Bab Tiga Puluh Dua: Penyelesaian
"Apakah Tuan merasa senang?" Di atas tembok kota, Lu Yun menatap Li Dayin dengan wajah penuh ketulusan.
"Senang..." jawab Li Dayin tanpa berpikir, namun setelah berkata demikian, ia tersenyum pahit sambil menggeleng, "Tapi mereka bukan warga kabupaten ini..."
"Apakah ada aturan yang menyatakan buruh rakyat harus berasal dari kabupaten sendiri?" Lu Yun menatap Li Dayin dengan heran.
"Tidak juga..." Li Dayin menggeleng, "Hanya saja, saya tidak punya wewenang untuk mengatur mereka!"
"Tentu Tuan punya wewenang." Lu Yun berbicara dengan serius, "Menurut aturan Agung Xuan, bupati mengelola seluruh penduduk dalam wilayah kabupaten, termasuk pengungsi yang tidak memiliki catatan rumah tangga." Ia menghela napas, "Sejujurnya, mereka semua adalah korban bencana yang melarikan diri, mereka sudah sangat kelaparan. Selama Tuan mau mengeluarkan sedikit beras untuk menghidupi keluarga mereka, mereka pasti akan bekerja keras untuk Tuan."
Li Dayin mulai tergoda, meskipun cara ini baru pertama ia dengar. Namun sebagai pejabat berpengalaman selama dua puluh tahun, instingnya mengatakan cara ini sangat mungkin berhasil. Hanya saja ada satu kendala...
"Terus terang," bisik Li Dayin, "Beras di gudang pangan kabupaten saja nyaris tidak cukup untuk warga, mana mungkin cukup untuk memberi makan begitu banyak orang?"
Lu Yun tahu itu bukan omong kosong. Kabupaten Yongqiu memiliki puluhan ribu penduduk, benar-benar tidak sanggup menanggung beban berat ini. Namun ia tetap tenang, "Suruh saja keluarga-keluarga kaya di kota yang menyumbang beras."
"Itu tidak mudah..." Li Dayin tersenyum getir.
"Apa susahnya?" Lu Yun tersenyum tipis, "Datangi para tuan tanah itu, bilang pada mereka, kalau tidak mau keluarkan beras, biarkan saja para pengungsi masuk ke dalam kota, dan tanggung sendiri akibatnya!"
"Ah!" Sepanjang hidupnya, Li Dayin selalu berhati-hati, mana pernah terpikirkan cara seekstrem itu, ia menggeleng berkali-kali, "Tidak pantas, tidak pantas."
"Atau karena Tuan tidak berani?" Lu Yun tersenyum mengejek.
"Memang, saya tidak berani..." sahut Li Dayin lesu, "Seperti yang Tuan bilang, saya berasal dari keluarga biasa, tidak sanggup menyinggung keluarga-keluarga kaya itu..."
"Nyawa Tuan sendiri saja sudah di ujung tanduk, masih juga ragu-ragu!" Lu Yun tertawa, menunjuk ke arah rombongan kereta di luar kota, "Di sana ada keponakan perempuan kepala keluarga Pei, cucu kepala keluarga Cui, menantu dan keponakan perempuan kepala keluarga Lu. Sekarang mereka semua dikepung para pengungsi. Jika Tuan terus menunda dan sampai terjadi sesuatu..."
"Ah! Kenapa Tuan tidak bilang dari tadi?!" Li Dayin hampir pingsan lagi. Yang lain masih bisa dikesampingkan, tapi cucu kepala keluarga Cui adalah kerabat langsung pejabat utama! Para keluarga kaya di kota ini dibandingkan dengan para bangsawan di luar kota, jelas jauh tingkatannya! Mana mungkin ia tidak tahu mana yang lebih penting?!
Setelah menenangkan diri, bupati itu menepukkan pahanya, menggertakkan gigi, "Kalau memang tidak bisa kumpulkan buruh rakyat, jabatan ini juga bakal hilang, sekalian saja saya pertaruhkan!"
"Tidak perlu segitunya," Lu Yun tersenyum dan menggeleng, "Saya jamin setelah ini, Tuan pasti akan naik pangkat!" Ia menurunkan suara, "Lagipula, kesempatan membantu keluarga Pei, keluarga Cui, dan keluarga Lu tidak banyak, lho."
"Terima kasih atas doa baiknya, Tuan Muda!" Li Dayin tersentak semangat, penuh sukacita, "Tuan tenang saja, kalau para tuan tanah itu berani menolak, saya tidak segan-segan menindak mereka!" Selesai bicara, ia segera mengajak bawahannya mendatangi para keluarga kaya.
Namun Lu Yun menahannya, menunjuk ke luar kota, dan Li Dayin langsung sadar, menepuk dahinya, "Benar, benar, selamatkan para bangsawan dulu!"
"Ada satu lagi, saya perlu meminjam prajurit Tuan..." Lu Yun berbisik pada Li Dayin...
Para pengungsi di luar kota mengira, setelah Lu Yun masuk, entah kapan ia akan kembali. Siapa sangka, hanya sekejap, gerbang kota perlahan terbuka. Bersama Lu Yun, muncul seorang pejabat paruh baya yang penampilannya biasa saja.
Namun tak satu pun pengungsi berani menyepelekan orang itu, sebab pakaian pejabatnya sama persis dengan bupati mereka! Jelas, itulah penguasa wilayah ini!
"Tuan Bupati, tolonglah kami..." Para pengungsi berlutut dan memohon pada Li Dayin.
"Sekalian, saya datang atas permintaan Tuan Muda Lu, khusus untuk membantu kalian," ujar Li Dayin dengan wibawa penuh, sangat berbeda dengan tingkahnya di atas tembok kota. "Asal kalian patuh pada perintah, tidak akan ada satu pun yang kelaparan!"
"Kami semua mau!" Para pengungsi sangat gembira. Di mata mereka, janji Li Dayin jauh lebih bisa dipercaya daripada Lu Yun. Mereka pun menepuk dada, "Asal bisa makan, kerja apa saja kami mau!"
"Bagus, itu janji kalian!" Li Dayin mengangguk, bersuara berat, "Sekarang, kabupaten ini butuh lima ribu buruh rakyat untuk ikut ke tanggul Sungai Kuning. Asal kalian kirim laki-laki yang kuat, sebelum pekerjaan selesai, seluruh keluarga kalian akan kami tanggung!"
"Kami bersedia!" Para pengungsi langsung setuju. Mereka memang sudah kehabisan jalan. Banjir datang begitu dahsyat, bisa membawa keluarga keluar saja sudah beruntung, mereka lari tanpa membawa apa pun. Andai bukan musim panas, rumput liar tumbuh di mana-mana, mungkin kebanyakan sudah tewas kelaparan.
Seperti kata Lu Yun, di saat seperti ini, asal keluarga bisa makan, apapun rela dikerjakan. Apalagi, hanya dengan menutup jebolnya Sungai Kuning, mereka bisa kembali ke kampung halaman. Masa para korban bencana tak mau berusaha?
Dalam sekejap, Li Dayin sudah mengumpulkan lebih dari enam ribu laki-laki dewasa. Adapun para penjahat yang bersembunyi di antara pengungsi, tentu saja tidak berminat bekerja di tanggul. Sambil mengumpat, mereka memanfaatkan kekacauan untuk menyelinap pergi.
Namun baru saja mereka berpisah dari para pengungsi, sudah dikepung oleh pasukan kabupaten Yongqiu.
"Kalian mau apa?" Para penjahat itu panik, tangan mereka meraba senjata tajam di pinggang.
"Kalian lebih tahu sendiri!" Para petugas mengangkat senjata, dan kepala polisi kabupaten berkata dingin, "Kalian yang menghasut para pengungsi, merampok para pedagang yang lewat, sudah berkali-kali, bukan?!" Ia memberi aba-aba, "Tangkap mereka!"
Jumlah penjahat ada dua sampai tiga ratus orang. Begitu ketahuan, mereka jelas tidak mau menyerah. Sang kepala langsung mencabut senjata, "Lawan saja!"
Jumlah petugas juga dua sampai tiga ratus orang, kedua pihak bertarung seimbang. Namun segera, para pengawal keluarga dagang, keluarga Lu, dan keluarga Cui ikut bergabung. Mereka semua adalah ahli bela diri, bahkan Huang Ling memiliki kemampuan tingkat tinggi! Menghadapi para penjahat yang cuma tahu sedikit bela diri, tentu saja bukan tandingan!
Para pengawal sudah lama menahan amarah, mereka tak memberi ampun pada para penjahat licik itu. Dalam sekejap, setengah dari mereka tewas di tempat. Sisanya, menyadari tak mungkin lolos, melempar senjata dan berlutut memohon ampun...
Barulah para pengawal berhenti, membantu petugas mengikat para penjahat yang tersisa, lalu membawa mereka ke kota.
Melihat itu, para pengungsi sadar diri bahwa mereka telah dimanfaatkan. Mereka merasa malu dan menyesal, ingin meminta maaf pada Lu Yun, tapi tak punya muka untuk maju ke depan.
Saat itu, bendahara kabupaten mengambil dua gerobak beras dari gudang pangan, langsung memasak bubur di luar kota.
Para pengungsi akhirnya benar-benar lega. Rasa terima kasih mereka pada Lu Yun pun tak terhingga.
Li Dayin menyambut rombongan kereta masuk ke kota untuk beristirahat, bahkan ingin menyiapkan penginapan mewah. Namun Lu Yun menahannya, "Tuan Bupati, lebih baik selesaikan urusan penting dulu. Setelah beres, baru undang para tamu, itu baru membanggakan."
"Tuan benar sekali!" Li Dayin sangat setuju, menggertakkan gigi, "Saya akan mendatangi satu per satu para tuan tanah untuk menagih sumbangan!" Ia berhenti sejenak, "Oh ya, saya juga harus mengadili para penjahat itu!"
Lu Yun mengangguk, memandang Li Dayin pergi bersama para bawahannya...
Setelah rombongan tiba di penginapan, Lu Yun baru hendak masuk ke kamar, tapi dicegat oleh Cui Ning'er. Gadis itu menatap Lu Yun dengan kedua mata besarnya yang penuh selidik. "Kau sudah tahu sejak awal bahwa para pengungsi itu hanya diprovokasi?"
"Aku tidak tahu." Sebenarnya Lu Yun tahu, tapi ia tak perlu bicara blak-blakan pada gadis itu.
"Lalu kenapa kau terus bersikap baik pada para pengungsi?" Cui Ning'er tidak percaya. "Jangan bilang karena kau mendadak jadi murah hati."
"Tepat sekali," jawab Lu Yun dengan wajah serius, "Keluarga yang berbuat baik pasti akan mendapat keberkahan, orang baik akan mendapat balasan baik."
"Omong kosong!" Cui Ning'er hampir frustasi, "Kau memang ahli bersandiwara!"
"Boleh aku masuk sekarang?" Lu Yun mengisyaratkan dengan mata agar Cui Ning'er menyingkir.
"Tidak boleh, aku masih ada pertanyaan!" Cui Ning'er merentangkan tangan, menghalangi pintu. Ia bertanya lagi, "Bagaimana kau tahu bupati itu mau mengumpulkan buruh rakyat?"
"Saat kami mendarat di Songzhou," jawab Lu Yun tenang, "Aku tak sengaja mendengar orang membicarakannya. Kalau Songzhou yang jauh saja butuh buruh rakyat, apalagi Bianzhou yang lebih dekat ke Sungai Kuning, pasti juga butuh."
"Bagaimana kau tahu bupati itu belum berhasil mengumpulkan buruh rakyat?" lanjut Cui Ning'er.
"Kalau sudah terkumpul, pasti sudah dikirim ke Sungai Kuning, tak mungkin masih berlama-lama di kota," terang Lu Yun. Ayahnya, Lu Xin, pernah menjabat sebagai bupati Qiantang, jadi ia tahu, urusan besar begini pasti diurus langsung oleh bupati supaya tidak ada masalah.
"Kau menyimpan banyak rahasia, ya?" Cui Ning'er menatap Lu Yun dalam-dalam, terus mengejar.
Lu Yun menyentuh wajahnya, menatap Cui Ning'er dengan aneh, "Kenapa kau begitu peduli padaku? Apa kau jatuh cinta padaku?"
"Aku... kamu..." Wajah Cui Ning'er langsung merona, lalu dengan gusar menginjak sepatu Lu Yun, "Sok yakin!" katanya, dan pergi dengan marah.
Lu Yun menatap jejak kaki hitam di sepatunya, menggeleng tak berdaya.
Baru hendak membungkuk membersihkan sepatu, tiba-tiba telinganya dicubit seseorang.
"Kakak, lepaskan, dong," seru Lu Yun buru-buru. Di dunia ini hanya Lu Ying yang berani mencubit telinganya.
Lu Ying melepaskan cubitannya, tersenyum samar, "Setelah dicium Kakak Guo, adik jadi merasa diri hebat ya..."
"Bukan begitu, Kakak." Wajah Lu Yun sampai memerah, ia berbisik, "Aku merasa Cui Ning'er memang agak aneh..."
Ia kira Lu Ying akan menertawakannya, tapi siapa sangka kakaknya malah mengangguk pelan, "Oh, jadi kau juga merasa begitu..."
Lu Ying pun menceritakan percakapannya di atas kereta pada Lu Yun, lalu berkomentar, "Itu bukan ucapan gadis muda yang polos. Omong-omong, dia dan kau memang mirip, sama-sama bermuka dua, pikirannya dalam."
"Kakak!" Lu Yun memprotes tak berdaya, "Masa adik sendiri dibilang begitu?" Tentu saja, protesnya sia-sia. Lu Yun hanya bisa menghela napas, "Tak masalah, toh setelah di ibu kota, aku tak perlu lagi berurusan dengannya."
"Ya." Lu Ying mengangguk, lalu tak bicara lagi.