Bab 36: Kencan
Setelah membeli hadiah, mereka berjalan-jalan bersama di pusat perbelanjaan.
Sebenarnya, Fu Xiaoxiao sudah menyuruh Xie Zi'an untuk mengurus urusannya sendiri dan tak perlu menemaninya berkeliling. Namun, Xie Zi'an bilang ia sedang senggang dan bersikeras ingin berjalan-jalan bersama Fu Xiaoxiao.
Fu Xiaoxiao memang tidak berniat membeli baju atau barang lain, ia dan Li Duo hanya janjian untuk mengisi waktu dengan berjalan-jalan. Namun, ia merasa agak canggung jika terus menyeret Xie Zi'an berkeliling tanpa tujuan, sehingga akhirnya mereka memutuskan untuk menonton film bersama.
Mereka memilih film animasi lokal yang baru dirilis dan sedang sangat populer berjudul “Nezha”. Fu Xiaoxiao sudah menonton cuplikannya sebelumnya dan cukup tertarik dengan film itu.
Setelah menonton film, mereka makan hidangan Barat di restoran yang sama seperti yang dikunjungi Xie Zi'an dan Xu Chenyang saat makan siang. Steak di sana sangat enak, dan Xie Zi'an ingin Fu Xiaoxiao mencobanya.
Selesai makan, Xie Zi'an mengantarkan Fu Xiaoxiao pulang.
Sebelum turun dari mobil, Fu Xiaoxiao sempat terdiam saat membuka sabuk pengamannya, lalu ia tidak langsung keluar, malah berbalik menatap Xie Zi'an.
“Eh, aku baru sadar akhir-akhir ini kita benar-benar bertemu setiap hari, persis seperti pasangan sungguhan, tiap hari kencan,” ucap Fu Xiaoxiao sambil menatap Xie Zi'an.
“Iya,” jawab Xie Zi'an lembut sambil tersenyum.
Xie Zi'an teringat kebersamaannya dengan Fu Xiaoxiao akhir-akhir ini, hatinya terasa manis seperti minum madu.
“Hahaha, kita benar-benar total dalam menjalani peran ini ya,” kata Fu Xiaoxiao sambil tertawa.
Xie Zi'an hanya bisa terdiam... Sepertinya ia tak akan pernah lupa bahwa di antara mereka hanya ada sandiwara.
“Hmm,” Xie Zi'an menjawab samar.
“Oh iya, besok jangan lupa datang makan malam,” pesan Fu Xiaoxiao sebelum membuka pintu mobil.
“Baik.”
Setelah berpamitan, Fu Xiaoxiao langsung naik ke atas. Sementara itu, Xie Zi'an duduk termenung di dalam mobil.
Walaupun akhir-akhir ini Fu Xiaoxiao terlihat lebih dekat kepadanya, tapi batas di antara mereka tetap jelas. Fu Xiaoxiao sangat tahu menempatkan diri, ia selalu mengingat hubungan kontrak antara mereka. Hal itu membuat Xie Zi'an cukup frustrasi.
Setelah berpikir sejenak, Xie Zi'an pun mengendarai mobilnya meninggalkan kompleks apartemen Fu Xiaoxiao.
_
Hari Minggu.
Pagi ini, setelah sarapan, Fu Xiaoxiao mulai memikirkan masakan apa yang akan dibuat untuk Xie Zi'an malam nanti.
Namun, ia sadar dirinya sama sekali tidak tahu makanan kesukaan Xie Zi'an, jadi ia sulit memutuskan. Menurutnya, bertanya langsung pada orangnya terasa kurang tulus, sehingga ia memutuskan untuk mencari bantuan dari luar.
Akhirnya, ia menelepon Ibu Xie.
“Tante, apa makanan kesukaan Zi'an?”
“Zi'an ya, dia suka iga babi asam manis...” Ibu Xie pun menyebutkan semua makanan favorit Xie Zi'an kepada Fu Xiaoxiao.
“Baik, aku mengerti. Terima kasih, Tante,” ucap Fu Xiaoxiao sambil tersenyum.
“Tidak usah berterima kasih, kita ini keluarga, tak perlu sungkan.”
“Kamu menanyakan kesukaan Zi'an, apa mau memasakkan untuknya?” tanya Ibu Xie penasaran.
Belakangan ini, Ibu Xie memang sengaja menahan diri untuk tidak mengajak Fu Xiaoxiao jalan-jalan, karena tahu putranya sedang berusaha mendekatkan diri dengan Fu Xiaoxiao. Ia takut mengganggu waktu mereka bersama.
“Benar,” jawab Fu Xiaoxiao dengan jujur.
Mungkin karena ia memang tidak menyukai Xie Zi'an, Fu Xiaoxiao tidak merasa malu atau canggung seperti halnya seorang pacar yang memasak untuk kekasihnya lalu ketahuan oleh ibu sang kekasih.
Setelah itu, Fu Xiaoxiao dan Ibu Xie masih mengobrol cukup lama sebelum menutup telepon.
Selesai menelepon, Ibu Xie meletakkan ponselnya dan berkata ke belakang, “Bibi Li, sepertinya aku akan segera menjadi mertua, hahaha.”
Sementara itu, Fu Xiaoxiao sedang menulis menu makan malam di sebuah buku catatan, beserta daftar bahan-bahan yang harus disiapkan.