Bab Tiga Puluh Dua: Memangnya Orang Serius Pakai Nama Samaran?
Zhang Dening merasa sangat penasaran terhadap penulis novel "Saat Kebahagiaan Mengetuk Pintu". Lagipula, seseorang yang mampu menulis kisah tentang kegigihan mengejar kebahagiaan di tengah kesulitan hidup seperti itu, tentu bukanlah orang sembarangan.
Sebenarnya, ia sudah ingin segera berangkat begitu jam kantor dimulai, namun tertahan oleh Zou Yanlai yang membahas urusan lain. Barulah sekitar pukul sembilan, ia sampai di Gedung Kebudayaan Distrik Selatan. Zhang Dening tidak asing dengan tempat semacam itu; ia memiliki beberapa teman yang bekerja di Gedung Kebudayaan kota.
"Permisi, Pak. Saya Zhang Dening, editor dari majalah 'Sastra Yanjing'," ucapnya sambil memarkir sepeda di luar pos penjagaan, lalu tersenyum memperkenalkan diri kepada Pak Li. Ia sudah terbiasa dengan prosedur ini. Di masa itu, agar orang lain percaya dan urusannya berjalan lancar, ia harus memperkenalkan identitasnya terlebih dahulu.
Pak Li yang sedang menghangatkan diri di dekat perapian, langsung menunjukkan senyum ramah begitu mendengar ia adalah editor 'Sastra Yanjing'. Meski hanya seorang penjaga pintu, ia tahu majalah tersebut karena gedung kebudayaan mereka berlangganan majalah itu.
"Selamat pagi, Mbak Zhang. Ada yang bisa saya bantu?" sapa Pak Li hangat. "Di luar dingin, masuklah ke dalam sebentar untuk menghangatkan diri."
"Terima kasih, Pak, tidak usah. Saya mencari Xu Lingyun, di kantor mana dia berada?" tanya Zhang Dening langsung.
Pak Li tertegun. Sebagai penjaga pintu yang berpengalaman, ia mengenal hampir semua orang di gedung itu. Ia yakin tidak ada orang bernama Xu Lingyun di sana. "Mbak, sepertinya Anda salah tempat. Di sini tidak ada yang bernama Xu Lingyun."
Zhang Dening tersadar. Karena terlalu memikirkan nama tokoh utama dalam novel tersebut, ia salah menyebut nama orang yang dicarinya. "Maaf, Pak. Xu Lingyun itu nama pena. Nama aslinya adalah Cheng Xuyuan," jelasnya penuh harap. "Apakah dia bekerja di sini?"
Mendengar nama Cheng Xuyuan, Pak Li tertawa. "Oalah, Mbak, kalau dari tadi bilang Cheng Xuyuan kan enak. Dia memang anggota kelompok penulisan kita. Anak itu ada-ada saja, pakai nama pena segala. Anggota kelompok penulis yang lain semuanya pakai nama asli, malah takut kalau orang tidak tahu karya mereka. Si Cheng ini justru kebalikannya."
Meskipun belum bertemu langsung, Zhang Dening merasa simpati pada sosok ini. Rendah hati dan tidak suka pamer. Selain itu, melihat betapa akrabnya Pak Li, ia menyimpulkan pemuda ini pasti orang yang baik.
"Pak Li, di mana kantornya Cheng Xuyuan?" tanya Zhang Dening lagi.
"Memangnya ada urusan apa, Mbak?"
"Dia mengirimkan naskah kepada kami, dan kami berencana menerbitkannya di edisi mendatang. Saya datang untuk mendiskusikan beberapa hal dengannya secara langsung," jawab Zhang Dening jujur.
Pak Li terkejut. Di gedung kebudayaan mereka, jarang sekali ada yang bisa menembus penerbitan majalah sebesar 'Sastra Yanjing'. "Mari, saya antar ke kantornya."
Pak Li mengenakan jaket katunnya yang sudah agak kusam. Zhang Dening mencoba menolak agar tidak merepotkan, namun Pak Li bersikeras. "Tidak apa-apa, Mbak. Lagipula kantor mereka cukup jauh, saya takut Anda kesulitan mencarinya."
Di sepanjang jalan menuju gedung kantor, mereka berpapasan dengan banyak orang. Seorang rekan kerja bertanya, "Pak Li, siapa ini?"
"Ini Mbak Zhang, editor 'Sastra Yanjing'. Dia mencari Cheng Xuyuan," jawab Pak Li. Orang itu pun menatap Zhang Dening dengan penasaran, dan Zhang Dening menjelaskan tujuannya dengan ramah.
Sesampainya di kantor kelompok penulisan, mereka menemukan Shi Xuehong sedang sibuk merajut sambil memakan biji kuaci. Melihat Pak Li membawa tamu, Shi Xuehong menyapa dengan santai.
"Xuehong, di mana Cheng Xuyuan?" tanya Pak Li. "Apa dia sedang pergi mencari inspirasi lagi?"
"Dia sedang di kelompok kesenian tradisional. Pak Luo dan timnya sedang melatih naskah drama pendek yang dia buat, jadi dia diminta datang untuk memberi masukan," jawab Shi Xuehong.
Pak Li segera menjelaskan bahwa Mbak Zhang dari majalah 'Sastra Yanjing' ingin bertemu untuk membahas naskah. Shi Xuehong terperangah. Cheng Xuyuan mengirim naskah ke 'Sastra Yanjing'? Dan editornya sampai datang langsung?
"Jangan melamun, cepat cari dia!" desak Pak Li.
Zhang Dening bertanya dengan rasa ingin tahu, "Pak Li, apakah Cheng Xuyuan juga menulis drama pendek? Jika tidak keberatan, bolehkah saya melihatnya?"
Pak Li terkekeh, "Tentu saja boleh. Drama itu memang dipersiapkan untuk pertunjukan perayaan Tahun Baru di tingkat kota."