Bab 57 Memicu Perdebatan
"Kalau begitu, sekarang kita juga keluar makan, ya?" tanya Xie Zi'an dengan suara lembut.
"Kira-kira jam berapa Ibu makan siang?" Fu Xiaoxiao tidak langsung menjawab, malah balik bertanya.
"Jam setengah dua belas, sepertinya sebentar lagi waktunya makan," kata Xie Zi'an setelah melihat jam tangannya.
"Kalau begitu, setelah makan, kita langsung jemput Ibu untuk ke rumah sakit periksa, boleh?" Fu Xiaoxiao menatap Xie Zi'an dengan wajah serius.
"Boleh. Jangan terlalu tegang, tidak apa-apa. Ibuku selalu sehat kok," ujar Xie Zi'an, merasa Fu Xiaoxiao sangat tegang sehingga ia mencoba menenangkannya.
Namun, kata-kata itu sama sekali tidak bisa menenangkan Fu Xiaoxiao, karena ia tahu ibu Xie pasti akan kena penyakit itu, hanya saja ia tidak tahu kapan tepatnya semuanya dimulai.
"Kamu mau makan apa?" Xie Zi'an mencoba mengalihkan perhatian Fu Xiaoxiao.
"Kita makan di kantin saja, ya?" Fu Xiaoxiao tidak ingin buang waktu keluar, ia ingin segera menjemput ibu Xie ke rumah sakit.
"Baik," jawab Xie Zi'an, lalu mengambil jaketnya, mengenakannya, menggandeng tangan Fu Xiaoxiao dan berjalan keluar kantor menuju kantin.
Waktu itu belum waktunya istirahat makan siang, jadi kantin masih sepi, sehingga Fu Xiaoxiao dan Xie Zi'an bisa makan dengan tenang.
"Mau makan apa?" tanya Xie Zi'an setelah mempersilakan Fu Xiaoxiao duduk.
"Aku tidak terlalu lapar, kamu pilih saja apa saja untukku," jawab Fu Xiaoxiao yang benar-benar cemas pada ibu Xie.
"Baik," ucap Xie Zi'an, yang bisa melihat bahwa Fu Xiaoxiao tidak akan tenang sebelum menerima hasil pemeriksaan kesehatan.
Ia membelikan seporsi mi pedas kesukaan Fu Xiaoxiao, juga sedikit sup. Untuk dirinya sendiri, ia mengambil nasi dan lauk.
Xie Zi'an berpikir, kalau Fu Xiaoxiao tidak ingin makan mi, ia masih bisa makan nasinya.
"Nih, makanlah," ucap Xie Zi'an sambil meletakkan seporsi mi di depan Fu Xiaoxiao.
Fu Xiaoxiao melihat mi itu, lalu tanpa berkata apa-apa langsung mengambil sumpit dan mulai makan.
Sementara itu, tanpa mereka sadari, grup karyawan di Perusahaan Yuang Feng sudah sangat ramai.
"Eh, tadi aku lihat Presiden Direktur di lobi bawah, sepertinya sedang menunggu seseorang, kalian lihat nggak?"
"Iya, aku lihat. Siapa ya? Kok sampai Presiden Direktur harus menunggu?"
"Kalian pasti nggak akan menyangka siapa yang sedang ditunggu," ujar salah satu resepsionis.
"Siapa tuh?"
"Penasaran +1"
"+2"
"Pacar Presiden Direktur!!!" seorang resepsionis lain membocorkan.
"Astaga, pacar yang aku tahu itu?"
"Iya, benar!"
Karena ada larangan keras membicarakan soal Fu Xiaoxiao, mereka tidak menyebutkan namanya secara langsung.
"Mereka sekarang makan di kantin!" ujar salah satu pegawai yang tadinya ingin curi waktu turun lebih awal untuk makan siang, tapi malah melihat mereka.
"Kenapa Presiden Direktur nggak bawa dia makan ke luar, ya?"
"Mmm... jangan-jangan calon nyonya besar kita kangen makanan kantin?" tebak seseorang.
"Mana mungkin."
"Aku malah rasa itu mungkin saja, soalnya makanan kantin kita memang enak," timpal yang lain.
"Iya, aku juga suka banget sama bihun pedas di kantin kita, kalau nggak makan suka kangen juga," kata seorang karyawan perempuan.
Setelah mendengar itu, kebanyakan jadi percaya. Ceritanya pun berubah: Fu Xiaoxiao ingin makan sesuatu di kantin kantor, lalu menelepon Xie Zi'an, dan Xie Zi'an pun menjemputnya untuk makan di sana.
"Oh iya, aku belakangan ini merasa Presiden Direktur agak aneh. Sudah empat hari berturut-turut pakai manset yang sama," kata seseorang menjelang akhir percakapan.
"Serius? Aku belum pernah lihat dia pakai barang yang sama dua kali dalam seminggu."
"Aku juga sadar soal itu."
"Jangan-jangan mansetnya mahal banget?" seseorang menebak.
"Mana mungkin? Presiden Direktur kan kaya banget," yang lain membantah.
"Aku rasa bukan karena barangnya mahal, tapi karena yang ngasih itu orang penting," seorang wanita menebak dengan jitu.
"Pacarnya yang kasih ya?" tanya seseorang.
"Sepertinya begitu," yang lain setuju.
Lin Haoyu yang diperintahkan untuk memantau obrolan di grup, membaca semua komentar itu dengan perasaan bangga seolah-olah telah mengetahui rahasia besar.