Bab Enam Puluh Satu: Yunfei Mencari Pelaku Sebenarnya dengan Hati yang Tersinggung
Di jalan raya yang lebar, dua kereta kuda melaju berdampingan. Rombongan Tian Chu bercengkerama santai sembari mengikuti jalan utama ke barat, menikmati perjalanan bak sedang berwisata.
“Yun Fei, selama tiga hari kau meninggalkan kami, sebenarnya ke mana saja? Yun Zhen dan Hong Er sudah mencarimu ke mana-mana tapi tak berhasil menemukanmu,” tanya Tian Chu sambil mengangkat cambuk kuda, lalu menoleh ke arah Yun Fei yang duduk di sisi lain kereta.
“Eh? Guru, kami mencarimu diam-diam tanpa sepengetahuanmu. Bagaimana kau bisa tahu?” Belum sempat Yun Fei menjawab, Yun Zhen yang duduk di kereta lain sudah berseru keras.
“Benar, Guru, bagaimana kau mengetahuinya?” Hong Er pun ikut penasaran, menjulurkan kepalanya dari dalam kereta.
“Kenapa aku disebut guru dan kalian murid? Apa pun yang kalian lakukan, aku pasti tahu. Jadi, lain kali jangan coba-coba bermain licik di depanku, itu percuma.”
“Tolong, jangan menyela dulu. Aku ingin mendengar Kakak Yun Fei bercerita!” Lian Xing yang memang paling suka mendengar cerita, tak sabar mendesak Yun Fei.
Melihat semua orang menanti dengan penuh harap, Yun Fei yang memang tak pandai bicara, demi menyenangkan gurunya dan menghibur mereka, membersihkan tenggorokannya lalu memberanikan diri mulai bercerita.
Setelah Yun Fei pergi dengan hati panas dari kediaman Rou Bai Gu, satu-satunya pikirannya adalah menangkap pembunuh Pendeta Mo Qiu untuk membuktikan dirinya tak bersalah. Ia pun kembali ke tempat di mana mereka bertemu malapetaka itu.
Di sana, ia terkejut melihat tanah lapang penuh noda darah hitam yang mengerikan. Darah hitam itu hampir menyembur dan membasahi seluruh area yang bisa terlihat. Dari situ tampak betapa mengerikan dan kejamnya pembunuhan Pendeta Mo Qiu. Di tempat itu, samar-samar masih tercium hawa dingin yang sulit dirasakan oleh orang biasa. Waktu memang telah berlalu cukup lama, tapi aura jahat si pembunuh ternyata masih tertinggal. Ini menunjukkan bahwa pembunuh itu bukan orang sembarangan.
Yun Fei berputar-putar di antara darah hitam dan rumput kering, berusaha mencari petunjuk berguna. Tak disangka, ia menemukan jejak kaki kecil berwarna hitam. Sekilas saja Yun Fei tahu itu adalah jejak arwah. Jejak itu hanyalah bayangan basah dan gelap yang samar, sama sekali tak meninggalkan bekas nyata di tanah. Orang biasa pasti tak mampu melihatnya.
Dengan naluri tajam terhadap aura jahat, Yun Fei mengikuti jejak itu hingga sampai ke sebuah makam tua di kedalaman hutan. Tulisan di makam itu sudah nyaris tak terbaca, batu nisannya pun telah roboh, dan di atas gundukan makam tumbuh rumput liar. Sepotong aura jahat mengepul di sekeliling makam itu.
Begitu Yun Fei mendekati makam tua tersebut, terdengar suara jeritan hantu dari dalamnya. Suara yang bergetar itu menandakan betapa takutnya arwah di dalamnya.
“Tuan besar, ampunilah aku, aku tak berani lagi, sungguh tak berani!”
“Siapa kau? Keluarlah!” bentak Yun Fei dengan lantang. Hantu kecil di makam itu langsung diam. Setelah beberapa saat, dari balik batu nisan yang rusak, menyembul kepala hantu berambut kusut. Namun sekejap saja, ia langsung bersembunyi lagi. Kali ini suaranya semakin bergetar.
“Pendeta, eh, bukan… Dewa, ampunilah aku. Aku tidak pernah melakukan kejahatan. Semua karena dipaksa oleh Iblis Pemangsa Langit. Kalau kau mau mencari, carilah dia. Janganlah menghabisiku, aku belum puas hidup di dunia ini…”
Baru setengah menangis, hantu kecil itu tiba-tiba terdiam, lalu dengan gerakan cepat keluar dari makam. Ia berubah dari pengecut menjadi pongah, bertolak pinggang dengan kaki gemetar dan bibir cemberut. “Tidak benar, mengapa di tubuhmu ada aura jahat? Ternyata kita sejenis ya? Kau berpura-pura jadi pendeta untuk menakutiku, ya? Aku beritahu, aku punya backing kuat. Aku akan minta Iblis Pemangsa Langit membinasakanmu!”
“Iblis Pemangsa Langit?” Bukannya tertarik pada perubahan sikap hantu kecil itu, perhatian Yun Fei justru tertuju pada nama yang disebutnya. Begitu mendengar nama yang gagah dan garang itu, Yun Fei merasa kemungkinan besar memang ada raja iblis di Gunung Qingcheng. Ia pun merasa telah menemukan petunjuk yang tepat.
Melihat wajah Yun Fei berbinar, hantu kecil itu tahu Yun Fei tidak takut padanya. Matanya berputar cepat, lalu sambil menggigit jarinya, berpikir keras sebelum kembali berteriak, “Apa? Kau tidak takut? Kau tahu, kemarin di luar Kota Qingshan ada seorang kepala kuil yang terbunuh. Itu ulah tuanku, Iblis Pemangsa Langit! Bagaimana? Kau takut, kan? Aku beritahu, kejadiannya benar-benar mengerikan. Tuanku si Iblis Pemangsa Langit melompat dan… aduh, hei, kau mau apa?”
“Berhenti mengoceh. Bawa aku menemui Iblis Pemangsa Langit!” Yun Fei langsung mencekik leher hantu kecil yang berteriak-teriak itu.
“Aaaaa! Kau bukan hantu, kau manusia! Tapi kenapa ada aura jahat di tubuhmu? Sebenarnya kau itu apa?”
“Aku pendeta. Pendeta yang khusus membasmi hantu jahat. Aku ingin membalaskan dendam Pendeta Mo Qiu yang terbunuh kemarin. Jika kau tak ingin mati, antar aku segera menemui si Iblis Pemangsa Langit yang kau sebut-sebut itu.”
“Baik, baik, baik… Tuan Dewa, aku akan menurut. Aku akan mengantarmu. Kau memang tepat datang padaku. Pendeta yang tewas kemarin memang dibunuh oleh Iblis Pemangsa Langit. Aku melihatnya sendiri. Hari ini, kau harus membinasakan iblis itu. Dia benar-benar makhluk keji.”
Di bawah petunjuk si hantu kecil, mereka sampai di mulut sebuah gua yang sunyi dan dalam. Anehnya, Yun Fei tak merasakan adanya aura jahat yang kuat di sana, sehingga ia sedikit kecewa.
“Di sini?” Yun Fei sempat mengira salah tempat, lalu menoleh pada hantu kecil itu.
“Benar, benar, di sinilah. Si keji Iblis Pemangsa Langit ada di dalamnya.”
“Kenapa aku tak merasakan aura jahat apa pun?”
“Oh, itu… ya, ya. Iblis Pemangsa Langit itu terlalu hebat, dia bisa menyembunyikan auranya,” jawab hantu kecil itu sambil menyeka keringat dan menghela napas lega.
“Iblis Pemangsa Langit, keluarlah dan terimalah ajalmu!” Yun Fei berteriak ke arah mulut gua. Si hantu kecil langsung lenyap ketakutan. Yun Fei tak menghiraukannya lagi, ia pun mencabut Pedang Tujuh Bintang, menyalurkan seluruh tenaga dalamnya, bersiap menghadapi pertarungan hidup dan mati.
Karena tegang, kening Yun Fei sampai berkeringat. Ia menyadari, iblis yang membunuh Pendeta Mo Qiu pasti sangat sakti, dan peluangnya untuk menang sangat tipis. Namun, demi membersihkan nama baiknya, Yun Fei hanya bisa memilih bertarung hingga titik darah penghabisan. Ia menggertakkan gigi, siap mempertaruhkan nyawanya jika perlu.
Saat itu, Iblis Pemangsa Langit keluar dari gua. Dalam benak Yun Fei, ia sudah membayangkan sosok raja iblis yang mengerikan, namun yang muncul justru sosok yang sangat biasa: bertubuh besar dengan wajah galak, ada bekas luka di atas matanya, kepala plontos dengan rambut hanya melingkar di tepinya, dan di tangannya tergenggam sebilah golok pemotong daging. Dengan tubuh gemuknya, ia berjalan keluar sambil mengayun-ayunkan golok.
“Siapa kau? Mau cari mati ya? Rasakan jurus pamungkas Iblis Pemangsa Langit!” Setelah memperkenalkan diri, si iblis langsung menyerang. Ia bukan melayang, melainkan berlari dengan kaki sendiri. Sambil mengangkat golok dan meraung, ia menebas ke arah Yun Fei.
“Plak!”
“Uwaaa!”
Yun Fei baru saja mengangkat pedang dan bersiap melawan, tak disangka Iblis Pemangsa Langit tersandung kaki sendiri saat berlari, lalu tubuhnya terjerembab dan menancap tepat di Pedang Tujuh Bintang milik Yun Fei. Betapa kuatnya pedang itu, sehingga si iblis hanya sempat menjerit sebelum tubuhnya hancur menjadi debu.