Bab 123 Mengantar Sarapan
Kelas belajar malam dimulai.
Shi Chenchen baru menyadari bahwa apa yang dirasakannya saat baru memasuki kelas tadi bukanlah sekadar firasat. Suasana belajar di kelas hari ini terasa jauh lebih tegang. Ia mengamati teman-teman sekelasnya, dan perubahan itu tampak paling mencolok pada mereka yang biasanya menduduki peringkat menengah ke atas.
Setelah berpikir sejenak, ia pun paham. Semua ini gara-gara kabar yang diumumkan Gu Wang siang tadi. Hanya lima puluh siswa teratas di tingkat angkatan yang akan mendapatkan undangan ke pesta ulang tahun Gu Wang. Oleh karena itu, mereka yang berada di kisaran peringkat lima puluh, atau bahkan sekitar peringkat seratus, kini diam-diam berjuang lebih keras. Mereka takut ketahuan sedang belajar oleh orang lain, namun di saat yang sama, mereka terus berusaha keras secara sembunyi-sembunyi.
Tampaknya aturan yang dibuat Gu Wang ini benar-benar membuat semua orang mulai bekerja keras. Entah karena mereka mengejar kehormatan mendapatkan undangan tersebut, ingin menjalin relasi dengan orang-orang hebat di atas kapal pesiar nanti, atau memang karena sosok Gu Wang sendiri sebagai tuan rumah.
Mungkin, bagi pihak sekolah maupun para siswa itu sendiri, ini sebenarnya adalah kabar baik. Bagaimanapun, berita ini membuat siswa yang tadinya puas dengan peringkat mereka kini terpacu untuk melangkah lebih jauh. Begitu pula bagi mereka yang sudah berada di peringkat lima puluh besar, mereka akan semakin menajamkan konsentrasi agar tidak tersusul oleh orang lain.
Namun, Shi Chenchen merasa ingin menangis. Bagi dirinya, ini adalah kerugian besar! Keunggulannya selama ini terletak pada fondasi akademis yang cukup kuat, dan mungkin jika ia berusaha lebih keras serta berlatih lebih banyak soal-soal tingkat tinggi, ia bisa saja beruntung dan menembus posisi lima puluh besar. Tetapi sekarang, ketika semua orang diam-diam berkompetisi secara sengit, peluang bagi "udang kecil" seperti dirinya menjadi semakin tipis.
"Tidak boleh," bisik Shi Chenchen pada dirinya sendiri. Ia tidak boleh kehilangan kepercayaan diri. Ia harus menembus lima puluh besar agar bisa pergi ke pesta ulang tahun Gu Wang bersama Bai Chulan dengan alasan yang sah. Jika tidak, saat peringkat diumumkan nanti dan Bai Chulan mendapatkan undangan sementara dirinya tidak, ia tahu betul sifat sahabatnya itu. Bai Chulan sebenarnya tidak tertarik pada pesta Gu Wang, dan kemungkinan besar akan memberikan undangan itu kepadanya hanya karena tahu ia ingin pergi. Ia tidak ingin hal itu terjadi, jadi ia harus mengamankan posisi lima puluh besar dalam ujian tengah semester ini.
Meskipun Shi Chenchen belum pernah mengikuti ujian di SMA Masuli, berdasarkan pengamatannya terhadap teman-teman sekelas, ia memperkirakan dirinya mampu menempati peringkat seratus besar. Hanya saja, ia belum tahu bagaimana hasil pastinya nanti.
Saat itu, Shi Chenchen teringat pada sistemnya yang sudah lama tidak aktif. "Sistem tidak berguna, baru saja masuk sekolah sudah memberiku tugas yang begitu sulit, dan sekarang malah mencampakkanku begitu saja tanpa kabar." Ia tidak tahu apa yang sedang dilakukan sistemnya saat ini.
...
Di sisi lain, Qi Baijiu sedang berada di ruang kelas 1-5, yang juga sedang melaksanakan kelas belajar malam. Ia menatap dua lembar undangan ulang tahun di dalam mejanya, lalu tersenyum tipis tanpa alasan yang jelas.
Shen Xiang bertanya, "Qi Baijiu, undangan ulang tahun yang kau pinjam dariku sudah kau bawa seharian, sekarang waktunya mengembalikannya, bukan?" Shen Xiang adalah tokoh besar di dunia fotografi sekolah dan sosok yang cukup dikenal, sehingga ia mendapatkan undangan pesta Gu Wang.
Qi Baijiu menjawab dengan malas, "Apa yang kau buru-buru kan? Memangnya aku akan memakan undanganmu?" Kemudian, ia mengeluarkan satu lembar undangan dari mejanya dan memberikannya pada Shen Xiang. "Ini, undanganmu."
Shen Xiang menerima kembali surat dengan pola yang rumit itu. Meski tidak tahu apa yang dilakukan Qi Baijiu dengannya, ia tetap memberi peringatan, "Undangan ini tidak bisa difotokopi sembarangan, kabarnya kartu ini dilengkapi dengan cip khusus yang dibuat oleh keluarga Gu."
Qi Baijiu tertawa geli, "Mana mungkin aku sebodoh itu." Ia hanya "menyalinnya" dengan cara yang berbeda.
...
Keesokan paginya, tepat pukul 6 pagi, alarm getar yang dipasang Shi Chenchen membangunkannya dari tidur. Ia bangun pagi-pagi sekali, menguap lebar, lalu turun dari tempat tidur dengan langkah jinjit. Ia menutup pintu kamar mandi dengan pelan agar suara aktivitasnya tidak membangunkan teman sekamarnya. Setelah berpakaian dan menggendong tas, ia membuka pintu asrama dengan lembut.
Saat itu, kampus hampir kosong, hanya menyisakan siswa-siswa yang memiliki rutinitas lari pagi. Sudah lama Shi Chenchen tidak bangun sepagi ini. Ia menghirup udara kampus yang terasa sejuk, bercampur dengan aroma embun yang menempel pada dedaunan pohon platana di sekitarnya. Tiba-tiba ia merasa bangun pagi ternyata cukup menyenangkan, akan jauh lebih baik jika bukan karena harus membelikan sarapan untuk seseorang yang menyebalkan.
Shi Chenchen membeli semua sarapan yang dipesan Gu Wang, lalu berjalan diam-diam menuju kelas 2-8. Saat itu, ruang kelas benar-benar kosong. Ia menghampiri meja yang ditunjukkan Gu Wang padanya kemarin. Sebenarnya, tanpa diberi tahu pun, Shi Chenchen bisa menebak di mana posisi meja Gu Wang.
Ia mendengus pelan melihat meja Gu Wang yang tampak sangat bersih dibandingkan meja siswa lainnya. "Memang pantas untuk orang yang jarang masuk sekolah," gumamnya dalam hati. Meja itu hampir seperti tempat singgah sementara saja. Tidak hanya permukaannya yang kosong, laci mejanya pun bersih tak berbekas. Mungkin satu detik sebelumnya ia masih duduk di sana mengenakan headphone, dan detik berikutnya ia sudah pergi membolos keluar sekolah.
Shi Chenchen khawatir aksinya ketahuan, jadi ia segera memasukkan sarapan itu ke dalam laci meja Gu Wang. Ia menoleh ke sekeliling, dan setelah memastikan tidak ada orang, ia menghela napas lega. "Syukurlah tidak ada orang, kalau tidak, rumor antara aku dan Gu Wang akan bertambah satu lagi."
Hari ini hari Rabu, ia masih harus membawakan sarapan selama dua hari lagi. Ia harus terus bangun sepagi ini, padahal beberapa hari terakhir ia sudah tidur larut malam demi mempersiapkan ujian tengah semester.
Shi Chenchen kemudian pergi ke kelas 2-3 di lantai bawah. Kelas itu pun masih kosong, hanya ada sinar matahari pagi yang baru muncul, menyebarkan rona emas tipis dan mengisi ruang kelas yang sepi. Shi Chenchen merasa sangat mengantuk, dan karena tidak sempat kembali ke asrama untuk tidur lagi, ia memutuskan untuk tidur sebentar dengan menelungkupkan wajah di atas meja.
Suasana di dalam ruangan begitu damai. Wajah gadis itu tampak tenang dan lembut saat tertidur menyamping di atas meja. Sinar emas matahari menyinari wajahnya, membuat bulu-bulu halus di wajahnya berkilau, tampak sangat manis dan menggemaskan. Tampaknya, sinar matahari pagi pun sangat menyukainya.
Angin sejuk dari luar jendela berhembus perlahan, membawa aroma dedaunan pohon platana masuk ke dalam ruangan. Rambut hitam lurus yang tadinya terurai ke belakang kini jatuh menyamping mengikuti posisi tidurnya, sesekali bergoyang tertiup angin sepoi-sepoi. Pemandangan ini tampak begitu luar biasa indah. Angin di luar jendela tidak hanya menggerakkan helai rambut sang gadis, tetapi juga mengguncang sanubari seorang remaja laki-laki yang sedang berada di luar sana.
...
Yi Xingchen selalu memiliki kebiasaan lari pagi. Meski ia biasanya memilih jalur yang sepi untuk berlari selama lebih dari setengah jam, banyak orang di sekolah yang tahu akan kebiasaan tersebut. Pagi ini, ia mengenakan pakaian olahraga kasual, mengenakan topi, dan bersiap untuk lari pagi. Baru sepuluh menit berlari, ia mendengar seorang gadis memanggilnya sambil melambaikan tangan dari depan. Yi Xingchen melihat dengan jelas, ternyata itu adalah Guan Yao.