Bab Enam Puluh Empat: Delapan Jenazah
Hal pertama yang terlintas di benakku adalah paku penenang mayat yang dulu pernah digunakan oleh Chen Jiu Tong padaku; meski yang kulihat sekarang ini lebih besar dan terbuat dari logam, bentuknya sangat mirip.
"Wah, Bro Chun, ini..."
Wajah Ma Yong memucat, secara naluriah ia mundur beberapa langkah.
Aku pun merasa bulu kudukku berdiri, segera berbalik dan meninggalkan hutan bunga persik bersamanya.
Entah hanya perasaanku saja atau memang begitu, sejak mayat-mayat itu digali, seluruh hutan bunga persik terasa sangat dingin, suhunya seolah turun drastis dibanding sebelumnya.
"Bro Chun, lebih baik kita lapor polisi saja. Kematian orang ini terlalu aneh." Kaki Ma Jialiang sampai gemetar karena takut, ucapnya terbata-bata.
Aku mengangguk setuju, ini memang bukan perkara yang bisa diselesaikan sendiri.
"Aku tahu siapa orang itu." Tiba-tiba Ma Yong berkata, wajahnya semakin pucat, "Dia Qiao San dari desa sebelah. Dua bulan lalu keluarganya bilang dia menghilang, ternyata mati di sini."
"Qiao San? Bukankah dia salah satu dari Delapan Dewa?" Mata Ma Jialiang membelalak, "Kamu yakin?"
Ma Yong menggeleng, "Aku tidak salah."
Mendengar itu, dadaku bagai diterjang badai. Delapan Dewa, bukankah itu sebutan untuk para pengusung peti mati?
Naluri langsung membawaku teringat pada Chen Jiu Tong. Malam saat ia mencelakaiku, ia memang meminta rekan seprofesinya untuk mengusungku ke Bukit Kucing Tua. Saat seseorang bertanya apa isi peti mati itu, jelas-jelas ia berbohong.
Delapan Dewa, delapan pengusung peti mati, dan di hutan persik itu memang ada delapan titik yang tergali.
Waktunya pun pas, dua bulan lalu.
Jelas-jelas ini ulah Chen Jiu Tong, dia membunuh untuk menutup mulut!
"Sialan!"
Aku mengumpat dalam hati, tak berani lagi menunda, segera menelpon Yang Jianguo di kantor polisi, menceritakan secara garis besar situasinya, tapi aku tak menyebutkan tujuh lokasi lain, karena aku tak tahu harus bilang apa; bisa-bisa malah menyeret diriku sendiri dalam masalah.
Terus terang, aku sebenarnya tak berharap polisi bisa menyelesaikan perkara ini, hanya saja semuanya sudah terlanjur terbongkar, biar mereka saja yang mengurus urusan pembersihan.
Begitu menerima telepon, Yang Jianguo langsung memintaku menjaga TKP, katanya ia segera datang bersama tim.
Sambil menunggu, aku buru-buru menelpon Pria Berjaket Kulit dan Miao Miao, tapi anehnya, nomor mereka berdua tak bisa dihubungi, terpaksa aku hanya bisa mengirim pesan singkat berisi ringkasan kejadian.
Yang Jianguo datang sangat cepat, membawa enam atau tujuh polisi, semuanya bersenjata. Qian Fei juga ikut.
Aku menawarkan sebatang rokok pada mereka, lalu membawa mereka ke hutan bunga persik. Begitu Yang Jianguo melihat mayat, alisnya langsung berkerut tajam.
Aku pun diam-diam memberi isyarat bahwa tujuh titik lain yang tergali juga mencurigakan. Yang Jianguo paham, lalu memimpin beberapa polisi menggali tempat lain, dan benar saja, setiap kali menggali, ditemukan satu mayat.
Saat sampai pada mayat ketiga, Yang Jianguo pun tak tahan lagi, segera menelpon ke kabupaten meminta tambahan tim forensik, katanya ini kasus kriminal besar.
Selanjutnya, seluruh area hutan bunga persik hingga wilayah keluarga Hong langsung disterilkan, tak seorang pun boleh masuk.
Hatiku tidak tenang, selalu merasa perkara ini tidak sesederhana itu. Kalau Chen Jiu Tong hanya ingin membunuh, di mana pun bisa, seperti di Bukit Kucing Tua tempat ia menguburku, di sana bahkan ada serigala, tempat sempurna untuk membuang mayat, dalam hitungan hari pasti habis tak bersisa.
Tak perlu repot-repot mengambil risiko besar membawanya ke desa Hong untuk dikubur.
Selain itu, aku juga merinding membayangkan, kalau memang ini ulah Chen Jiu Tong, berarti ia benar-benar kejam, sekaligus membunuhi delapan orang, dengan cara kematian yang demikian aneh.
Tenggorokan ditusuk paku penenang mayat, lidah pun dipotong separuh.
Mengingat lidah terpotong separuh, aku pun teringat pada Gao Mingchang; waktu di rumah sakit jiwa dulu, dia juga menggigit lidahnya hingga putus separuh. Entah ada kaitannya atau tidak.
Kupikir-pikir, aku tak bisa lagi menunggu. Polisi jelas tak bisa diandalkan, mereka tak paham perkara supranatural, bisa-bisa malah tambah kacau.
Jadi, aku langsung pulang, mengendarai motor ke kota, berniat menemui Si Rubah Tua dan Bro Gua untuk melihat situasi.
Si Rubah Tua memang setengah matang di dunia supranatural, tapi kalau ia bisa tunduk di depan Bro Gua, berarti Bro Gua memang punya kemampuan, setidaknya seratus kali lebih hebat dariku.
Begitu tiba di kota, aku langsung menuju rumah Si Rubah Tua. Baru saja membuka pintu, terdengar suara Bro Gua berteriak-teriak:
"Niu Tua, mainmu tolol banget!"
"Tukang jagal, lihat map dong, cepat tarik aku!"
"Mati lagi! Bodoh, bego semua, bego!"
Saat aku masuk, kulihat Bro Gua menggigit rokok, kakinya diletakkan di atas meja, tangan menghantam keyboard dan mouse dengan suara berisik. Di layar komputer, tampak permainan online legendaris, dan di sampingnya ada komputer kosong.
Si Rubah Tua begitu melihatku langsung tersenyum pada Bro Gua, "Kakak, Xiao Chun datang."
Aku heran, kenapa dia girang melihatku, padahal sebelumnya saja melihatku seperti melihat hantu.
Bro Gua tampaknya tak mendengar, kembali berteriak ke headset, "Kalian goblok semua, pulang saja nyusu sama emak kalian!"
Aku duduk di sebelahnya dan berkata, "Bro Gua, ada masalah di desa Hong, bunga persik tiba-tiba mekar, warnanya merah darah, dan di bawah pohon..."
"Sial, kamu lari ke mana! Nggak bisa main, mending mati saja!"
Baru saja aku bicara, Bro Gua langsung memotong dengan teriakan keras.
Aku pun terdiam, buru-buru mencabut headset-nya dan berkata keras-keras, "Bro Gua, aku bicara padamu, ini darurat!"
"Hah?"
Bro Gua tertegun, lalu mengenakan headset lagi, mengangguk, "Iya, iya, lanjutkan saja, aku dengarkan kok."
"Begini, di bawah pohon persik keluarga Hong ada kejadian..." Lalu kuceritakan semuanya, dan bertanya, "Bro Gua, menurutmu, mayat-mayat itu bisa berubah jadi zombie?"
Itu yang paling kutakutkan, karena Chen Jiu Tong bisa membuat mayat hidup, siapa tahu delapan mayat itu akan dijadikan apa olehnya. Kalau polisi melanggar pantangan dan membuat mayat bangkit, akan tambah runyam. Desa Hong yang baru saja pulih, bisa habis lagi. Tak ada gadis yang berani menikah ke desa yang penuh kejadian aneh begini.
Namun, setelah lama menunggu, Bro Gua tak memberi jawaban.
"Bro Gua, jawab dong," aku sampai kesal sendiri.
Tapi begitu ia buka mulut, hampir saja aku dibuat marah.
"Sialan, mati lagi! Goblok Niu, goblok tukang jagal, bego semua!" Ia mengumpat, lalu membanting mouse.
Ternyata ia sama sekali tidak mendengarkan ceritaku!
"Aku bicara sama kamu!"
Aku pun ikut marah, sekali lagi mencabut headset-nya. Aku sudah bersusah payah ke kota menemuinya, masa hanya dapat sikap begini?
Bro Gua memandangku bingung, "Eh, barusan kamu ngomong apa?"
Kepalaku berkunang-kunang, aku menahan diri dan mencabut kabel listrik komputer.
"Astaga!"
Bro Gua hampir melompat, memegangi kepala sambil berteriak, "Habis sudah, pasti mereka bilang aku pengecut! Nama besarku hancur!"
Aku yang sedang kesal langsung menarik dan menjatuhkannya ke sofa, berteriak, "Desa Hong gawat!"
"Oke, oke, bicara saja," kata Bro Gua sambil bangkit hendak duduk lagi di kursi komputer.
Aku langsung menahannya, lalu kembali menceritakan kejadian di desa Hong secara singkat.
"Ini masalah berat," kata Bro Gua setelah mendengar, lalu dengan sungguh-sungguh berkata, "Lebih baik temani aku main dulu, aku kalah seharian gara-gara babi satu ini, sebal banget."
Ia melirik Si Rubah Tua dengan jengkel, Si Rubah Tua pun menunduk kesal.
Aku nyaris gigit jari menahan marah, "Bro Gua, kalau begini terus aku bisa ngamuk!"
Bro Gua mengangkat bahu, "Kamu panik juga nggak ada gunanya. Toh kamu sudah lapor polisi, kan?"
Aku mengangguk, "Iya."
"Ya sudah, selesai. Kasus berat begini, polisi pasti sudah mengamankan lokasi. Percuma kamu ke sana, mereka pasti takkan biarkan kita ikut campur."
Aku terdiam.
"Jadi, panik juga percuma. Temani aku main satu ronde, seharian aku belum menang." Bro Gua memohon.
"Tapi..."
Aku masih enggan. Meski tak bisa mendekat, berjaga di sekitar setidaknya bisa mengantisipasi hal buruk. Main game bisa kapan saja.
Bro Gua melihat aku ragu, buru-buru mengacungkan satu jari, "Satu ronde! Menang satu kali saja, habis itu aku ikut kamu, janji!"
Kupikir sebentar, satu ronde toh tak lama, kalau beruntung lima belas menit pun selesai. "Tapi janji ya?"
"Janji seorang pria, tak akan aku ingkari," jawab Bro Gua sumringah.
Tak ada pilihan, akhirnya aku pun duduk di depan komputer. Tapi baru main, aku sadar aku tertipu.
Bro Gua bukan hanya payah mainnya, keberuntungannya juga buruk, suka sembarangan, selalu memulai pertempuran di saat tim belum siap.
Berkali-kali kami kalah, sampai akhirnya setelah aku paksa dia memilih karakter Raja Tengkorak yang tebal darahnya, barulah dengan susah payah kami menang satu ronde.
Saat itu, matahari sudah condong ke barat.
Aku buru-buru membawa Bro Gua dan Si Rubah Tua kembali ke desa Hong, tapi Ma Jialiang langsung memberi kabar buruk.
Mayat-mayat itu berubah menjadi zombie, bahkan ada yang sudah digigit!