Bab Sembilan Puluh Satu: Akuarium
Setelah mendapat persetujuan, Angsa Besar segera melangkah maju, diikuti oleh Beruang Zhao di belakangnya.
Semoga saja apa yang dilihat Angsa Besar memang nyata, bukan sekadar ilusi akibat polusi—semoga ia benar-benar menemukan "Akuarium". Setelah beberapa kali menyelidiki di dalam kawasan taman, Beruang Zhao mulai memahami sebagian aturan di tempat ini. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari secarik kertas, akuarium itu tampaknya memiliki status khusus dan menyimpan banyak masalah.
Namun, ia telah menjelajahi hampir seluruh area taman dan sama sekali tidak menemukan bangunan akuarium, bahkan jejaknya pun tak ada. Beruang Zhao pun menyimpulkan bahwa kemungkinan besar dirinya memang tak bisa melihat bangunan aneh itu.
Sebab Beruang Zhao tidak terpengaruh oleh "sesuatu" itu, ia belum tercemar. Hanya mereka yang telah terpengaruh dan mengalami kekacauan kognitif yang dapat melihat akuarium. Selain itu, setelah mencari ke seluruh penjuru taman dan tidak menemukannya, Beruang Zhao menduga makhluk itu tidak berada di dunia nyata, melainkan bersembunyi dalam akuarium yang tidak eksis.
Maka, untuk masuk ke akuarium, Beruang Zhao memang memerlukan Angsa Besar sebagai penunjuk jalan. "Sesuatu" itu mungkin tidak bisa mempengaruhi Beruang Zhao, tapi sangat mudah bagi makhluk itu untuk menjerat seorang pencerah biasa. Sejak Angsa Besar memasuki taman, tingkat polusinya terus bertambah, hingga ia mulai mengalami bias persepsi.
Benar saja, Angsa Besar akhirnya melihat akuarium yang sebenarnya tidak ada itu.
"Bos Beruang, kita langsung masuk saja? Kayaknya di dalam sunyi sekali," tanya Angsa Besar.
Begitu ia melangkah maju, sebuah pemandangan aneh terjadi—udara di depannya beriak ringan, dan tubuhnya seketika lenyap dari dunia nyata. Beruang Zhao, tanpa ragu, segera mengikutinya.
Sekejap kemudian, pemandangan di sekitar berubah. Di hadapan mereka berdiri sebuah bangunan raksasa dan megah yang tadi sama sekali tak terlihat—Akuarium!
Ternyata memang ada akuarium di sini. Begitu masuk, mereka langsung merasakan gelombang energi negatif yang benar-benar berbeda dari dunia nyata. Ada nuansa aneh, terdistorsi, dan memuakkan yang sulit diuraikan memenuhi tempat itu.
Aula utama sangat luas, kubahnya menjulang puluhan meter tinggi, cukup besar untuk menampung tubuh Beruang Zhao yang besar, meskipun ada beberapa lorong sempit yang tidak bisa ia masuki kecuali dengan kekerasan. Lingkungan di dalam benar-benar berbeda dari luar; atap kaca akuarium memantulkan langit malam kelam bertabur bintang.
"Sepertinya ini semacam ruang dimensi lain yang menempel pada dunia nyata," gumam Beruang Zhao.
Ia memperluas indra perasanya dan segera menyadari ruang ini tidak terlalu besar, hanya seluas akuarium itu sendiri. Setelah tembus dinding akuarium, persepsinya tidak bisa menembus lebih jauh, terhalang oleh lapisan tipis tak kasatmata.
Namun keanehan terbesar bukan di situ. Dalam gelap di luar ruang ini, tampak banyak makhluk mengerikan yang berusaha menembus penghalang itu dengan tentakel-tentakel mereka, ingin masuk ke dalam, tapi tak mampu—mereka hanya bisa meraung di luar.
Beruang Zhao bisa merasakan jelas kebencian murni yang mereka pancarkan—kepada dirinya dan kepada dunia ini.
Dunia ini benar-benar berbahaya!
"Kemarahan tanpa daya," gumam Beruang Zhao, malas memperhatikan makhluk-makhluk yang tak mampu menembus penghalang itu.
Mempertimbangkan semua ini, Beruang Zhao menduga makhluk misterius di dalam kebun binatang itu bisa jadi salah satu dari makhluk di balik penghalang ini yang berhasil memengaruhi dunia nyata melalui sarana atau media tertentu, lalu datang ke sini.
Meski belum sepenuhnya yakin, kini ia sudah berhasil masuk ke akuarium dan yakin sebentar lagi akan menemukan jawabannya.
Suasana di dalam akuarium sunyi mencekam. Di dalam tangki raksasa, tak ada hewan besar, hanya ikan-ikan kecil yang tampak normal berenang di air yang dingin dan mati.
Mereka melangkah ke dalam aula kosong itu, di kanan-kiri terbentang lorong-lorong gelap yang diterangi cahaya samar, yang jika diperhatikan ternyata berasal dari ubur-ubur kecil dan makhluk air bercahaya lainnya.
Lorong-lorong itu terlalu sempit bagi tubuh Beruang Zhao yang besar. Untuk masuk, ia harus membongkar seluruh bangunan—dan ia yakin, jika makhluk itu ada di dalam, ia pasti akan keluar juga.
Namun di ujung aula, Beruang Zhao melihat sebuah pintu kuno raksasa setinggi lebih dari sepuluh meter, membuat manusia biasa serasa memasuki dunia raksasa.
Beruang Zhao mengerahkan persepsinya ke balik pintu itu, tapi pintu tersebut memancarkan kekuatan khusus yang sepenuhnya menghalangi indra Beruang Zhao.
Berani-beraninya menghalangi, Beruang Zhao pun agak kesal. Tapi ini justru memperkuat dugaannya bahwa "sesuatu" itu mungkin bersembunyi di balik pintu.
Ia pun melangkah maju hendak membuka rahasia di dalamnya. Angsa Besar mengikuti di belakangnya.
Namun, ketika mereka hampir sampai di depan pintu, Beruang Zhao malah berhenti.
"Kenapa berhenti, Bos Beruang?" tanya Angsa Besar.
"Ada anjing penjaga," jawabnya.
Tiba-tiba, sebuah perubahan aneh terjadi di depan pintu yang tertutup rapat itu—lantai terbelah, air laut menyembur keluar, dan puluhan tentakel bertaring menjulur dari dalam celah.
Seekor gurita raksasa yang mengerikan muncul di hadapan mereka. Tentakel-tentakelnya bergerak liar, dan di ujung tiap tentakel menempel kepala manusia yang melolong, memancarkan kebencian yang tak terlukiskan.
"Ah!" jerit Angsa Besar.
Yang pertama mengalami keanehan adalah Angsa Besar. Ia merasakan sakit seperti otaknya tercabik-cabik.
"Bos Beruang..." erangnya sambil memegangi kepala, telinganya berdenging, dadanya sesak, bahkan terdengar bisikan aneh yang berdesakan masuk ke telinganya.
Dunia seolah berputar, pandangannya memutar, segala sesuatu di sekitar tampak terdistorsi dan membingungkan. Pegangan kayu memanjang menjadi wajah-wajah tua, ikan-ikan dalam akuarium membelah diri tanpa henti, bintang-bintang berputar di langit.
Lebih menakutkan lagi, tubuh Angsa Besar pun mulai berubah aneh. Sayap besarnya ditumbuhi sayap-sayap kecil tak terhitung jumlahnya, dan di setiap sayap kecil itu tumbuh lagi sayap-sayap mikro, seakan terus bertumpuk tanpa akhir.
Kepalanya mulai terbelah, dan dari tubuhnya muncul leher baru, di mana kepala angsa asing dan raksasa menatapnya tajam, membuat bulu kuduknya berdiri.
"Bos Beruang..." Angsa Besar ingin berteriak meminta tolong, namun ia malah melihat Beruang Zhao di sampingnya berubah menjadi makhluk mengerikan.
Tubuh besar Beruang Zhao merekah, menganga dengan retakan daging dan darah, tentakel-tentakel licin dan berkilauan menyembul dari dalam. Seekor makhluk kecil bersayap kelelawar, berlumuran darah, berusaha merobek tubuh Beruang Zhao dan keluar dari sana.
Angsa Besar langsung merasa pikirannya hancur, bisikan di telinganya berubah menjadi raungan liar yang histeris!
"Bahkan Bos Beruang sudah mati, kita benar-benar tamat... semua pasti mati..."
Angsa Besar pun kehilangan kendali, jiwanya hampir tenggelam dalam jurang tak berujung.
BRUK!
Sebuah palu berdarah menghantam belakang kepalanya.
Seketika dunia menghitam di mata Angsa Besar. Ia pingsan.
"Ngaco banget," gumam Beruang Zhao, menarik kembali kekuatan pembunuhnya. Ia menatap sejenak ke arah Angsa Besar yang tergeletak tak sadarkan diri di lantai.
Orang ini sudah tak terkendali, berteriak-teriak kacau, pikirannya sudah tercemar parah. Semua yang baru saja dilihat Angsa Besar hanyalah ilusi akibat kerusakan mental, tubuhnya sendiri masih normal, tidak mengalami mutasi seperti dalam penglihatannya.
Beruang Zhao sendiri jauh dari bahaya. Semua itu murni pikiran Angsa Besar yang berlebihan.
"Entah apa yang ia lihat sampai sebegitu takutnya, semoga masih ada kesempatan," gumam Beruang Zhao, lalu mengalihkan perhatiannya pada gurita raksasa yang menghadang. Hanya dengan membunuh makhluk itu, polusi ini mungkin bisa dihapuskan.
Ia bertanya, "Sudah siap mati dengan cara apa?"
Belum sempat gurita itu bereaksi, kilatan petir perak menghantam dari langit.
Petir itu, bagaikan hukuman dewa, menghancurkan tubuh gurita raksasa dalam sekejap, membakarnya hingga hangus.
Tentakel-tentakelnya kaku, kepala-kepala manusia di ujungnya meledak satu per satu, lenyap tanpa sisa.
Lalu, darah segar mengucur dari cakar kiri Beruang Zhao, menyebar di lantai dan berubah menjadi ribuan tombak besar yang menancap dari bawah, menembus tubuh gurita hingga menyerupai sate raksasa.
Gurita itu sama sekali tak mampu melawan.
"Rawr!"
Beruang raksasa itu berdiri tegak, mengulurkan cakarnya, meremas gurita itu menjadi segumpal daging busuk, lalu melemparkannya ke arah pintu besar yang tertutup.
DUARR!
Kekuatan mengerikan menghantam pintu, membukanya. Akhirnya pemandangan di baliknya terlihat jelas.
Di dalam aula besar itu sangat lembap, seluruh permukaannya ditumbuhi lumut tebal, menutupi setiap jengkal ruangan.
Darah merah mengalir melalui celah-celah, bermuara pada kolam darah besar di tengah aula.
Di sana terendam sesosok makhluk betina raksasa, tak sepenuhnya manusia, yang tertidur lelap dengan mata terpejam.
Namun yang paling menyita perhatian adalah perutnya yang sangat buncit. Kulit perutnya robek lebar, memperlihatkan rahim raksasa di bawahnya.
Rahim yang dipenuhi guratan darah itu kadang menggelembung, seolah-olah janin yang belum lahir sedang menendang perut ibunya, memancarkan aura aneh yang sukar dijelaskan, seolah sedang mengandung sesuatu yang tak terlukiskan dan penuh teror!