Bab Delapan Puluh Enam: Pasukan Bergerak untuk Penyelamatan
Kapten yang menundukkan kepala meminta maaf kepada komandan, namun meskipun mulutnya berkata demikian, dalam hati ia mengumpat, “Kau kira kau siapa? Hanya karena keluargamu sedikit lebih baik dari keluargaku. Aku sudah melapor padamu sebelumnya, hanya saja saat itu kau sibuk bersenang-senang dengan wanita.”
Setelah komandan memaki “tak berguna”, ia tak lagi mempedulikan kapten itu. Para kapten lain pun bukannya membela rekannya yang dimarahi, malah menambah hinaan dan saling menyalahkan. Bukan karena si kapten itu tidak disukai, melainkan karena para kapten memang sering berselisih demi keuntungan masing-masing. Mereka semua ingin mendapatkan perlindungan atasan dengan menyingkirkan pesaing, sehingga setiap ada kesempatan, mereka akan menjatuhkan satu sama lain.
Saat mendengar pujian-pujian seperti “sangat jeli dan paham hati orang”, ketidakpuasan dalam hati komandan pun sedikit mereda, namun rasa benci terhadap kapten itu justru bertambah. Diam-diam, ia pun melemparkan seluruh tanggung jawab kepadanya.
Komandan belum segera memerintahkan untuk membuka gerbang kota. Ia menatap para prajurit yang kalah di bawah dan berkata, “Tenangkan diri dulu. Siapa yang bisa memberitahuku apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana situasi sekarang?”
Begitu komandan berbicara, kerumunan pun terdiam. Namun begitu mereka mulai membuka suara, pendapat yang berbeda-beda membuat suasana kembali gaduh hingga membuat kepala komandan pusing, apalagi untuk mendengarkan penjelasan mereka dengan jelas.
Namun, ia masih bisa menangkap beberapa kata seperti “penyergapan”, “batu”, dan “perisai”, sehingga dapat disimpulkan memang mereka pulang karena terjebak penyergapan.
Saat komandan sedang mempertimbangkan apakah ia perlu membuka gerbang dan membiarkan mereka masuk, dari kejauhan terdengar suara langkah kaki binatang tunggangan yang berat. Komandan menengadah, dan melihat debu mengepul dari kejauhan. Titik-titik hitam itu perlahan membesar. Ketika jarak tinggal sekitar dua ratus meter dari Kota Anugerah, ia melihat bahwa orang yang memimpin pasukan itu adalah perwira yang sebelumnya bersama Zhao Kun mengejar musuh.
Kini perwira itu tampak compang-camping dan gelisah, sama sekali tak ada lagi kepercayaan diri dan kebanggaan seperti sebelumnya.
Melihat perwira itu, komandan segera berteriak, “Cepat buka gerbang! Ayo, semua! Turun dan sambut Yang Mulia Perwira!”
Kali ini, komandan tampak panik, seolah baru saja melakukan kesalahan besar—tak lagi setenang sebelumnya, saat ia tahu akan terjebak namun tetap acuh.
Gerbang yang tadinya begitu “tegas” pun segera terbuka setelah melihat perwira itu. Para prajurit yang sudah menunggu di sana pun tidak langsung masuk, melainkan menyingkir memberi jalan. Setelah perwira dan ratusan prajurit di belakangnya masuk, barulah yang lain menyusul.
Dengan tergesa-gesa komandan turun dari tembok dan berseru, “Wahai Yang Mulia Perwira, apa yang sebenarnya terjadi? Kami dengar pasukan kalian dikepung puluhan ribu musuh. Tadinya aku ingin mengerahkan bala bantuan, tapi siapa sangka Yang Mulia bisa menerobos kepungan seorang diri dan bahkan membawa kembali begitu banyak prajurit. Benar-benar panglima yang bijaksana dan pemberani!”
Tentu saja perwira itu tidak akan mengakui bahwa ia melarikan diri bahkan sebelum pasukan musuh menyerang. Ia segera menjawab, “Benar, saat itu sangat berbahaya. Tak disangka musuh yang licik itu menyembunyikan puluhan ribu orang. Untung saja aku memiliki kekuatan luar biasa, kalau tidak, pasti aku tak akan bisa kembali. Apakah ada kabar dari Jenderal?”
Komandan itu pun bertanya dengan heran, “Yang Mulia, bukankah Jenderal bersamamu?”
“Tidak. Musuh melarikan diri dalam dua kelompok. Aku dan Jenderal masing-masing mengejar satu kelompok. Aku juga tidak tahu bagaimana keadaan Jenderal sekarang.”
Komandan pun segera menceritakan laporan yang ia terima sebelumnya, lalu bertanya, “Menurut Yang Mulia, apa yang harus kita lakukan sekarang? Apakah kita harus mengerahkan pasukan untuk menyelamatkan Jenderal?”
Saat itu perwira tersebut juga sedang mempertimbangkan dalam hati apakah perlu menyelamatkan Zhao Kun. Ia berpikir, “Jika Jenderal Zhao mati, aku akan menjadi orang dengan jabatan tertinggi di Kota Anugerah. Aku akan menjadi penguasa di sini. Tapi jika Jenderal Zhao selamat, maka…”
Namun ia segera berpikir lagi, “Tetapi meskipun aku menjadi penguasa di sini, di depan ada musuh, di belakang ada raja. Jika suatu hari nanti dicari siapa yang bertanggung jawab, aku pasti tak bisa lepas dari tanggung jawab itu. Lebih baik tetap mengerahkan pasukan untuk menyelamatkan.”
Dengan wajah penuh integritas, ia berkata kepada komandan, “Tentu saja kita harus pergi. Jenderal telah berjasa besar bagi kita, hubungan kita sudah seperti ayah dan anak, dan ia adalah pilar masa depan Kerajaan Langit. Aku pasti akan menyelamatkan Jenderal.”
Komandan mendengar ucapan perwira itu dan memuji, “Yang Mulia benar-benar orang yang setia dan penuh rasa terima kasih. Aku sangat beruntung memiliki atasan seperti Anda! Saat ini masih ada seratus tiga puluh ribu prajurit di Kota Anugerah. Berapa banyak pasukan yang akan Anda bawa untuk misi penyelamatan ini?”
Perwira itu berpikir sejenak. Jika jumlah pasukan terlalu sedikit dan terjadi sesuatu hingga ia kehilangan nyawanya, itu jelas tidak baik. Tapi jika terlalu banyak, ia akan terlihat pengecut. Mencari titik tengah di antara dua pilihan ini sangatlah sulit.
Melihat perwira itu ragu, komandan menebak apa yang ada di benaknya. Dengan “penuh perhatian”, ia berkata, “Masalah seperti ini tak perlu membuat Yang Mulia repot. Awalnya Kota Anugerah hanya memiliki empat puluh ribu prajurit. Bagaimana jika Yang Mulia membawa sembilan puluh ribu pasukan? Selain menyelamatkan Jenderal, Anda juga bisa merebut kembali wilayah yang hilang.”
“Bagus, bagus sekali. Sungguh rencana yang cemerlang. Aku melihat kau memang cerdas, sangat pantas menjadi panglima besar. Setelah aku kembali, aku pasti akan mengangkat jabatanmu.”
Komandan itu tak menyangka satu kalimatnya bisa mendatangkan keuntungan sebesar itu. Ia segera mengucapkan terima kasih, “Semua ini berkat bimbingan Yang Mulia. Selama Anda ada di sini, aku pasti akan selalu menemukan jalan keluar. Semua keberhasilan ini adalah karena Anda.”
Setelah saling memuji secara basa-basi, perwira itu berkata, “Segera atur segalanya. Sepuluh menit lagi aku akan membawa pasukan berangkat menyelamatkan Jenderal.”
Komandan itu, meskipun sangat pandai menjilat, ternyata cukup cekatan dalam bekerja. Belum sampai sepuluh menit, sembilan puluh ribu pasukan sudah berkumpul di alun-alun, siap bertempur.
Meski sebagian besar hanya mengenakan pakaian seadanya, setidaknya mereka sudah berkumpul.
Melihat lautan manusia yang berdiri rapat di bawah sana, perwira itu merasa sangat bersemangat. Hanya dalam mimpi ia bisa menikmati “kehormatan” seperti ini—menjadi orang paling berkuasa di antara puluhan ribu prajurit.
Setelah pidato singkat, perwira itu dipandu oleh seorang prajurit yang selamat untuk memimpin pasukan berangkat. Kali ini, tak ada lagi sisa-sisa kekalahan pada dirinya. Kini ia tampil penuh percaya diri, seolah-olah benar-benar panglima yang tak pernah kalah dalam pertempuran.
Kekuasaan memang mudah membuat seseorang lupa diri, dan pesona wanita paling mudah membuat seseorang terlena.
Setelah segala urusan selesai, komandan itu pun kembali menikmati pelukan wanita-wanitanya.
Sementara itu, tokoh utama “misi penyelamatan”, Zhao Kun, sama sekali tidak tahu kalau ia membutuhkan bantuan. Ia pun tak tahu apa yang sedang terjadi di Kota Anugerah. Ia masih memimpin lima ribu pasukan mengejar para prajurit Kerajaan Kayu Hijau yang melarikan diri.
Secara logika, ia seharusnya sudah bisa mengejar pasukan musuh lebih awal bersama lima ribu prajuritnya. Namun, berbagai “kecelakaan” di sepanjang perjalanan membuatnya belum juga menyusul mereka.
Di sepanjang jalan, banyak lubang besar yang tiba-tiba muncul di tanah, membuat banyak binatang tunggangan terperosok dan tak bisa keluar. Padahal sebelumnya lubang-lubang itu tak ada—seolah-olah baru muncul setelah prajurit musuh melintas. Selain itu, prajurit Kerajaan Kayu Hijau tampaknya sudah menyiapkan segala sesuatunya. Masing-masing mengeluarkan benda tajam dari ransel, dan setiap kali binatang tunggangan menginjaknya, mereka langsung meringkik kesakitan dengan darah mengucur dari kaki.
Meskipun Zhao Kun berhasil mencabut benda-benda aneh yang menancap di kaki binatang tunggangan itu, kecepatan mereka tetap berkurang drastis karena luka yang dialami. Jalan yang dipenuhi lubang dan rintangan semakin memperlambat laju mereka, dan Zhao Kun pun dibuat pusing oleh berbagai penghalang di sepanjang jalan.
Untung saja mereka menunggangi binatang yang tangguh, sementara musuh melarikan diri dengan berjalan kaki. Dengan daya tahan binatang tunggangan itu, Zhao Kun yakin ia pasti bisa mengejar para prajurit musuh yang kabur.