Bab Dua Puluh Dua: Melampiaskan Kekesalan

Lagu Kebahagiaan Abadi Guru Tiga Pantangan 2843字 2026-02-10 00:09:07

Perempuan bertopeng itu memanfaatkan Sayap Luban, meluncur turun dari tebing, dalam sekejap melesat ratusan depa, lalu menghilang ke lembah yang dipenuhi rimbunnya pepohonan. Begitu memasuki hutan, ia menarik kedua ujung sayap dengan kuat, sehingga sepasang sayap itu seketika terlipat masuk ke dalam kotak. Kakinya kemudian menjejak cabang-cabang pohon secara bergantian, memanfaatkan daya pantul untuk mengurangi hentakan ketika turun, hingga akhirnya ia mendarat dengan mantap di tanah lapang di tengah hutan.

Sama seperti Lu Yun, perempuan bertopeng itu tak berani berhenti barang sejenak. Ia langsung berlari kencang menembus lebatnya hutan, terus mengarah ke utara sejauh lebih dari dua puluh li. Setelah hutan mulai menipis, ia memperlambat langkah, mengeluarkan sebuah peluit tembaga berbentuk aneh, dan meniupnya beberapa kali dengan keras, namun tampaknya tak terdengar suara apapun.

Anehnya, ia lalu menyimpan peluit itu kembali, memilih tempat tersembunyi, dan menunggu dengan tenang. Tak lama berselang, sebuah kereta kuda perlahan melaju dari arah depan. Kusir tua berambut putih itu memicingkan mata, seolah tertidur setengah sadar. Seorang gadis pelayan menyorongkan kepala keluar dari kereta, tampak mencari-cari seseorang.

“Aku di sini.” Perempuan bertopeng itu keluar dari persembunyian, kusir dan pelayan serempak menoleh. Si pelayan meloncat turun dari kereta dengan gembira dan segera menyambutnya.

Tak lama kemudian, kereta kuda bergerak perlahan di jalan utama menuju utara. Namun di dalam kereta tak tampak sosok perempuan bertopeng, melainkan seorang gadis bangsawan berwajah lembut yang tampak sakit-sakitan. Meski demikian, pelayannya tetaplah pelayan yang sama. Ia mendekatkan diri ke telinga sang gadis, bertanya dengan hati-hati, “Nona, berhasilkah?”

“Tentu saja.” Gadis bangsawan itu, yang tak lain adalah perempuan bertopeng, meski bersikap lemah lembut, wajahnya tetap memancarkan semangat mendengar pertanyaan pelayannya. Ia menepuk-nepuk kotak emas di sampingnya, “Kalau aku yang turun tangan, pasti berjalan lancar!”

“Nona memang luar biasa!” Pelayan itu menatap kagum, kedua matanya berkilauan, lalu berbisik penuh harap, “Bolehkan hamba melihat sebentar saja?”

“Hanya sebentar.” Gadis itu pun tak kalah penasaran, sejak berhasil mendapatkan barang itu, ia hanya sempat melarikan diri tanpa sempat melihat seperti apa bentuk segel giok tersebut.

Pelayan kecil itu mengangguk bersemangat, lalu melihat sang nona perlahan mengangkat kotak emas yang dihiasi ukiran naga dan burung phoenix.

“Wah, kotaknya indah sekali!” Pelayan kecil itu menahan napas penuh kekaguman.

“Lihat isinya!” Gadis itu, seperti sedang mempertontonkan harta karun, menekan mekanisme pada tutup kotak, tersenyum menanti reaksi pelayannya yang biasanya sepuluh kali lebih berlebihan.

Pelayan itu menatap kotak tanpa berkedip. Begitu tutup kotak terbuka, matanya langsung membelalak, bola matanya hampir saja melompat keluar.

‘Memang reaksinya berlebihan, tapi kenapa seperti melihat hantu?’ Gadis itu merasa sedikit kecewa.

“No, nona...” Pelayan itu menunjuk isi kotak dengan suara tergagap, “Anda pasti sedang bercanda dengan hamba, bukan?”

Gadis itu tercengang, segera menunduk, dan seketika tubuhnya membeku seolah darahnya membatu. Kotak emas di tangannya terjatuh ke tanah, lalu menggelindinglah sebuah batu sebesar kepalan tangan keluar, dan tanpa malu-malu bersembunyi di bawah kursi.

Melihat nonanya seperti membatu, pelayan itu menelan ludah, memeluk kepalanya ketakutan, seolah sesuatu yang mengerikan akan terjadi.

Di dalam kereta, setelah hening sesaat, suara napas berat mulai terdengar, makin lama makin keras, seperti suara hembusan napas yang kasar.

Mendengar suara itu, kusir yang sedang setengah tertidur pun buru-buru menutup telinganya.

“Keluarlah kau!” Seketika, sebuah teriakan melengking penuh amarah hampir saja menerbangkan atap kereta. Lalu terdengar suara gaduh disertai makian perempuan, “Keluar dan terimalah kematianmu!”

Di dalam kereta, pelayan itu berusaha menahan nona mudanya yang mengamuk, agar tak membongkar kursi kereta. Namun bagaimana mungkin ia mampu menahan? Gadis itu membalikan kursi pendek yang terpasang di lantai kereta, menatap batu itu dengan penuh kebencian, menyeringai, “Kau kira bisa lolos dariku?!”

“Pergi mampuslah!” Setelah berkata demikian, ia mengambil batu itu, memutar lengannya, dan melemparkannya keluar jendela dengan sekuat tenaga.

Melihat batu itu menghilang bagai meteor di kejauhan, kusir hanya bisa menggelengkan kepala. Jika saja para pengikut tahu bahwa sang Suci yang mereka muliakan, yang tampak agung dan lembut itu, ternyata menyimpan sisi kekanak-kanakan dan kasar seperti ini, entah berapa banyak air mata yang akan mereka tumpahkan...

Setelah meluapkan amarah, gadis itu akhirnya duduk dengan tenang di kursi pelayan, mulai mengingat kembali semua kejadian tadi. Seketika ia sadar dan menggertakkan gigi, “Pasti si brengsek itu yang menukar barangnya!”

“Benda itu ada padaku.” kata Lu Yun, sambil mengeluarkan sesuatu dari balik jubahnya dan memperlihatkannya kepada Paman Bao.

Mata Paman Bao hampir melotot keluar, buru-buru mengusap matanya, memastikan ia tak salah lihat. Dengan tangan gemetar, ia menunjuk benda itu, terbata-bata, “Ini... ini... ini apa?!”

Terlihat di telapak tangan Lu Yun sebuah benda persegi empat inci, hijau kebiruan, tampak halus dan bercahaya. Di bagian atasnya terukir lima naga yang saling terkait, membentuk rupa naga, burung, ikan dan ular, sedangkan bagian bawahnya berbentuk kotak, jelas sebuah segel besar.

“Jangan-jangan ini... Segel Giok Negara Qian?!” Paman Bao, mantan komandan pengawal istana, jelas tahu nilai benda itu. Jantungnya berdebar kencang, suaranya gemetar, “Itu adalah...” Empat kata terakhir tak sanggup ia lanjutkan, seolah takut mendatangkan bala.

Mata Lu Yun pun bersinar penuh semangat, mengangguk mantap, “Benar, inilah Segel Giok Penerus Negara!” Ia perlahan mengangkat segel itu, memperlihatkan delapan huruf di permukaan segel yang terukir secara terbalik.

‘Menerima mandat dari langit, hidup sentosa dan abadi.’

Segel itu pun tampak pecah di pojok kiri atas, ditambal dengan emas. Persis seperti kisah legendaris saat nenek permaisuri Wei memecahkan segel negara ketika pendiri Dinasti Qian merebut tahta.

“Benar... benar ini Segel Giok Negara!” Paman Bao nyaris pingsan karena terlalu bersemangat. Kini semuanya jelas! Pantas saja keluarga Xiahouw begitu ngotot menyerang Kediaman Bailiu, bahkan sampai menghindari mata-mata kaisar! Rupanya semua itu demi Segel Giok Negara!

Segel Giok Negara, awalnya milik Kaisar Pertama, menjadi simbol mutlak “mandat langit dan legitimasi kekuasaan”! Setelah itu, setiap dinasti menganggap kepemilikan segel ini sebagai tanda sah bertahta. Siapa yang memilikinya berarti mendapat restu langit, siapa yang kehilangan berarti masa kejayaannya telah berakhir!

Sejak bangsa utara membuat kekacauan, kaum bangsawan Dinasti Qian mengungsi ke selatan, begitu pula Segel Giok Negara. Ratusan tahun kemudian, Dinasti Selatan tetap diakui sebagai penguasa sah karena segel ini, sementara para pahlawan utara yang mendirikan pemerintahan sendiri kerap diejek sebagai “kaisar tanpa segel”, dianggap tak memiliki legitimasi dan sering direndahkan.

Ketika Kaisar Gaozu dari Dinasti sekarang merebut ibukota Dinasti Qian, hal utama yang dilakukan seluruh pasukan adalah mencari Segel Giok Negara! Namun, setelah menggeledah Jinling dan menginterogasi seluruh pejabat Dinasti Selatan, segel itu tetap tak ditemukan. Akhirnya, sang kaisar hanya bisa membuat segel sendiri untuk naik tahta. Walaupun ia berjasa menyatukan negeri, tetap saja banyak orang yang meragukan dan menganggap Dinasti Xuan tidak mendapat restu langit...

Tak adanya Segel Giok Negara menjadi penyesalan terbesar dalam hidup sang kaisar pendiri yang begitu berjasa dan arif itu! Bertahun-tahun ia terus memerintahkan pencarian, namun segel itu tetap tak ditemukan. Beberapa tahun kemudian, ia pun meninggal dalam kekecewaan...

Setelah cukup lama menahan gejolak hatinya, Paman Bao akhirnya menenangkan diri, lalu buru-buru meminta Lu Yun menyimpan segel itu. Ia mundur tiga langkah, berlutut dengan khidmat, meneteskan air mata dan berkata, “Hamba mengucapkan selamat pada Tuan Muda, segel telah kembali, inilah pertanda langit!”

Lu Yun justru tersenyum pahit, memandang sekeliling, hanya ada hutan liar dan dirinya bersama Paman Bao, tak ada makhluk lain. Ia pun berkata dengan getir, “Paman, jangan sembarangan bicara. Benda ini sama sekali tak berguna bagi kita sekarang, malah hanya membawa bencana!” Ia sangat paham, keluarga Xiahouw, keluarga kerajaan, bahkan seluruh dunia, pasti akan mati-matian mencari segel ini. Meski ia sudah sangat berhati-hati, tetap saja mungkin ada jejak yang tertinggal. Jika sampai mereka menemukan dirinya, niscaya masalah besar akan menimpa!

“Sekarang memang belum berguna, tapi nanti saat Tuan Muda hendak merebut kembali tahta, benda ini akan sangat berarti!” Paman Bao tetap bersemangat, sambil berceloteh panjang lebar, sampai akhirnya ia teringat sesuatu dan bertanya heran, “Bagaimana Tuan Muda bisa mendapatkan benda ini?”

“Tepat saat aku terpental akibat serangan itu...” Lu Yun tersenyum tipis, “Sebelumnya, aku sengaja menarik ujung buntalan hingga robek, pertama untuk melihat apa isinya, kedua... supaya mudah menukar isinya.”

Paman Bao tersadar, “Pantas tadi Tuan Muda begitu mudah terpental, sempat kukira Tuan Muda tiba-tiba kehilangan kemampuan.”

“Ketika berjongkok di tanah, aku pura-pura memegang perut, membuka kotak dan mengambil segelnya, lalu mengambil batu dan memasukkannya ke dalam kotak. Saat itu, dia menyuruhku melemparkan buntalan, aku pun menuruti...” Lu Yun tersenyum riang, entah karena berhasil mendapatkan segel, menipu keluarga Xiahouw, atau karena akhirnya bisa membalas dendam dan mengembalikan harga dirinya yang diinjak selama ini.

Sepertinya... alasan yang terakhir jauh lebih kuat dari yang lainnya.