Bab Delapan: Peringatan dari Chen Jiutong

Gerbang Malam Tertutup Delapan Sekop 3552字 2026-02-08 08:52:56

Namun, yang sedikit membuatku lega adalah orang ini berbeda dengan Si Rubah Kuning, sepertinya dia tidak berniat mencelakaiku. Kalau memang ingin mencelakai, hari ini juga tak perlu repot-repot menyelamatkanku.

Setelah menghabiskan rokoknya, pria berjaket kulit itu pun berkata hendak mengajakku kembali ke desa. Aku pun langsung merasa cemas, takut orangtuaku sudah khawatir setengah mati setelah mendengar aku tercebur ke sungai.

Aku pun berlari pulang secepat mungkin, bahkan meninggalkan pria berjaket kulit di belakang. Segala pertanyaan yang tadi memenuhi kepalaku pun terlupakan. Baru saja sampai di tepi sungai sebelah selatan desa, kulihat Kepala Desa Ma Yongde membawa banyak saudara, paman, dan sepupu berjalan menyusuri tepian sungai, semuanya memanggil-manggil namaku. Begitu melihatku, mereka langsung berlari menghampiri. Orangtuaku pun saking cemasnya sampai menangis, dan setelah tahu aku selamat, mereka tak henti-hentinya mengucap syukur. Ketika tahu yang menyelamatkanku adalah pria berjaket kulit, mereka bahkan hampir berlutut di hadapannya untuk berterima kasih.

Ayahku langsung menarik pria itu ke rumah dan bersikeras mengundangnya makan malam sebagai tanda terima kasih. Pria itu pun tidak menolak. Kepada orang-orang, ia menjelaskan bahwa aku hanya sempat pingsan karena menelan air sungai, tidak ada masalah serius, hanya kemasukan air. Mengenai peti mati istri Hong Qingsheng, ia bilang tidak melihatnya, mungkin sudah hanyut terbawa arus atau tenggelam setelah menabrak batu.

Jelas itu kebohongan, namun aku hanya bisa mengangguk membenarkan. Seperti yang ia katakan, ada beberapa hal yang jika dikatakan ke orang luar, tidak akan membawa manfaat, malah hanya menimbulkan kepanikan. Bisa-bisa aku malah dianggap gila oleh orang-orang.

Daripada begitu, lebih baik berbohong saja.

Pria berjaket kulit itu bukan hanya menyelamatkanku, tapi juga membantuku membersihkan nama. Dalam hati aku sangat berterima kasih padanya.

Orang-orang yang mendengar peti mati itu hilang pun tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Mereka hanya merasa bersyukur aku selamat, sedangkan soal peti mati istri Hong Qingsheng, hilang ya sudah, toh dia juga bukan orang asli desa. Keluarga Hong memang akhir-akhir ini sudah membuat seluruh desa resah, sudah saatnya semua ini berakhir.

Akhirnya semua orang pun berangsur-angsur bubar. Hanya tukang usung peti, Chen Jiutong, yang sempat menatapku beberapa kali dengan raut ragu, namun ia tidak berkata apa-apa dan ikut pergi.

Setibanya di rumah, ayahku sangat ramah menjamu pria berjaket kulit itu. Ibuku pun mengajak beberapa bibi menyiapkan hidangan besar. Malam itu makanannya sangat melimpah, bahkan kami sempat minum-minum.

Beberapa gelas arak kemudian, pria berjaket kulit tetap tenang saja, sementara ayahku sudah mabuk berat. Aku sendiri merasa agak murung. Banyak hal yang ingin kutanyakan, namun tak berani di depan orangtuaku. Apa yang terjadi hari ini terlalu aneh dan menakutkan, aku takut mereka nanti ketakutan.

Setelah makan, sopir pria itu datang menjemput. Ia pun berdiri dan pamit karena ada urusan. Aku ingin sekali bertanya sesuatu, jadi kukatakan ingin mengantarnya sampai depan. Namun ibuku juga ikut mengantar, sehingga kesempatan itu pun hilang.

Akhirnya aku hanya sempat meminta nomor telepon padanya. Ia memberikannya, dan berkata jika ada apa-apa, aku bisa menghubunginya.

Setelah mengantarnya pergi, aku duduk di bangku rumah, perasaan sedikit hangat karena pengaruh alkohol. Hitam si anjing juga ada di sampingku, membuatku lebih rileks.

Saat kucek ponsel, ternyata sudah kemasukan air dan tak bisa dinyalakan. Aku pun mengganti ponsel baru, dan begitu kartu terpasang, masuklah sebuah pesan yang langsung membuatku kembali tegang.

Pesan itu dari pria berjaket kulit. Ia menyuruhku segera membeli seekor ayam jantan bulu abu-abu, semakin merah jenggernya dan semakin banyak warna pada ekornya, semakin baik. Saat malam tidur, ayam itu harus diikat di jendela kamar, lalu pintu dijaga oleh anjing hitam, dan jangan mematikan lampu.

Apa maksud pesan ini?

Ayam jantan bulu abu-abu dan anjing hitam, menurut orang-orang tua, memang bisa menangkal bala atau makhluk halus. Jika ia menyuruhku menaruh dua benda itu di kamar saat tidur, apakah benar malam ini ada sesuatu yang akan mencelakaiku?

Bulu kudukku langsung meremang. Aku buru-buru menelponnya untuk bertanya, namun ia tidak mengangkat. Pesan balasannya hanya menyuruhku lakukan saja tanpa banyak tanya, tahu lebih banyak malah tak ada untungnya.

Aku gemetar ketakutan. Anjing hitam sudah ada, Hitam-lah itu. Tapi ayam jantan bulu abu-abu, siapa yang punya?

Hari sudah sore, kalau tak segera pergi mencarinya, sebentar lagi gelap.

Aku pun teringat pada Chen Jiutong.

Chen Jiutong mencari nafkah dengan membuat dan mengusung peti mati, dua pekerjaan yang dianggap sial. Tak ada yang mau membangun rumah dekat rumahnya, jadi rumah Chen Jiutong berdiri sendiri di desa Hong. Setiap pagi buta, suara ayam jantan paling dulu terdengar dari arah rumahnya. Selain rumahnya, tak ada lagi yang punya ayam.

Aku pun mengendarai motor roda tiga menuju rumah Chen Jiutong, sambil membawa sebungkus rokok dan dua botol arak sebagai buah tangan. Di desa, memberi uang tunai kurang pantas, lebih baik bawakan hadiah.

Setibanya di rumah Chen Jiutong, ia sedang mengecat sebuah peti mati baru. Warna catnya membuatku agak merinding, mengingatkanku pada darah yang mengental.

"Om Jiutong," sapaku sambil tersenyum dan mengangkat hadiah, sambil memikirkan cara paling baik untuk berbicara.

"Kamu datang," Chen Jiutong tersenyum melihatku dan meletakkan kaleng cat, lalu masuk ke rumah.

Kukira ia mempersilakanku masuk, jadi aku ikut melangkah ke dalam. Namun baru beberapa langkah, ia sudah keluar lagi, membawa sebuah kurungan ayam. Di dalamnya seekor ayam jantan bulu abu-abu.

Jenggernya sangat merah, paruhnya melengkung seperti elang, matanya tajam berkilat, terlihat sangat garang, dan ekornya penuh warna.

Kata-kataku tercekat di tenggorokan. "Om Jiutong, jangan-jangan Anda sudah tahu kalau saya..."

"Kalau kamu tidak datang, Om juga akan mengantarkan ayam ini padamu," katanya sambil tersenyum. "Ayam ini sudah bertahun-tahun menjaga rumah Om, tidak pernah ada apa-apa. Dengan adanya ayam ini, biasanya makhluk apapun tidak berani mendekat."

Hatiku jadi hangat. Ternyata memang benar, Om yang sudah melihatku tumbuh dari kecil memang perhatian. Bahkan sebelum aku datang, ia sudah berniat mengantarkan ayam itu.

Namun seketika aku kembali waspada. Pria berjaket kulit menyuruhku mencari ayam jantan bulu abu-abu, dan Chen Jiutong juga mengatakan hal yang sama. Bukankah artinya memang benar ada sesuatu yang akan datang malam ini?

Dua orang berkata sama, tak mungkin salah.

Aku langsung berkeringat dingin dan buru-buru bertanya, "Om Jiutong, apa malam ini memang ada sesuatu yang akan..."

"Jangan tanya," potong Chen Jiutong sebelum aku selesai bicara. "Lakukan saja, tahu lebih banyak malah tidak baik."

Kalimatnya persis seperti pria berjaket kulit!

Aku jadi semakin tidak tenang. Mulutku bergerak-gerak hendak bertanya lagi, namun aku tidak berani. Pria berjaket kulit sudah bilang, semakin tahu banyak, semakin dalam terlibat. Sekarang aku benar-benar takut, hanya berharap semua kejadian aneh ini cepat berlalu.

Aku masih ingin menikah dan punya anak. Di keluarga, aku satu-satunya anak laki-laki, kalau begini terus bagaimana nasibku nanti.

"Tenang saja, ayam ini lebih galak daripada anjing pemburu, pasti tidak apa-apa," ujar Chen Jiutong sambil tersenyum menenangkan. Ia juga berpesan, "Kalau memberi makan, berikan beras ketan hasil panen baru. Untuk minum, kalau bisa air embun, kalau tidak ada, pakai air sumur yang bersih juga boleh."

Aku mengangguk mengingat pesannya, lalu meletakkan rokok dan arak di bangku kecil, pamit pulang.

Chen Jiutong meminta maaf, "Orang seperti Om, rumahnya suram, kamu sedang apes akhir-akhir ini, jadi Om tidak mengajakmu masuk duduk."

Aku buru-buru menggeleng bilang tidak apa-apa. Dengan ucapannya barusan, aku malah tambah enggan masuk. Aku pun menerima kurungan ayam, meletakkannya di boncengan motor, dan langsung ingin pergi.

"Tunggu," panggil Chen Jiutong ketika aku baru saja menyalakan mesin. Ia ragu sejenak, lalu berkata, "Itu Bos Pi, kamu harus lebih waspada sama dia."

Aku heran, lalu bertanya, "Kenapa, Om Jiutong?"

Ia berpikir sejenak, lalu berkata, "Dia berbisnis kayu di desa kita, tapi selalu rugi."

Bisnis kayu pria berjaket kulit itu rugi?

Mendengar itu, aku langsung mengerti maksud tersembunyinya. Semua orang di dunia ini mencari untung, kalau bisnis kayu pria itu selalu rugi, berarti tujuannya bukan cari uang.

Kalau bukan cari uang, lalu apa tujuannya ada di desa Hong ini?

Jelas Chen Jiutong sedang mengingatkanku, keberadaan pria berjaket kulit itu sangat mencurigakan.

Aku ingin bertanya lebih jauh, tapi Chen Jiutong hanya menggeleng dan menolak bicara lebih banyak. Lagi-lagi ia berkata, tahu terlalu banyak tidak ada untungnya.

Aku pun mengendarai motor pulang dengan perasaan kacau. Kalau tadi aku masih percaya pada pria berjaket kulit, setidaknya karena ia menyelamatkan nyawaku, namun setelah mendengar ucapan Chen Jiutong, aku jadi sadar bahwa pria itu memang penuh tanda tanya.

Siapa sebenarnya namanya? Kepala Desa Ma Yongde memanggilnya Bos Pi, tapi aku yakin ia bukan bermarga Pi, sepertinya itu hanya julukan karena ia suka memakai jaket kulit.

Ucapan Chen Jiutong kuanggap bisa dipercaya. Ia tukang pembuat peti mati, pasti tahu seluk-beluk bisnis kayu.

Yang paling mencurigakan, pria berjaket kulit itu jelas-jelas sudah memastikan istri Hong Qingsheng tak bernyawa, tapi kenapa masih terdengar suara dari dalam peti? Jangan-jangan ia hanya berpura-pura, mungkin menggunakan lem atau cara lain untuk menipu?

Kalau begitu, kejadian peti mati tercebur ke sungai, bisa jadi memang sudah ia rancang.

Apalagi ia bisa menemukan posisiku dengan tepat, itu juga janggal. Orang biasa pasti mencari ke hilir sepanjang aliran sungai, tapi ia malah ke hulu, seakan tahu aku akan sampai di sana.

Ditambah lagi ucapan Ma Jialiang sebelum peti mati tercebur... Semakin kupikir, pria berjaket kulit itu semakin mencurigakan.

Jika memang semua ini hasil rancangannya, ia benar-benar mengerikan. Saat menahan peti, ia jelas-jelas di belakang, lalu apa yang sebenarnya menahan peti mati itu, benar-benar makhluk halus atau ia menggunakan trik khusus?

Setelah ia memberi hormat, peti mati langsung meluncur ke sungai. Sekarang aku teringat, sepertinya memang seperti ada sesuatu yang menendangnya.

Aku merasa merinding sampai ke tulang. Pulang pun aku nyaris menabrak sawah.

Setelah sampai rumah, aku tidak berani tidur di rumah. Kalau benar ada sesuatu yang akan datang mencariku, aku tidak ingin melibatkan orangtuaku. Aku pun membawa ayam jantan itu dan langsung menuju toko, berniat bermalam di sana.

Sebelumnya aku memang sering begadang di toko untuk merakit, memperbaiki, atau menguji komputer. Kalau sudah terlalu malam, aku langsung tidur di sana, jadi memang sudah ada tempat tidur, cukup nyaman.

Sesampainya di toko, aku menaruh kurungan ayam, lalu pulang sebentar untuk makan malam, mengambil beras ketan dari ibuku, dan mengajak Hitam tinggal di toko. Ketika ditanya untuk apa aku minta beras ketan, aku berbohong, bilang ingin masak bubur kalau lapar karena harus begadang memperbaiki ponsel.

Tokoku tidak besar, hampir seperti satu ruangan saja. Depannya pintu, belakangnya jendela. Aku menutup rapat pintu dan jendela. Di bawah jendela kutaruh meja, di atasnya kutaburi jerami, lalu kulepaskan ayam jantan itu. Awalnya kupikir harus diikat, tapi ternyata ayam itu langsung naik ke meja dan bertengger di atas jerami, seolah mengerti maksudku.

Lumayan, jadi aku tak perlu repot mengikatnya. Hitam pun kuikat di dekat pintu.

Setelah semua beres, malam mulai menyelimuti desa.

...