Bab 8 Keberuntungannya
Fu Xiaoxiao tidak tahu bagaimana semuanya bisa berubah menjadi seperti sekarang. Awalnya, ia bersungguh-sungguh membujuk Xie Zian agar berhenti bermain-main dengan hubungan pasangan kontrak, tapi sekarang malah berubah menjadi pernikahan kontrak?
“Kalau pernikahan palsu ini ketahuan, bagaimana?” tanya Fu Xiaoxiao.
“Tidak akan. Setelah menikah pura-pura, kita tidak akan tinggal bersama ibuku. Kau hanya perlu memerankan istri dengan baik di depan orang lain,” jawab Xie Zian.
“Lalu, kalau setelah menikah ibu menyuruhku punya anak?”
“Tenang saja, aku akan mencari ibu pengganti nanti untuk punya anak. Antara kita tidak akan ada hubungan apa pun selain pernikahan palsu ini.”
“Bagaimana dengan orang tuaku? Dan pekerjaanku?”
“Sebaiknya orang tuamu juga tidak tahu. Nanti aku akan berkunjung seperti benar-benar menikah denganmu agar tidak ketahuan. Untuk pekerjaanmu, kau masih bisa bekerja di sini. Kalau nanti kita cerai, aku bisa mengenalkan pekerjaan yang lebih baik untukmu.”
Ternyata Xie Zian sudah memikirkan segalanya, pikir Fu Xiaoxiao. “Pak Direktur, maaf jika saya lancang, kenapa Anda tidak mencari pacar sungguhan dan menikah saja?” tanya Fu Xiaoxiao dengan ragu.
Xie Zian mendengar pertanyaan itu, tidak langsung menjawab dan terdiam sejenak. Melihat Xie Zian diam saja, Fu Xiaoxiao merasa ia telah menanyakan hal yang tidak pantas, hingga menundukkan kepala. “Maaf, saya tidak seharusnya bertanya,” ujarnya.
“Tidak apa-apa. Aku juga ingin bertanya padamu. Bagaimana denganmu? Apa kau ingin menikah? Ingin hidup sederhana dan punya anak dengan pria biasa?” Xie Zian berdiri dari kursi kerjanya dan berjalan mendekat.
“Tidak, aku tidak pernah berencana menikah dan membesarkan anak bersama siapa pun,” jawab Fu Xiaoxiao tegas.
Fu Xiaoxiao teringat pada cinta rapuh kedua orang tuanya dan bagaimana ia tidak pernah merasakan sedikit pun kasih sayang mereka sejak kecil. Ia benar-benar ingin tahu, mengapa cinta bisa hilang begitu saja dari hati seseorang.
Fu Xiaoxiao tidak percaya pernikahan akan membawanya hal baik, dan ia pun tak yakin bisa menjadi ibu yang baik.
Xie Zian sedikit bingung. Ia mengira akan mendapat jawaban bahwa Fu Xiaoxiao ingin menikah. Ia ingin tahu, mengapa seseorang ingin menghabiskan hidup bersama orang lain. Namun ternyata, jawabannya justru sama dengan dirinya. Hal itu membuatnya penasaran, mengapa gadis ini juga tidak ingin menikah.
“Kebetulan, aku juga berpikir seperti itu. Tapi ibuku sangat berharap aku menemukan wanita untuk menemaniku. Jika aku tidak memenuhi keinginannya, itu benar-benar akan melukai hatinya,” kata Xie Zian sambil kembali duduk di kursinya. “Kau pun nanti akan menghadapi masalah sepertiku. Lihat, menikah kontrak dengan aku seperti sekali mengayuh dua tiga pulau terlampaui. Tentu saja, kau bisa mempertimbangkannya.”
Fu Xiaoxiao memikirkan ucapan Xie Zian. Ia memang belum bisa langsung memutuskan. Ia harus mempertimbangkan perasaan orang tuanya saat ini. “Baik, saya akan mempertimbangkannya dengan sungguh-sungguh, Pak Direktur,” ujarnya.
Usai berkata demikian, Fu Xiaoxiao bersiap keluar. Saat hampir sampai di pintu, ia mendengar suara dari belakang, “Kenapa kau tidak ingin menikah?”
Fu Xiaoxiao tidak tahu harus menjawab apa. Ia tahu, karena orang tua kandungnya sendirilah ia menyadari cinta bisa menjadi kuburan bagi pernikahan. Ia memang melihat banyak pasangan yang bahagia, tapi ia tidak merasa dirinya akan seberuntung itu.
“Entahlah,” jawab Fu Xiaoxiao lirih, lalu membuka pintu dan keluar. Saat menutup pintu, ia sempat membungkuk kecil kepada Xie Zian.
_
Waktu berlalu, hari Sabtu pun tiba. Minggu ini hubungan Fu Xiaoxiao dan Xie Zian berjalan cukup baik. Xie Zian tidak lagi menekannya dengan tatapan seperti pertama kali, dan tidak mendesaknya untuk mengambil keputusan. Sepertinya ia benar-benar ingin Fu Xiaoxiao memutuskan sendiri.
Semalam, Fu Xiaoxiao sudah menelepon ayah dan ibunya, memberitahu bahwa ia akan pulang besok dan ada hal penting yang ingin dibicarakan.
Ayah dan ibu Fu mendengar suara Fu Xiaoxiao yang serius di telepon, khawatir terjadi sesuatu hingga mereka sulit tidur semalaman.
Fu Xiaoxiao tiba di rumah sebelum makan siang. Ibunya menanyakan apakah ia sudah sarapan, namun hati Fu Xiaoxiao sedang tidak tenang. Ia hanya ingin tahu bagaimana sikap orang tuanya jika ia tidak mau menikah.
“Ayah, Ibu, duduklah. Aku ada sesuatu yang ingin kubicarakan,” kata Fu Xiaoxiao. Setelah beberapa hari ini bersama orang tuanya, ia sudah bisa menerima kehangatan keluarga ini.
“Katakan saja, tidak apa-apa. Apapun itu, Ayah pasti membantumu,” jawab ayahnya.
Saat itu, pintu salah satu kamar terbuka dari dalam. “Ayah, Ibu, Kakak, pagi-pagi begini kalian ngapain?” tanya Fu Qi yang baru saja bangun.
“Dasar kamu ini, sudah jam segini masih bilang pagi,” omel ayahnya. “Ini bukan urusanmu, sana pergi,” lanjutnya.
Ayah Fu kini hanya fokus pada apa yang akan dikatakan putrinya.
“Kebetulan, Fu Qi, duduklah. Aku ingin bertanya pada kalian semua,” ujar Fu Xiaoxiao pada adiknya. Ayahnya pun tidak menolak permintaan itu.
“Hari ini aku ingin tahu, bagaimana pendapat Ayah dan Ibu jika aku nanti tidak menikah?” tanya Fu Xiaoxiao pada mereka bertiga.
“Apa? Tidak menikah? Kenapa, Xiaoxiao?” tanya ibunya agak emosional.
“Aku memang tidak ingin menikah,” jawab Fu Xiaoxiao, bingung harus menjelaskan bagaimana.
Ayahnya melihat putrinya berbicara dan menatap dengan tegas. Ia khawatir istrinya akan bertengkar dengan anak mereka, maka ia berkata, “Xiaoxiao, kamu masih muda, tidak perlu terlalu memikirkan ini sekarang. Masalah ini bisa ditunda beberapa tahun lagi.”
Mendengar jawaban ayah dan ibunya, Fu Xiaoxiao tahu mereka kurang setuju jika ia tidak menikah.
Saat ia menoleh, dilihatnya Fu Qi sedang menatapnya. Lalu Fu Qi berkata, “Tidak menikah juga tidak apa-apa, nanti aku yang akan menafkahimu, Kak.”
Fu Xiaoxiao sangat terharu. Tak disangka adiknya yang pertama kali mendukungnya, bahkan rela menanggung hidupnya. Air mata memenuhi matanya, matanya pun memerah.
Ayah dan ibunya melihat putri mereka seperti itu, merasa sangat sedih.
“Kami tidak ingin memaksamu. Kami hanya khawatir kau akan kesepian nanti. Hidup semakin sulit, dan jika kami sudah tiada, bagaimana nanti denganmu? Kami berharap ada seseorang yang bisa menggantikan kami, mencintai dan merawatmu,” kata ayahnya lembut, sementara ibunya sudah menangis dan mengangguk setuju.
“Kamu masih muda, tidak perlu buru-buru mengambil keputusan, kan? Nanti kita jalani saja pelan-pelan. Cobalah mengenal lebih banyak orang. Kalau memang tidak bisa, aku dan ibumu akan berusaha hidup lebih lama, menabung lebih banyak, supaya hidupmu nanti lebih baik,” ujar ayahnya dengan nada memohon.
Saat itu, Fu Xiaoxiao dan ibunya sudah menangis bersama. Fu Qi merasa dirinya diabaikan, jadi ia berkata, “Bukankah masih ada aku? Aku akan jaga Kakak nanti.” Lalu ia memeluk Fu Xiaoxiao.
Jika sebelumnya Fu Xiaoxiao baru bisa merasakan kasih sayang orang tuanya, kini ia merasa seluruh keberuntungannya sudah habis dipakai untuk masuk ke dunia cerita ini. Dengan keluarga seperti ini, ia benar-benar merasa sangat beruntung dan bahagia.
Fu Xiaoxiao memutuskan, ia tidak boleh membuat ayah dan ibunya terus-menerus khawatir. Ia pun memutuskan akan menerima pernikahan kontrak dengan Xie Zian.