Bab Sepuluh: Manusia Takut Terkenal, Babi Takut Gemuk
Tianchu merapikan pakaian, menarik napas dalam-dalam, lalu duduk bersila di hadapan Jenderal Hantu. Ia membentuk mudra dengan kedua jarinya, menenangkan hati, dan mulai merasakan kehadiran para dewa. Setelah beberapa saat, tiba-tiba ia merasakan cahaya ilahi muncul, menyatu dengan langit dan bumi. Tianchu pun mulai melafalkan Mantra Pemurnian Langit dan Bumi secara perlahan.
Tulisan emas mantra itu berputar mengelilingi Jenderal Hantu bagai kunang-kunang, cahaya menari-nari, menciptakan suasana ajaib dan suci. Tiga jiwa Jenderal Hantu bergetar dan saling bertindihan, namun tetap berat bagai batu besar, tak bisa terangkat. Setelah Tianchu selesai melafalkan mantra, ia membuka mata dan terkejut.
“Kamu... kenapa masih di sini?”
“Terima kasih atas niat baikmu, Tuan Pendeta. Aku sudah menjadi arwah gentayangan, kehilangan hak untuk bereinkarnasi. Lebih baik Tuan Pendeta hancurkan saja jiwaku, agar tak menimbulkan bencana di kemudian hari.”
“Aku tidak percaya! Aku coba lagi!”
Tianchu melafalkan mantra itu lebih dari sepuluh kali, namun hasilnya tetap sama. Kali ini ia benar-benar percaya, Jenderal Hantu ini memang tak bisa dituntun menuju alam baka. Lantas, harus bagaimana?
Melihat Tianchu kebingungan, tiga murid kecilnya juga ikut berpikir keras, berputar-putar penuh kegelisahan. Tiba-tiba Sima Lie maju dan memberi hormat, “Aku punya satu permintaan.”
“Katakanlah!”
“Tadi Tuan Pendeta bilang bahwa kalian sedang memikul dendam pembantaian keluarga dan harta pusaka tidak diketahui rimbanya. Jika Tuan Pendeta berkenan, izinkan aku mengikuti kalian, membantu membasmi iblis dan merebut kembali pusaka itu. Jika suatu saat aku menyeleweng dari jalan yang benar, Tuan Pendeta boleh menghancurkan jiwaku kapan saja.”
“Bagus sekali idenya! Jenderal Sima begitu hebat, nanti aku bisa bertanding dengannya. Guru, setujui saja!”
“Terima kasih, Tuan Muda Yunfei. Aku benar-benar kagum pada kemampuanmu. Usia Tuan Muda masih muda, namun aku harus mengerahkan tujuh puluh persen tenagaku untuk menahan seranganmu. Kelak, masa depanmu pasti gemilang, mungkin takkan ada lawan sebanding di dunia ini.”
Sima Lie sangat mengagumi kemampuan Yunfei, memujinya tanpa henti. Ia juga memuji ilmu meringankan tubuh Yunzhen, membuat kedua anak itu tersipu-sipu, hidung mereka sampai mengeluarkan gelembung karena girang.
Tianchu berpikir, melihat Sima Lie penuh semangat dan sikap ksatria, serta pandai merayu, ia tentu sangat diuntungkan bila Sima Lie mau bergabung. Seorang hantu kuat berusia seribu tahun dengan kemampuan bela diri luar biasa, jika menjadi pengikutnya, kelak merebut kembali Pedang Chunyang, membangkitkan kembali Kuil Hanyang, dan memecahkan kutukan tinggal menunggu waktu.
Tianchu begitu larut dalam khayalannya sendiri, hingga lupa bahwa dua orang dan satu hantu sedang memandangnya, menantikan keputusannya. Menyadari tatapan mereka, ia tertawa canggung, “Kalau kalian semua setuju, aku pun tidak keberatan. Hanya saja, Jenderal Sima, kau sekarang terluka parah, perlu pemulihan. Aku akan menyimpankanmu lebih dulu.”
“Oh ya, Jenderal Sima, aku ingin bertanya tentang seseorang... eh, bukan, tentang hantu. Apakah kau tahu ada hantu yang sangat kuat dan mampu menggunakan ilmu petir?”
Wajah Jenderal Hantu yang sudah kelabu menjadi semakin gelap, tampak ragu.
“Haha!” Yunzhen yang berdiri di samping tidak tahan menahan tawa.
“Kau ini kenapa? Orang dewasa sedang bicara, jangan tertawa!” tegur Tianchu pada Yunzhen.
“Betul, jangan tertawa!” tambah Doupao sambil meletakkan tangan di pinggang, meniru gaya Tianchu pada Yunzhen.
“Kalian ini lucu sekali! Jenderal Hantu sudah berkali-kali bilang, dia seribu tahun lebih tidak pernah keluar dari tempat ini. Untuk apa bertanya yang tidak-tidak, haha!”
Tianchu langsung memerah mukanya, sementara Jenderal Hantu yang tidak bisa memerah malah makin kelam. Mereka saling berpandangan dan tertawa, menggaruk kepala dengan canggung.
Tianchu pikir, benar juga. Lebih baik simpan saja Jenderal Hantu itu. Ia mencari-cari di seluruh tubuh, baru sadar lupa membawa guci kecil untuk menampung hantu. Akhirnya ia membuka labu air yang dibawanya, menumpahkan isinya, lalu berkata, “Jenderal Sima, mohon maaf, kau harus tinggal dulu di dalam labu ini.” Jenderal Hantu mengangguk. Tianchu melafalkan mantra, menyegel Jenderal Hantu di dalam labu, menempelkan jimat, lalu menggendongnya di punggung.
Kembali ke desa, Tianchu mendapati kondisi para penduduk jauh membaik. Ia membagikan air mantra pengusir hawa jahat untuk diminum bersama-sama. Begitu diminum, para penduduk langsung sembuh. Mereka berlutut dengan penuh syukur, menyebut Tianchu sebagai Bodhisatwa penyelamat.
Karena jasanya, kepala desa memberikan bayaran berlipat, dan para penduduk juga memberikan banyak hadiah, termasuk berbagai jenis kacang kesukaan Yunfei. Murid dan guru itu sangat gembira, hari itu mereka berhasil menaklukkan Jenderal Hantu sekaligus mendapat banyak rejeki—benar-benar hari keberuntungan.
Sejak insiden hantu di Desa Batu terselesaikan, nama Tianchu kian dikenal dan masa kejayaan Kuil Hanyang pun tiba. Banyak orang datang ingin berguru dan dalam waktu kurang dari sebulan, jumlah murid Kuil Hanyang hampir mencapai tiga puluh orang, akhirnya kuil itu benar-benar seperti kuil yang sesungguhnya.
Tak hanya itu, kabar tentang Tianchu semakin luar biasa. Orang-orang mengatakan di Kuil Hanyang ada dewa hidup. Nama Kuil Hanyang melambung, membuat penduduk sekitar dan bahkan dari kota lain datang untuk berziarah. Kuil itu menjadi sangat ramai, membuat kuil-kuil lain iri. Tianchu kini mengelola puluhan orang, tak perlu lagi turun gunung mencari pekerjaan—ia akhirnya merasakan bagaimana menjadi seorang pemimpin.
Meski dupa di kuil semakin ramai, uang yang dikumpulkan tetap saja habis. Musim hujan datang, Tianchu hampir setiap hari menangkis sambaran petir, dan uang hasil kerja kerasnya habis untuk biaya makan dan memperbaiki kuil.
Orang bilang, manusia takut terkenal, babi takut gemuk. Semakin terkenal Tianchu, semakin banyak pula yang mengenalnya. Mereka yang berniat jahat mulai mengincarnya.
Sudah beberapa waktu, ada seorang laki-laki bermata licik yang kerap datang mengundang Tianchu. Ia berkata tuannya sedang gelisah, ingin meminta Tianchu melaksanakan ritual pengusiran sial. Sejak Tianchu menjadi terkenal, undangan semacam itu datang silih berganti. Untuk urusan kecil, biasanya Tianchu hanya memberi beberapa jimat dan memberi petunjuk, selesai sudah.
Namun orang itu tidak pernah putus asa. Setiap kali datang, ia selalu berkata tuannya harus didatangi langsung oleh Tianchu dan semakin lama, tawaran uangnya semakin tinggi. Melihat uang sebanyak itu, Tianchu sempat tergoda, namun ia merasa ada yang tidak beres. Setelah menyelidiki, ternyata orang itu seorang perampok. Meski Tianchu suka uang, ia tetap seorang yang jujur. Sebagai seorang pendeta sejati, mana bisa membantu perampok? Ia pun menolak tegas, berjanji takkan menerima berapa pun bayarannya.
Setelah Tianchu berkata demikian, orang itu tidak pernah muncul lagi, dan urusan itu pelan-pelan dilupakan orang.
Suatu hari, saat sedang makan, tiba-tiba datang seorang kakek berpakaian rapi. Begitu bertemu Tianchu, ia langsung berlutut sambil menangis, “Tuan Pendeta, tolong selamatkan nona kami!”
“Kakek, bangunlah. Apa yang terjadi dengan nona kalian? Silakan duduk, ceritakan perlahan.”
“Nona kami entah kenapa, semalam keluar berjalan-jalan lalu pulang dalam keadaan aneh. Ia berbicara ngawur, bahkan mencoba bunuh diri. Keluarga tak tahu harus bagaimana, terpaksa mengawasinya bergantian. Tolonglah, mungkin ia bertemu sesuatu yang tidak bersih?”
Tianchu mengeluarkan beberapa jimat dari sakunya, “Kakek, jangan panik. Ini jimat penolak bala, tempelkan di kamar nona kalian. Lalu bakar jimat penenang jiwa ini, larutkan dalam air dan suruh nona minum. Menurutku ini hanya kerasukan biasa, minum saja akan sembuh.”
Melihat Tianchu tak berniat ikut, kakek itu segera mengeluarkan dua batang perak, lalu berlutut, “Tolong, Tuan Pendeta. Saya tua dan tak pandai bicara. Keadaan nona sangat berbahaya, mohon selamatkan nyawanya.”
Mata Tianchu langsung berbinar, ia menerima perak itu dan berkata, “Oh, begitu berbahaya ya? Tak bisa ditunda, mari kita berangkat sekarang!”
Tianchu dengan cepat menyendok makanannya dan bersiap pergi. Namun kakek itu tampak ragu, seolah sedang berpikir.
“Ada apa, kakek?”
“Tuan Pendeta, jangan terlalu tergesa-gesa. Bagaimana jika hantu itu sangat kuat? Bukankah sebaiknya Tuan Pendeta lebih dulu mempersiapkan diri?”
“Tenang saja, selama bertahun-tahun aku menumpas iblis, tak pernah gagal. Dengan cermin Bagua pelindung, makhluk jahat mana pun takkan bisa macam-macam!” katanya sambil menepuk-nepuk cermin Bagua di dadanya. Ia lalu berkata pada Yunfei dan Yunzhen, “Kalian berdua tetap di rumah, jangan keluyuran. Aku akan pulang sebelum makan malam.”
Kakek itu tersenyum lebar, “Kalau begitu, saya tenang. Silakan, Tuan Pendeta, mari!”