Bab 43: Identitas "Pacar" Terungkap
Baru saja Fu Xiaoxiao selesai makan hotpot dan keluar dari restoran, ia menerima telepon dari Li Duo.
“Halo, Duo Duo, ada apa?” tanya Fu Xiaoxiao dengan rasa penasaran, sebab biasanya Li Duo tidak akan menelepon di jam seperti ini.
“Xiaoxiao, ada masalah. Identitas pacarmu sudah diketahui semua orang di kantor,” ujar Li Duo dengan nada cemas.
Tadi, begitu Li Duo selesai makan dan kembali ke kantor, rekan-rekannya langsung menariknya untuk menanyakan tentang pacar Fu Xiaoxiao, karena hubungan mereka memang dekat. Mereka semua ingin tahu apakah benar pacar Fu Xiaoxiao adalah Presiden Grup Yuanfeng.
Karena Li Duo sudah berjanji pada Fu Xiaoxiao untuk tidak mengatakan apa pun, ia hanya menjawab tidak tahu. Setelah itu, ia berpura-pura ke toilet untuk menelepon dan memberitahu Fu Xiaoxiao, khawatir jika nanti temannya itu kembali dan tidak tahu harus menghadapi situasi seperti itu.
“Ha? Bagaimana mereka bisa tahu? Duo Duo, maksudku bukan menuduh kamu yang membocorkan, aku hanya ingin tahu dari mana mereka mengetahuinya,” jelas Fu Xiaoxiao, takut Li Duo salah paham.
“Aku tahu kok. Sepertinya tadi, pegawai yang dipecat itu yang memberi tahu orang lain, lalu tersebar ke semua orang. Nanti kamu bagaimana? Mereka pasti akan mengepung dan menanyaimu,” Li Duo terdengar khawatir.
“Tidak apa-apa, yang harus datang pasti akan datang,” hibur Fu Xiaoxiao.
Setelah berbicara sebentar lagi, mereka pun menutup telepon.
Xie Zi'an yang berdiri di samping Fu Xiaoxiao sejak awal melihat ada yang tidak beres, tapi ia tidak ingin mengganggu saat Fu Xiaoxiao menelepon, jadi hanya diam menunggu.
“Ada apa?” tanya Xie Zi'an dengan nada perhatian.
“Orang-orang di kantorku tahu kalau aku pacarmu,” jawab Fu Xiaoxiao, memasukkan ponselnya ke dalam tas, terdengar putus asa.
“Apa itu akan sangat merepotkan?” tanya Xie Zi'an dengan suara agak murung.
Xie Zi'an tahu Fu Xiaoxiao tidak menyukainya, dan situasi ini pasti membuatnya canggung, sebab alasannya pun pernah Fu Xiaoxiao ucapkan langsung padanya. Xie Zi'an merasa sedih karena Fu Xiaoxiao harus terganggu hanya karena menjadi pacarnya. Ia berharap suatu hari nanti, hal ini bisa membuat Fu Xiaoxiao bahagia dan benar-benar mau bersamanya.
Fu Xiaoxiao mengira Xie Zi'an merasa bersalah karena telah membuatnya kerepotan, maka ia berusaha menenangkannya. “Tidak apa-apa, justru sekarang mereka juga tidak akan berani menggangguku.”
“Ada yang mengganggumu?” tanya Xie Zi'an, mengira Fu Xiaoxiao baru saja diperlakukan tidak baik.
“Tidak, maksudku sekarang mereka tidak akan memperlakukanku seenaknya, kejadian seperti terakhir kali tidak akan terulang lagi,” jelas Fu Xiaoxiao.
“Benar, tidak ada yang boleh mengganggumu,” ujar Xie Zi'an sambil mengelus kepala Fu Xiaoxiao dengan senyum.
“Menurutmu, bagaimana pegawai yang dipecat itu bisa tahu tentang ini?” Fu Xiaoxiao penasaran, karena seharusnya rekan perempuan itu tidak punya akses untuk tahu urusan seperti ini.
“Aku akan suruh Asisten Lin untuk menyelidikinya,” kata Xie Zi'an. Setelah itu, ia langsung menelepon Lin Haoyu dan menjelaskan situasinya, memintanya untuk mencari tahu.
Tak lama setelah mobil berjalan, Xie Zi'an menerima telepon dari Lin Haoyu.
“Presiden, semuanya sudah jelas. Kepala bagian tempat Nona Fu bekerja menyinggung soal itu saat memecat pegawai tersebut, lalu memberitahukannya padanya,” jawab Lin Haoyu singkat, menceritakan apa yang baru saja ia dapatkan dari Presiden di perusahaan Fu Xiaoxiao.
“Manajer Liu?” Karena telepon tersambung ke speaker mobil, Fu Xiaoxiao juga mendengarnya.
“Benar. Katanya karena sudah lama jadi rekan kerja, jadi ia merasa iba,” jawab Lin Haoyu tanpa ragu.
“Baiklah, aku mengerti,” ucap Xie Zi'an, lalu menutup telepon.
“Perlu kah Manajer Liu diberi sanksi?” tanya Xie Zi'an.
Sebenarnya, Xie Zi'an cukup senang identitas Fu Xiaoxiao diketahui semua orang. Dengan begini, tidak ada lagi yang berani mendekatinya, sehingga ia bisa lebih dekat dengan Fu Xiaoxiao. Tapi karena khawatir Fu Xiaoxiao tidak suka, ia tetap bertanya pendapatnya.
“Tidak usah, dia juga tidak sengaja. Lagi pula, kalau dipikir-pikir, hal ini memang tidak akan bisa disembunyikan lama-lama.”
Fu Xiaoxiao paham, dengan popularitas Grup Yuanfeng dan juga nama besar Xie Zi'an, cepat atau lambat orang-orang pasti akan tahu ia adalah “pacar” Presiden Grup Yuanfeng, Xie Zi'an. Hanya saja, ia tidak menyangka waktunya akan secepat ini.
“Kalau kamu sudah tahu, kenapa dulu tetap ingin resign?” tanya Xie Zi'an.
“Itu beda. Di perusahaanmu, mereka pasti akan selalu menganggap aku calon nyonya besar, sementara di perusahaan kecil ini, mereka hanya sekadar kagum saja. Lagi pula, aku juga ingin sedikit lebih santai.”
Pekerjaan sekretaris memang tidak sedikit, apalagi sekretaris presiden perusahaan besar seperti itu.
“Asalkan kamu bahagia,” kata Xie Zi'an sambil tersenyum.