Bab Tiga Puluh Tujuh: Perubahan
Pagi hari, matahari terbit dari timur seperti biasa, menyinari bumi dengan hangatnya. Langit masih langit yang sama, namun Kota Tumpukan Menara sudah bukan kota yang dulu lagi.
Dio membuka pintu penginapan, memandang ke sepanjang jalan utama. Setiap rumah tertutup rapat, hanya penginapan ini yang pintunya terbuka lebar. Para pedagang keliling dan pelancong yang bermalam di Kota Tumpukan Menara hampir semuanya telah pergi sejak semalam. Penduduk setempat pun banyak yang sudah meninggalkan kota. Masaldo telah mati, sang pendekar misterius yang sempat membantu telah menghilang entah ke mana, dan tak seorang pun tahu apakah gerombolan perampok itu akan kembali untuk membalas dendam. Kota Tumpukan Menara kini menjadi tempat yang sangat berbahaya.
Inikah yang dinamakan perubahan zaman, pergantian nasib? Apakah kota-kota besar yang termasyhur di seluruh benua, bahkan kerajaan-kerajaan besar itu, suatu saat juga akan merosot dan runtuh?
Ketika Dio masih larut dalam renungannya, tiba-tiba ia merasakan tangan mungil menyelinap ke dalam telapak tangannya. Ia menunduk dan melihat putri kecil Ellie.
Dio bertubuh cukup tinggi, sedangkan gadis kecil itu baru berumur beberapa tahun. Ia harus berusaha merentangkan lengannya ke atas dan berjinjit agar bisa menggenggam tangan Dio.
“Ada apa?” tanya Dio sambil berjongkok, sehingga gadis kecil itu tidak perlu lagi berjinjit.
“Aku lapar...” jawab gadis kecil itu dengan suara lirih. Ia sangat mirip dengan ibunya, Ellie. Seperti versi mini Ellie, tanpa pesona dewasa namun memancarkan kesegaran polos. Sepasang matanya yang besar berkilauan, membuat siapa saja iba melihatnya.
Dio terdiam sejenak. Sebenarnya ia juga agak lapar. Saat itu pula, beberapa sosok melintas di sudut jalan menarik perhatiannya. Ia memperhatikan lebih seksama, dan alisnya langsung berkerut. Menggendong gadis kecil itu, Dio melangkah perlahan ke depan.
Kemarin, seorang pendekar cahaya bernama Godon tiba-tiba menyerang Judith setelah Judith terluka parah. Namun Godon justru terkena tebasan api Judith dan terlempar ke sudut jalan, tak sadarkan diri.
Dio mengira Godon sudah mati. Namun barusan, ia melihat Godon masih sempat bergerak sedikit.
Seorang pendekar cahaya adalah sosok kuat yang sangat disegani di Dataran Kris. Tapi kini Godon terlihat begitu mengenaskan. Jubah panjang yang menunjukkan status dan kekayaannya sudah lenyap, baju zirah tipisnya juga hilang; seluruh tubuh bagian atas terbuka, celana dan sepatu kulitnya pun raib. Untung ia seorang pria, jika tidak, sudah seperti korban kejahatan.
Godon masih bisa bergerak karena di sekelilingnya ada beberapa orang yang menggeledah dirinya dengan semangat. Malang benar, sudah dalam kondisi seperti itu, mereka tetap berharap bisa menemukan harta berharga dari tubuh seorang pendekar kahaya yang telah jatuh. Mereka membolak-balik Godon, berharap keajaiban terjadi dan mendapat harta yang bisa dijual mahal.
Mendengar langkah kaki, orang-orang itu buru-buru berdiri dan menoleh. Begitu melihat Dio, mereka langsung tampak gugup, mundur ke sudut jalan, siap melarikan diri kapan saja.
Kemarin, saat Masaldo tewas, Dio tanpa ragu membunuh seseorang, bahkan orang yang tidak berani mereka ganggu. Itu memberi dampak besar. Banyak orang memilih melarikan diri dari Kota Tumpukan Menara malam itu juga, semua karena Dio. Mereka tahu Dio adalah orang pertama yang membunuh di kota itu, tapi pasti bukan yang terakhir. Ke depan, kejadian serupa akan semakin sering terjadi.
Dio tidak mempedulikan mereka. Tatapannya tertuju pada Godon. Jujur saja, Dio sangat kagum dengan daya tahan hidup Godon. Sudah terluka parah, dilucuti bajunya, tanpa perawatan, tanpa makanan dan minuman, bertahan belasan jam di udara dingin awal musim semi, tapi belum juga mati. Sungguh luar biasa!
Saat Dio menatap Godon, Godon juga memandang Dio. Wajahnya pucat, bibirnya nyaris berwarna putih, matanya cekung tak bercahaya, dada penuh darah hitam yang telah mengering. Jika Godon tidak bergerak, ia tak beda dengan mayat.
“Parah?” tanya Dio pelan.
Godon tak bisa menjawab. Parah? Itu berarti ia lemah seperti anak kecil yang belum pernah mengalami badai. Tidak parah? Kalau tidak parah, kenapa tidak bisa berdiri? Terlalu gengsi.
Akhirnya, Godon perlahan menggeleng, dengan tenaga yang tersisa. Hanya untuk menggelengkan kepala saja sudah membuat napasnya memburu, seolah tenaga besarnya terkuras untuk itu.
Dio tersenyum. Ia tahu Godon sengaja menyimpan tenaga terakhirnya. Jika tadi ia menyerang, mungkin bisa melumpuhkan satu atau beberapa orang. Tapi setelah itu, sisa orang-orang itu cukup menggunakan batu bata untuk membunuh Godon.
Dio berjongkok, menurunkan gadis kecil, lalu membantu menopang bahu Godon dan perlahan-lahan membantunya berdiri. Satu tangan menopang Godon, satu tangan memegang gadis kecil, Dio melangkah menuju penginapan.
Godon sama sekali tidak mampu melangkah, seluruhnya digendong Dio. Untung saja Dio sangat kuat, bukan hanya menggendong satu orang, beberapa orang sekaligus pun tak masalah.
“Te...ri...makasih...” Godon dengan susah payah mengucap satu kata.
“Tidak perlu,” jawab Dio datar. Jika kemarin Godon membantu para perampok menyerangnya di penginapan Ellie, sebelum pendekar misterius mengusir Judith, ia pasti sudah celaka. Karena itu, ia tak sampai hati melihat Godon dihina oleh gerombolan itu.
***
Dua hari pun berlalu. Penduduk Kota Tumpukan Menara semakin berkurang. Beberapa rumah terbakar, namun tak seorang pun peduli. Api baru padam dengan sendirinya setelah semua yang bisa terbakar habis.
Penginapan Ellie selalu menjadi incaran—entah untuk makanan yang disimpan di dalam, atau karena pesona Ellie sendiri. Setiap sore, ada saja yang mengitari penginapan. Namun, mereka tetap gentar pada Dio yang misterius dan kejam, sehingga tak berani berbuat sesuatu.
Dio tidak pandai merawat orang. Yang bisa ia lakukan hanyalah mencarikan kamar untuk Godon, menaruh beberapa potong roti dan kantong air di atas ranjang, selebihnya terserah Godon sendiri, apakah bisa bertahan hidup atau tidak.
Suatu hari, Dio duduk di ambang pintu penginapan, berjemur di bawah matahari. Setiap kali ada waktu luang, pikirannya melayang ke mana-mana: Sofia, masa depannya, bagaimana nasib kotak itu? Haruskah ia menyimpannya di tempat lain? Jangan pernah dibawa-bawa. Siapa sebenarnya pendekar misterius itu? Kenapa tidak muncul lagi? Ia merasa, suatu hari nanti sang pendekar pasti akan muncul kembali.
Andai Birgit atau Sofia melihat pemandangan ini, mereka pasti tak akan percaya pada mata mereka. Dulu Dio selalu bersembunyi di kamar, jarang keluar, apalagi berjemur. Tapi Ellie tahu alasan Dio. Setiap kali Ellie tertatih-tatih keluar dan melihat Dio duduk di pintu, tatapannya selalu berubah rumit.
Dio sedang memperingatkan penduduk Kota Tumpukan Menara: aku masih di sini, jangan macam-macam, jangan ganggu penginapan ini.
Tiba-tiba, seekor kuda jantan putih berlari santai dari ujung jalan. Saat melintasi depan penginapan, sang penunggang menatap Dio dengan penuh rasa ingin tahu, lalu melanjutkan perjalanannya.
Dio tetap tenang, tetapi setelah penunggang itu berlalu, ia mengernyitkan dahi. Satu lagi pendekar cahaya? Dio sudah tahu betul batas kemampuannya. Meski baru saja naik ke tingkat tiga pendekar berbakat, ia yakin tak ada yang bisa menandingi dirinya di kelas itu. Karena itu, ia tak takut pada para pengacau atau gelandangan yang kini semakin ganas. Namun menghadapi pendekar cahaya, ia tidak lagi merasa bisa mengendalikan keadaan.
Haruskah ia meninggalkan Kota Tumpukan Menara? Tetapi Vasili pernah berkata, kota ini adalah tempat terbaik baginya untuk berlatih. Tempat terbaik, artinya kota ini seperti sarang semut, punya aturan sendiri, dan kekuatan rata-rata hanya sebatas orang yang baru sadar kekuatan atau para pendekar berbakat. Dengan kekuatan Dio, seharusnya ia bisa berbuat banyak.
Namun dunia berubah terlalu cepat. Aturan Kota Tumpukan Menara sudah hancur, malah muncul pemangsa semut yang sangat kuat. Kekuatan Rubah Api Judith pun hanya setingkat tukang pukul kelas atas. Jika seluruh kekuatan itu dikerahkan, kota ini bisa hancur dalam sekejap. Bahkan jika Vasili masih di sini, ia pasti setuju jika Dio ingin pergi.
Dio menarik napas, bangkit dan berjalan masuk. Ia ingin berdiskusi dengan Ellie dan Godon. Jika sudah menolong, harus tuntas. Luka Godon belum sembuh, Ellie sudah kehilangan pelindung. Jika ia pergi begitu saja, bukankah sia-sia menolong mereka?
Bawa saja mereka pergi bersama. Di tempat lain nanti baru dipikirkan lagi.
Saat itu juga, penunggang kuda tadi kembali, melompat turun dan melangkah lebar masuk ke penginapan. Pilihannya satu-satunya memang di sini, karena semua tempat lain sudah tertutup.
Penunggang itu seorang pemuda berambut keriting cokelat kemerahan. Ia kembali melirik Dio, lalu duduk di meja paling dekat pintu, memandang sekeliling dengan heran. Sebuah penginapan cukup luas, namun di aula hanya ada dua meja—sungguh aneh, bisa dapat untungkah?
Padahal, meja-meja yang lama sudah hancur dalam pertempuran beberapa hari lalu. Dua meja ini pun baru saja ditemukan Ellie di gudang.
“Pemilik! Hei, pemilik! Buatkan aku makanan, apa saja boleh!” teriak pemuda itu sambil menepuk meja. “Cepat sedikit, hampir mati kelaparan!”
Dio hanya bisa menghela napas. Andai orang lain yang berbuat seperti itu, sudah ia seret keluar dari tadi. Namun ini pendekar cahaya, kalau ribut, mungkin justru Dio yang dilempar keluar.
Baru saja Dio ingin dengan ramah memberitahu bahwa penginapan sudah tutup, Ellie keluar dari dapur, menyingkap tirai dan melirik ke luar. Begitu melihat lencana pendekar di dada pemuda itu, wajahnya langsung berubah, memberi isyarat pada Dio, lalu buru-buru kembali ke dapur.
Kematian Masaldo dan kejadian beberapa hari terakhir membuat Ellie seperti burung ketakutan. Ia akhirnya menyadari, kehidupan damai di masa lalu hanyalah pondasi pasir yang bisa runtuh kapan saja. Kini ia jadi lebih pendiam dan berhati-hati.