Bab 146 Penolakan
"Sebenarnya masalah gelar bangsawan tidaklah begitu penting." Nada bicara Ogden berubah. "Aku hanya merasa sayang padamu. Ketahuilah, harta keluarga ini dikumpulkan dengan susah payah oleh ibumu. Jika bukan karena dukungan penuh dari keluarga ibumu, Kakak Sulung tidak akan bisa menduduki wilayah baron ini. Jadi, hanya engkaulah yang layak mewarisi gelar tersebut. Si jalang Sofia itu, apa kontribusinya?"
Barick langsung tersulut emosi oleh perkataan Ogden. Benar juga, ini adalah harta peninggalan ibunya, untuk apa diserahkan begitu saja kepada Sofia? Namun, bagaimana caranya menghadapi Sofia? Pikiran Barick tiba-tiba menjadi terang. Meskipun ibunya telah tiada, keluarga dari pihak ibunya masih ada. Jika ia pergi menemui mereka, sepertinya ia tidak akan ditolak.
Dengan gembira, Barick menyampaikan pemikirannya kepada Ogden. Setelah mendengarkannya, Ogden merenung sejenak sebelum berkata kepada Barick: "Begini saja, hubungi pihak sana terlebih dahulu, lalu mengenai tindakan selanjutnya, biarkan aku yang berunding dengan mereka. Namun, jangan pernah ceritakan hal ini kepada siapa pun. Begitu si jalang Sofia itu mengetahuinya, kau tidak akan memiliki kesempatan lagi."
Melihat gagasannya disetujui, Barick merasa sangat senang. Mengira dirinya telah menemukan sebuah cara yang luar biasa, ia dengan penuh semangat berlari keluar untuk mengatur orang-orang.
Ogden mengantar kepergian Barick dengan pandangan matanya, lalu bersandar berat pada kursi dan menghela napas panjang. Sebenarnya, dialah yang sengaja memancing Barick untuk berpikir ke arah tersebut. Pasalnya, situasi saat ini sudah jelas berada di luar kendalinya. Entah mengapa, Thane tiba-tiba mengubah gaya masa lalunya dan mulai bersikap mencolok, serta tanpa ragu-ragu menunjukkan keberpihakannya kepada Sofia.
Dengan kondisi seperti itu, mustahil bagi Ogden untuk menyingkirkan Sofia hanya dengan kekuatannya sendiri. Keberadaan Fedst saja sudah membuat Ogden tidak berdaya. Mau tidak mau, Ogden harus bergabung dengan kekuatan lain. Meskipun keuntungan yang didapat akan jauh berkurang, itu tetap jauh lebih baik daripada tidak mendapatkan apa-apa.
****
Dua hari berlalu begitu saja. Situasi di kastil pusat tampak begitu tenang. Sofia harus bangun sebelum fajar setiap harinya untuk mengurus berbagai urusan remeh. Namun, ia tidak lagi sesembut dulu; paling lama ia hanya sibuk setengah hari, dan sisa waktunya dihabiskan untuk menemani Dio berjalan-jalan guna mengenalkan lingkungan sekitar kepada pemuda itu sesegera mungkin.
Bagi sebagian besar penguasa, dua jenis kekuasaan yang paling penting adalah komando atas pasukan dan hak untuk meninjau serta menyetujui keuangan. Pasukan pengawal wilayah baron selama ini dipegang oleh Barick, sementara Sofia menguasai keuangan wilayah. Keduanya tidak jarang terlibat perselisihan di masa lalu.
Kekuasaan lahir dari laras senapan. Sekilas, kekuasaan Barick tampak lebih besar daripada Sofia, tetapi pepatah itu hanya berlaku di masa kekacauan. Baron Thane masih sehat walafiat, sehingga Barick tidak mungkin mengerahkan pasukan pengawal untuk melakukan tindakan yang melampaui batas. Akibatnya, ia selalu berada dalam posisi yang sangat pasif.
Sofia juga menyadari krisis di masa depan, sehingga ia tidak hanya membentuk pasukan pengawalnya sendiri, tetapi juga berencana mendirikan kelompok dagang bersenjata. Dalam hal kekuatan fisik, ia harus mendominasi demi menjamin keselamatannya sendiri. Tentu saja, itu semua adalah pemikiran masa lalunya. Setelah melakukan percakapan dari hati ke hati dengan Baron Thane, pemikiran-pemikiran tersebut tampak sedikit menggelikan.
Ini adalah wilayah baron milik Thane, dan dialah penguasa yang sesungguhnya!
Menyadari bahwa Barick dan Ogden sering mendatangi Baron Thane beberapa hari terakhir ini, demi menghindari masalah yang tidak perlu, Sofia berusaha sedapat mungkin untuk tidak menemui Baron Thane. Namun, pada hari ini, Baron Thane mengutus seorang prajurit untuk memberitahu mereka agar datang ke ruang makan untuk santap malam bersama.
Dio dan Sofia tidak terlalu memikirkannya. Akan tetapi, begitu mereka mendorong pintu ruang makan dan melihat Barick serta Ogden duduk berdampingan di salah satu sisi meja makan, mereka mau tidak mau tertegun sejenak.
"Masih berdiri di situ untuk apa? Duduklah." Baron Thane menunjuk ke kursi di sisi seberang.
Dio dan Sofia berjalan ke arah kursi dan duduk perlahan. Ogden yang duduk di seberang masih mampu mengendalikan emosinya, sementara Barick terus menatap Sofia dengan tatapan dingin nan suram.
Baron Thane bersikap seolah-olah tidak menyadari apa pun. Dengan tenang dan perlahan, ia memotong steik di piringnya menggunakan pisau makan, lalu tersenyum berkata, "Sudah lama sekali aku tidak mengadakan jamuan keluarga yang semeriah ini. Dio, kau juga bagian dari keluarga ini, jangan sungkan, santai saja."
"Terima kasih," ucap Dio.
"Kenapa kalian tidak makan?" Baron Thane mengalihkan pandangannya kepada Barick dan Ogden.
"Ayah, aku sudah tidak selera makan." Barick meletakkan alat makannya dengan kasar di atas meja.
"Anak muda, kalian harus lebih banyak makan dan bekerja, mana mungkin tidak selera makan?" tanya Baron Thane.
"Ayah, yang Ayah maksud itu petani." Barick dengan canggung melontarkan lelucon yang kurang lucu. "Belakangan ini... kondisi tubuhku kurang sehat."
"Tubuh kurang sehat?" Baron Thane perlahan meletakkan pisau makannya dan merenung sejenak. "Ini juga salahku, yang selalu ingin membuatmu cepat dewasa dan terus membebanimu, sampai-sampai lupa bahwa fisikmu memang lemah dan penyakitan sejak kecil. Hmm... Begini saja, Barick, bagaimana kalau kau pergi beristirahat untuk sementara waktu?"
"Beristirahat?" Barick tertegun. "Ayah, ke mana Ayah menyuruhku pergi beristirahat?"
"Pergilah ke wilayah comte," jawab Baron Thane sambil tersenyum tipis. "Sekalian ururkan beberapa urusan untukku di sana, lalu tinggal lah agak lama di sana. Ada banyak anak muda sepertimu di wilayah comte, tidak perlu terburu-buru kembali. Perbanyaklah mencari teman, itu akan sangat baik untuk masa depanmu."
"Oh." Barick tidak curiga dan langsung menyetujuinya.
Ogden sangat panik dan diam-diam menendang kaki Barick di bawah meja.
Baron tersadar, lalu melirik Ogden secara diam-diam sebelum bertanya, "Ayah, kalau begitu... bagaimana dengan urusan di wilayah baron?"
"Urusan di sini?" Thane berpikir sejenak. "Maksudmu pasukan pengawal? Hehe... Bukankah Dio sudah datang? Sekarang sumber daya manusia kita tidak lagi kekurangan seperti dulu, biarkan saja Dio yang memimpin pasukan pengawal. Atau kalau tidak... Fedst juga boleh."
"Apa?" Barick merona merah karena marah dan langsung berdiri mendadak. "Ayah, atas dasar apa? Kenapa pasukan pengawalku harus diserahkan kepada mereka?!"
"Pilihan kata yang salah." Ekspresi wajah Thane tetap terlihat tenang, lalu ia berkata perlahan, "Kau harus paham, itu bukan pasokan pengawalmu, melainkan... milikku! Segala sesuatu di kastil pusat ini, termasuk setiap set alat makan di atas meja ini dan kursi tempat kalian duduk, semuanya adalah milikku. Selama aku masih hidup, dan selama aku belum menganggukkan kepala, tidak ada satu pun hal yang menjadi milikmu."
Meskipun nada bicara Thane lembut, ia jelas memancarkan kesan yang menusuk tulang dan membeku. Barick mengerahkan keberaniannya secara paksa dan berseru, "Ayah, aku sama sekali tidak bermaksud menyinggung Ayah, tetapi... tetapi aku tidak bisa terima. Aku telah mencurahkan begitu banyak tenaga dan pikiran untuk pasukan pengawal, bagaimana bisa Ayah tiba-tiba menyuruhku menyerahkan kepemimpinan pasukan kepada orang lain?!"
"Kau salah lagi." Baron Thane berkata dengan tenang, "Pertama, Dio bukan orang lain. Kedua, aku menyuruhmu berlibur dan beristirahat semata-mata karena mempertimbangkan kondisi fisikmu yang kurang sehat."
"Ayah, fisikku sangat sehat!" seru Barick.
"Sangat sehat ya?" Baron Thane mengamati Barick dalam-dalam tanpa bersuara. Ia memandangnya untuk waktu yang sangat lama, hingga tepat ketika Barick mulai merasa keturunan, ia perlahan menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu, duduklah dan makan yang banyak."
Seperti anak kecil yang sedang ngambek, Barick duduk kembali dengan kasar, lalu mulai menyumpal makanannya ke dalam mulut dengan lahap.
"Nah, begitulah seharusnya..." Baron Thane menunjukkan senyuman. "Sebenarnya, kita tidak seharusnya berbicara saat sedang makan karena itu tidak baik bagi kesehatan. Namun, melihat kalian semua duduk bersama, aku merasa sangat senang hingga tidak bisa menahan diri untuk berbicara, hehe... Kedepannya... sepertinya aku tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk mengadakan jamuan keluarga yang semeriah ini."
"Selama Kakak Sulung menyukai acara seperti ini, kami bisa datang menemani Ayah setiap hari," kata Ogden sambil tertawa renyah.
"Lupakan saja, dengan kapasitas perutmu itu, aku takut dalam beberapa hari kau akan menghabiskan seluruh hartaku," ucap Baron Thane sambil tersenyum geli.
"Kakak Sulung, kau adalah penguasa wilayah baron, bagaimana bisa masih pelit seperti dulu?"
"Kau ini..." Baron Thane menggelengkan kepalanya seraya tersenyum. "Seberapa dermawannya aku barulah kau akan merasa puas?"
"Hehe..." Ogden tertawa hambar, ia merasa kehabisan bahan untuk melanjutkan pembicaraan.
Hati Dio terasa sedikit berat. Hampir setiap kalimat yang diucapkan Baron Thane mengandung makna yang menusuk hati dan dipenuhi dengan niat membunuh. Tampaknya badai berdarah sudah tidak dapat dihindari lagi.
Barick mungkin masih agak santai, tetapi di dalam hati Ogden justru bergelora ombak yang dahsyat. Kata-kata yang diucapkan Baron Thane hari ini selalu terasa begitu ganjil, seolah-olah dipenuhi dengan permusuhan, tetapi di sisi lain terdengar seperti ucapan yang tidak sengaja.
"Ngomong-ngomong, ada beberapa gerak-gerik tidak biasa di pihak Baron Kees," ucap Baron Thane dengan suara lembut. "Kalian... apakah mendengar angin ribut tentang sesuatu?"
"Tidak," jawab Ogden cepat sambil menggelengkan kepala.
"Tidak..." jawab Barick dengan nada agak panik.
"Ditinjau dari hubungan darah, Kees adalah pamanmu. Namun... Kees adalah musuh bebuyutanku yang tidak akan pernah bisa berdamai. Dia hampir merenggut nyawaku di masa lalu, dan aku juga merenggut sebelah matanya sebagai balasan," ujar Baron Thane dengan tenang. "Barick, aku tidak ingin melihatmu berurusan dengannya, paham? Jadilah manusia yang tahu batasan dan bersikap lurus."
"Paham, Ayah," jawab Barick sambil menundukkan kepala.
"Bagus jika kau paham." Baron Thane berkata, "Jika sudah kenyang, pergilah mengurus urusan kalian masing-masing. Cukup Sofia dan Dio saja yang menemaniku."
Ogden dan Barick yang sedari tadi duduk di atas duri merasa bagaikan mendapat pengampunan agung begitu mendengar kalimat tersebut. Mereka langsung berdiri dan meminta diri kepada Baron Thane. Sebelum pergi, Barick bahkan sempat melototi Sofia dengan tatapan penuh kebencian; jelas sekali ia mengira Sofia berniat merampas kekuasaannya.
Begitu bayangan tubuh Ogden dan Barick menghilang di balik pintu ruang makan, Sofia tidak dapat menahannya lagi. Ia berbisik lirih, "Ayah, apa maksud Ayah dengan semua ini..."
"Dulu aku pernah memperingatkan Baron Kees, jika dia atau orang-orangnya berani menginjakkan kaki di wilayahku meskipun setengah langkah, maka di antara aku dan dia, hanya akan ada satu orang yang bisa terus hidup." Baron Thane perlahan mengangkat serbet dan menyeka bibirnya dengan cermat. "Sekarang... tiba saatnya bagiku untuk menepati janjiku."
Sofia tertegun kaget. Meskipun ia sudah menduga bahwa konflik sengit mungkin akan pecah, ia tidak menyangka semuanya akan terjadi secepat ini.
"Mengenai Barick... demi mengenang Kelly, aku telah memberikannya jalan keluar, tetapi ia menolaknya." Thane berdiri dari kursinya. "Dio, kalian berdua tidurlah lebih awal malam ini. Mulai besok, kita semua sepertinya akan sangat sibuk."
(Bersambung)