Bab 146: Keluar Kota
Yang Qingnu menurunkan Wukong, dan anak anjing itu langsung melengking gembira, berlari ke arah Yang Shouwen.
Bukan hanya Wukong, Bajie, Sha Heshang, dan Xiaobailong semuanya berlari mendekat, tetapi Wukong berlari paling depan dan langsung melompat ke dalam pelukan Yang Shouwen. Melihat situasi ini, ketiga anak anjing lainnya mengelilingi Yang Shouwen sambil merengek dan mencakar-cakar.
Yang Shouwen buru-buru memeluk Wukong dengan satu tangan dan membelai ketiga anak anjing itu satu per satu dengan tangan lainnya, hingga mereka akhirnya tenang.
Adapun Yang Qingnu, ia duduk di sisi Yang Shouwen.
"Kakak."
"Hmm?"
"Apakah Kakak hendak pergi menyelamatkan Niangniang?"
Yang Qingnu menundukkan kepalanya dan bertanya dengan suara lirih.
Yang Shouwen tadinya sedang menggoda Wukong, namun ketika mendengar pertanyaan Yang Qingnu itu, ia tertegun sejenak dan menoleh kepadanya.
"Siapa yang memberitahumu?"
Yang Qingnu menunduk dan berkata pelan, "Apakah perlu diberi tahu orang lain? Niangniang telah diculik, mana mungkin Kakak tinggal diam dan tidak peduli? Barusan Jida dan Gai Erlang datang mencari Kakak dengan gerak-gerik mencurigakan. Meskipun hanya menebak, aku sudah bisa meraba garis besarnya.
Aku tidak bodoh, masakan tidak bisa membaca isi hati Kakak."
Untuk sejenak, Yang Shouwen tidak bisa berkata-kata.
"Kakak?"
"Hmm?"
"Jika suatu hari nanti aku juga diculik orang, apakah Kakak akan datang menyelamatkanku seperti pada Niangniang?"
Pertanyaan Yang Qingnu itu tiba-tiba membuat Yang Shouwen menyadari sesuatu.
Ia menunduk menatap Yang Qingnu. Gadis kecil itu sedang menunduk, melilit-lilitkan pita pakaiannya di jarinya, tidak berani mengangkat kepala untuk menatap Yang Shouwen.
Dia adalah adikku!
Meskipun bukan adik kandung, namun di dalam tubuh kami mengalir darah keluarga Yang.
Sejujurnya, pada awalnya Yang Shouwen tidak memiliki kesan yang baik terhadap Yang Qingnu. Gadis kecil ini angkuh, berkemauan keras, dan bermulut tajam. Ucapannya begitu blak-blakan hingga sangat mudah menyakiti orang lain. Mungkin justru konflik awal antara Yang Qingnu dan Niangniang itulah yang membuat Yang Shouwen memiliki kesan buruk padanya. Meskipun hubungan mereka kemudian mencair, ia tetap tidak begitu menyukai Yang Qingnu.
Tanpa disadarinya, ia secara sengaja maupun tidak sengaja mulai menjaga jarak dari Yang Qingnu. Mungkin ia sendiri tidak menyadarinya. Namun, hati anak-anak sangat peka, ditambah lagi dengan perbandingan sosok Niangniang, Yang Qingnu bukanlah orang bodoh, mana mungkin ia tidak dapat merasakannya?
Namun nyatanya, gadis kecil itu tidaklah berhati buruk.
Yang Shouwen mengulurkan tangan dan mengusap kepala Yang Qingnu dengan kuat.
"Apa saja yang memenuhi pikiranmu seharian ini?"
"Kakak, rambutku jadi berantakan semua."
Yang Qingnu tidak kuasa menahan diri untuk merengut, memanyunkan bibirnya dan menggembungkan pipinya, benar-benar mirip seperti bakpao daging.
Yang Shouwen tersenyum dan berkata lembut, "Kau adalah adikku, adik kandungku... Jangankan hal semacam ini tidak akan terjadi, bahkan jika itu benar-benar terjadi, aku akan pertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkanmu, sama seperti aku menyelamatkan Niangniang. Gadis bodoh, jangan berpikiran yang bukan-bukan, dengar?"
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Yang Shouwen mendadak tertegun!
Yang Qingnu adalah adiknya, lalu dianggap apa Niangniang? Selama ini, ia menganggap Niangniang sebagai adik kecilnya sendiri. Namun sekarang, ia merasakan sesuatu yang berbeda. Jika ia benar-benar diminta untuk menganggap Niangniang sekadar sebagai adik, hatinya seolah terasa enggan. Jika bukan sebagai adik, lalu sebagai apa? Mungkinkah... Yang Shouwen mengerutkan kening dan tanpa sadar menggelengkan kepalanya.
Seharusnya tidak mungkin begitu!
Faktanya, Yang Shouwen di kehidupannya yang lampau adalah seorang mahasiswa yang tekun belajar dan jarang berinteraksi dengan perempuan.
Setelah lulus dan mulai bekerja, tidak lama kemudian ia jatuh sakit dan terbaring di ranjang, lumpuh belasan tahun lamanya. Dalam situasi seperti itu, tentu saja Yang Shouwen tidak memiliki banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan lawan jenis. Bahkan hingga sebelum bereinkarnasi, ia masih mempertahankan keperjakaannya.
Kalau begitu, bukankah aku seorang pencinta gadis di bawah umur?
Usia Niangniang begitu muda, bagaimana mungkin aku...
Ah, adik. Pasti adik!
"Kakak, ada apa denganmu?"
Tepat ketika Yang Shouwen mulai merasa kebingungan, suara Yang Qingnu menyadarkannya dari lamunan.
Ia buru-buru tersenyum dan berkata, "Tidak apa-apa, hanya teringat beberapa hal saja."
"Kakak, kalau begitu istirahatlah yang baik, lalu pergi dan selamatkan Niangniang kembali. Harus berhasil menyelamatkannya ya."
Yang Shouwen tersenyum dan mengangguk, "Tentu saja... Ngomong-ngomong, Qingnu, kau harus merahasiakan ini untukku, kalau tidak Ibu akan khawatir."
"Baiklah, baiklah, aku tahu."
Yang Qingnu menyapu bersih mendung di hatinya, dan senyuman ceria kembali terukir di wajahnya.
Ia bangkit dan memanggil Wukong serta yang lainnya untuk mendekat. Namun Wukong justru meringkuk di pelukan Yang Shouwen dan enggan beranjak, begitu pula dengan Bajie dan yang lainnya yang tidak menunjukkan reaksi.
Yang Shouwen mengusap kepala Wukong, "Biarkan mereka menemaniku di sini sebentar, Qingnu, pergilah bermain sana."
"Kalau begitu, nanti aku akan kembali mencari mereka."
Yang Shouwen mengangguk dan mengantar kepergian sosok mungil Yang Qingnu dengan pandangannya.
Ia meletakkan Wukong di sisinya, lalu meluruskan kakinya ke beranda, bersandar pada pilar koridor, bermandikan cahaya rembulan. Tangannya membelai bulu lembut Wukong dan kawan-kawan, persis seperti saat Bodhi berada di sisinya dulu, menerawang ke arah halaman yang kosong sembari melamun.
Suasana malam kian larut.
Kebisingan di halaman depan perlahan-lahan mereda.
Keluarga Song Sanlang memilih untuk tinggal di halaman depan agar bisa saling menjaga di masa-masa sulit seperti ini.
Sementara Nyonya Song tampak kelelahan dan membawa Qingnu kembali ke kamar untuk tidur. Sebelum tidur, Qingnu memanggil Wukong dan kawan-kawan untuk pergi bersamanya, yang membuat Yang Shouwen menjadi jauh lebih leluasa.
Ia kembali ke kamar, berganti pakaian serba hitam, lalu menyilangkan tombak di depan dadanya.
Menutup matanya, ia mengatur napas perlahan-lahan. Pernapasannya yang stabil membuat suasana hatinya semakin tenang, lambat laun membawanya masuk ke dalam kondisi batin yang setenang air telaga kuno tanpa riak. Tidak lama setelah jam Xu berlalu, terdengar suara langkah kaki di luar pintu. Yang Shouwen membuka matanya dan melompat turun dari ranjang.
Ia berjalan menuju pintu dan membukanya.
Abusi Jida berdiri di luar pintu, namun ia telah mengenakan pakaian serba hitam, memanggul sepasang busur dan anak panah, serta tombak panjang yang dibungkus dengan kain hitam.
Keduanya saling berpandangan dan mengangguk.
Yang Shouwen menutup pintu dan berjalan bersama Abusi Jida menuju tembok halaman belakang.
Klop, klop, klop!
Suara ketukan terdengar dari balik tembok. Yang Shouwen dan Abusi Jida kembali bertukar pandang, lalu melompat ke udara. Kedua tangan mereka bertumpu di atas tembok, otot lengan meregang, dan tubuh mereka melesat ringan melompati dinding dengan anggun.
Di balik tembok terdapat sebuah gang sempit, di mana Gai Jiayun dan Tian Bulaji berjaga di bawah.
"Kakak Kedua, semuanya sudah beres."
Yang Shouwen menepuk pundak Tian Bulaji, "Saudaraku, terima kasih banyak."
"Kata-kata apa ini, Kakak Sizi? Bisa melakukan sesuatu untuk Kakak Sizi adalah suatu kehormatan bagi Tian Bulaji.
Oh ya, barusan ada pesan yang diturunkan dari atas, meminta kita untuk memperketat penjagaan. Prajurit patroli di luar bertambah banyak, jadi kita harus berhati-hati di jalan. Mengenai Kuil Guandi, aku sudah mengatur semuanya; begitu kita tiba di sana, akan ada orang yang menyambut."
"Kalau begitu, silakan pimpin jalannya."
Tian Bulaji tidak sungkan-sungkan lagi dan berjalan di barisan paling depan.
Rombongan itu keluar dari gang dan menyusuri jalan panjang.
Malam ini rembulan bersinar sangat terang, jujur saja ini sama sekali bukan malam yang cocok untuk bepergian sembunyi-sembunyi. Para prajurit patroli kerap kali muncul di jalanan, untunglah Tian Bulaji sangat mengenal Medan dan memandu rombongan Yang Shouwen melewati lorong-lorong permukiman, berbelok ke kiri dan ke kanan, hingga tanpa disadari berhasil melintasi sebagian besar wilayah Kabupaten Changping.
"Di depan itu adalah Kuil Guandi."
Tian Bulaji menunjuk ke arah sebuah kuil di bawah tembok kota dan berkata pelan, "Di dalam ada sebuah lubang anjing. Keluar melalui lubang anjing itu, kita akan langsung tiba di Rawa Yunshui. Aku sudah menyuruh orang untuk mencari perahu terlebih dahulu, sekarang mereka pasti sedang menunggu di luar. Kakak Sizi, setelah keluar kalian langsung naik perahu, lalu mereka akan membawa kalian menyeberang ke daratan. Kemampuan kecilku hanya sebatas ini, aku hanya bisa membantu Kakak Sizi sampai di sini."