Bab 28 Aliansi Sahabat Makan Didirikan
Setelah makan, Xie Zi'an membantu Fu Xiaoxiao mencuci piring. Andai saja Ibu Xie melihat pemandangan ini, mungkin ia akan terkejut dan berseru bahwa putranya akhirnya mengerti juga. Sementara itu, Fu Xiaoxiao pun tidak menolak. Setelah berinteraksi seharian ini, Fu Xiaoxiao sudah menganggap Xie Zi'an sebagai teman, bahkan teman yang mudah diajak bergaul.
Usai mencuci piring, Xie Zi'an bersiap untuk pergi.
"Tunggu sebentar, aku ikut turun bersamamu," kata Fu Xiaoxiao sambil mengambil tasnya.
"Hmm? Kau mau ke mana?" tanya Xie Zi'an, melihat Fu Xiaoxiao mengambil tas. Ia tahu gadis itu hendak keluar, tapi hari sudah gelap sehingga ia merasa sedikit khawatir.
"Aku mau ke sebuah studio lukis di dekat sini," jawab Fu Xiaoxiao. "Sekarang juga belum terlalu malam, seharusnya mereka belum tutup."
"Studio lukis? Kau mau beli lukisan?" tanya Xie Zi'an, sambil mengambil tas Fu Xiaoxiao agar gadis itu lebih mudah memakai sepatunya.
"Bukan, aku ingin belajar melukis." Karena dalam pandangan Fu Xiaoxiao, Xie Zi'an kini sudah menjadi temannya, ia pun menjawab dengan jujur.
"Oh, kau berencana belajar di akhir pekan atau setelah pulang kerja?" Xie Zi'an ingin tahu jadwal Fu Xiaoxiao, supaya mudah mengunjunginya nanti.
"Aku rencananya mulai belajar setelah pulang kerja dulu, nanti lihat perkembangannya, baru aku putuskan apakah akan ikut kelas akhir pekan juga," jawab Fu Xiaoxiao sambil menutup pintu, membelakangi Xie Zi'an.
Awalnya, Fu Xiaoxiao hanya berniat keluar bersama Xie Zi'an. Namun, Xie Zi'an bersikeras menemaninya, sehingga akhirnya mereka pergi ke studio lukis bersama.
Fu Xiaoxiao bertanya-tanya tentang studio itu, menanyakan apakah ia bisa belajar melukis di malam hari. Setelah mendapat jawaban positif, ia langsung mendaftar. Kebetulan, guru kelas malam juga baru tiba di kantor, sehingga staf studio mengenalkan mereka satu sama lain.
Alasan Xie Zi'an menemaninya sebenarnya karena khawatir Fu Xiaoxiao keluar sendirian di malam hari. Kini, melihat guru tampan yang akan mengajar Fu Xiaoxiao, Xie Zi'an merasa tidak sia-sia ikut datang. Saat mereka saling berkenalan, Xie Zi'an berdiri persis di belakang Fu Xiaoxiao, sangat dekat dengannya.
Setelah perkenalan, Xie Zi'an berkata, "Halo, aku pacarnya Xiaoxiao. Mohon bantuannya nanti."
Guru tampan itu dalam hati bertanya-tanya: Ada apa dengan pria ini? Kenapa dia tiba-tiba menunjukkan sikap bermusuhan? Seolah-olah aku ingin merebut pacarnya saja.
"Hehe, tidak masalah, tidak masalah," jawab guru itu dengan senyum agak kaku.
Setelah itu, Fu Xiaoxiao meminta Xie Zi'an langsung pulang, tapi Xie Zi'an tetap ingin mengantar Fu Xiaoxiao sampai ke rumah. Melihat keteguhannya, Fu Xiaoxiao pun tak bisa menolak dan akhirnya diantar sampai ke bawah apartemen.
"Terima kasih banyak sudah mengantarku pulang," kata Fu Xiaoxiao dengan tulus.
Fu Xiaoxiao berpikir, meski Xie Zi'an sangat baik, ia tidak bisa terus-terusan menerima bantuan begitu saja. Mengucapkan terima kasih adalah hal yang wajar.
"Tidak usah terlalu formal," jawab Xie Zi'an dengan lembut.
"Nanti kalau aku ada waktu, aku traktir makan, ya," kata Fu Xiaoxiao.
"Baik, tapi lain kali lebih baik kita makan di luar bersama saja. Terlalu sering masak di rumah tidak baik untuk kulit," jawab Xie Zi'an, teringat ucapan ibunya.
"Wah, kau tahu juga soal itu?" Fu Xiaoxiao agak terkejut, mengira seorang direktur seperti Xie Zi'an tidak akan tahu hal seperti ini.
"Iya, aku dengar dari ibuku," jawabnya.
"Jadi, ke depannya benar-benar harus makan siang dan malam bersama?"
"Tentu saja. Kalau tidak, ibuku pasti akan menelpon dan memarahiku, bilang aku pacar yang tidak bertanggung jawab," ujar Xie Zi'an, setengah bercanda.
"Bolehkah nanti kita patungan saja?" tanya Fu Xiaoxiao, merasa tidak enak jika selalu ditraktir Xie Zi'an.
"Tidak bisa," Xie Zi'an menolak tegas.
"Benar juga, kalau orang lain tahu, nanti bisa merusak reputasimu, ya? Bagaimana kalau aku langsung transfer uang ke kartumu saja?" Fu Xiaoxiao berusaha mencari solusi soal biaya makan.
"Itu juga tidak bagus. Tapi, sesekali kau boleh memasakkan aku makanan, atau sering-sering makan di rumahku," Xie Zi'an mengajukan usulan.
"Baiklah, berarti aku harus lembur ekstra untuk membayar makan, ya," kata Fu Xiaoxiao, mengira Xie Zi'an menolak demi menjaga harga dirinya.
"Lembur ekstra?" Xie Zi'an bingung dengan maksudnya.
"Iya, sering-sering pura-pura jadi pasanganmu itu juga dianggap lembur, kan," jawab Fu Xiaoxiao dengan nada santai. "Sudah, kita sepakat seperti itu saja. Aku naik ke atas dulu. Hati-hati di jalan, ya."
Mendengar penjelasan Fu Xiaoxiao, wajah Xie Zi'an sedikit berubah. Dalam hati, ia berpikir bahwa ia harus berusaha lebih keras lagi ke depannya.