Bab 18: Kelanjutan Setelah Pengunduran Diri
Pada hari Kamis minggu lalu, setelah menerima perintah, Departemen SDM segera mengunggah informasi lowongan ke internet. Senin, setelah tiga hari berlalu, mereka sudah menerima cukup banyak lamaran. Terlebih lagi, mereka yang selama ini ingin mendekati Xie Zi'an semakin bersemangat ketika mendengar bahwa Grup Yuanfeng membuka lowongan untuk posisi sekretaris presiden, sehingga jumlah lamaran yang masuk membanjiri departemen SDM.
Tentu saja, persyaratan rekrutmen sangat ketat. Bagaimanapun, ini adalah posisi sekretaris presiden. Sebagian pelamar yang berniat mencari celah langsung tereliminasi pada tahap penyaringan otomatis pertama. Setelah serangkaian tes tulis dan wawancara, akhirnya seorang pria berhasil mendapatkan tawaran kerja. Hari itu, Lin Haoyu membawa sekretaris pria baru tersebut untuk bertemu Fu Xiaoxiao, agar ia bisa melakukan serah terima tugas.
“Haoyu, kenapa yang diterima sekretaris pria, ya? Bukannya seharusnya perempuan lebih teliti?” tanya Fu Xiaoxiao penasaran.
“Itu memang syarat yang presiden minta sejak awal. Kamu mungkin belum tahu, dulu ada beberapa sekretaris perempuan yang nekat mencoba mendekati presiden demi naik jabatan, membuat presiden sangat kesal. Makanya beliau memutuskan hanya akan menerima sekretaris pria mulai sekarang,” bisik Lin Haoyu kepada Fu Xiaoxiao.
“Lalu aku bagaimana?” tanya Fu Xiaoxiao.
“Oh, kamu pengecualian. Awalnya kamu kan asistennya aku, bukan sekretaris presiden. Waktu itu presiden baru saja memecat sekretaris, sementara aku sedang dinas luar, jadi kamu yang mengisi posisi sekretaris. Lagipula selama ini kamu tetap bertahan karena niatmu memang murni,” jelas Lin Haoyu.
“Begitu ya,” Fu Xiaoxiao akhirnya mengerti, dirinya dipertahankan justru karena tidak berminat mencari keuntungan dari jabatan itu.
Setelah itu, Fu Xiaoxiao butuh waktu seminggu untuk serah terima tugas. Bukan karena beban kerjanya banyak, melainkan ada beberapa hal yang memang harus diajarkan kepada sekretaris baru, seperti cara menyeduh kopi kesukaan presiden, di mana biasanya memesan makanan favorit presiden, atau lokasi tempat presiden sering menghadiri acara bisnis dan sebagainya. Bagaimanapun, pekerjaan sekretaris memang membutuhkan ketelitian.
Usai serah terima pekerjaan, akhirnya Fu Xiaoxiao tak perlu lagi bekerja di Grup Yuanfeng. Ia mengemas pakaian dan peralatan perawatan kulit yang sering dipakainya, lalu kembali tinggal di rumah keluarga Fu.
Pagi itu, Fu Xiaoxiao bangun sesuai jam biologisnya. Usai membersihkan diri di kamar mandi dalam kamar, ia keluar dan mendapati Ayah dan Ibunya sedang sarapan. “Pagi, Ayah, Ibu,” sapa Fu Xiaoxiao sambil menguap dan berjalan ke meja makan.
“Xiaoxiao, cepat sarapan,” kata Ibu sambil menyendokkan semangkuk bubur untuknya.
“Xiaoxiao, hari ini ada rencana apa? Mau ikut Ayah ke kampus?” tanya Ayah yang memang sudah lama ingin putrinya melihat bagaimana dirinya bekerja. Dulu keinginan itu tak kesampaian karena kampus pilihan Xiaoxiao berbeda dengan tempat Ayahnya mengajar. Kini, kesempatan itu akhirnya datang.
“Mau saja, tapi apakah aku boleh ikut, Yah? Tak mengganggu kuliahmu?” tanya Xiaoxiao.
“Tidak, hari ini kamu bisa jadi asisten Ayah sementara.”
Ayah Xiaoxiao mengajar di salah satu universitas terbaik di negeri itu, dengan lingkungan kampus yang indah dan suasana belajar yang kental. Saat berjalan bersama Ayah di kampus, Xiaoxiao mendadak merindukan masa-masa kuliah. “Wah, jadi kangen masa kuliah, ya. Tak perlu bangun pagi untuk kerja,” gumamnya.
Mendengar putrinya berkata demikian, Ayahnya tersenyum. “Sekarang kamu kan sudah berhenti kerja, mau lanjut belajar lagi? Coba ambil S2?”
“Ah, tidak, deh. Tak ingin ikut ujian lagi,” jawab Xiaoxiao.
Ayahnya tak memaksa, karena bagi beliau keinginan putrinya yang utama.
Setibanya di kelas, Xiaoxiao memilih duduk di sudut. Mengingat Ayahnya mengajar matematika, ia memang kurang berminat, jadi ia memilih tempat yang tak mengganggu siapa pun.
Baru saja duduk, Xiaoxiao merasakan seseorang duduk di sampingnya. Ia menoleh dan ternyata itu Li Han.
“Kamu kenapa ke sini hari ini? Tak kerja?” tanya Li Han.
“Aku baru saja resign, jadi hari ini ikut Ayah ke kampus. Hehe,” jawab Xiaoxiao sambil tersenyum.
“Resign?”
“Iya, ingin cari suasana baru saja.”
Li Han tampak senang. Selama ini Xiaoxiao terlalu sibuk sehingga mereka jarang bertemu, apalagi ia tahu ada atasan Xiaoxiao yang sikapnya tidak jelas, hal itu menjadi kekhawatiran besar baginya.
“Iya, lebih baik banyak mencoba, kan? Setelah kelas, mau makan siang bareng? Sore kita jalan-jalan?” tanya Li Han dengan nada lembut.
“Mau, kebetulan siang ini belum ada rencana,” jawab Xiaoxiao.
Satu setengah jam kemudian, Xiaoxiao dan Li Han berpamitan pada Ayah lalu pergi makan bersama.