Bab 93: Ujian Klub Piano
Saat itu, Shi Chenchen juga menyadari bahwa Yi Xingchen telah melihatnya. Ia pun tersenyum dan menganggukkan kepala, sebagai sapaan singkat kepada Yi Xingchen. Lalu, Shi Chenchen mengacungkan jempolnya, memberi isyarat pujian atas tarian Yi Xingchen barusan yang memang luar biasa.
Yi Xingchen pun semakin salah tingkah.
...
Shi Chenchen kemudian menuju ruang kelas besar di lantai dua gedung seni dan olahraga, tempat di mana klub piano biasanya berlatih. Meski sudah pertengahan Oktober, pendingin ruangan masih dinyalakan karena banyaknya orang di dalam, jika tidak ruangan akan terasa sangat pengap.
Di koridor, sudah banyak orang mengantre, menunggu giliran untuk mengikuti seleksi. Shi Chenchen pun ikut mengantre.
Gadis di depannya menoleh ke belakang dan melihat Shi Chenchen. Maklum, sejak Shi Chenchen menjadi terkenal dalam kompetisi e-sport minggu lalu, banyak orang kini mengenalinya.
Orang-orang di depan mulai berbisik, “Kenapa dia juga ikut klub piano? Kukira dia akan masuk klub e-sport.”
“Iya, lagi pula katanya dia cukup dekat dengan ketua klub piano, Ou Muqin. Jangan-jangan nanti mereka bakal memudahkan Shi Chenchen.”
Di depan pintu kelas besar, banyak orang mengintip ke dalam, ingin tahu seperti apa seleksinya. Setiap ada yang keluar, orang yang mengantre di depan segera menghampiri dan menanyakan proses ujian di dalam.
Setelah bertanya, baru diketahui bahwa seleksi dilakukan dengan sistem undian. Sebagian besar peserta mendapat tugas memainkan sebuah lagu, lalu dinilai berdasarkan penampilannya. Setelah para anggota klub berdiskusi, barulah mereka memberitahu siapa saja yang lolos seleksi.
Shi Chenchen mengagumi, pantas saja ini adalah klub terbesar di SMA Masuri. Klub teater Wen Xinhui boleh dimasuki siapa saja yang berminat, tapi klub piano yang memilih anggotanya sendiri.
Ketika giliran Shi Chenchen tiba, Ou Muqin dan Zhou Yurou di dalam ruangan ikut memperhatikannya.
Zhou Yurou langsung menghampiri dan menyapa Shi Chenchen dengan gembira, “Kenapa kamu tidak bilang sebelumnya kalau sudah antre di luar? Membuatmu menunggu lama begitu saja.”
Shi Chenchen menenangkan, “Tidak apa-apa, ini kan seleksi, jadi lebih baik aku ikut prosesnya seperti peserta lain. Kalau tidak, nanti malah menyusahkan kamu dan Xiao Qin.”
Zhou Yurou mengerucutkan bibir, “Baiklah, kamu memang selalu bisa membantahku.”
Shi Chenchen pun mengikuti proses undian. Betapa beruntungnya dia!
Ia mendapat tugas ujian tangga nada!
Shi Chenchen menyerahkan kertas undiannya pada penguji. Ou Muqin pun tersenyum dan mengangguk padanya.
Dengan anggun, ia meletakkan kedua tangan di atas tuts piano dan berkata, “Baiklah, ujian tangga nada dimulai.”
Untung saja Shi Chenchen sudah berlatih sebelumnya, jadi ia berhasil melalui ujian dengan lancar. Ketika Ou Muqin mengangguk sambil tersenyum tanda kelulusan, barulah Shi Chenchen menghela napas lega.
Akhirnya, ia bisa bergabung dengan klub piano.
Tiba-tiba, gadis yang tadi di depan pintu dan sempat menuduh Shi Chenchen masuk lewat jalur belakang, berdiri dan menuding Shi Chenchen.
“Kenapa semua peserta sebelumnya diuji memainkan lagu, tapi dia hanya mendapat ujian tangga nada? Jangan-jangan kalian sengaja memudahkannya supaya dia lolos?”
Ou Muqin menanggapi dengan dingin, menggoyangkan kertas undian di tangannya, “Semua undian dilakukan secara adil. Kalau tidak percaya, silakan periksa sendiri.”
Gadis itu masih bersikeras, “Siapa tahu kertas itu memang sudah kalian siapkan sebelumnya!”
Menyadari nada bicaranya terlalu tajam, ia melanjutkan, “Bukan aku tidak percaya pada ketua klub, hanya saja aku merasa Shi Chenchen tidak bisa main piano, kenapa dia bisa diterima di klub ini?”
Memang, klub piano adalah tempat yang diincar banyak orang, tapi kenapa Shi Chenchen bisa masuk dengan begitu mudah?
Ou Muqin mengernyit, meski ia tahu Shi Chenchen memang tidak bisa main piano.
Tapi siapa yang bilang pada gadis itu kalau Shi Chenchen tidak bisa main piano?
Di tengah tatapan banyak orang, Shi Chenchen maju ke depan. Wajah cantiknya tetap tenang, ia membantu Ou Muqin keluar dari situasi sulit, “Kalau begitu biar aku mainkan sebuah lagu.”
Ou Muqin menatap Shi Chenchen dengan sedikit terkejut. Bukankah ini justru akan membuat orang semakin meragukannya, karena ia memang tidak bisa main piano? Meskipun Zhou Yurou sudah memberitahu jauh-jauh hari soal seleksi klub, tetap saja mustahil dalam waktu sebulan Shi Chenchen bisa menyiapkan sebuah lagu yang sanggup mengesankan semua orang di ruangan ini.
Ou Muqin pun mengernyit cemas. Semua yang ada di ruangan ini sejak kecil dipaksa belajar alat musik oleh orang tua mereka. Mereka yang percaya diri mendaftar ke klub piano, tentu punya dasar yang kuat.
Kalau nantinya Shi Chenchen bahkan salah menempatkan posisi tangan di atas piano, sudah pasti akan ditertawakan oleh para gadis yang sejak awal menganggap ia masuk lewat jalur belakang.
Namun Ou Muqin memperhatikan ekspresi Shi Chenchen, tampaknya ia cukup percaya diri. Dengan perasaan tak menentu, Ou Muqin pun menepi.
Shi Chenchen mengangguk pada Ou Muqin, lalu duduk di tempat yang tadi diduduki Ou Muqin.
Sebenarnya Shi Chenchen sendiri tidak terlalu yakin, tapi ia harus berani maju ke depan.
Ia meletakkan tangannya perlahan di atas piano, berniat memainkan lagu “Bintang Kecil” yang dulu diajarkan ibunya.
Ia mulai menekan tuts satu per satu, memainkan nada demi nada.
Orang-orang di sekitar segera tahu, ini adalah lagu pertama yang biasa dimainkan para pemula.
Gadis yang tadi menuduh pun menertawakan dengan sinis.
Orang-orang di sekitar pun berbisik pelan.
“Ternyata benar-benar tidak bisa main piano, lagu ini saja adik lelakiku yang baru tiga tahun sudah bisa memainkannya.”
“Benar-benar masuk lewat jalur belakang, mainnya juga begitu.”
“Jangan sembarangan menuduh, mungkin saja dia memang sangat ingin bergabung, lalu kebetulan saja dapat undian tangga nada.”
Awalnya, Shi Chenchen masih memainkan melodi “Bintang Kecil” dengan sederhana. Namun semakin lama—
Pikirannya tiba-tiba mengembara, kembali ke mimpi indah yang penuh keajaiban.
Ia teringat sosok duyung berkaki dua yang memainkan piano tua di atas panggung sederhana dalam mimpinya.
Perlahan, Shi Chenchen memejamkan mata, menirukan irama permainan piano si duyung dalam mimpinya.
Seiring itu, alunan piano yang indah dan mempesona lahir dari jemari Shi Chenchen.
Semua orang terdiam terpaku.