Bab Empat Belas: Pedang Tujuh Bintang, Senjata Dewa Tak Tertandingi
Di dasar kotak itu terdapat sebuah kotak kayu cendana panjang, memancarkan kilau kuno, dengan ukiran bangau dan awan yang begitu hidup di bagian atasnya. Saat Tian Chu pertama kali melihat kotak itu, ia tertegun, entah karena terlalu terharu atau sebab lain, mulutnya terbuka namun tak bisa mengucap sepatah kata pun. Reaksi tiba-tiba Tian Chu membuat Yun Zhen terkejut, ia secara refleks mundur beberapa meter, bersandar pada dinding, menutupi kepalanya dengan kedua tangan sambil berjongkok dalam posisi bertahan. Namun setelah menunggu cukup lama dengan mata terpejam, ternyata tidak terjadi apa-apa.
Dengan memberanikan diri, Yun Zhen perlahan mendekati Tian Chu kembali dan melihat Tian Chu tersenyum sambil meneteskan air mata. Kali ini Yun Zhen semakin bingung dan tak mengerti apa yang terjadi. Rasa penasaran membuatnya berani, ia mendekat dan mengamati kotak itu dari kiri dan kanan, namun tetap tidak menemukan hal istimewa. Ia bertanya-tanya, apa yang membuat guru begitu terharu?
“Guru, apakah benda ini sangat berharga? Sampai membuatmu sebahagia ini? Guru? Bicaralah, apakah kita akan kaya raya sekarang?”
“Pedang Matahari Sejati,” Tian Chu menatap kotak itu, bergumam pelan, lalu mengulurkan tangan untuk mengambilnya. Namun karena terlalu gugup, tangannya bergetar hebat.
“Pedang Matahari Sejati! Jadi ini yang selama ini kita cari?” Yun Zhen, yang hanya pernah mendengar namanya tapi belum pernah melihatnya, terkejut hingga berteriak.
Tian Chu menahan gejolak di hatinya, mengangkat kotak pedang yang sangat dikenalnya itu dengan kedua tangan. Namun, saat baru saja mengangkat kotak, perasaan aneh menyergap hatinya. Ekspresinya langsung membeku, sebab kotak itu tidak seberat yang ia bayangkan, dan mengapa kehangatan matahari yang dipancarkan begitu lemah?
Tian Chu samar-samar mengingat masa kecilnya; ketika musim dingin menggigit, ia sering diam-diam masuk ke aula utama membawa kotak berisi Pedang Matahari Sejati untuk menghangatkan diri. Itu adalah kehangatan yang tak pernah ia lupakan, kehangatan yang meresap dari balik kotak kayu, seperti ada matahari kecil di dalamnya.
Namun kini, kotak di tangannya terasa dingin, sama seperti perasaannya saat ini. Dengan tangan gemetar, Tian Chu berusaha membuka kotak itu, tetapi ia sudah terlalu gugup hingga tak lagi punya tenaga. Dalam kepanikan, kotak itu jatuh dari tangannya.
Bunyi keras terdengar.
Sebuah pedang panjang berwarna hitam legam jatuh keluar dari kotak pedang, sarungnya terlepas, sinar dingin memancar tajam. Pedang itu hitam mengilap, lebarnya sekitar tiga jari, panjangnya lebih dari satu meter, desainnya sederhana dan tegas. Pada sarung pedang yang terlepas, terdapat ukiran motif gelap, pada gagangnya bertatahkan batu giok kuno ribuan tahun. Bilah pedang itu sendiri sangat indah, ramping dan tajam, hitam berkilau, diukir dengan pola tujuh bintang dan naga, memancarkan cahaya dingin yang menusuk, jelas sekali ini adalah pedang luar biasa.
Bagian paling mencolok bukan pada bilah pedangnya, melainkan pada jumbai pedang. Walaupun bentuk jumbai itu tampak biasa saja, namun disekelilingnya mengalir cahaya keemasan hangat, memancarkan sedikit energi matahari. Karena itulah Yun Zhen salah mengira pedang ini sebagai Pedang Matahari Sejati.
“Wah! Ternyata benar-benar pedang bagus. Jadi Pedang Matahari Sejati memang sekeren ini, pantas saja jadi pusaka utama kuil.”
Tian Chu duduk di lantai dengan kecewa, memainkan jumbai pedang yang hangat itu, berkata lemah, “Memang benar ini pedang yang luar biasa, tapi ini bukan Pedang Matahari Sejati. Ini adalah Pedang Tujuh Bintang yang sudah lama hilang dari dunia.”
Tian Chu menggenggam jumbai pedang, tak rela melepaskannya, berkata dengan nada kesal, “Namun kotak pedang dan jumbai ini benar-benar milik Pedang Matahari Sejati. Kenapa kedua benda ini bisa sampai di tangan para perampok Gunung Angin Hitam? Kepala perampok itu pasti tahu di mana keberadaan Pedang Matahari Sejati. Tapi, bajingan itu sudah...”
Memikirkan hal itu, Tian Chu memeluk kepalanya dan hampir menangis. Ia berharap waktu bisa berputar kembali. Jika saja ia tahu kedua benda itu ada pada kepala perampok, ia rela mempertaruhkan nyawa untuk menyelamatkannya dari rantai besi Yun Fei. Tapi, tak ada obat penyesalan di dunia ini. Andai benar ada, Tian Chu ingin memakannya setiap hari.
“Yun Fei, Yun Fei, kau benar-benar membuatku marah!” Tian Chu mengacak rambutnya yang sudah berantakan dengan putus asa.
“Siapa? Siapa yang memanggilku? Apakah ada yang mau memberiku kacang?” Yun Fei menendang pintu, menepuk perutnya sambil bersendawa masuk ke dalam.
Begitu masuk, Yun Fei hampir silau terkena pantulan cahaya dari Pedang Tujuh Bintang di lantai. Ia menyipitkan mata, mendorong Yun Zhen yang menghalangi jalannya. Yun Zhen terjatuh karena dorongan itu, hendak memaki, namun Yun Fei sudah berteriak kegirangan.
“Dari mana pedang ini? Indah sekali! Aku mau ini, aku hanya mau pedang ini!” Yun Fei melompat mengambil Pedang Tujuh Bintang, memeluknya erat-erat.
“Itu pedang yang sangat, sangat berharga. Untuk apa kau memilikinya? Letakkan, akan kutunjukkan tempat rahasia menyimpan kacang yang banyak,” kata Yun Zhen yang mata duitan, lupa akan kejadian baru saja didorong Yun Fei, langsung berdiri dan menawar.
“Berapa pun kacangnya, aku tak akan tukar! Aku hanya mau pedang ini!” Yun Fei memeluk Pedang Tujuh Bintang lebih erat, menatap marah, siap bertarung dengan siapa saja yang berani merebut pedangnya.
Yun Zhen sangat mengenal watak Yun Fei. Anak itu keras kepala, jika sudah menginginkan sesuatu, sepuluh ekor kerbau pun tak bisa menariknya mundur. Menyadari tak ada harapan untuk bernegosiasi, Yun Zhen pun berkata, “Kau sudah punya pedang, aku tidak. Itu tidak adil. Bagaimana kalau bagianmu dari harta karun ini kau serahkan padaku?”
“Aku tak mau, ambil saja semua. Aku hanya mau pedang ini.” Yun Fei, yang menganggap harta dunia tak berharga, langsung setuju tanpa pikir panjang.
Melihat Yun Fei begitu bahagia memeluk Pedang Tujuh Bintang, Tian Chu tiba-tiba tak bisa lagi marah padanya. Meskipun dalam hati ia berpikir demikian, mulutnya tetap memarahi, “Yun Fei, tahukah kau kau sudah membuat masalah? Kalau saja kau tidak membunuh kepala perampok Gunung Angin Hitam, mungkin sekarang kita sudah tahu di mana Pedang Matahari Sejati. Semua gara-gara kau tidak menurut.”
Sembari berkata, Tian Chu menendang pantat Yun Fei dua kali, “Ini hukuman untukmu. Pedang boleh kau bawa, tapi lain kali harus patuh, jangan buat masalah lagi, dengar?”
Melihat Yun Fei dihukum guru, Yun Zhen tertawa senang, merasa terbalas karena tadi didorong, sambil menggoyang-goyangkan kakinya dengan bangga.
Untuk pertama kalinya Yun Fei dihukum gurunya, bibirnya manyun ke atas, wajahnya cemberut. Namun saat ia menunduk melihat Pedang Tujuh Bintang di pelukannya, wajahnya langsung ceria, tertawa lepas, berteriak, “Baik, Guru!” Lalu ia menjulurkan lidah pada Yun Zhen, melompat kegirangan membawa pedang ke halaman belakang untuk berlatih.
Dengan Pedang Tujuh Bintang di tangannya, Yun Fei semakin percaya diri dan kemampuannya berkembang pesat. Ia seperti ikan di air, seluruh jurusnya mengalir dengan sempurna. Ilmu pedangnya seperti datang secara alami, hanya berlatih sebentar di halaman belakang sudah bisa menguasainya, seolah manusia dan pedang telah menyatu.
Gaya Yun Fei memainkan pedang begitu gagah, menarik perhatian para saudara seperguruannya. Para pendeta muda yang baru masuk, yang termuda berusia tiga atau empat tahun, yang tertua sudah lebih dari setengah abad, semua berkumpul menyaksikan. Yang tua menggendong yang kecil, yang muda menarik tangan yang tua, semua meninggalkan pekerjaan mereka, terpesona menyaksikan Yun Fei menari pedang. Setiap kali sampai pada gerakan yang indah, mereka bersorak kegirangan.