Bab 9: Dua Orang Berdamai
Yi Xingchen berdiri di luar jendela kelas 3, dinding menghalangi pandang ke dalam kelas sehingga keberadaannya sulit disadari oleh siapa pun.
Awalnya ia berniat masuk untuk membantu, karena ia tahu Bai Chulan dibully gara-gara dirinya.
Bukan karena ia merasa dirinya istimewa, tapi ia tahu banyak gadis menyukainya, bahkan sampai melakukan hal-hal yang berlebihan. Dulu pernah ada kasus, seorang gadis dikurung semalaman di atap gara-gara menulis surat cinta untuknya. Akhirnya gadis itu pun pindah sekolah. Meski bukan ia pelakunya, tetap saja kepindahan gadis itu berawal dari dirinya.
Tadinya saat situasi terlihat sulit dikendalikan, ia hendak turun tangan, tapi ia melihat Zhou Yurou melangkah maju membantu Bai Chulan.
Jadi, ia tidak perlu turun tangan. Saat ini ia sudah berpikir lebih matang, biarkan Zhou Yurou tampil, itu jauh lebih baik daripada dirinya yang ikut campur. Sebab jika ia yang membantu, bisa saja nanti akan ada gadis lain yang kembali memusuhi Bai Chulan.
Ia hanya berdiri di luar kelas memperhatikan.
Akhirnya, bahkan Ou Muqin juga ikut campur, meski alasannya demi Zhou Yurou, tetap saja terlihat hubungan mereka berdua sudah membaik.
Yi Xingchen selama ini selalu menjadi pusat perhatian, namun kali ini ia jarang-jarang bersembunyi di balik layar. Ia juga menyadari hadirnya Shi Chenchen di sudut ruangan.
Ia ingat saat pertama kali bertemu gadis itu, Shi Chenchen berdiri di panggung dengan pipi memerah menatapnya. Ia kira gadis itu tipe yang pemalu.
Namun tanpa disadari orang lain, di sudut ruang, ia mendapati tatapan Shi Chenchen begitu datar, menatap semua ini layaknya seorang penonton drama.
Tidak, sebutan penonton rasanya kurang tepat.
Lebih mirip dengan penulis naskah yang duduk di bawah panggung, ia bisa mengendalikan alur cerita dengan jelas, namun hanya mengamati tokoh-tokoh di dalamnya tanpa ikut campur.
Ia menilai semua yang terjadi di depannya dengan tenang, seakan semua hal di sekitarnya tak ada hubungannya dengannya.
Shi Chenchen merasakan sepasang mata menatap, ia menoleh dan mendapati Yi Xingchen sedang berdiri di luar jendela, pandangan mereka bertemu. Yi Xingchen sepertinya sadar, ia melambaikan tangan dan tersenyum sambil mengangguk, seperti menyapa.
Huft... Shi Chenchen menghela napas lega. Kali ini Ou Muqin turun tangan membantu Bai Chulan, pasti ia akan mendapatkan tambahan poin simpati dari Yi Xingchen.
Shi Chenchen membayangkan, andai ia punya kemampuan melihat poin simpati di tubuh tokoh utama, pasti ia akan melihat angka-angka hijau seperti +1, +2, bertebaran di atas kepala Yi Xingchen.
Ia memandang Ou Muqin di depannya. Gadis itu berdiri menghadap Bai Chulan, cahaya matahari dari luar jendela menyinari wajahnya, bahkan helaian rambut yang bergerak pun tampak begitu memesona. Ia bagai sekuntum mawar merah yang sedang mekar, menebarkan pesona di tengah suasana sekolah yang penuh gairah muda, membuat orang-orang di sekitarnya merasakan vitalitasnya yang luar biasa.
Saat itu, Ou Muqin menggenggam tangan Zhou Yurou, menghiburnya dengan suara lembut, "Rourou, gimana? Barusan aku keren banget, kan? Aku nggak tahan lihat orang membully kamu!"
Seketika terdengar suara helaan napas di sekeliling, siapa yang bisa menolak rayuan manja si ratu sekolah?
Semua orang tahu hubungan mereka membaik, tapi tak menyangka sampai sedekat ini.
Zhou Yurou masih belum terbiasa dengan perubahan Ou Muqin. Dulu mereka sering saling sindir, tapi sebenarnya Zhou Yurou tidak benar-benar membenci Ou Muqin.
Sebaliknya, ia justru sangat iri pada Ou Muqin.
Mereka sudah saling kenal sejak kecil, bisa dibilang sahabat masa kecil. Namun sejak masuk SMP, keluarga Ou Muqin makin mapan, teman-temannya pun bertambah, jarak keduanya makin terasa.
Ou Muqin punya latar belakang keluarga lebih baik, wajah yang lebih cantik, dan meski belajar Zhou Yurou sedikit lebih unggul, tapi tidak terpaut jauh. Di SMA Masuli yang dipenuhi gadis-gadis cantik, Ou Muqin tetap menyandang gelar ratu sekolah, sesuatu yang sangat diidamkan Zhou Yurou.
Gara-gara sebuah kesalahpahaman, mereka bertengkar. Zhou Yurou ingin berdamai, tapi setiap ingin bicara, Ou Muqin selalu salah paham, akhirnya mereka selalu berakhir dengan saling sindir. Kadang Zhou Yurou ragu, apakah Ou Muqin merasa dirinya tidak cukup layak jadi temannya, hingga sengaja mengejeknya.
Sekarang, Ou Muqin sendiri yang berusaha memperbaiki hubungan, meski Zhou Yurou masih canggung, namun hatinya sangat bahagia.
"Hmph, jangan sok akrab sama aku, aku nggak gampang dipengaruhi," Zhou Yurou sengaja membuang muka dengan nada jual mahal.
Dulu Ou Muqin tak pernah peka pada perasaan orang sekitar, sebab ia merasa tak ada yang pantas mendapat perhatiannya.
Namun setelah hidup sekali lagi, ia belajar untuk menghargai orang-orang yang benar-benar tulus padanya.
Ou Muqin menggoyang-goyangkan tangan Zhou Yurou, manja sambil memohon, "Rourou, bilang saja, apa yang harus kulakukan supaya kamu mau memaafkan aku?"
Siapa yang sanggup menahan rayuan Ou Muqin? Para cowok kelas 3 menepuk dada, mengaku tak tahan dengan pesona sang dewi. Para cewek hanya bisa mengelus dada, Zhou Yurou dan Ou Muqin kalian pacaran aja sana, kami semua cuma penonton di kelas ini, ya?!
Zhou Yurou yang tadinya jual mahal, malah luluh juga. Ia membuang muka dengan manja, "Minggu depan, di selatan kota ada toko dessert baru buka, temani aku ke sana!"
Dengan cepat Ou Muqin sumringah, "Siap, Nona Besar!"
Barulah ia menoleh ke Bai Chulan. Melihat wajah familiar itu, ia kira ia akan cemburu—cemburu karena Bai Chulan dengan mudah menarik perhatian Wen Zhi; cemburu karena meski tanpa latar belakang, Bai Chulan tetap dikagumi banyak siswa; cemburu karena ia pintar sekaligus rajin, sesuatu yang sulit ia tandingi.
Tapi melihat lagi ekspresi dingin Bai Chulan, ia tak ingin lagi cemburu. Memang Bai Chulan tak pernah salah, ia hanya berusaha jadi diri sendiri. Yang salah adalah dirinya di kehidupan lalu, yang pernah membully Bai Chulan.
Yi Xingchen masuk ke kelas.
Semua mata kembali tertuju padanya, ingin tahu bagaimana reaksinya setelah kejadian barusan, sebab murid baru diincar gara-gara duduk di sebelahnya.
Namun akhirnya mereka kecewa, Yi Xingchen tetap seperti biasa, tersenyum ramah seolah tak terjadi apa-apa.
Di bawah tatapan semua orang, ia berjalan pelan, duduk di sebelah Bai Chulan tanpa memperdulikan pandangan aneh dari orang lain.
Ia hanya tersenyum ke satu arah, semua orang pun mengikuti arah pandangnya. Mereka melihat Zhou Yurou di depan Shi Chenchen, Zhou Yurou pun merasa Yi Xingchen tersenyum padanya, pipinya memerah.
Shi Chenchen mengira ia tersenyum pada Ou Muqin, karena Ou Muqin dan Zhou Yurou duduk berdekatan.
Ou Muqin sendiri sibuk pada Zhou Yurou, tidak menyadari tatapan Yi Xingchen.
Sementara Bai Chulan yang duduk paling dekat dengan Yi Xingchen, jelas melihat matanya tertuju pada Shi Chenchen, meski ia hanya melirik Shi Chenchen sebentar lalu kembali menyiapkan buku pelajaran untuk pelajaran selanjutnya. Baginya, belajar tetap yang utama.
Bel berbunyi, semua kembali ke tempat duduk masing-masing. Ou Muqin yang berasal dari kelas 8 pun pergi, sebelum keluar ia sempat melemparkan kedipan genit pada Zhou Yurou sebelum beranjak pergi dengan gaya khasnya.
Shi Chenchen sadar, meski di kelas kini sudah tenang, pasti di forum sekolah hari ini akan ramai gosip.
Benar saja, saat makan siang di kantin, Zhou Yurou, Ou Muqin, dan Shi Chenchen duduk bersama di lantai dua kedai mi. Banyak mata tertuju pada meja mereka.
Shi Chenchen berusaha tampak tenang, tapi dalam hati ia sudah berpikir besok harus cari tempat makan lain.
Namun demi mendekati kelompok utama, ia menahan diri duduk di samping Zhou Yurou.
Untuk mencairkan suasana, Shi Chenchen duduk tegak dan membuka ponsel, masuk ke forum sekolah. Benar saja, topik utama hari ini adalah kejadian di kelas 3 tadi pagi.
[Benar-benar si tampan sekolah, mampu membuat empat gadis bertengkar karena dirinya, salah satunya bahkan ratu sekolah!]
Shi Chenchen hanya bisa mengelus dada, judulnya benar-benar menyesatkan, adminnya mending jadi paparazzi saja.
Ia buka utas tersebut.
Isinya cuma satu foto.
Terlihat Yi Xingchen duduk di kursinya, di sampingnya Bai Chulan, di sudut ada Ma Xuan, Zhou Yurou dengan wajah cemberut, dan Ou Muqin yang penuh percaya diri. Jika diperhatikan, di sudut foto ada tangan dan ujung rok Shi Chenchen.
Shi Chenchen menghela napas, benar-benar jago mengambil momen.
Foto itu memberi ruang bagi imajinasi pembaca, komentar di bawahnya pun ramai membicarakan gosip.
[Gila, seumur hidup baru kali ini lihat si tampan sekolah bisa bikin empat cewek berantem, memang luar biasa kamu, Yi Xingchen!]
[Yi Xingchen ganteng banget, bikin aku naksir!]
[Admin cuma bikin cerita dari foto, padahal bukan begitu kejadiannya!]
[Akhirnya ada juga yang paham! Ceritanya nggak seperti kata admin!]
[Ceritain dong.]
[Pagi tadi, murid pindahan duduk di sebelah Yi Xingchen, lalu ada cewek yang nggak suka dan cari gara-gara, Zhou Yurou membela murid baru, lalu Ou Muqin membela Zhou Yurou. Begitulah keadaannya. Soal Yi Xingchen, dia nggak tahu apa-apa, baru masuk kelas langsung kena tuduhan dikelilingi empat cewek.]
[Aku saksi, aku juga dari kelas 3, memang begitu kejadiannya.]
[Gila, jadi teman sekelas si tampan sekolah, tiap hari dapat gosip seru, pengen pindah kelas!]
[Pengen pindah kelas +1]
[Pengen pindah kelas +2]
...
Zhou Yurou dan Shi Chenchen duduk berdampingan, Ou Muqin di seberang mereka. Melihat Shi Chenchen asyik menatap ponsel, Zhou Yurou pun ikut mengintip dan membaca komentar netizen, spontan ia kesal.
"Orang-orang ini benar-benar suka ngarang cerita, kenapa nggak sekalian masuk jadi tim berita OSIS saja?" Zhou Yurou menggerutu.
Mendengar itu, Ou Muqin juga membuka forum di ponselnya, ternyata banyak yang menandainya di utas tersebut.
Setelah ia baca, ia hanya tertawa kecil, para penikmat gosip ini nekat juga, berani-beraninya mengarang soal keluarga Yi. Modal nekat benar.
Ou Muqin mengusap layar untuk keluar dari utas konyol itu, lalu menggulir ke bawah. Begitu melihat satu utas, matanya terpaku. Jari putihnya berhenti di layar, sesaat kemudian ia membukanya.
Utas itu berisi ucapan selamat untuk perayaan seratus tahun SMA Masuli dua minggu lagi, disertai video ketua OSIS kelas tiga, Wen Zhi, sedang memainkan piano.
Ia tetap tampan dan elegan seperti biasa, duduk di bangku piano, jemarinya yang indah menari di atas tuts, menghasilkan musik merdu. Permainannya terdengar tenang, membuat pendengar merasa nyaman, namun sesekali dentingan piano yang tajam mengisyaratkan gejolak batin dalam dirinya.
Memang seperti itulah Wen Zhi, sebagai ketua OSIS, ia sangat piawai dalam bergaul, namun dalam bertindak ia tegas dan tidak suka basa-basi. Biasanya sikap seperti itu bisa membuat orang tak suka, namun semua orang justru menghormatinya. Seolah ada aura kepemimpinan yang membuat siapapun percaya pada dirinya.
Ou Muqin menonton lama, lalu menghela napas.
Inilah Wen Zhi, ketua OSIS paling berpengaruh di SMA Masuli.
Shi Chenchen sudah dua hari pindah ke sekolah ini, dan hari ini hari Jumat, tidak perlu kembali ke asrama.
Ia bisa langsung pulang ke rumah.
SMA Masuli terletak di pinggir kota, di depan gerbang sekolah berjejer mobil-mobil mewah, mayoritas sopir menjemput para tuan muda dan nona sekolah.
Rumah Shi Chenchen sekarang berada tepat di samping SMA Masuli, ia cukup berjalan kaki sebentar sudah sampai.
Shi Chenchen berdiri di depan gerbang, memandang siswa-siswa yang pulang, tiba-tiba teringat masa lalu, saat dulu ia juga pernah dijemput seseorang.
Meski sudah hampir malam, angin musim panas masih terasa hangat.
Ia menoleh sekali lagi ke arah sekolah, lalu melangkah ke trotoar di samping, sampai di tikungan ia melihat seorang lelaki berdiri di bawah lampu jalan, memanggul tas punggung sambil menunggu dirinya dengan senyum ramah.
Shi Chenchen tertegun, lalu wajahnya dihiasi senyum tulus, "Kak."