Bab Empat Puluh Enam: Kelahiran Baru di Langit yang Baru
Pada hari kesepuluh setelah Tianchu jatuh koma, untuk pertama kalinya ia membuka matanya. Hampir seluruh pandangannya dipenuhi oleh wajah Bai Yue, yang begitu dekat dengannya hingga ia dapat merasakan hangatnya napas Bai Yue. Saat itu, tangan Bai Yue yang dingin seperti giok membelai pipi Tianchu, memanggil namanya dengan suara bergetar penuh kesedihan.
"Bangunlah, Tianchu. Jangan menakutiku, kumohon," ujar Bai Yue, air matanya menetes di wajah Tianchu. Ketika Tianchu tiba-tiba membuka mata dan saling menatap begitu dekat, keduanya terkejut hingga tak bisa berkata-kata.
"Ah!" Bai Yue berseru, membuat Tianchu juga tersentak. Bai Yue segera bangkit, mundur beberapa langkah dan membelakangi Tianchu, tak tahu harus berkata apa. Ia tak ingin Tianchu melihat wajahnya yang memerah karena malu. Dengan tergesa-gesa ia menghapus air matanya, sementara hatinya dipenuhi kebahagiaan yang begitu besar hingga tubuhnya bergetar karena Tianchu telah sadar.
Melihat punggung Bai Yue yang gemetar dan canggung, Tianchu masih belum bisa membedakan apakah ini mimpi atau kenyataan. Ia menatap sekeliling dan bertanya dengan suara pelan, "Kita masih hidup, bukan?"
Ingatan terakhir Tianchu adalah saat ia mendorong Bai Yue sebelum terkena serangan petir dari Mo Huang. Setelah itu, ia tak ingat apa-apa. Saat ia menoleh dan menemukan hanya dirinya dan Bai Yue di ruangan itu, ia sempat ragu apakah mereka berdua telah meninggal dan berada di dunia arwah.
"Tentu saja masih hidup! Kau pikir aku mau mati bersamamu? Mimpi saja! Tunggu sebentar!" kata Bai Yue, menuangkan semangkuk teh untuk Tianchu, masih malu hingga kepalanya tak berani berbalik. Ia menyerahkan teh itu kepada Tianchu dari belakang lalu dengan cepat keluar dari ruangan.
Baru saja Tianchu menyesap teh, terdengar suara langkah kaki ramai di luar kamar. Sekelompok orang masuk berebut ke dalam ruangan.
"Guru, kau akhirnya sadar! Hong'er hampir saja mati karena khawatir!"
"Apa aku tidak bilang? Dewa Xugu sendiri mengatakan bahwa guru kita bukan orang biasa, mana mungkin semudah itu dikalahkan!"
"Guru, aku sudah kembali. Aku mohon maaf, semua ini salahku karena terlalu keras kepala hingga membuatmu celaka."
"Melihat kalian semua baik-baik saja, aku pun tenang," ujar Tianchu, menatap murid-muridnya yang ramai di sekitar tempat tidurnya. Ia benar-benar merasakan betapa indahnya hidup. Ia membelai kepala Yunfei dengan penuh penyesalan. "Yunfei, ini salah guru. Guru terlalu marah dan berkata kasar hingga melukai hatimu. Guru tidak pernah meragukanmu, hanya saja saat itu guru terlalu cemas. Maafkan guru, ya?"
"Guru, mulai sekarang aku tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku pasti akan patuh pada guru," jawab Yunfei.
"Guru, kami juga akan patuh," janji Yunzhen dan Hong'er dengan mata berkaca-kaca.
"Paman Tianchu, aku juga akan patuh padamu," kata Lianxing sambil berkedip-kedip, terharu hingga air mata dan ingus bercampur. Melihat janji Yunzhen dan yang lain, ia pun ikut bergabung.
"Lianxing, kau salah guru! Aku gurumu, kenapa kau dengar Tianchu? Kau harus dengar aku," Bai Yue mengacak-acak rambut Lianxing yang halus sambil bercanda.
"Oh! Hampir saja lupa, benar, benar, aku murid Bai Yue. Guru, paman, mulai sekarang aku akan dengarkan kalian berdua! Haha!" Tingkah Lianxing membuat semua orang tertawa.
"Adik Lianxing, kau benar-benar lucu," Yunzhen tak tahan untuk mencubit pipi Lianxing yang chubby. Lianxing hanya tertawa riang, memperlihatkan lesung pipi yang sudah lama tak muncul.
Selama Tianchu koma, suasana hati semua orang buruk, sudah lama mereka tidak tertawa seperti ini.
"Ngomong-ngomong, kita ini sedang di mana?" tanya Tianchu.
"Ini adalah Sekte Qingcheng, kau tidak ingat?" Bai Yue terkejut.
"Tidak, aku hanya ingat aku diserang petir kutukan Mo Huang, setelah itu aku lupa semuanya. Kenapa aku tidak mati? Di mana Mo Huang? Apa yang terjadi setelahnya?" Tianchu bertanya bertubi-tubi, begitu banyak yang ingin ia ketahui.
"Guru, bagaimana kalau aku bilang Mo Huang kau yang kalahkan, percaya tidak?" Yunzhen yang biasanya suka bercanda, kini bertanya dengan serius. Tianchu pun tak percaya begitu saja.
"Kau pikir apa? Aku tahu kekuatanku sendiri, kalau aku punya kemampuan seperti itu, lima belas tahun lalu Kuil Hanyang tidak akan hancur oleh Mo Huang. Yunfei, kau pasti yang mengalahkan Mo Huang, kan? Aku baru sadar sudah merasa begitu lega, pasti Mo Huang sudah mati, bukan?"
"Dia belum mati, dia kabur. Guru, Mo Huang benar-benar kau yang kalahkan." Yunfei, yang tak pernah berbohong, mengatakan itu, membuat Tianchu terkejut hingga tak bisa berkata-kata.
"Aku? Tidak mungkin! Bagaimana bisa?" Tianchu menunjuk hidungnya sendiri, tak percaya pada penjelasan mereka.
"Benar, itu kau!" Bai Yue menceritakan semua tentang Tianchu yang berubah wujud, pertarungan sengit dengan Mo Huang, hingga akhirnya diselamatkan oleh Xugu. Tianchu mendengarkan dengan cemas dan penuh semangat, sampai keringat dingin keluar di dahinya. Ia tak menyangka ketakutan terbesarnya benar-benar terjadi—menjadi monster yang hampir mencelakakan semua orang. Meski akhirnya semua selamat, ia tetap merasa takut membayangkannya.
Setelah mengetahui bahwa Guru Xugu mengorbankan seratus tahun kekuatan demi menyelamatkannya, Tianchu merasa sangat berterima kasih pada sang penolong yang belum pernah ia temui. Tianchu sering berpikir, jika ia berada di posisi Guru Xugu, mungkin ia akan membunuh dirinya sendiri yang telah berubah menjadi monster. Namun Guru Xugu justru memberinya kesempatan untuk hidup kembali. Demi membalas budi Guru Xugu, Tianchu diam-diam bertekad untuk membasmi Mo Huang.
Kabar tentang Tianchu yang telah sadar segera sampai ke Kepala Sekte Xuanqing. Xuanqing bersama para murid Sekte Qingcheng datang untuk berterima kasih atas bantuan Tianchu, dan juga meminta maaf karena pernah salah paham hingga nyaris menimbulkan bencana. Sebagai bentuk terima kasih sekaligus ingin membantu Tianchu, Xuanqing menahan Tianchu beberapa hari, mengajarkan ilmu Tao dan memberi petunjuk.
Dengan interaksi antara inti emas dan energi sejati Xugu di tubuh Tianchu, dan bimbingan dari Xuanqing, Tianchu segera menguasai semua dasar ilmu Tao. Yang tak diduga Xuanqing, Tianchu bahkan berhasil memahami dua ilmu Tao yang sangat langka: Api Sejati Samadhi dan Mantra Simbol Pikiran. Kedua ilmu ini hanya pernah didengar oleh Xuanqing, belum pernah ia lihat langsung. Kini ia semakin yakin pada ucapan Xugu bahwa Tianchu memiliki tubuh dewa.
Walau Tianchu kini memiliki pondasi yang sangat baik, namun kemampuannya masih terbatas. Xuanqing percaya, suatu hari Tianchu akan menjadi seorang guru besar, bahkan mungkin mencapai keabadian.
Jika bukan karena kutukan di punggung Tianchu belum hilang, Tianchu benar-benar ingin tinggal di Gunung Qingcheng dan menekuni latihan seperti Guru Xugu. Namun saat ini mereka harus segera berangkat, sebab mereka tahu bukan hanya Tianchu dan Sekte Qingcheng yang terluka, tapi juga Mo Huang.
Mumpung Mo Huang masih terluka parah, inilah kesempatan emas. Tianchu dan rombongannya harus mengejar dan memburu Mo Huang, yang melarikan diri ke arah barat laut. Tampaknya tempat persembunyian Mo Huang sesuai dengan yang dikatakan Sun Biaotou, yaitu ke arah Negeri Perempuan Timur.
Mereka pun berpamitan dengan Sekte Qingcheng, menyiapkan perlengkapan, dan memulai perjalanan ke barat laut dengan Negeri Perempuan Timur sebagai tujuan.