Bab Seratus Empat Puluh Dua: Neraka Hidup Tambang Belerang
"Semuanya kembali ya, kembali sana," seru Rhenaguli sambil mengangguk dan berteriak ke belakang. Namun, para warga desa itu mungkin terlalu gembira dan asyik menari sehingga enggan untuk pergi.
Tiba-tiba Rhenaguli berkacak pinggang, mengerutkan kening, dan berseru dengan nada tinggi, "Ada apa dengan kalian? Hei! Kenapa belum usai juga! Cepat pulang ke rumah! Ayihan, dalam urusan bekerja kamu tidak becus, kenapa kalau menari malah begitu bersemangat? Jika kalian masih punya tenaga yang tidak tahu harus disalurkan ke mana, sebentar lagi pergilah ke rumah Haiyerguli untuk membantunya memanen buah anggur!"
Begitu mendengar Rhenaguli mengamuk, orang-orang itu bagaikan kawanan domba yang melihat serigala, langsung membubarkan diri dan lari tunggang langgang. Saat melewati rombongan Tianchu, gadis-gadis muda berwajah cantik asal Wilayah Barat itu mengerjap-nerjap mata mereka yang indah berbinar, melirik ke arah Yunfei dan Yunzhen dengan senyuman malu-malu. Tatapan mereka yang penuh ketertarikan sama sekali tidak disembunyikan. Adat istiadat di Wilayah Barat ternyata begitu terbuka, para gadis sama sekali tidak menyembunyikan rasa suka mereka kepada para pemuda. Pantas saja si Kucing Kecil dililit oleh Rhenaguli hingga tidak bisa melepaskan diri.
"Mau lihat apa! Cepat pulang sana!" Teriakkan Rhenaguli membuat beberapa gadis itu terkejut. Mereka lari sambil tertawa terbahak-bahak. Yang lain diam-diam menyeka keringat dingin. Melihat sikap Rhenaguli yang begitu garang, mereka tiba-tiba merasa kasihan pada si Kucing Kecil.
Setelah para wanita itu diusir pergi oleh Rhenaguli, nadanya tiba-tiba berubah menjadi lembut. Sambil mengerjap-nerjapkan mata dan bersikap tersipu-sipu, ia berkata kepada rombongan itu, "Kalian harus membawa pulang Dada, Aka, dan Kensol Rimeow ya. Aku sudah berunding dengan Apa. Begitu Kensol Rimeow kembali, seluruh anggota keluarga kita akan berkumpul, dan tepat di hadapan kalian para utusan Dewa Alazhen, pernikahan antara aku dan Kensol Rimeow akan dilangsungkan. Setelah kami menikah, aku akan ikut dengannya membawa kalian pergi ke Negeri Wanita."
Setelah mengatakan itu, Rhenaguli menutup wajahnya yang merona merah dan bersenang-senang sendiri seolah-olah tidak ada orang lain di sekitar. Keringat Lianxing sampai bercucuran. Niatnya untuk mencari si Kucing Kecil tiba-tiba menjadi tidak begitu mendesak lagi, bahkan ia sedikit berharap agar si Kucing Kecil benar-benar kabur sendiri dan tidak tertangkap di tambang belerang. Seandainya setelah masuk ke sana mereka benar-benar berhasil menemukannya, apa yang harus dilakukan?
Sebelum yang lain sempat menjawab, Rhenaguli tiba-tiba menjerit nyaring yang mengejutkan semua orang, lalu berbalik dan lari terbirit-birit. Sambil berlari ia berteriak, "Gawat, gawat! Apa sedang merebus teh susu di rumah, kalau pulang terlambat nanti tidak kebagian! Sisakan untukku ya!"
"Gadis ini penuh semangat dan sangat menarik. Membawanya ikut ke Negeri Wanita pasti akan sangat mengasyikkan, bukan?" Tianchu melihat kepulan debu yang membubung di belakang Rhenaguli sambil berkata setengah bercanda.
"Guru, jangan bercanda seperti itu. Jika Guru berkata begitu, aku jadi tidak ingin masuk ke dalam," kata Yunzhen sambil memasang gestur seolah-olah ingin kabur untuk mencairkan suasana.
"Guru, apakah kita berangkat?" Yunfei berdiri di depan mulut gua sambil menatap ke dalam gua gelap yang mengeluarkan bau menyengat, lalu bertanya dengan ekspresi serius.
"Berangkat!" Tianchu mengangguk. Dengan dipimpin oleh Yunfei di depan dan Yunzhen di belakang, rombongan itu masuk beriringan menyusuri gua yang mengepulkan uap tipis.
Ibu Rhenaguli yang penuh perhatian, begitu mendengar bahwa Tianchu dan yang lainnya bersedia membantunya mencari suami dan putranya, pada malam itu juga lembur menjahit enam buah masker yang tebal dan rapat, serta menyiapkan kantong kulit berisi banyak air untuk mereka. Setelah masuk ke dalam gua, uap belerang benar-benar sangat menyesakkan hingga membuat orang tidak tahan, jadi mereka membasahi masker dengan air lalu mengenakannya. Benar saja, hasilnya sangat baik. Pada saat itu, Tianchu merasa sangat berterima kasih atas segala hal yang telah dilakukan oleh ibu Rhenaguli.
Wanita Uyghur yang tidak banyak bicara, penuh ketabahan, baik hati, dan kuat itu selalu bekerja keras di balik layar tanpa banyak bicara. Tianchu bertekad dalam hati, kali ini turun ke dalam tambang, bagaimanapun caranya ia harus memberikan kepastian padanya.
Ini adalah lubang tambang yang digali secara buatan. Dinding guanya dipahat dengan sudut-sudut yang tajam, dan jejak-jejak baru membuktikan bahwa gua ini belum lama ada. Dinding gua semakin memanjang ke dalam, dan warnanya pun ikut berubah.
Urat tambang belerang berwarna kuning bagaikan lautan awan yang berliku-liku di antara dinding batu biru kehitaman, berputar-putar menciptakan pemandangan yang indah bagaikan lukisan tinta alam. Seiring dengan semakin masuk ke dalam, meskipun terhalang masker, bau belerang yang menyengat terasa semakin pekat. Dinding batu juga berangsur-angsur berubah dari warna kuning dan hitam menjadi kuning sepenuhnya, bahkan ada yang bercampur merah dan kuning, sementara ruang di dalam juga semakin membesar.
Menyusuri jalur tambang yang semakin melebar, di atas tanah berserakan sekop, cangkul yang sudah rusak, patah, dan cacat, serta beberapa gerobak dorong kecil dari kayu dan keranjang bambu usang. Semua itu membuktikan bahwa tempat ini dulunya pernah menjadi tempat kerja yang sibuk dan penuh semangat bagi banyak orang. Namun entah mengapa, sekarang orang-orang di tempat ini telah lenyap tanpa jejak.
Kontur tanah perlahan-lahan menurun, dan dinding gua di atas kepala juga semakin meninggi. Helai demi helai asap kuning tipis mengepul dari kedalaman, mewarnai langit-langit gua menjadi jingga terang. Stalaktit besar berbentuk kristal belerang menggantung dari langit-langit gua bagaikan jutaan taring tajam, semakin menambah suasana mengerikan di tempat itu.
Jalannya tidak mudah dilalui, penuh dengan serbuk kuning dan pecahan bijih. Sesekali mereka harus memanjat tempat tinggi dan menyusuri tebing curam. Bisa dibayangkan betapa beratnya kondisi kerja para penambang itu.
Begitu berjalan sangat lama hingga tenggorokan mereka terasa sakit dan tak tertahankan akibat kepulan gas belerang, mereka akhirnya melihat cahaya biru berpendar di depan dan mendengar suara dentingan logam. Semangat rombongan yang tadinya mengendur seketika menjadi tegang kembali.
Mereka maju dengan hati-hati sambil meraba-raba, berusaha semaksimal mungkin untuk tidak menimbulkan suara. Setelah melewati sebuah tikungan tajam, sebuah lubang tambang raksasa muncul di hadapan mereka. Ukurannya begitu besar hingga sulit digambarkan. Di dasar lubang tambang tersebut tampak lahar merah menyala yang terekspos, terhubung satu sama lain bagaikan kolam darah dalam berbagai ukuran. Lahar itu terus mendidih dan bergolak, merobek lapisan permukaan hitam yang mendingin berulang kali, melelehkannya, lalu kembali tenang sebelum akhirnya membeku lagi, merobek, meleleh, dan berulang terus-menerus seolah-olah memiliki nyawa.
Di sekitar lahar, bijih belerang berwarna kuning jingga terpanggang hingga terbakar. Kobaran api biru yang bergerombol bergoyang-goyang bagaikan api hantu, merambat helai demi helai ke setiap sudut lubang tambang. Gumpalan asap putih tebal berarak di antara api tersebut, sementara para penambang yang jumlahnya tak terhitung mondar-mandir bergerak lincah bagaikan semut kecil di dunia yang tersusun dari tiga warna: merah, biru, dan putih.
Di tempat itu bukan hanya ada para penambang, tetapi juga banyak Siluman Tikus berukuran sebesar manusia, dengan mata merah menyala dan taring yang menyembul. Mereka terus-menerus mencambuk para penambang yang terjatuh menggunakan ekor mereka yang menyerupai cambuk. Para penambang yang kesakitan karena dicambuk tidak punya pilihan selain bangkit kembali, memunguti bijih-bijih yang berserakan di tanah, memasukkannya kembali ke dalam wadah, lalu memanggulnya dan melanjutkan perjalanan.
Jaraknya terlalu jauh sehingga tidak terlihat jelas, tetapi tindakan para penambang ini sangat aneh. Menyaksikan orang lain di dekat kaki mereka disiksa secara bergantian oleh beberapa Siluman Tikus, para penambang di sebelahnya bersikap seolah-olah tidak melihat apa-apa dan terus saja menggali tambang dengan mempertaruhkan nyawa. Sebagai sesama penduduk desa, atau bahkan mungkin kerabat, bagaimana mereka bisa begitu berdarah dingin? Apakah mereka benar-benar mengalami amnesia hingga melupakan sifat kemanusiaan mereka?
Melihat Siluman Tikus mencambuk para penambang, Yunfei begitu marah hingga ingin segera menyerang, tetapi dicegah oleh Tianchu dengan menekan bahunya kuat-kuat. "Jangan terburu-buru. Situasi para penambang itu tidak beres. Jika kita langsung turun begitu saja, dikhawatirkan justru akan membahayakan mereka. Mendekatlah sedikit lagi, amati situasinya dengan jelas baru kita bertindak."
Semua orang mengangguk. Yunfei menekan amarah di dalam dadanya, memimpin rombongan menyusuri sebuah parit dalam untuk menyelinap menuju ke dasar lubang tambang.