Bab Seratus Tiga Puluh Tujuh: Pemandangan yang Mengerikan
Mendengar perkataannya, Ye Yiyun sedikit mengernyit.
Jika harus dikatakan seberapa besar perhatiannya pada masalah ini, tentu ada. Namun, sekarang bukan tahun 2013. Pada Januari 2013, Undang-Undang Perlindungan Anak baru resmi diberlakukan, sedangkan sekarang... baru tahun 2011.
Bagi dirinya pribadi, ia sangat tidak menyukai dan menentang fenomena perundungan tersebut. Namun, untuk turun tangan membantu tanpa adanya landasan hukum yang mendukung, hal itu terasa cukup sulit.
"Berikan lebih banyak perhatian saja. Kalau lain kali melihatnya, bantulah. Tidak peduli siapa yang salah atau benar, jika ada konflik, laporkan kepada pihak sekolah atau polisi," ucapnya setelah mempertimbangkan sejenak.
"Hmm, aku juga berpikir begitu." Li Shiqing mengangguk mantap layaknya anak taman kanak-kanak dan menyunggingkan senyum lebar. Tanpa disadari, sepotong kecil sayuran yang terselip di gigi depannya yang rapi merusak suasana.
Ye Yiyun pura-pura merasa risih, memiringkan kepalanya ke belakang, lalu menunjuk ke arah giginya sendiri.
"Hah? Ada sesuatu?" Li Shiqing menyadari maksudnya, segera menutup mulut, dan menyapu giginya dengan ujung lidah. Merasa belum yakin, ia kembali menyapu giginya berputar-putar. Setelah memastikan tidak ada sisa makanan, ia kembali menyeringai lebar ke arah Ye Yiyun.
"Ya, ya, sudah bersih. Sudah, cepat selesaikan makanmu."
...
Selama tiga belas hari berturut-turut, setelah berulang kali dipanggil oleh wali kelas yang meragukan kemampuan dasar mereka, Ye Yiyun dan Li Shiqing akhirnya berhasil berbaur dengan kelas tersebut, beradaptasi dengan ritme belajar, dan menyesuaikan diri dengan kehidupan yang dijalani bersama setiap hari.
Dalam tiga belas hari itu, mereka tahu bahwa mereka memiliki seorang tetangga di sebelah yang juga murid kelas sebelas IPA, bernama Chen Nian. Ia adalah siswi yang pendiam dan fokus belajar. Ibu Chen Nian, Zhou Lei, adalah seorang "pebisnis mikro" tahun 2011—istilah itu diberi tanda kutip karena bisnisnya mengandung unsur skema piramida. Zhou Lei tidak banyak menghasilkan uang, justru menumpuk banyak utang. Suasana rumah tangga mereka bagaikan langit dan bumi jika dibandingkan dengan "rumah" Ye Yiyun dan Li Shiqing yang saat ini sulit bertemu orang tua.
Sebagian besar siswa di kelas adalah mereka yang gagal dalam ujian masuk perguruan tinggi dan memilih untuk mengulang, namun ada juga siswa baru seperti Chen Nian yang pindah langsung dari kelas dua SMA ke Sekolah Yaohong. Karena alasan inilah, mayoritas siswa lebih memilih fokus belajar dan tidak ingin mencari masalah.
Namun, jari tangan tidak ada yang sama panjang. Siswa berasal dari berbagai tempat di Anqiao, sehingga latar belakang dan kualitas diri mereka pun beragam. Selain siswa yang memilih untuk belajar dengan tekun, ada pula mereka yang merasa tertekan di rumah oleh orang tua dan di sekolah oleh beban akademik. Ketidakpuasan yang terpendam dalam hati sering kali memicu perubahan psikologis yang berujung pada perilaku menyimpang.
Tentu saja, lingkungan adalah faktor pengaruh yang besar, selain dari persepsi diri masing-masing. Ada orang-orang yang sejak lahir sudah memiliki segalanya, baik yang mereka lihat sendiri maupun yang ditanamkan oleh orang tua mereka, sehingga mereka merasa uang bisa menyelesaikan banyak hal. Misalnya... Wei Lai dari kelas sebelas IPA.
Ye Yiyun dan Li Shiqing mungkin tidak tahu banyak soal kelas lain, tetapi untuk kelas sebelas IPA, mereka sudah memahaminya luar dalam.
Ada sebuah kelompok kecil di kelas yang dibenci namun tidak ada yang berani melawannya, dipimpin oleh seorang gadis kaya bernama Wei Lai. Dua pengikutnya adalah Luo Ting dan Xu Miao. Keluarga Luo Ting tidak begitu baik, ia mengikuti dorongan hatinya dan merasa cocok dengan Wei Lai. Sementara itu, Xu Miao terpaksa bergabung karena takut akan konsekuensi jika menolak.
"Sepak terjang" ketiganya cukup fenomenal, meski Ye Yiyun dan Li Shiqing tidak mengetahui detailnya secara pasti, mereka sempat mendengarnya sekilas. Suatu kali, saat memergoki ketiganya sedang mendorong-dorong Hu Xiaodie, Li Shiqing dengan tegas menegur mereka. Ketiga gadis itu memiliki karakter yang suka menindas yang lemah namun takut pada yang kuat, dan diam-diam menggunakan kelicikan untuk menjatuhkan mereka yang berani melawan.
Biasanya tidak ada orang yang berani seperti Li Shiqing. Saat itu, Wei Lai sempat ingin mencari target baru dan hendak "beraksi" terhadap Li Shiqing. Namun, setelah Ye Yiyun berbincang dengan "ramah" dan "antusias" kepada ketiga gadis itu, mereka tidak lagi berani memprovokasi keduanya secara terang-terangan. Sejak hari itu, Li Shiqing tidak pernah lagi melihat ketiganya mengganggu Hu Xiaodie di sekolah.
Hari itu, Rabu, 6 April. Suasana kampus seperti biasa, namun di balik semangat belajar yang kompetitif, terasa ada sesuatu yang tidak wajar. Apalagi kemarin adalah hari Qingming.
Setiap selesai senam pagi dan sebelum membaca buku di kelas, pihak Yaohong menyediakan sebotol susu bagi setiap siswa untuk menjaga stamina agar sanggup menanggung beban belajar. Siswa yang bertugas mengambil susu minggu ini adalah Chen Nian dan Hu Xiaodie, dua orang yang tidak memiliki kedekatan satu sama lain.
"Ini, untukmu." Li Shiqing mengambil dua botol susu dan memberikan satu kepada Ye Yiyun.
Dalam siklus ini, perannya sebagai teman masa kecil membuat interaksinya dengan Ye Yiyun berjalan lancar tanpa hambatan. Tanpa ia sadari, ia sendiri tidak tahu seberapa intim sikapnya terhadap Ye Yiyun.
"Seriuslah sedikit." Melihat Li Shiqing yang menggigit sedotan sambil bergoyang-goyang layaknya turis, Ye Yiyun meletakkan susunya ke samping dan menegurnya pelan.
Li Shiqing tidak memedulikannya, ia mengangkat dagunya dengan bangga ke arah Ye Yiyun. Sebelum Ye Yiyun sempat menoleh lagi, ia segera berbalik dan asal mengambil selembar catatan untuk mulai menghafal.
"Brak!"
Namun di saat bersamaan, dari luar ruang kelas—lebih tepatnya dari koridor di depan gedung sekolah—terdengar suara dentuman keras yang memutus pikirannya. Ia menatap koridor dengan bingung.
Waktu seakan membeku sejenak, lalu detik berikutnya seolah berakselerasi. Kerumunan di koridor berkumpul dengan kecepatan yang tidak wajar, dan segera setelah itu...
Ting!
Entah ponsel siapa yang berbunyi, kemudian... ting, ting, ting, suara notifikasi terus bersahutan. Grup kelas dan grup sekolah seolah meledak.
Li Shiqing dan Ye Yiyun tidak ikut arus keluar untuk berkerumun di pagar pembatas.
Li Shiqing memiliki dorongan untuk pergi melihat, tetapi entah mengapa ada rasa takut di hatinya. Ia secara naluriah menoleh ke arah Ye Yiyun. Wajah Ye Yiyun tampak tegang. Di sudut yang tidak terlihat oleh Li Shiqing, ia perlahan menyimpan ponsel murah yang baru saja dibelinya.
"Kamu... sudahlah, coba lihat grup kelas dulu. Setelah itu, putuskan apakah kamu benar-benar ingin melihatnya atau tidak?" ucapnya dengan suara berat.
Tidak perlu bersikap seperti induk ayam yang melindungi anak-anaknya agar tidak melihat kekejaman dunia. Lagipula, Li Shiqing pun memiliki ponsel. Bahkan jika ponselnya disita atau pesannya dihapus, cepat atau lambat ia akan mendengarnya dari desas-desus.
Nada bicara dan ekspresi Ye Yiyun membuat Li Shiqing semakin bingung. Ia mengeluarkan ponsel yang juga baru dibelinya, lalu membuka grup kelas. Pesan yang terus bermunculan dan bergeser ke bawah menunjukkan keseriusan masalah tersebut.
Ia menggulir pesan ke atas, lalu ke atas lagi, hingga sebuah foto yang mengerikan menarik perhatiannya. Dengan jari yang sedikit gemetar, ia membuka foto itu...
Reaksi pertamanya adalah kosong, seluruh kepalanya terasa kosong. Kemudian muncul rasa bingung, kebingungan yang mendalam: mengapa harus seperti ini? Terakhir, saat melihat Hu Xiaodie yang tergeletak dengan pemandangan yang begitu traumatis, Li Shiqing merasa mual. Bukan karena membenci Hu Xiaodie, melainkan karena ia belum pernah melihat pemandangan yang begitu mengenaskan.
Di saat yang sama, di dalam kelas yang sama, hanya berjarak satu deret kursi dari mereka, terdapat tiga orang dengan ekspresi yang berbeda-beda; ada yang bingung, ada yang ketakutan.
"Itu pasti ulah kalian..."
Ketika rasa mual terhadap darah tergantikan oleh amarah, Li Shiqing menggenggam ponselnya erat-erat, matanya memancarkan api kemarahan. Ia bangkit berdiri dan berbalik ke arah tiga orang itu. Baru saja kata-kata itu terucap, Ye Yiyun segera membekap mulutnya dan memaksanya duduk kembali.
"Mmph, kamu..." Li Shiqing membelalakkan mata, menatap Ye Yiyun dengan tatapan penuh ketidakpercayaan.
"Duduklah dulu, dengarkan aku baik-baik, mengerti?" Suara tenang Ye Yiyun membangunkan sedikit logika dan kewarasannya.
Namun, ia tidak punya waktu untuk menjelaskan lebih detail. Guru, ketua tingkat, kepala bagian kesiswaan, hingga kepala sekolah berdatangan satu per satu untuk membubarkan para siswa, mengatur ulang kegiatan membaca, dan menghubungi pihak kepolisian.