Bab Dua: Upacara Darah Memanggil Leluhur
Angin gurun yang panas berhembus melintasi arena, membakar semangat orang-orang Ximo yang bersorak sorai. Perhatian semua orang terpusat ke tengah arena, menyaksikan pembantaian kaum Muao. Benturan visual dan kegilaan haus darah yang bercampur aduk di dalam hati memberikan mereka kepuasan batin yang luar biasa.
Pedang besi di tangan orang-orang Muao tampak seperti tusuk gigi di mata anjing serigala itu. Kecuali jika mengenai titik lemahnya, senjata semacam itu bahkan tidak mampu menembus bulu tebal sang monster. Hal inilah yang menyebabkan pesta pembantaian berat sebelah di tengah arena.
Seiring dengan jeritan yang terus membahana, satu per satu orang Muao tumbang di hadapan anjing serigala itu, menjadi santapan empuknya. Orang-orang Muao yang tersisa merasa sangat cemas, memutar otak bagaimana cara melarikan diri dari mulut monster tersebut.
Pemandangan manusia yang dicabik-cabik hidup-hidup oleh monster membuat Guli ketakutan setengah mati. Ia bahkan lupa cara bernapas. Jika bukan karena Guli terus ditarik lari oleh Guzheng, mungkin Guli sudah lama menjadi santapan monster itu.
Saat ini, orang-orang yang masih hidup tersebar di sekeliling arena. Menyaksikan adegan berdarah di tengah, kulit kepala mereka terasa mati rasa. Beberapa orang terus merapat ke arah sang kepala suku. Bagaimanapun, dia adalah penyokong mental mereka; dalam situasi seperti ini, tidak ada jalan lain bagi mereka selain meminta pertolongan pada Guzheng.
Guzheng telah membawa Guli ke tepi arena. Mendengar jeritan yang terus terdengar dari tengah bagaikan lonceng kematian, hatinya terbakar kecemasan. Namun, ini adalah pertempuran yang tidak bisa dihindari. Ia harus melakukan segala cara untuk melindungi nyawa satu-satunya putra yang tersisa, sementara anak-anaknya yang lain telah gugur di bawah pedang tentara kekaisaran.
"Guli, regangkan kakimu, Ayah akan memotong belenggu kakimu."
Guzheng menggenggam erat pedang besinya, menebas rantai dengan presisi. Dentang logam beradu, percikan api beterbangan. Butuh beberapa ayunan pedang hingga akhirnya belenggu di kaki Guli terputus. Segera setelah itu, ia melirik anjing serigala tersebut dan mendapati monster itu tidak memperhatikan mereka. Ia duduk di tanah, meluruskan kakinya, menarik rantai hingga tegang, dan menebasnya berulang kali. Tak lama kemudian, rantai itu pun putus, membuat pergerakannya jauh lebih bebas.
Orang-orang lain yang berada di dekat Guzheng melihat hal ini dan baru sadar. Mereka meniru perbuatan Guzheng, memutus rantai di kaki mereka. Rupanya, mereka terlalu panik oleh pengaruh anjing serigala itu hingga lupa untuk melepaskan belenggu terlebih dahulu.
"Kepala Suku, apa yang harus kita lakukan? Anjing serigala ini bukanlah lawan yang bisa kita hadapi sekarang." Seorang pria dengan bekas luka di wajahnya mendekat ke arah Guzheng, menimbang pedang besi di tangannya. Ekspresinya tampak putus asa, namun bekas luka di wajahnya membentuk lengkungan aneh seolah sedang mencibir, membuat wajahnya tampak seperti sedang tersenyum getir.
"A-Tai, dan semua warga," Guzheng menatap orang-orang di sekitarnya, lalu berkata dengan mendesak, "Semua ini salahku sebagai kepala suku yang tidak mampu membawa kalian melarikan diri. Situasi sekarang sangat mendesak, aku tidak akan bicara panjang lebar lagi. Keadaan saat ini tidak mengizinkan kita untuk mundur. Daripada diejek oleh orang Ximo dan mati sebagai pengecut, lebih baik kita bertarung sampai mati di sini. Siapa tahu masih ada secercah harapan untuk bertahan hidup."
"Tapi, anjing serigala itu benar-benar mengerikan. Melihatnya saja, tanganku tak bisa berhenti gemetar." Terdengar suara penolakan dari kerumunan. Tidak semua orang memiliki keberanian untuk menghadapi maut.
"Kau pengecut! Lihatlah situasinya sekarang, apa kau pikir kau masih punya jalan untuk mundur?" A-Tai berbalik dan membentak pria yang tampak lemah di tengah kerumunan itu. Pria tersebut gemetar ketakutan, tidak mampu membantah sepatah kata pun.
"A-Tai, jangan salahkan Da Sha. Dia memang bukan prajurit suku, wajar jika dia merasa takut. Namun, ini adalah masa kritis. Aku tidak bisa melindungi semua orang, jadi kalian harus bangkit. Biarkan para bajingan Ximo yang sombong itu melihat harga diri kaum Muao kita," ujar Guzheng dengan tegas.
"A-Tai, kau pimpinlah para prajurit suku yang tersisa untuk mengalihkan perhatian anjing serigala itu, berikan aku waktu. Ingat, pastikan untuk memecah perhatiannya, jangan terlalu lama terlibat pertempuran," perintah Guzheng kepada pria berbekal luka itu.
Pria berbekal luka itu adalah orang kepercayaan Guzheng. Saat ini ia tampaknya memahami apa yang ingin dilakukan oleh Guzheng. Melihat tatapan teguh sang kepala suku, ia mengangguk mantap, lalu mengajak warga di sekitarnya untuk memancing perhatian anjing serigala itu.
"Seluruh rakyat kaum Muao, aku akan menggunakan teknik rahasia untuk menghadapi anjing serigala itu. Tolong berikan aku waktu sebanyak mungkin. Selama aku berhasil, kita masih memiliki harapan untuk hidup. Tolong bantu aku." Mengandalkan segelintir orang yang dibawa A-Tai saja tidak akan bertahan lama, maka Guzheng berseru kepada yang lainnya.
Rakyat kaum Muao lainnya, saat mendengar seruan sang kepala suku, merasa kalut. Mereka takut pada anjing serigala itu, namun mendengar masih ada harapan untuk hidup, mereka menjadi bimbang. Akhirnya, setelah pergulatan batin, beberapa orang Muao pun bangkit dan memberanikan diri maju.
Terbawa oleh suasana tersebut, semakin banyak rakyat Muao yang mengambil pedang besi mereka dan dengan tegas menuju ke arah anjing serigala. Guzheng yang melihat pemandangan ini sudah berlinang air mata karena terharu oleh tindakan rakyatnya.
Guzheng sebenarnya egois. Meskipun ia memang benar akan menggunakan teknik rahasia, teknik ini bukanlah teknik bertarung. Ia memanfaatkan kekuatan darah yang sangat tipis di dalam tubuh rakyatnya, menggunakan metode pengorbanan darah untuk membangkitkan "Kekuatan Garis Darah Leluhur" yang lemah di dalam tubuh Guli.
Guli adalah orang dengan kekuatan garis darah leluhur terkuat di antara semua anaknya. Namun, kekuatan itu tetap saja sangat lemah. Dalam kondisi normal, mustahil untuk mengaktifkannya. Jika di masa damai, Guli mungkin akan baik-baik saja meski menjadi orang biasa selamanya. Namun sekarang, kaum Muao di ambang kehancuran. Meski harus mengkhianati rakyatnya dan dicaci maki sepanjang masa, ia harus melakukan segala cara untuk melindungi Guli.
Hati Guzheng terasa seperti disayat sembilu. Ia tahu dirinya egois. Ini adalah tindakan "menyembelih ayam demi mengambil telurnya", dengan tingkat keberhasilan yang sangat rendah. Ia telah memanfaatkan kepercayaan rakyatnya. Sebagai kepala suku, ia pantas mati ribuan kali, namun ia tidak punya pilihan lain. Apa yang ia lakukan sekarang adalah mempertaruhkan satu-satunya kemungkinan yang tersisa.
Awalnya, Guli mengira ia juga akan didesak oleh Guzheng untuk melawan anjing serigala. Ia sedang berpikir bagaimana cara menolaknya, namun perkataan Guzheng selanjutnya bagaikan petir di siang bolong, membuatnya terpaku dalam keterkejutan.
"Guli, duduk bersila di depanku. Jangan takut, ingat baik-baik apa yang akan kukatakan."
Setelah Guli melakukan instruksi Guzheng dengan patuh, suara Guzheng kembali terdengar dari belakang: "Salah satu leluhur kaum Muao kita adalah seorang yang sangat perkasa. Berkat berkah leluhur itulah, setiap orang Muao memiliki 'Kekuatan Garis Darah Leluhur' yang mampu membuka potensi diri. Kekuatan inilah yang membuat kaum Muao kita menjadi seorang Pengubah Monster."
"Pengubah Monster adalah profesi khusus yang pernah sangat populer dan berjaya di daratan ini. Profesi ini jauh lebih misterius dan kuat dibanding profesi lainnya. Bisa dikatakan, mereka yang mampu menjadi Pengubah Monster, bahkan di dunia kultivasi, adalah jenius nomor satu dan memiliki bakat tingkat tertinggi."
"Sayangnya, karena suatu alasan, beberapa ratus tahun yang lalu, profesi Pengubah Monster menjadi langka di daratan ini dan hampir punah saat ini. Aku tidak tahu alasan pastinya, tapi kau harus ingat bahwa kaum Muao kita pernah menjadi garis keturunan Pengubah Monster yang kuat."
Sampai di sini, Guli bisa merasakan dengan jelas kebanggaan dan harga diri dalam nada bicara Guzheng. Ia ingin bertanya, namun dilarang oleh Guzheng dan diminta untuk terus mendengarkan dengan tenang.
"Kaum Muao pernah mengalami perubahan besar di suatu zaman. Karena perubahan itulah, kaum Muao mulai mengalami kemunduran, generasi demi generasi semakin lemah. Menurut catatan suku, sudah lebih dari lima ratus tahun tidak ada seorang pun yang bisa membangkitkan kekuatan garis darah leluhur."
"Guli, anakku, kau adalah orang yang beruntung. Pada hari kau lahir, kekuatan garis darah leluhur yang terkandung dalam dirimu adalah yang terkuat yang pernah kulihat. Saat itu, aku sangat gembira, mengira kau akan menjadi harapan baru bagi kaum Muao kita."
"Namun, pada usiamu yang kedua belas, aku pernah mencoba metode normal untuk membangkitkan kekuatan garis darah leluhur dalam dirimu. Sayangnya, aku gagal. Kau tidak bisa membangkitkan kekuatan tersebut dalam kondisi normal."
"Kini, tiga tahun telah berlalu, kau sudah berusia lima belas tahun. Jika sebelum enam belas tahun tidak bisa membangkitkannya, maka seumur hidup tidak akan bisa lagi. Jika kaum Muao tidak mengalami bencana kehancuran hari ini, mungkin kau tidak akan punya harapan selamanya."
"Hari ini, demi garis keturunan terakhir kaum Muao, Ayah terpaksa menggunakan beberapa cara khusus untuk membangkitkan kekuatan leluhur dalam dirimu. Jika masih gagal, maka memang sudah takdir kaum Muao akan musnah. Takdir tidak bisa dilawan, dan Ayah tidak punya kata-kata lagi."
"Namun, jika berhasil, berjanjilah pada Ayah untuk tetap hidup dengan baik dan terus meneruskan garis keturunan kaum Muao. Dengan begitu, meskipun Ayah harus menanggung caci maki rakyat selama-lamanya, Ayah akan tetap tersenyum di alam baka."
Kata-kata Guzheng terdengar sangat berat, bahkan Guli yang merupakan "jiwa yang melintasi waktu" pun merasa tersentuh. Meskipun ia tidak sepenuhnya memahami apa yang dimaksud Guzheng, ia bisa merasakan bahwa Guzheng sedang melakukan sesuatu yang sangat penting, jauh lebih penting daripada nyawa itu sendiri.
"Teknik Rahasia Muao: Pengorbanan Darah Memanggil Leluhur!" teriak Guzheng dengan keras. Garis-garis hitam muncul dengan cepat di tubuhnya, membentuk pola yang sulit digambarkan. Seluruh tubuhnya berubah menjadi seperti sebuah simbol rune.
Seiring dengan kemunculan simbol itu, titik cahaya sebesar butiran beras yang tidak terlihat oleh mata telanjang mulai muncul dari jenazah rakyat Muao yang tergeletak di kejauhan.
Di tengah nyanyian mantra Guzheng, titik-titik cahaya itu mulai berkumpul ke arahnya. Pada saat yang sama, di dahi Guli juga muncul beberapa pola, sebuah simbol rune versi kecil. Simbol itu berbentuk bintang segilima di dalam lingkaran, dan titik-titik cahaya tersebut mengalir masuk ke dalam tubuh Guli mengikuti simbol bintang itu.
Begitu titik-titik cahaya itu masuk ke tubuhnya, Guli kehilangan kesadaran dan membiarkan cahaya itu berputar di dalam tubuhnya. Semakin banyak rakyat Muao yang dibantai oleh anjing serigala, semakin banyak pula titik cahaya yang dipanggil. Semuanya dikumpulkan dari jenazah-jenazah kaum Muao tersebut.