heran, "Kloro, bagaimana pendapatmu tentang masalah ini?"
"Seharusnya, mereka datang untuk menargetkan kita. Tindakan mereka sekarang sungguh sangat mencurigakan. Namun, kini kedua faksi itu berpisah dan mengerahkan pasukan, ini kemungkinan besar mewakili satu hal."
"Maksudmu, Keluarga Liu dan Keluarga Yan telah berselisih?"
Kloro menggelengkan kepala dan berkata, "Belum sampai berselisih, setidaknya untuk saat ini belum. Namun, mereka mungkin telah mengembangkan keretakan, dan itu adalah keretakan yang sulit untuk dihilangkan."
Guno bergumam pelan, "Peristiwa apa sebenarnya yang mampu membuat kedua pihak ini tidak dapat didamaikan? Mereka adalah orang-orang yang licik dan penuh perhitungan, mustahil pada saat seperti ini mereka mengabaikan keuntungan di depan mata demi urusan lain."
Keduanya memutar otak tanpa hasil, hingga akhirnya terpaksa menyerah. Pada saat yang sama, mereka memberi perintah untuk mengawasi dengan cermat pergerakan pasukan Keluarga Liu dan Keluarga Yan serta bersiap-siap menyambut pertempuran.
Para penguasa kerajaan lain dilanda kepanikan setelah menerima kabar bahwa pasukan Keluarga Yan dan Keluarga Liu sedang bergerak menyerang wilayah mereka. Raja-raja yang bersekutu dengan Guno memerintahkan bawahannya untuk mengumpulkan seluruh harta benda di dalam negeri dan mengirimkannya ke Kerajaan Qingmu. Pasukan mereka saat ini berada di tangan Guno, sehingga mereka sama sekali tidak mampu mempertahankan kerajaan masing-masing dan secara alami harus "mundur" untuk sementara waktu.
Adapun para raja yang tidak bergabung dengan Kerajaan Qingmu melainkan membentuk aliansi lain yang terdiri dari beberapa kerajaan lain, mereka memilih untuk menempatkan pasukan di dalam kerajaan masing-masing sekaligus meminta bala bantuan dari sekutu mereka.
Namun, bagaimana mungkin mereka bisa mengirim pasukan untuk membantu sekutu jika diri mereka sendiri saja sedang kesulitan? Oleh karena itu, aliansi ini sebenarnya tinggal nama saja. Mereka "berjuang sendirian" demi kepentingan masing-masing dan sama sekali tidak mampu menjalankan kerja sama yang seharusnya dimiliki oleh sebuah aliansi.
Para raja di dalam aliansi ini mulai meminta bantuan kepada aliansi lain, yaitu aliansi Kerajaan Qingmu. Mereka memohon agar Guno mengerahkan pasukan untuk bersama-sama melawan musuh dengan alasan nasib mereka saling bergantung bagaikan bibir dan gigi.
Kendati demikian, Guno sama sekali tidak bergeming. Atau lebih tepatnya, ia justru berharap kerajaan-kerajaan itu hancur sohor, sehingga di masa depan ia tidak perlu repot mengurus banyak urusan lanjutan. Terlebih lagi, ia membutuhkan seseorang untuk menguji kekuatan militer Keluarga Yan dan Keluarga Liu, dan tugas semacam itu sangat cocok diserahkan kepada kerajaan-kerajaan tersebut.
Ketika dua jalur pasukan itu maju, Kerajaan Qingmu kedatangan seorang tamu istimewa.
Zhong Di bergegas menerobos masuk ke kamar Guno dan berkata, "Ketua, Keluarga Liu mengirim seorang utusan. Mereka bilang ingin menemuimu dan mendiskusikan sesuatu."
Guno merasa terkejut mendengar perkataan Zhong Di, tetapi ia segera memahaminya. Jika konflik benar-benar terjadi di antara kedua keluarga itu, maka Keluarga Liu yang berada di posisi lemah pasti akan mencari bantuan dari pihak lain, dan Guno adalah sasaran permohonan bantuan yang paling tepat.
"Kalau begitu, mari kita lihat apa sebenarnya yang ingin disampaikan oleh utusan ini."
Ketika Guno dan Zhong Di tiba di sebuah ruangan rahasia, utusan tersebut sedang minum teh dengan ekspresi tenang. Ia melirik Guno yang baru datang dan berkata dengan acuh tak acuh, "Kau pasti Guno, kan?"
Guno menatap utusan yang bersikap arogan itu. Ia tidak menjawab, melainkan hanya duduk di sampingnya dan mengamatinya.
Utusan itu mengerutkan kening dan berkata, "Kedatangan saya ke sini hari ini membawa urusan penting yang menyangkut hidup matinya Kerajaan Qingmu."
Guno tersenyum dan berkata, "Benarkah? Entah urusan apa itu, hingga begitu penting?"
Melihat ekspresi Guno yang terkesan tidak peduli, rasa percaya diri utusan itu sedikit surut. Ia berkata, "Tuan kami berniat membantu kalian keluar dari kesulitan sekaligus bekerja sama dengan kalian untuk menghadapi Keluarga Yan."
Guno pura-pura memasang ekspresi gembira dan berkata, "Oh? Bagus sekali kalau begitu, aku sangat senang. Lalu?"
"Lalu, lalu..." utusan itu berbicara dengan terbata-bata karena ia sendiri bingung apa kelanjutan yang seharusnya.
"Jadi, kau merasa dirimu sangat hebat dan datang untuk menyelamatkan kami, sehingga kau boleh bersikap sangat angkuh terhadapku, begitu?"
Guno tepat mengenai sasaran isi hati sang utusan. Saat menerima tugas ini, utusan tersebut merasa sangat gembira, mengira Guno pasti akan sangat berterima kasih kepadanya, menjamunya dengan baik, dan memberinya banyak keuntungan, sehingga ia tentu saja merasa jemawa. Namun, saat ini ketika menatap sepasang mata dingin Guno, ia menyadari bahwa dirinya telah membuat kesalahan besar.
Guno memperhatikan utusan yang mulai bercucuran keringat dingin itu dan berkata, "Karena kata-katamu sudah selesai, sekarang giliran aku."
"Pertama, katakan apa tujuanmu yang sebenarnya datang ke mari. Bukan omongan yang tadi kau sampaikan kepadaku, melainkan pesan yang diperintahkan oleh Liu Ding kepadamu."
"Ini..." Utusan itu tersenyum kaku. Ketika melihat tatapan dingin Guno, ia berkata jujur, "Tuan menyuruh saya datang untuk membujuk kalian agar mau bekerja sama dengan Keluarga Liu guna bersama-sama menghadapi Keluarga Yan."
Guno terus mendesak, "Hanya itu?"
"Tuan bilang, sebaiknya membuat kalian dan Keluarga Yan saling melemahkan hingga hancur bersama, lalu pada saat itulah beliau bisa memanfaatkan kesempatan untuk memusnahkan kalian."
Guno mengeluarkan gumaman "Hm", lalu bertanya dengan nada penasaran, "Bukankah Keluarga Liu dan Keluarga Yan sekarang berada dalam satu kubu yang sama? Kenapa Keluarga Liu tiba-tiba ingin melawan Keluarga Yan?"
"Tuan berharap Nona Yan'er dapat membatalkan pertunangannya dengan Tuan Muda Yan Chen dari Keluarga Yan dan membiarkan Nona Yan'er menikah dengan pria lain, tetapi Keluarga Yan tidak bersedia. Oleh karena itu, Tuan berharap bisa melawan Keluarga Yan agar Nona Muda bisa kembali."
Mendengar perkataan utusan itu, Guno tidak mampu menahan tawa. Ia tidak menyangka masalah ini akan menjadi begitu menarik. Liu Ding menikahkan cucu perempuannya sendiri dengan Yan Chen, tetapi belum genap sebulan ia ingin membatalkan pernikahan politis tersebut. Akibatnya, Keluarga Liu mendapat julukan sebagai pengkhianat dan telah bertarung demi Keluarga Yan untuk mengalahkan Keluarga Huo. Bisa dikatakan mereka telah merugi di berbagai sisi tanpa mendapatkan apa pun.
"Kalau begitu, semua kekacauan ini bermula gara-gara Liu Yan'er?"
Utusan itu menganggukkan kepalanya, sementara matanya memancarkan sedikit ketidakpuasan. Seandainya bukan karena wanita itu, mereka pasti bisa menjalani kehidupan yang layak sejak saat itu dan tidak perlu lagi mengkhawatirkan hasil akhir dari sebuah peperangan.
Guno mengamati segala gerak-gerik utusan itu di dalam hatinya. Ia tersenyum kepada sang utusan dan berkata, "Entah apakah Nona Liu yang sekarang masih berada di ibu kota Kekaisaran Yanyang?"
Utusan itu menganggukkan kepalanya lalu menunduk, bersikap seperti anak kecil yang baru saja melakukan kesalahan.
Guno tersenyum kepada Zhong Di dan berkata, "Baiklah, utusan kita telah menempuh perjalanan jauh dan pasti merasa lelah. Zhong Di, uruslah dengan baik agar utusan kita bisa beristirahat dengan tenang."
Utusan itu seketika mengangkat kepalanya dan bertanya, "Tuan Guno, apakah Anda bersedia bekerja sama dengan kami untuk menghadapi Keluarga Yan?"
Melihat tatapan penuh harap dari sang utusan, Guno tersenyum dan berkata, "Tentu saja, kita selalu berada dalam kubu yang sama, bukan?"
Setelah mendengar janji dari Guno, utusan itu pergi bersama Zhong Di dengan perasaan gembira. Tak lama kemudian, Zhong Di kembali seorang diri.
Melihat Zhong Di masuk, Guno bertanya, "Bagaimana, apakah utusan itu cukup puas?"
Zhong Di menganggukkan kepala dan tersenyum. "Orang seperti dia sangat mudah dipuaskan."
"Benar, kenapa Keluarga Liu malah mengutus orang seperti itu ke mari?"
"Ayahnya tampaknya memiliki kedudukan yang cukup tinggi di Keluarga Liu. Kemungkinan besar karena alasan itulah ia bisa diutus ke mari, dan untuk 'tugas bagus' seperti ini, ia tentu menjadi prioritas utama untuk dipertimbangkan. Tentu saja, itu semua hanya asumsi mereka sendiri. Kurasa mereka pasti mengira kita saat ini sedang sangat cemas, sangat ketakutan, dan sama seperti raja-raja lain yang mencari segala cara untuk menyelamatkan diri."
Guno menghela napas dan berkata, "Benar. Sayangnya, kita telah mengecewakan harapan mereka. Baiklah, tolong panggilkan Kloro ke mari untukku."