Bab 117 Perkenalan Diri
Shi Chenchen mengangguk dan menyapa orang-orang yang berada di dalam ruangan.
Zhou Yurou yang melihat kedatangan Shi Chenchen segera berdiri dengan mata berbinar. Ia menarik tangan Shi Chenchen menuju piano tempatnya duduk tadi.
Ou Muqin, yang sedang duduk di bangku piano, tersenyum saat melihat Shi Chenchen datang. "Kau sudah datang," sapanya.
Shi Chenchen membalas dengan senyuman dan anggukan.
Zhou Yurou duduk di antara mereka berdua dan meminta mereka untuk mendekat. Setelah keduanya merapat, Zhou Yurou berbisik dengan nada penuh rahasia, "Kalian tahu tidak? Aku dengar Gu Wang juga akan datang ke kegiatan klub hari ini."
Ou Muqin bertanya dengan heran, "Bagaimana kau bisa tahu?"
Mengingat situasi Gu Wang yang cukup khusus, ia memang diizinkan untuk tidak hadir kapan pun ia mau meskipun telah bergabung dengan klub piano tahun ini. Terlebih lagi, ia biasanya sibuk dengan tim gimnya di luar sekolah, jadi aneh sekali jika ia tiba-tiba datang ke sekolah hari ini, apalagi untuk mengikuti kegiatan klub piano.
Zhou Yurou menjawab dengan acuh tak acuh, "Aku mendengarnya saat Fei Yun mengobrol dengan orang lain. Dia bilang tadi melihat Gu Wang di sekolah dan Gu Wang mengatakan akan mengikuti kegiatan klub hari ini."
Melihat sikap Fei Yun yang tampak jemawa kemarin, Zhou Yurou merasa kesal. Dulu, mereka memang cukup akrab, namun Fei Yun sering menjadikannya alat. Fei Yun paling suka menggunakan tangan orang lain untuk mencapai tujuannya sendiri.
Kemarin, saat teman sebangku Fei Yun berteriak heboh karena Fei Yun mendapatkan surat undangan, Zhou Yurou langsung sadar bahwa Fei Yun kembali menggunakan taktik lamanya. Demi menjaga citra agar tidak terlihat murahan, ia sengaja mencari orang lain untuk menonjolkan kesan dirinya yang polos dan apa adanya. Dulu, Zhou Yurou tidak tahu dan sempat terjebak menjadi alat untuk mempertahankan citra Fei Yun. Namun, setelah kejadian berulang, meski kadang ia kurang peka, ia tidak sebodoh itu untuk terus dimanfaatkan. Ia paling membenci dimanfaatkan, itulah sebabnya ia perlahan menjauh dari gadis yang penuh perhitungan itu.
Kali ini, kemungkinan besar Fei Yun mengatakan hal itu kepada orang lain, bukan kepada Zhou Yurou. Namun, Fei Yun memang suka menggunakan kata-kata ambigu untuk menonjolkan dirinya sendiri.
Shi Chenchen tidak menyangka akan ada kejutan seperti ini. Jika kedua pemeran utama pria muncul di klub piano hari ini, ia bisa mengamati hubungan antara Ou Muqin dengan mereka berdua. Meskipun Bai Chulan saat ini hampir tidak memiliki hubungan dengan pemeran utama pria, siapa tahu ada perkembangan menarik di sisi Ou Muqin?
Namun, hingga pukul satu siang, Gu Wang belum juga muncul. Zhou Yurou pun mulai curiga. Informasi yang ia dengar memang menyatakan Gu Wang akan datang, dan mengingat sifat Fei Yun yang sombong, seharusnya ia tidak akan membiarkan informasi yang ia sebarkan ternyata bohong.
Ou Muqin melihat jam di pergelangan tangannya, lalu berdiri dan berkata kepada semua orang, "Kegiatan klub kita hari ini dimulai sekarang. Karena ada beberapa anggota baru yang bergabung, mari kita mulai dengan perkenalan diri mereka terlebih dahulu."
Karena Shi Chenchen duduk di samping Ou Muqin, secara alami ia menjadi yang pertama untuk maju.
Shi Chenchen berdiri dengan tenang dan tersenyum menghadap ke arah kerumunan. Suara gadis itu sangat khas, jernih seperti embun pagi dan lembut seperti angin sepoi-sepoi di pegunungan, menyentuh hati setiap orang yang mendengarnya dengan kesan yang segar dan murni.
"Halo semuanya, saya Shi Chenchen dari kelas dua-tiga. Saya sangat senang bisa bergabung dengan klub piano."
Tepuk tangan meriah terdengar di sekeliling ruangan. Banyak orang tahu bahwa pada pertemuan sebelumnya, Shi Chenchen bermain dengan sangat indah, sebuah permainan yang mampu membuat siapa pun yang mendengarnya meneteskan air mata. Namun, saat mereka menceritakan hal itu kepada anggota klub lainnya, tidak ada yang percaya karena tidak semua orang hadir saat itu.
"Apa? Meski indah, tidak mungkin sampai membuat orang menangis, kan? Dia bermain sehebat itu? Aku tidak percaya."
"Kalian pasti terlalu berlebihan. Lagipula, kudengar latar belakang keluarga Shi Chenchen biasa saja, mana mungkin mampu membiayai guru piano kelas dunia untuk mengajarinya."
"Mungkin saja dia memang berbakat alami?"
"Sudahlah, di dunia ini mana ada begitu banyak jenius. Kalau dia memang sehebat itu, dia pasti sudah direkrut lebih awal oleh konservatori musik ternama dari luar negeri."
"Kurasa kalian hanya menjilatnya karena dia punya hubungan dengan Gu Wang. Faktanya, dia bahkan tidak menerima surat undangan ulang tahunnya."
"Menurutku, Gu Wang hanya merasa dia cantik, jadi dia hanya mempermainkannya saja."
Setelah memperkenalkan diri, Shi Chenchen duduk kembali dengan tenang, mengabaikan tatapan kagum maupun ragu dari sekelilingnya. Baginya, tidak ada yang lebih penting daripada menyelesaikan misi.
Anggota baru lainnya pun memperkenalkan diri satu per satu. Salah satunya adalah seorang siswi kelas satu yang cukup populer. Begitu ia berdiri, semua orang bersorak riuh. Namun, gadis itu tidak merasa canggung sedikit pun. Ia menanggapi candaan mereka dengan santai dan tersenyum saat memperkenalkan diri.
"Halo semuanya, saya Guan Yao dari kelas satu-enam. Saya sangat senang bisa bergabung dengan klub piano hari ini..."
Biasanya orang akan berhenti sampai di situ, tetapi Guan Yao berbeda. Ia menatap tajam ke arah Yi Xingchen yang sedang bersandar di dekat jendela, lalu melempar senyum penuh percaya diri.
"Tujuan saya bergabung dengan klub piano adalah demi Kak Yi Xingchen."
Seketika, para siswa laki-laki bersorak ramai. "Wah, Guan Yao cantik sekali, berani sekali! Dia berani mengejar 'bunga di puncak gunung' sekolah kita!"
Yi Xingchen yang sedang menatap ponselnya pun mendongak. Ia tidak menyangka perkenalan diri seseorang akan menyeret namanya. Siswa laki-laki di sampingnya menyenggol Yi Xingchen sambil tertawa nakal. "Yi Xingchen, kau beruntung sekali. Guan Yao adalah gadis tercantik di tingkat satu, kepribadiannya juga ceria. Menurutku gadis ini tidak buruk."
Yi Xingchen terkekeh, "Sudahlah, jangan asal bercanda soal anak perempuan."
Siswa yang menggoda tadi langsung terdiam malu. Ia lupa bahwa Yi Xingchen adalah sosok yang sangat terhormat, dan sikapnya justru membuat mereka terlihat picik.
Guan Yao melihat Yi Xingchen membelanya, hatinya pun dipenuhi rasa bahagia. Yi Xingchen memang pria yang sangat baik.
Menghadapi pernyataan cinta yang lugas dari Guan Yao, Yi Xingchen tidak panik sedikit pun. Wajahnya tetap lembut dengan senyum yang menjaga jarak, dan melalui kata-katanya, ia secara halus membatasi hubungan mereka.
Ia tersenyum sopan dan tenang, "Terima kasih atas kekagumanmu. Jika keberadaanku membuatmu lebih mencintai piano, itu adalah kehormatan bagiku."