Bab Seratus Empat Puluh Satu: Percakapan Rahasia
Di sebuah dataran mahaluas yang terletak jauh dari Kota Fajar, benteng-benteng industri berat yang membentang tanpa ujung terhampar bagaikan permadani di atas permukaan tanah. Cerobong-cerobong asap raksasa yang berdiri tegak bagaikan barisan pohon tampak seperti paku-paku besi yang tertancap rapat di atas papan, memuntahkan gas buang industri dalam jumlah masif ke udara. Gas-gas penuh polusi ini berarak menyatu dengan kelamnya langit, bercampur dengan air hujan, lalu kembali turun membasahi bumi. Namun, saat hujan asam tersebut mendekati kawasan pangkalan yang membentang luas ini, tetesan-tetesan air itu tertahan oleh semacam selaput transparan tak kasat mata, sehingga tidak mampu menembus barang sedikit pun.
Di dalam pangkalan yang begitu masif, tank-tank tempur utama yang tampak ganas sesekali keluar dari pabrik persenjataan, menderu dengan suara mesin yang menggelegar saat mereka melaju menuju gudang penyimpanan. Para prajurit yang sibuk tampak hilir mudik; sebagian melakukan pembersihan rutin pada artileri dan perlengkapan lainnya, sebagian lagi sibuk mengatur ketertiban pasukan mekanis. Ada pula sekelompok tentara veteran yang duduk bersantai di atas tank sambil mengobrol dan tidur siang karena bosan, sementara para prajurit rekrutan baru yang bersemangat meneriakkan slogan "Demi Federasi" di tengah latihan militer mereka.
Tempat ini adalah... tidak, dalam Perang Pertahanan Tanah Air pada Tahun Era Kehancuran ke-3... Federasi menyebutnya "Bantuan Militer untuk Asia Timur". Tempat ini merupakan titik pendaratan pertama dari pasukan Federasi yang datang menyeberangi lautan. Karena memiliki makna historis yang sangat penting, markas besar kemudian mendirikan pangkalan komando di lokasi ini, yang kini dikenal sebagai "Markas Besar Teater Asia Pasifik Legiun Industri Berat Federasi".
Di dalam gedung pencakar langit yang terletak tepat di pusat kawasan tersebut, di ruang komando lantai paling atas, seorang lelaki tua yang wajahnya telah diukir oleh tempaan angin dan salju, namun tetap memancarkan ketegasan yang gagah, berdiri di depan jendela kantor. Tanpa sedikit pun menghiraukan radiasi matahari dari langit semesta yang terasa sangat tidak nyaman itu, sepasang mata yang bahkan lebih tajam dari burung elang menatap ke bawah ke arah pangkalan baja yang membentang di hadapannya. Pandangannya menyapu barisan pasukan baja yang masif dan buas, seolah-olah ia sedang menerima sebuah parade militer yang agung.
Berbeda dari orang tua pada umumnya yang sudah membungkuk, tubuh lelaki tua ini sangat tegap dengan tinggi badan melampaui dua meter. Ia mengenakan seragam jenderal yang melambangkan kehormatan tertinggi di dalam Federasi. Janggut lebatnya yang sekeras baja telah memutih tertiup angin dan salju, tetapi hal itu tidak mampu menyembunyikan aura pembunuh penuh debu perjuangan yang melekat pada dirinya. Sebuah lirikkan sekilas saja sudah cukup membuat siapa pun merasa ngeri.
"Elang Putih" Agronso, Jenderal Bintang Lima Legiun Industri Berat Federasi, Panglima Tertinggi Teater Asia Pasifik, Penakluk Kejayaan Republik, Pahlawan Panji Bintang-Garis.
Sudah sulit untuk menghitung berapa banyak gelar kehormatan yang disematkan pada diri Agronso. Pada separuh masa hidupnya di era lama, ia adalah legenda hidup di Federasi; sedangkan pada separuh masa berikutnya di Era Kehancuran, ia adalah legenda di antara segala legenda.
Di tengah reruntuhan Tahun Pertama Kehancuran, ia merumuskan jalur industri berat bagi pasukan Federasi yang saat itu tercerai-berai. Dengan memanfaatkan material yang ditukar dari kubus-kubus misterius, ia mengerahkan kekuatan penuh untuk mengembangkan industri persenjataan berat. Pabrik-pabrik senjata yang menderu menghasilkan pasukan berlapis baja yang membanjirkan daratan dalam kurun waktu dua tahun, menyapu bersih makhluk-makhluk mutan di wilayah Federasi dengan kekuatan yang menghancurkan, serta mendirikan garis pertahanan artileri otomatis yang masif di sekitar setiap kubus untuk melenyapkan setiap monster yang dibawa oleh kehancuran demi membasmi ancaman hingga ke akar-akarnya.
Pada Tahun Kehancuran ke-2, ia menggunakan kebijakan tangan besi untuk membersihkan unsur-unsur separatis di dalam wilayah Federasi, mengeksekusi mati sejumlah besar jenderal pemberontak, dan menyatukan kembali Federasi yang sempat longgar akibat kiamat, serta memulihkan status kekuatan hegemon planet biru ini dalam waktu yang sangat singkat.
Pada Tahun Kehancuran ke-3, ia memimpin pasukan berlapis baja yang bagaikan awan hitam menekan kota untuk menyeberangi lautan. Armada pesawat angkut raksasa menerjunkan lebih dari tiga ribu unit kendaraan berlapis baja serta prajurit yang tak terhitung jumlahnya di wilayah pesisir timur Kejayaan Republik, menghancurkan garis pertahanan darah dan daging Kejayaan Republik dengan tank-tank serta mecha, sekaligus menaklukkan sebuah negeri yang telah mewarisi peradaban selama lebih dari lima ribu tahun itu.
Pada paruh kedua Tahun Kehancuran ke-3, ia mewakili Legiun Industri Berat Federasi menandatangani "Traktat Bantuan Timbal Balik Republik-Federasi" dengan pihak Kejayaan Republik, merebut hak pemerintahan bersama atas wilayah tersebut dalam sekali pukul, serta mendirikan Tembok Kehidupan di setiap kota untuk mengurung rakyat Republik di dalam dinding pembatas, sekaligus mematikan kerinduan mereka akan kebebasan dan tanah air.
Pada Tahun Kehancuran ke-4, Teater Asia Pasifik dibentuk, dan ia ditunjuk sebagai panglima tertinggi. Ia menempatkan para pejabat kolonial Federasi di kota-kota yang berada di wilayah pemerintahan bersama, menganugerahkan gelar kebangsawanan kepada sejumlah besar jenderal Republik, mendalangi penggerogotan politik, dan menancapkan pengaruh Federasi secara permanen di tanah merah ini.
Kini, pada Tahun Kehancuran ke-7, pasukan besar Federasi telah menyusup ke separuh wilayah Dataran Tengah Shenzhou. Ia sangat yakin bahwa momen yang selalu dinantikannya—momen yang sangat ingin disaksikan oleh Federasi di era lama, momen yang begitu menggetarkan hati seperti musim dingin di tahun 1991—sudah tidak lama lagi...
Tepat ketika Agronso sedang menatap ke bawah ke arah pasukannya, pintu kantor diketuk. Seorang gadis berambut merah dengan sepasang mata merah menyala melangkah masuk. Ia menatap punggung Agronso dengan sepasang mata bagai kobaran api itu dan berkata, "Panglima Tertinggi Agronso, sesuai dengan instruksi Anda, surat keputusan kebangsawanan telah dikirimkan ke Kota Fajar dan diserahkan kepada Luoyo oleh Marquis Charles."
"Bagus." Postur tubuh Agronso tidak bergeming sedikit pun. Sambil membelakangi Brunhild, ia bertanya, "Balasannya?"
"Belum dikirimkan kembali."
"Bagus. Hanya seorang manusia evolusi yang memiliki sedikit kemampuan saja. Mulai sekarang, masalah ini tidak perlu dilaporkan lagi kepadaku, serahkan sepenuhnya kepada Marquis Charles untuk ditangani." Agronso mengangkat kepalanya, menatap ke arah langit yang penuh dengan radiasi, lalu berucap, "Kejayaan Republik sudah berada di ujung tanduk, bagaikan sebuah kota pasir di padang gurun yang akan segera lenyap tak bersisa. Akan tetapi..."
Agronso berbalik. Sepasang mata yang terasa lebih dalam dari neraka itu dipenuhi dengan tekanan dan niat membunuh. Dengan nada serius yang belum pernah ia gunakan sebelumnya, ia bertanya, "Jenderal Luan Leng akan menjadi musuh terbesar kita."
"Luan Leng sang 'Keturunan Naga' saat ini berpangkat kolonel penuh, bukan jenderal." Brunhild mengoreksi kesalahan Agronso.
"Dia adalah putri dari Luan Luan, darah kaum garis keras mengalir di dalam tubuhnya. Cepat atau lambat, dia pasti akan menjadi jenderal, hanya masalah waktu saja," cibir Agronso dingin, seolah-olah sedang menertawakan ketidaktahuan Brunhild. "Anak 'elang muda' ini, pada Tahun Kehancuran ke-3, masih berpangkat kapten. Memimpin pasukan manusia evolusi yang jumlahnya tidak sampai seratus orang, ia berhasil menghancurkan Divisi Lapis Baja Mekanis Ketiga Federasi dalam kurun waktu tiga bulan, merusak berat Korps Kavaleri Bermotor Keempat dan Ketujuh, menghancurkan lebih dari lima ratus tank tempur utama, melumpuhkan dua ribu lebih meriam artileri, serta memusnahkan lebih dari sembilan ribu prajurit. Jika saja Kejayaan Republik tidak terburu-buru memohon perdamaian dan menarik serta menyembunyikannya, apakah kita bisa duduk di sini sekarang belum tentu bisa dipastikan."
"Luan Leng minggu lalu memimpin pasukannya memadamkan pemberontakan di wilayah barat daya, dan sekarang sudah kembali ke ibu kota." Ekspresi Brunhild tetap sedingin es, membuat orang meragukan apakah gadis ini sebenarnya adalah sebuah mesin. Hanya saja, kobaran api di sepasang mata merahnya tampak semakin bergejolak, seolah-olah hendak membakar segala sesuatu hingga menjadi abu: "Jika Panglima Tertinggi memberikan perintah, aku bisa memimpin Pasukan Valkyrie untuk melakukan serangan malam ke ibu kota Kejayaan Republik dan membuatnya terkubur di dalam lautan api."
Agronso tidak mengatakan apa pun. Ejekan dan nada jenaka di dalam tatapannya justru semakin pekat, persis seperti seseorang yang sedang melihat aksi badut. Perlahan ia membalikkan badan, kembali menatap ke bawah ke arah pangkalan baja yang masif itu, lalu berucap dengan suara rendah: "Terus awasi Luan Leng dan 'Pasukan Panji Elang' miliknya, perhatikan secara dekat dinamika internal Kejayaan Republik. Begitu dia menduduki jabatan jenderal, segera laporkan ke markas besar."
"Patuhi perintah, demi Federasi."
"Demi Federasi."