Bab 129: Kemarahan Sang Laksamana
Tepat saat Lu Yun dan kakaknya pergi melihat Sungai Luo di bawah cahaya rembulan, suasana di dalam Kantor Intelijen yang terletak hanya satu mil dari Jembatan Tianjin justru diliputi kepanikan.
Di halaman dalam Kantor Intelijen, obor-obor menyala terang menerangi langit. Para pejabat tinggi dan rendah, petugas, serta mata-mata dari Kantor Intelijen berbaris rapi tanpa berani bernapas terlalu kencang, menundukkan kepala menatap tujuh hingga delapan mayat yang tergeletak di halaman.
Cahaya api menyinari mayat-mayat tersebut dengan jelas, dan salah satu dari mereka yang merupakan seorang pria paruh baya adalah pelayan tua milik Gao Guangning.
Komandan Huangfu, yang sebelumnya diperintahkan untuk melindungi Gao Guangning, bersama para anak buahnya, berlutut dengan lesu di samping mayat-mayat itu sambil gemetar ketakutan.
Lin Chao, yang baru saja berjasa dalam kasus Gao Guangning dan dipulihkan ke jabatan aslinya sebagai Kepala Kantor Intelijen, berjalan mondar-mandir di atas tangga koridor dengan perasaan jengkel dan gelisah. Namun, ia tetap tidak mampu meredam kemarahannya. Ia menghentikan langkahnya, menunjuk ke arah Komandan Huangfu, dan memarahi dengan suara menggelegar, "Bodoh, bodoh! Tidak, kalian bahkan lebih buruk dari babi. Kalau aku memelihara babi, saat akhir tahun masih bisa disembelih untuk diambil dagingnya?! Memelihara sekelompok sampah seperti kalian, selain membuat kekacauan bagiku, apa lagi yang bisa kalian perbuat?!"
Komandan Huangfu dan yang lainnya menundukkan kepala dalam-dalam, membiarkannya memarahi sepuas hati. Karena kali ini, mereka benar-benar telah membuat kekacauan besar. Mereka awalnya diperintahkan untuk melindungi Gao Guangning. Namun, tadi malam di luar Desa Keluarga Liu, mereka justru diusir pergi oleh orang-orang yang dikirim oleh Klan Xiahou.
Komandan Huangfu awalnya merasa sangat kesal dan berniat untuk tidak lagi memedulikan Gao Guangning. Akan tetapi, setelah berjalan kaki sejauh lebih dari sepuluh mil di tengah malam dan diterpa angin musim gugur, amarahnya perlahan mereda. Setelah berpikir dengan tenang, tugasnya adalah mengantar Gao Guangning kembali ke kampung halamannya dengan selamat, peduli amat apa yang dilakukan Klan Xiahou? Hanya dengan melihat sendiri Gao Guangning tiba di rumah dan memastikan pria itu aman, barulah ia bisa kembali untuk melapor.
Jika ia kembali sekarang, bukankah itu sama saja mencari hukuman bagi dirinya sendiri? Memikirkan hal itu, Komandan Huangfu mengeluarkan keringat dingin dan buru-buru membawa anak buahnya berbalik arah kembali ke Desa Keluarga Liu. Belum sampai di pintu masuk desa, ia sudah melihat cahaya api membumbung tinggi di dalam desa dan suara orang-orang berteriak bersahutan, seolah seluruh penduduk desa telah terbangun.
Jantung Komandan Huangfu berdegup kencang hingga hampir copot, ia bergegas menerobos masuk ke kediaman Gao Guangning. Ia melihat pintu masuk telah dikelilingi oleh para penduduk desa berlapis-lapis, bahkan di atas dinding dan atap rumah pun berdiri berderet-deret warga yang menonton keramaian.
"Singkirkan! Beri jalan!" Anak buahnya buru-buru mendorong warga yang menghalangi untuk membukakan jalan bagi sang Komandan.
Dengan wajah kelam, Komandan Huangfu melangkah masuk ke halaman dan seketika melihat mayat-mayat yang bergelimpangan memenuhi tanah. Mereka tidak lain adalah para pengikut Gao Guangning!
Pandangan Komandan Huangfu menjadi gelap gulita, ia hampir pingsan seketika. Ia buru-buru berlari masuk ke dalam kamar dan mencarinya seperti orang gila, namun ia sama sekali tidak menemukan bayangan Gao Guangning.
Pada akhirnya, kepada desa Keluarga Liu yang memberitahunya bahwa ia sepertinya melihat sesosok bayangan melarikan diri keluar desa, diikuti oleh dua orang yang mengejar di belakangnya dengan erat, entah apakah mereka berhasil menyusul atau tidak.
Melihat arah yang ditunjukkan oleh kepala desa ternyata adalah jalan yang baru saja mereka lewati, Komandan Huangfu kembali merasa dunianya menjadi gelap. Sepanjang perjalanan tadi, ia sama sekali tidak melihat bayangan manusia. Ini berarti orang yang melarikan diri itu kemungkinan besar sudah tewas atau telah tertangkap. Ia buru-buru berbalik mengikuti jalur semula, mencoba mencari petunjuk sekecil apa pun, namun hingga hari mulai terang, ia tetap tidak mendapatkan apa pun.
Tanpa pilihan lain, Komandan Huangfu mau tidak mau memerintahkan anak buahnya untuk membawa serta mayat-mayat tersebut dan kembali ke ibukota untuk melapor kepada Lin Chao. Mereka memacu perjalanan dengan tergesa-gesa dan akhirnya tiba di Luodu sebelum gerbang kota ditutup.
Lin Chao awalnya berada dalam suasana hati yang sangat baik. Sebelumnya, atas restu dari sang Leluhur, ia beberapa kali menghasut para korban bencana untuk membantu pihak istana menciptakan momentum, lalu menyerahkan buku besar yang tidak diketahui pengirimnya kepada Kaisar Chushi. Pada akhirnya, hal itu membuat sang kaisar berhasil membalikkan keadaan dan memberikan pukulan telak kepada Klan Xiahou.
Kaisar Chushi yang berhasil melampiaskan amarahnya tentu saja hendak memberikan penghargaan atas jasa-jasa bawahannya, sehingga Zuo Yanqing meminta agar Lin Chao dipulihkan ke jabatan aslinya. Pada saat yang sama, Zuo Yanqing memberinya sebuah tugas untuk mengawal kepulangan Gao Guangning ke kampung halamannya. Tugas ini, dalam pandangan Lin Chao, sangatlah mudah. Gao Guangning telah dicopot dari jabatannya dan kini hanyalah rakyat jelata biasa tanpa nilai apa pun, siapa yang akan repot-repot membuang tenaga untuk menghabatnya?
Kendati demikian, demi menghindari segala kemungkinan buruk, Lin Chao tetap mengirimkan salah satu dari empat komandan andalannya yang paling tangguh, yaitu Guru Spiritual Tingkat Bumi Huangfu Qing, untuk memimpin sepasukan prajurit elit mengawal Gao Guangning di sepanjang perjalanan agar tidak tercabik-cabik oleh amukan para korban bencana.
Dalam pandangan sang Kepala Kantor Intelijen, dengan adanya seorang Guru Spiritual seperti Huangfu Qing yang bertindak sebagai pengawal pribadi, Gao Guangning sudah pasti aman tanpa kurang suatu apa pun. Siapa sangka, baru saja menempuh jarak kurang dari seratus mil, para pengikut Gao Guangning sudah dibantai habis dan target perlindungan itu sendiri justru menghilang secara misterius.
Mendengar laporan dari Komandan Huangfu, Lin Chao hampir mati karena marah. Bagaimana ia bisa mempertanggungjawabkan hal ini kepada sang Leluhur?!
Namun, Lin Chao tahu bahwa masalah ini telah membesar dan melibatkan Klan Xiahou, sehingga hal itu sudah berada di luar kapasitas keputusannya. Ia pun memerintahkan Huangfu Qing dan anak buahnya untuk berlutut di halaman sambil menunggu sang Leluhur datang untuk menjatuhkan keputusan.
Di tengah amarahnya memarahi para orang bodoh yang tidak berguna itu, seorang bawahannya datang melapor bahwa sang Leluhur telah tiba. Lin Chao mendelik tajam ke arah Huangfu Qing sebelum bergegas keluar untuk menyambut.
Begitu tiba di halaman depan, ia melihat Zuo Yanqing yang sedang mendekorasi dan mendekap seekor kucing hitam besar di pelukannya, perlahan-lahan turun dari kereta kuda. Di tengah kegelapan malam, sepasang mata hijau milik kucing hitam itu terbuka lebar, memancarkan tatapan yang membuat siapa pun merasa merinding di sepanjang tulang belakang mereka.
"Leluhur," ucap Lin Chao dengan penuh rasa takut sambil berlutut memohon ampun, "Bawahan ini pantas mati seribu kali, karena telah mengecewakan Anda lagi."
"Tidak perlu terburu-buru memohon ampun, cari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi barulah kita bicara." Zuo Yanqing berkata dengan ekspresi datar, "Di mana orang-orang itu?"
"Mereka sedang berlutut di dalam." Lin Chao buru-buru membungkuk dan mempersilakan dengan hormat.
Zuo Yanqing pun perlahan melangkah memasuki halaman dalam. Ia pertama-tama mengamati mayat-mayat yang bergeletakan, lalu menatap Huangfu Qing dan anak buahnya, sebelum berkata dengan senyum penuh arti, "Target yang harus kalian lindungi semuanya tewas mengenaskan, sementara kalian para pengawal justru tidak terluka sedikit pun. Sungguh hebat sekali."
"Menjawab Leluhur," ucap Huangfu Qing dengan suara gemetar, "Kami tadinya melindungi Gao Guangning dengan sangat baik. Tanpa diduga, di tengah malam kemarin, Xiahou Jun dan Xiahou En dari Klan Xiahou datang membawa orang dan menuduh kami berniat mencelakai Gao Guangning. Bawahan mencoba menjelaskan dengan baik kepada mereka, tetapi Xiahou Jun justru menyerang kami tanpa membedakan hitam dan putih. Mengingat ada orang dari Klan Xiahou yang datang untuk melindungi Gao Guangning, demi menghindari terjadinya bentrokan antara kantor kita dan Klan Xiahou, bawahan terpaksa memimpin pasukan untuk mundur sementara."
Sambil berkata demikian, ia menundukkan kepala dengan lesu dan melanjutkan, "Siapa sangka, ketika bawahan kembali ke sana, para pengikut Gao Guangning semuanya telah dibantai habis dan dirinya sendiri pun telah menghilang."
"Maksudmu," Zuo Yanqing mengelus bulu hitam yang mengkilap dan licin pada kucing di pelukannya, lalu bertanya dengan suara pelan, "Kejadian ini dilakukan oleh Xiahou Jun dan Xiahou En?"
"Hanya merekalah pelakunya," jawab Huangfu Qing dengan suara kecil.
"Omong kosong." Nada suara Zuo Yanqing tidak tinggi, tetapi setiap kata yang diucapkannya terdengar begitu jelas, membuat siapa pun yang mendengarnya merasakan ketakutan hingga ke lubuk hati terdalam. "Mereka berdua terus berada di dalam kota Luodu sepanjang waktu, kapan mereka punya waktu pergi ke Desa Keluarga Liu untuk membunuh orang?"
"Ah!" Di dalam Kantor Intelijen, tidak seorang pun yang meragukan perkataan Zuo Yanqing. Mereka semua sangat tahu bahwa kasim tua ini, meski telah pensiun, tetap mendedikasikan seluruh perhatiannya untuk memantau pergerakan Klan Xiahou. Berbicara mengenai pemahaman terhadap situasi di dalam dan luar Klan Xiahou, bahkan Xiahou Ba sendiri pun tidak bisa menandinginya.
"Ini tidak mungkin!" seru Huangfu Qing secara spontan. "Tadi malam, bawahan bertatap muka dengan mereka berdua, bahkan sempat berbicara dengan Xiahou En!"
"Kalau begitu kalian benar-benar seperti melihat hantu," ejek Zuo Yanqing ringan.
"Kau bilang kau bertemu dan melihat mereka berdua," tanya Lin Chao dengan suara berat, "Apakah kau melihatnya dengan jelas?"
"Suasananya gelap gulita, tidak bisa melihat dengan jelas seperti di siang hari," jawab Huangfu Qing buru-buru. "Tetapi bentuk alis dan garis wajah mereka memang benar-benar dua orang itu. Lagipula, mereka membawa senjata andalan masing-masing, dan suara Xiahou En juga benar-benar suaranya."
"Kau sendiri bilang itu adalah senjata andalan mereka," sanggah Lin Chao sambil menggelengkan kepala dengan kuat. "Tentu saja semua orang tahu itu, memalsukan senjata bukanlah hal yang sulit." Ia berhenti sejenak lalu melanjutkan, "Soal suara, apakah kau begitu akrab dengan Xiahou En?"
"Bawahan hanya pernah mendengar dia berbicara beberapa kali." Huangfu Qing adalah keturunan keluarga kekaisaran. Selama bertahun-tahun, keluarga Huangfu dan Klan Xiahou bagaikan air dan api, tentu saja tidak banyak melakukan interaksi.
"Teknik semacam itu yang bisa mengubah timbre suara sudah lebih dari cukup untuk memperdayaimu!" Lin Chao juga baru menyadari setelah kejadian itu berlalu. Setelah mendengarkan perkataan Zuo Yanqing, ia baru bisa melihat tembus pandang dan berkata, "Mengenai wajah, itu bahkan lebih mudah lagi! Di tengah kegelapan malam, menyamar sedikit saja sudah cukup!"
Catatan Master Sanjie:
Tambahan 1000 suara telah dikirimkan. Eh, sepertinya tidak lama lagi menuju tambahan suara berikutnya. Tapi tidak apa-apa, silakan terus gelontorkan suara kalian, Sang Biksu sanggup menerimanya!!!