Bab 70: Dia Harus Menang
Pada siang hari, Bai Chulan memanfaatkan waktu istirahat untuk pergi ke stasiun pengiriman barang. Buku panduan yang baru saja ia beli sudah tiba. Ia memeluk buku-buku itu dan kembali ke kelas, hanya untuk melihat Shi Chenchen sedang menenangkan Zhou Yuru.
Bai Chulan mengerutkan kening dan berjalan mendekat. "Ada apa?" tanyanya.
Dengan perasaan bersalah, Zhou Yuru menceritakan kejadian yang baru saja terjadi kepada Bai Chulan.
Namun, Bai Chulan tidak menyalahkan Zhou Yuru. Ia hanya menatap Shi Chenchen dengan sedikit kekhawatiran. Dengan wajah serius, Bai Chulan bertanya, "Kamu tidak apa-apa?"
Shi Chenchen menggeleng dan tersenyum, "Tentu saja tidak apa-apa. Kamu masih meragukan kemampuanku?"
Mendengar itu, Bai Chulan langsung merasa tenang dan mengangguk. Selama Shi Chenchen yang bicara, ia akan selalu percaya tanpa ragu.
...
Karena kejuaraan e-sports kali ini adalah tentang perebutan tiga besar, dan perayaan seratus tahun sekolah pun telah berlalu, suasana di aula siaran kembali tenang seperti sebelumnya.
Namun, kali ini Ketua Klub E-sports, Chi Bei, berencana membuat suasana kembali meriah. Ia mengajukan permohonan ke sekolah untuk menggunakan aula siaran sebagai tempat pertandingan baru. Bagaimanapun, hari ini adalah pertarungan hebat antara tim Yi Xingchen dan tim Gu Wang; tempat sebelumnya sudah jelas tidak cukup memadai.
Tentu saja, Chi Bei juga sudah mengumumkan kabar ini di forum sekolah, sehingga berita tentang pemindahan lokasi pun cepat tersebar dari mulut ke mulut.
Para siswa di forum sekolah pun berseru kagum: Chi Bei kali ini benar-benar membuat gebrakan besar.
Malam harinya.
Yi Xingchen dan timnya sudah tiba di belakang panggung aula siaran. Sementara itu, Shi Chenchen dan Bai Chulan baru tiba setelah makan malam bersama.
Lantai bawah panggung yang tadinya kosong kini sudah penuh kursi dan bangku yang telah diatur oleh anggota klub atas perintah Chi Bei. Ou Muqin ingin mencari tempat duduk berjejer untuk empat orang.
Namun, karena pertandingan kali ini sangat populer, setelah mereka selesai makan dan datang, barisan depan sudah penuh terisi. Ou Muqin terpaksa memilih tempat sedikit ke belakang di tengah. Ketika ia menoleh untuk memanggil teman-temannya duduk, ia baru menyadari bahwa yang ada di belakangnya hanya Zhou Yuru dan Bai Chulan.
Shi Chenchen tak tampak di mana-mana.
Ou Muqin tidak terlalu memikirkannya, mengira mungkin Shi Chenchen sedang ke toilet.
Mereka pun duduk. Ou Muqin bahkan sengaja meletakkan gantungan kunci di kursi sebelahnya untuk menandai tempat duduk Shi Chenchen.
Ia melihat banyak orang hari ini membawa bendera kecil. Di atas permukaan bendera hitam putih sederhana tertulis: "Tim YDW pasti menang," sementara yang biru gelap bertuliskan: "Dukung Tim YXC".
Ou Muqin bisa memahami YDW, nama tim Gu Wang. Namun YXC...
Setelah berpikir sejenak, ia segera sadar, itu adalah singkatan nama Yi Xingchen. Saat pendaftaran, tim Yi Xingchen memang belum memiliki nama resmi, sehingga para penggemar hanya bisa menamai tim itu dengan singkatan nama sang kapten: YXC.
Shi Chenchen datang sendirian ke belakang panggung. Untungnya, ia sudah pernah ke sini saat perayaan seratus tahun, jadi tidak sampai tersesat. Tak disangka, baru sebentar masuk sekolah, ia sudah dua kali menginjakkan kaki di belakang panggung aula siaran.
Berbeda dengan sebelumnya, saat banyak kelas tampil sesuai jadwal dengan ragam pertunjukan yang kualitasnya berbeda-beda sehingga tidak semua ditonton dengan serius, hari ini ada enam tim yang berpartisipasi dalam e-sports, dengan total tiga pertandingan. Setiap pertandingan pasti jadi sorotan, setiap gerakan para pemain akan diperhatikan dengan sangat cermat.
Apalagi Yi Xingchen dan Gu Wang adalah pemain populer; pertandingan mereka pasti akan disaksikan penuh konsentrasi oleh para penggemar, bahkan aksi mereka dalam video akan diputar ulang dan dibahas berulang-ulang.
Chi Bei, dengan sengaja, menempatkan duel antara dua bintang ini di pertandingan terakhir, meningkatkan ekspektasi penonton hingga puncak.
Melihat jumlah penonton di ruang siaran langsung, Chi Bei tak bisa menahan decak kagum; sudah lebih dari 50.000 orang dan terus bertambah, padahal pertandingan bahkan belum dimulai.
Pintu belakang panggung terbuka. Shi Chenchen melangkah masuk.
Yi Xingchen melihat kedatangannya, melambaikan tangan sambil tersenyum, "Sudah datang?"
Shi Chenchen agak malu-malu mengangguk, "Iya," jawabnya pelan.
Di kursi samping, Ji Xian masih memakan sandwich tuna yang ia beli di minimarket. Mereka datang lebih awal untuk menyiapkan mental.
Melihat mereka sudah datang sejak tadi, sementara ia masih sempat makan di kantin bersama Zhou Yuru dan lainnya, Shi Chenchen jadi merasa dirinya terlalu santai, wajahnya menampakkan sedikit rasa tidak enak.
Shi Chenchen berkata, "Maaf, aku datang terlambat."
Mendengar itu, Ji Xian buru-buru meletakkan sandwich-nya, mulutnya masih penuh. "Ti...tidak apa-apa kok," ucapnya sambil berusaha menelan makanannya. Setelah berhasil, ia melanjutkan, "Kamu datang tepat waktu!"
Sebenarnya, Ji Xian sampai susah makan karena terlalu gugup, makanya ia datang lebih awal untuk membiasakan diri dengan suasana.
Ia segera berdiri, menarik kursi kosong di sebelahnya dan dengan ramah mengundang Shi Chenchen duduk. Ini adalah penyelamat tim mereka, harus dilayani dengan baik!
Shi Chenchen pun duduk dengan sedikit kaku, merasa agak canggung. "Kalian tidak perlu melakukan ini..."
Yi Xingchen tertawa, "Abaikan saja mereka. Walaupun sekarang masih bisa bercanda, sebenarnya mereka semua sangat tegang."
Ji Xian dan Tang Yuan langsung membantah, "Siapa yang tegang!" "Aku tidak kok..."
Mereka serempak membantah Yi Xingchen, tapi justru itu membuat mereka terlihat semakin jelas sedang menyembunyikan kegugupan, hingga saling memandang dengan kesal.
Melihat tingkah mereka yang bahkan bicara pun terbata-bata, Shi Chenchen tak kuasa menahan tawa.
Terdengar juga tawa dari sebelahnya. Shi Chenchen sadar Yi Xingchen juga sedang tertawa. Ketika ia menoleh, tepat saat itu pandangan Yi Xingchen berbalik menatapnya, seolah berkata lewat tatapan—
‘Benar, kan? Aku tidak salah.’
Wajah pemuda itu terlihat sangat menawan di bawah sorot lampu. Setiap lekukan di wajahnya seperti dipahat dengan sempurna oleh Tuhan.
Ketika Shi Chenchen sadar mereka saling berpandangan, ia merasa hatinya bergetar sejenak. Yi Xingchen memang pantas menjadi salah satu tokoh utama pria.
Walau hanya tatap-tatapan sesaat, dalam beberapa detik, muncul perasaan seolah mereka sudah memiliki rahasia kecil bersama.
Namun, ketika Shi Chenchen kembali menatap Yi Xingchen, pemuda itu sudah beralih memperhatikan Ji Xian dan Tang Yuan yang sedang bercanda. Di samping mereka, Wei Dong juga terlihat geli melihat tingkah dua temannya itu.
Suasana belakang panggung tampak ceria, namun Shi Chenchen bisa merasakan ada ketegangan yang tersembunyi di bawah permukaan. Bahkan Wei Dong yang tampak santai, wajahnya sedikit tegang, seolah berusaha keras tetap tenang. Tangan yang diletakkan di paha terkepal erat dan sedikit bergetar.
Di antara mereka semua, tampaknya hanya Yi Xingchen yang benar-benar tenang. Memang, Yi Xingchen selalu terlihat seperti itu, seolah apapun yang terjadi tak bisa menggoyahkan dirinya.
Dengan sedikit cemas, Ji Xian berkata, "Tang Yuan, kamu yakin kita tidak bakal kalah telak?"
Tang Yuan mendelik, "Mana aku tahu? Tapi kalau lihat kamu yang begitu payah, hal itu bukan tidak mungkin."
Ji Xian kesal dan meninju pundak Tang Yuan, "Dasar, jelas-jelas kamu yang lebih payah!"
Pada saat itu, Yi Xingchen tidak memperhatikan mereka yang bercanda. Ia tampak tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Lampu di belakang panggung terang benderang, memancarkan sinar dari atas ke segala penjuru. Yi Xingchen menundukkan kepala, bulu mata panjangnya memantulkan bayang-bayang di kulitnya yang sangat putih. Ia diam-diam mendengarkan lelucon rekan-rekannya tentang kemungkinan kekalahan mereka.
Tiba-tiba, Yi Xingchen mengangkat kepala, dan dalam sekejap, sorot matanya berubah tajam.
Shi Chenchen terkejut oleh perubahan ekspresi itu. Dalam sepersekian detik, ia seolah melihat kabut tebal yang terbelah oleh pedang tajam, memperlihatkan wujud aslinya di balik tirai.
Segalanya tiba-tiba terasa membeku, hanya tersisa tatapan mata Yi Xingchen yang dalam dan kompleks.
Yi Xingchen menyadari Shi Chenchen sedang memperhatikannya. Ia tidak menyangka ada yang masih memperhatikan dirinya. Namun, ia segera menenangkan diri dan kembali menampilkan ekspresi ramah seperti biasanya, seakan semua itu hanya ilusi Shi Chenchen.
Melihat Yi Xingchen kembali tertawa dan bercanda bersama rekan-rekannya, hati Shi Chenchen terasa rumit.
Tapi ia yakin, sekilas ekspresi berbeda yang tadi ia lihat bukanlah halusinasi. Tatapan itu seolah berkata padanya—
Ia harus menang.