Bab Lima Puluh Delapan: Kapten Masa Depan
“Apa yang perlu kukatakan sudah selesai, jika kau tidak terlalu bodoh, seharusnya kau paham maksudku.” ujar Isabel sambil tersenyum. “Ayo kita kembali, kasihan sekali kau, gadis yang penuh keluhan, teman-temanmu terus-menerus melirik ke arah sini, mungkin mereka mencarimu karena ada urusan.”
“Kau sudah punya tunangan?” Kali ini giliran Dio yang mengalihkan topik. “Apa kau tidak bisa mempertimbangkan dua temanku itu?”
“Hati-hati dengan ucapanmu.” Isabel memandang Dio dengan malu dan kesal. “Kalau dia dengar, urusan bisa jadi rumit.”
Dio pura-pura menghela napas. Gadis secerdas ini, rasanya sayang sekali jika harus menikah dengan orang luar. Jika Isabel sedikit saja tertarik pada Godon atau Raymond, tentu ia akan berusaha membantu. Sayangnya, tampaknya Isabel sangat puas dengan tunangannya. Bahkan jika ia mau bertindak licik, itu pun takkan ada gunanya.
Sesaat kemudian, Isabel menggandeng lengan Dio dan perlahan keluar dari paviliun. Di dunia ini, belum ada ajaran ‘moral yang katanya berlaku’. Seorang wanita menggandeng lengan pria hanyalah bentuk sopan santun, tanpa makna lain.
Walau begitu, wajah Isabel memerah, membuat orang mudah menerka-nerka. Melihat ini, Raymond langsung melotot. Ia bisa tetap bersemangat dan terus mencari peluang karena percaya diri, berkat perbandingan dengan Dio. Setidaknya ia sudah berusaha, tentu lebih baik daripada Dio yang tidak berbuat apa-apa. Namun siapa sangka, dalam sekejap saja, Dio dan Isabel sudah begitu akrab. Kepercayaan dirinya pun seketika runtuh…
“Ngomong-ngomong, kau sudah memutuskan? Kapan mau pulang?” tanya Isabel.
Pulang? Lagi-lagi Dio merasakan tusukan di dadanya. Isabel dan Sheni berpikir Sofia harus tetap di akademi untuk belajar. Vasili bilang Sofia telah tersesat. Bahkan para pengajar di Akademi Sentis pun menyesali keputusan Sofia. Semua itu membuktikan, Sofia memang telah salah!
Haruskah ia membiarkan Sofia semakin jauh di jalan yang keliru? Misal, kelak ia benar-benar menembus berbagai rintangan dan akhirnya menjadi pejuang agung, bahkan ksatria suci, sementara kekuatan Sofia tak juga berkembang, suatu hari ketika kecantikan Sofia memudar dan rambutnya memutih, akankah Sofia menyesali kesalahan sekarang? Akankah ia membenci sikap dingin Dio selama ini?
Dio merasa dadanya seperti tertimpa batu besar, bahkan untuk bernapas saja sulit.
Tidak bisa! Ia harus pulang, setidaknya mencoba menasihati Sofia. Kalau gagal, ia bisa minta bantuan Vasili! Sofia begitu cerdas, ia pasti akan sadar.
“Kita harus ke Kota Kristal dulu.” bisik Dio pelan.
“Maksudku, berapa lama?” tanya Isabel.
“Sampai aku benar-benar menjadi seorang pejuang Cahaya.” jawab Dio. “Hanya dengan begitu… aku bisa menghadapi dia dengan tenang.”
“Ah, harga diri lelaki…” Isabel tersenyum, tapi ia tidak mematahkan semangat Dio, malah memilih diam.
Melihat para gadis yang tertawa riang, hati Dio tiba-tiba dipenuhi kegelisahan. Sama-sama gadis, mereka menikmati masa muda yang indah di sini, sementara Sofia sudah harus memikul beban berat sejak dini, dari rasa takut di awal hingga kini setiap langkahnya penuh pertimbangan. Entah berapa banyak tenaga dan pengorbanan yang telah dicurahkan Sofia.
Tak adil! Seandainya dulu Sofia tidak harus melewati begitu banyak hal, mungkin kini ia juga akan berada di antara para gadis itu, bercanda, tertawa, menikmati masa-masa paling indah dalam hidup.
Dio menghentikan langkah, ia tak bisa bertahan sedetik pun di sini. Ia harus segera melakukan sesuatu.
Isabel menyadari lengan Dio tiba-tiba menegang. Ia menoleh dan berkata, “Maaf, akulah yang membuat hatimu kacau.”
“Tak apa.” Dio memaksakan senyum.
“Besok, aku akan menemanimu ke Danau Sentis. Suasananya pasti sangat baik untukmu.” ujar Isabel. “Karena gangguan para pejuang suku itu, akademi kami baru saja menghentikan semua kelas. Sekarang di sana sangat tenang, tak ada yang akan mengganggumu.”
“Baik untukku?”
“Danau Sentis adalah tempat yang sangat cocok untuk menenangkan hati dan berlatih. Besok, kalau sudah sampai sana, kau akan mengerti.” jawab Isabel.
“Danau Sentis di pegunungan salju?”
“Ya, seingatku aku sudah pernah memberitahumu.” kata Isabel.
“Aku akan pergi sekarang juga.” ujar Dio. “Nanti kalau dua temanku mencariku, tolong bilang saja mereka tunggu di sini.”
“Masa?” Isabel tampak terkejut. “Danau Sentis sangat jauh dari sini. Naik kuda pun butuh beberapa jam hanya untuk sampai ke kaki pegunungan salju, lalu kau masih harus mendaki. Kalau dihitung-hitung…”
“Lebih baik aku berangkat sekarang.” Dio menggeleng. Ia benar-benar butuh ketenangan, waktu untuk berpikir dan merencanakan langkah ke depan. Tapi selama ada Raymond, ia tak akan bisa tenang. Pilihan terbaik adalah menjauh dari semua orang. Lagipula, Isabel sendiri yang menyarankan agar ia berlatih di Danau Sentis. Mungkin memang ada sesuatu yang istimewa di sana.
“Kalau begitu baiklah.” Isabel tidak memaksa. “Aku akan mengantarmu.”
“Aku bisa sendiri.” seru Dio cepat-cepat.
“Aku tidak bilang mau menemanimu sekarang.” Isabel tertawa. “Masa iya aku tega meninggalkan semua tamu begitu saja?”
“Kalau begitu…”
“Aku akan carikan dua ekor kuda dan surat izinmu. Penjagaan di Kota Sentis sekarang sangat ketat, apalagi sudah malam, tanpa surat izin kau tak akan bisa keluar kota.”
“Terima kasih.” kata Dio.
“Aku tidak suka dengar ucapan seperti itu.” Mata Isabel berkilat nakal. “Ngomong-ngomong, Dio, sebenarnya hubunganmu dengan Elly seperti apa?”
“Kami hanya teman. Kami bertemu di Kota Tumpukan Menara.”
“Oh.” bisik Isabel pelan, “Ayo kita pergi.”
Penjelasan yang ingin Dio berikan akhirnya urung ia ucapkan. Isabel memang tahu menempatkan diri, tak pernah bicara lebih dari yang perlu. Jika seorang pria punya kendali diri, hanya dengan sindiran halus seperti tadi sudah cukup sebagai peringatan. Jika tidak, diperingatkan berulang kali pun takkan ada gunanya.
Godon mengalihkan pandangan, menatap punggung Dio dan Isabel yang perlahan menjauh. Tiba-tiba sebuah tangan menepuk pundaknya keras-keras, membuatnya terlonjak kaget. Begitu menoleh, ternyata itu Raymond.
“Kau juga lihat tadi?” Raymond berbisik penuh rahasia.
“Ya jelas.”
“Godon, selama ini kau selalu bilang betapa hebatnya dirimu. Sekarang aku baru sadar, ternyata hanya omong kosong.” Raymond menyeringai penuh kemenangan. “Sekarang Dio sudah membawa pergi Isabel. Kau? Mana gadismu?” Sambil berbicara, Raymond berpura-pura menoleh ke sekeliling, seakan mencari seseorang.
“Kau tidak tahu apa-apa.” Godon mencibir. “Aku sama sekali tak tertarik pada mereka.”
“Oh ya? Lalu pada siapa kau tertarik?” Raymond juga mencibir.
“Menaklukkan perempuan… tentu saja harus menaklukkan yang terbaik.”
“Jangan banyak omong, bilang saja, siapa yang kau suka?” Raymond mulai tak sabar.
Padahal Raymond sendiri dikenal sangat bawel, sekarang malah ia yang mengejek, membuat Godon kesal. Ia melirik Raymond dingin-dingin. “Permata dari Dataran Krispin… Sofia!”
Raymond pun terdiam. Saat di wilayah keharyapatihan, ia sering mendengar nama Sofia.
Godon mendengus, pandangannya menyapu seluruh taman, lalu kembali menatap ke depan dengan penuh keangkuhan. Maksudnya jelas, semua bunga biasa di sini, tak satupun yang menarik perhatiannya.
“Godon, Godon, sini, lihat aku.” Raymond menunjuk dirinya sendiri, mulutnya bergerak-gerak seolah mengucapkan sesuatu. Begitu Godon menoleh, barulah ia bersuara, “Huh, dasar omong kosong...”
Ekspresi Godon seketika berubah kaku. Tapi karena suasana sekitar, ia tak bisa marah di sini. Akhirnya hanya berkata dingin, “Kau tak percaya?”
“Menurutku, sorot matamu sekarang benar-benar paling melankolis.” Raymond mengejek dengan nada aneh.
Godon terdiam sejenak, lalu perlahan berkata, “Raymond, aku tahu kau sejak dulu selalu tidak mau mengakui keunggulanku…”
“Kenapa aku harus mengakui?” Raymond terlihat terkejut.
“Karena jika kita terus begini, takkan pernah selesai.” kata Godon. “Saat menghadapi masalah, aku punya pendapat sendiri, kau juga begitu. Pada akhirnya, kita harus mengikuti siapa?”
Raymond tertegun. Meski sedang bersemangat seperti hendak bertarung, ia tetap punya logika. Apa yang dikatakan Godon memang masalah besar.
“Sekarang Dio juga sudah bergabung dengan kita. Kau tidak berpikir kita seharusnya membentuk satu regu petualang?” lanjut Godon.
“Regu petualang?” Mata Raymond langsung berbinar.
“Tentu saja.” Godon mengangguk. “Karena sudah ada regu, harus ada pemimpin. Menurutmu, siapa yang paling cocok?”
“Tentu saja aku!” seru Raymond. “Dengan kebijaksanaanku, pasti aku bisa membawa kalian menuju jalan kejayaan!”
Godon hampir saja menampar dirinya sendiri. Ia telah menanyakan hal paling bodoh. Apakah Raymond itu bijaksana? Ia tak tahu, yang jelas Raymond tak pernah tahu apa itu rendah hati.
“Tidak, itu tidak adil.” Godon berusaha menahan emosi. “Menurutku, harus dipilih lewat pemungutan suara di antara kita bertiga.”
“Kalau begitu…” Raymond bergumam, “Aku pasti pilih diriku sendiri, kau juga pasti begitu. Kalau Dio juga pilih dirinya sendiri, lalu bagaimana? Jangan bilang Elly dihitung juga. Kalau Elly yang memilih, pasti dia akan memilih Dio.”
“Kalau begitu… kita harus buat satu tujuan.” kata Godon. “Siapa yang bisa mencapainya, berarti ia punya pesona, kebijaksanaan, dan kekuatan—hanya orang seperti itu yang pantas menjadi pemimpin.”
“Apa tujuannya?” Raymond langsung curiga, merasakan ada jebakan.
“Kau kan tak percaya aku bisa menaklukkan Sofia?” ujar Godon. “Kalau aku benar-benar berhasil, aku jadi pemimpin!”
“Setuju!” Raymond mengangguk semangat. “Kita ke wilayah baron dan temui Sofia. Kalau dia menerimamu, kau jadi pemimpin. Tapi kalau tidak, aku yang jadi pemimpin.”
Godon hampir saja muntah darah. Pengejar Sofia begitu banyak, siapa pun tak akan berani menjamin keberhasilan. Kalau mengikuti usul Raymond, jelas ia pasti kalah.
“Jangan mimpi, Raymond, aku tak sebodoh itu.” Godon mencibir. “Aku sudah bilang, siapa pun yang bisa mencapai tujuan, dialah pemimpin. Raymond, kau juga harus berusaha.”
“Kalau kami bertiga tak ada yang berhasil, siapa yang jadi pemimpin?” tanya Raymond.
“Kita bertarung saja.” jawab Godon.
“Setuju!”