Bab Seratus Dua Puluh Satu Berhasil
Di dalam Kediaman Keluarga Liu, di halaman tempat Gao Guangning menumpang tinggal.
Para pelayan dikejutkan oleh keributan di luar halaman, lalu bergegas pergi melapor kepada Gao Guangning.
Gao Guangning sama sekali belum memejamkan mata. Sejak hari pengumuman vonis dijatuhkan, dia sudah mulai menderita insomnia. Ketika pelayan tua itu masuk, dia sedang duduk membaca buku di bawah cahaya lampu.
"Tuan, ada suara teriakan di ujung desa!" ucap pelayan tua itu terburu-buru.
"Aku dengar," jawab Gao Guangning sambil mengangguk. "Pasukan Biro Penyelidik disuruh enyah."
"Begitu yang mereka katakan," angguk pelayan tua itu dengan panik. "Tuan, sebaiknya kita segera bersembunyi."
"Di tengah malam gelap gulita seperti ini, apakah kau tahu tempat mana yang lebih aman?" Gao Guangning mengulurkan tangan membalik halaman buku, lalu berkata datar, "Jika berkah maka takkan menjadi malapetaka, jika malapetaka maka takkan bisa dihindari. Mari kita lihat dulu perkembangannya."
"Duh..." Pelayan tua itu terpaksa mundur. Namun sesaat kemudian, dia kembali dengan penuh semangat dan berseru, "Keluarga Besar Xiahou mengirim orang untuk melindungi Tuan!"
"Oh?" Gao Guangning tertegun sejenak, lalu mengerutkan kening dan berkata, "Bagi Keluarga Besar Xiahou, aku sudah menjadi orang yang tak berguna lagi. Untuk apa mereka berbuat repot?"
"Delapan puluh persen karena mereka melihat Biro Penyelidik membuntuti Tuan, sehingga wajah Keluarga Besar Xiahou menjadi tercemar!" pelayan tua itu menebak-nebak.
"Lihat dulu nanti," ulang Gao Guangning. Namun kali ini dia tidak lagi duduk tenang seperti batu, melainkan meletakkan buku di tangannya dan berjalan keluar ruangan.
Sebelumnya dia bisa tetap tenang karena percaya Biro Penyelidik dapat melindunginya. Akan tetapi, begitu orang-orang dari Keluarga Besar Xiahou datang, dia justru merasa gelisah...
Setelah mengusir rombongan Biro Penyelidik, orang-orang dari Keluarga Besar Xiahou langsung menerobos masuk ke Kediaman Keluarga Liu dan meluncur cepat menuju tempat tinggal Gao Guangning.
"Buka pintu! Buka pintu!" Seorang anak buah menggedor pintu gerbang keras-keras. "Dua sesepuh Keluarga Besar Xiahou ada di sini, mengapa Gao Guangning belum juga keluar menyambut!"
Orang di dalam bergegas membukakan pintu, dan rombongan Keluarga Besar Xiahou langsung berhamburan masuk.
"Di mana Gao Guangning?!" tanya anak buah itu dengan kasar.
"Tuan kami sudah tidur." Seorang pelayan tua menunjuk ke arah kamar utama yang lampunya padam.
Kedua 'sesepuh' Keluarga Besar Xiahou saling bertukar pandang, lalu meninggalkan para pengikut di halaman untuk mengawasi keenam atau ketujuh pengawal dan pelayan Gao Guangning. Keduanya lantas melangkah menuju pintu kamar utama. 'Xiahou Jun' yang membawa sepasang palu berjaga di pintu, sementara 'Xiahou En' dengan lembut membuka daun pintu menggunakan pena hakimnya, lalu melangkah masuk.
Kamar itu tampak gelap gulita, tetapi 'Xiahou En' dapat melihat dengan jelas bahwa seseorang sedang berbaring di atas ranjang dengan selimut menutupi seluruh tubuh. Menahan napas, dia berjalan dengan langkah ringan ke sisi ranjang dan langsung melancarkan sebuah telapak tangan!
"Eh?" Dua seruan tertahan terdengar hampir bersamaan. Satu seruan dikeluarkan oleh 'Xiahou En', yang mendapati telapak tangannya menubruk gumpalan empuk, sama sekali bukan tubuh manusia!
'Xiahou En' buru-buru menggunakan sebatang pena hakim untuk mencongkel selimut ke atas, memperlihatkan sosok tiruan yang dibuat dari bantal dan kasur! Pada saat bersamaan, pena hakim di tangannya yang lain melesat tajam menembus jendela belakang kamar!
Itulah arah dari mana seruan kedua terdengar! Meskipun konsentrasi 'Xiahou En' terpusat di atas ranjang, dia sama sekali tidak melewatkan suara tersebut!
Pena hakim itu melesat secepat kilat menembus terali jendela, tetapi tidak menghasilkan suara menembus daging, apalagi jeritan kesakitan...
"Kejar!" geram 'Xiahou En' rendah ke arah luar pintu, lalu menyambar bantal dan melemparkannya ke arah jendela!
Dengan suara gemuruh, seluruh jendela belakang hancur berkeping-keping dihantam bantal, yang kemudian susul-menyusul tertusuk oleh bilah pedang!
Seseorang di luar jendela rupanya berniat memanfaatkan kesempatan untuk melakukan serangan mendadak, namun tak disangka 'Xiahou En' justru melempar bantal sebagai penguji jalan.
Pada saat itu, 'Xiahou En' menerjang keluar melalui lubang jendela yang rusak, melayangkan telapak tangan ke arah wajah lawannya. Kali ini dia sempat melihat rupa lawannya: seorang pria berusia empat puluhan, berjanggut panjang dan beralis tipis. Bukankah dia tidak lain adalah Gao Guangning?
"Sesepuh Xiahou, mengapa engkau hendak membunuhku secara keji?!" Gao Guangning dengan compang-camping menghindari hantaman telapak tangan itu, lalu berteriak murka kepada 'Xiahou En'. Baru saja dia menggunakan akal bulus dengan memasang sosok tiruan untuk berpura-pura tidur di ranjang, sementara dirinya mengintai dari luar jendela, dan terbukti tindakan itu berhasil menyelamatkan nyawanya!
"Keluarga Besar Xiahou tidak memelihara orang tak berguna!" 'Xiahou En' tertawa dingin, lalu kembali melayangkan telapak tangan ke arah Gao Guangning. Tadi demi menangkap hidup-hidup, dia hanya mengerahkan tiga bagian tenaga dalamnya. Kali ini dia meningkatkan kekuatannya menjadi lima bagian, di bawah Alam Tingkat Bumi pastilah mustahil bisa menghindarinya!
Tak disangka tubuh Gao Guangning meliuk bagaikan hantu, berhasil menghindari hantaman telapak tangan tersebut. Sekaligus melesat pergi sejauh beberapa belah tombak!
Serangan itu meleset, membuat 'Xiahou En' terpana sejenak. Dia sama sekali tidak menduga Gao Guangning ternyata memiliki ilmu meringankan tubuh setingkat Alam Tingkat Bumi!
Gao Guangning juga memandang 'Xiahou En' dengan perasaan cemas dan curiga, menggeretakkan gigi sambil menghentakkan kaki, lalu melarikan diri dengan kecepatan penuh ke arah luar desa.
Melihat gerakannya yang secepat kilat bagaikan petir, jelas sekali dia adalah seorang Guru Besar Alam Tingkat Bumi yang telah membukakan jalur meridian Ren dan Du!
Pada saat yang sama, 'Xiahou Jun' yang berada di luar pintu, setelah memerintahkan anak buahnya untuk membantai habis seluruh pelayan, bergegas datang dengan kecepatan tinggi. Melihat punggung sosok yang berlari kencang itu, Xiahou Jun tertegun sejenak dan bertanya, "Siapa itu?"
"Gao Guangning!" ralat Xiahou En sebelum melesat mengejar arah pelarian Gao Guangning dengan kecepatan kilat.
Xiahou Jun buru-buru mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya dan membuntutinya erat-erat di belakang...
Gao Guangning selama ini selalu menampilkan diri sebagai seorang sastrawan yang lemah lembut, terbukti telah mengabdi sebagai pejabat istana selama belasan tahun tanpa seorang pun yang mengetahui bahwa dirinya menguasai ilmu bela diri, bahkan merupakan seorang Guru Besar Alam Tingkat Bumi yang telah membukakan jalur meridian Ren dan Du!
Hal ini sempat membuat pihak lawan kecolongan, hingga akhirnya dia berhasil lolos dari desa dan memacu kuda melesat ke arah ibu kota! Pikiran Gao Guangning sangat jernih; asalkan dia bisa menyusul rombongan Biro Penyelidik, maka dirinya akan selamat.
Melihat arah pelarian Gao Guangning, 'Xiahou En' mengerutkan kening dan berkata, "Kita tidak boleh membiarkan dia menyusul orang-orang Biro Penyelidik!" Sambil berucap demikian, kedua tangannya merangkap membentuk jurus, mengerahkan tenaga ke Dantian, lalu meledakkan suara bagaikan guntur musim semi dengan bentakan keras: "Buka!"
Seketika itu pula kecepatan tubuhnya mendadak melesat berkali-kali lipat, berubah menjadi seberkas kilatan cahaya yang dalam puluhan napas saja berhasil menyusul Gao Guangning, bahkan melompat melayang melewati kepalanya!
Melihat hal tersebut, Gao Guangning terkejut bukan kepalang. Dia buru-buru memutar arah dan kabur menuju jalur lain, namun didapatinya Xiahou Jun telah melemparkan sepasang palu yang selama ini menjadi senjata andalannya, berganti memegang sebilah golok panjang untuk menghalangi jalannya!
Terdapat pengejar di depan dan penghalang di belakang, membuat Gao Guangning sadar bahwa dirinya sudah tidak mungkin bisa melarikan diri lagi. Bulat sudah tekadnya, pedang panjang di tangannya menusuk keluar dengan ganas, setiap jurus yang dikeluarkan adalah jurus taruhan nyawa demi saling menjatuhkan!
Jelas sekali, Gao Guangning berniat memaksa lawannya menghindar agar dia bisa memanfaatkan celah untuk kabur.
Namun siapa sangka lawannya jauh lebih beringas daripadanya. Golok panjang itu sama sekali tidak mengelak dan tidak menghindar, melainkan menyongsong pedang panjang Gao Guangning tanpa sedikit pun niat untuk mundur! Menampakkan sikap seolah-olah menantang: bunuhlah aku jika kau punya nyali!
Bunga api berhamburan di tengah kegelapan malam akibat benturan senjata tajam. Dalam sekejap mata, Gao Guangning telah beradu jurus secara langsung sebanyak puluhan kali dengan lawannya. Selepas puluhan kali benturan tanpa tipu muslihat ini, kedua lengannya terasa kebas luar biasa, selaput harimau di telapak tangannya bahkan pecah, hampir-hampir tidak mampu lagi menggenggam pedang panjang di tangan.
Beralih memandang lawannya, orang itu tetap menggenggam sebilah golok dengan kokoh bagaikan gunung karang. Meskipun hanya seorang diri yang menjaga jalur, namun memancarkan kesan seolah mampu membendung sepuluh ribu pasukan seorang diri!
"Kau bukan Xiahou Jun!" Meskipun Gao Guangning tidak pernah turun tangan bertarung secara langsung, tetapi dia sangat menghapal di luar kepala seluk-beluk para tokoh dari berbagai keluarga besar, terutama para pendekar dari Keluarga Besar Xiahou. Selepas pertarungan sengit ini, dia merasakan kejanggalan dan menjerit histeris, "Engkau ini pengikut siapa dari Du Mao? Bukankah ilmu goloknya sudah lama hilang?! "
Di tengah keterjutannya yang luar biasa, Gao Guangning sama sekali tidak menyadari bahwa 'Xiahou En' telah melesat terbang ke belakang punggungnya bagaikan burung hantu malam. Ketika dia tersadar, semuanya sudah terlambat!
'Xiahou En' melayangkan telapak tangan telak menghantam bagian belakang kepalanya, membuat Gao Guangning seketika terkulai lemas di atas tanah...
Ketika Gao Guangning perlahan-lahan sadarkan diri, didapatinya dirinya sudah berada di dalam sebuah gua gunung yang temaram. Di dekatnya menyala sebuah api unggun, tanpa bisa memperkirakan waktu hari apa saat ini.
"Tuan Muda, dia sudah sadar," ucap sebuah suara serak dan parau terdengar di belakang Gao Guangning. Saat berikutnya, Gao Guangning langsung dicengkeram dan diseret berdiri, dipaksa berlutut menghadap sebuah meja batu.
Di depan meja batu tersebut, berdiri seorang pemuda berbusana pakaian malam dengan ketampanan yang luar biasa. Sementara orang yang menyeretnya adalah seorang lelaki tua bungkuk dengan wajah penuh bekas luka. Lewat ekor matanya, Gao Guangning melihat benda yang digendong di punggung lelaki tua itu tidak lain adalah sepasang golok panjang yang tadi mencegat jalannya!
Xiahou En dan Xiahou Jun sudah tidak kelihatan lagi bayangannya. Jikalau bukan karena keberadaan sepasang golok panjang itu, Gao Guangning pasti mengira dirinya sedang bermimpi. Keadaan ini sungguh terlalu mirip mimpi. Gao Guangning diam-diam mengerahkan tenaga, namun mendapati bagian dalam tubuhnya terasa kosong melompong, tangan dan kakinya lunglai tak bertenaga, bahkan untuk mengangkat seujung jari pun tidak sanggup—sebuah kondisi yang biasanya hanya muncul di dalam mimpi.
"Gao Guangning, apakah kau mengenali siapa aku?!" Lelaki tua berwajah penuh luka itu menjambak rambut Gao Guangning, lalu membentak dengan suara serak dan rupa yang menyeramkan.