Bab 98: Sulit Melepaskan
“Tidak bisa,” ujar Fu Xiaoxiao sambil menggeleng.
“Nilai semua barang ini terlalu tinggi, aku tidak bisa menerimanya,” Fu Xiaoxiao tetap pada pendiriannya.
“Kaligrafi dan lukisan itu untuk ayahmu, perhiasan untuk ibumu, sisanya baru untukmu. Kalau dijumlahkan, nilainya juga tidak seberapa,” jelas Ibu Xie dengan cepat.
“Mertua, soal Xiaoxiao mau menerima atau tidak bukan urusan saya, tapi saya dan ayahnya tidak akan menerima barang-barang itu. Kalau kami terima, orang-orang nanti mengira kami menjual anak perempuan kami!” suara Ibu Fu juga tak kalah tegas.
Menurut Ibu Fu, nanti setelah Xie Zi'an dan Fu Xiaoxiao menikah, benda-benda itu pun sudah tidak bisa dibedakan lagi milik siapa. Namun keluarga mereka tak bisa karena anaknya mendapat suami kaya lalu terang-terangan menerima barang-barang itu.
“Ya, kami tidak mau,” Ayah Fu ikut mendukung.
“Begini saja, kaligrafi dan lukisan akan aku bawa pulang lagi, barang-barang lain bisa diberikan pada Xiaoxiao, bagaimana, mertua?” Ibu Xie sedikit mengalah.
“Tanya saja pada Xiaoxiao,” Ibu Fu tak mempermasalahkan.
“Bolehkan aku hanya menerima kartu itu saja?” Fu Xiaoxiao tahu kalau menolak semuanya pasti tidak mungkin, jadi ia memilih untuk mundur sedikit.
“Xiaoxiao, terimalah,” Xie Zi'an berjalan mendekat dan berkata lembut di samping Fu Xiaoxiao.
“Bagaimana aku bisa menerima? Kau pun tahu hubungan kita…” bisik Fu Xiaoxiao pelan di telinga Xie Zi'an, memberi isyarat padanya.
“Tidak apa-apa,” Xie Zi'an mengusap kepala Fu Xiaoxiao.
“Baiklah,” akhirnya Fu Xiaoxiao mengalah.
“Ayah, kaligrafi dan lukisan ini semua adalah bentuk bakti saya sebagai calon menantu, mohon diterima,” Xie Zi'an kemudian berbalik pada Ayah Fu.
“Aku tidak mau,” Ayah Fu jelas tak bersikap sebaik Ibu Xie pada Xie Zi'an.
“Tak perlu khawatir orang lain akan mengira Anda menjual anak, selama tidak dijual ke orang lain, itu tidak jadi masalah,” Xie Zi'an terus membujuk.
“Mana ada menantu yang tidak memberi sesuatu pada ayah mertuanya, bukan?”
Ayah Fu merasa apa yang dikatakan memang masuk akal, tapi tetap saja ia tak bisa mengatasi perasaan di hatinya.
“Kalau begitu, akan aku bawa pulang dulu. Nanti, setelah aku menikah dengan Xiaoxiao, baru akan kuberikan pada Anda,” Xie Zi'an mencari cara lain karena Ayah Fu masih belum setuju.
“Nanti saja setelah kalian menikah,” suara Ayah Fu mulai melunak.
“Baik,” Xie Zi'an pun mengiyakan dengan senyuman.
Dengan begitu, urusan mengenai mas kawin pun selesai, kini waktunya memikirkan makan siang.
Ibu Fu pun berinisiatif bangkit dari sofa, hendak menyiapkan bahan untuk memasak bersama suaminya.
Xie Zi'an berdiri, mencegahnya, lalu dengan sadar dirinya masuk ke dapur. Fu Qi juga langsung disuruh ayahnya untuk ikut ke dapur membersihkan sayuran.
“Menurutmu, apa kita ini tidak diperlakukan adil? Hanya kita berdua di sini yang kerja,” tanya Fu Qi sambil memilih sayur.
“Menurutmu sendiri bagaimana?” Xie Zi'an tidak langsung menjawab, justru balik bertanya.
“Aku sih sudah biasa, di rumahku memang selalu laki-laki yang bekerja, perempuan tinggal makan,” ujar Fu Qi tanpa beban.
“Ya, aku juga tidak masalah,” jawab Xie Zi'an dengan tenang.
“Hah? Di rumahmu pasti kau tidak pernah melakukan hal-hal seperti ini kan?” Fu Qi penasaran.
“Memang tidak, di rumah ada asisten rumah tangga,” jawab Xie Zi'an jujur.
“Lalu kenapa kau juga merasa tidak keberatan?”
“Pekerjaan harus ada yang melakukannya. Kalau aku dengan Xiaoxiao, kalau aku tidak kerja ya dia yang harus kerja, aku tidak tega membiarkannya,” jelas Xie Zi'an.
Fu Qi yang mendengarnya langsung merasa iri.
“Sudahlah, jangan pamer kemesraan di depan jomblo sepertiku,” ledek Fu Qi.
“Nanti juga kau akan mengerti,” sahut Xie Zi'an sambil tersenyum.
Fu Qi hanya bisa terdiam, tak tahu harus berkata apa.