Bab Sembilan Puluh Satu: Tangan Besi Liu
Setelah mencari cukup lama, Zhou He tetap tidak menemukan siapa sebenarnya Liu Tieshou itu.
“Sudahlah, tak perlu dipikirkan lagi. Sepertinya dia hanya tokoh dunia persilatan kelas tiga yang tak dikenal,” gumamnya.
Karena tak bisa menemukan informasi, Zhou He pun berhenti mencari. Bagaimanapun juga, tugasnya hanyalah menyelesaikan pesanan.
Ia melirik jam di dinding, ternyata sudah lewat pukul sepuluh malam. Segera ia membuka aplikasi video Qiqe dan mencari serial Pendekar Rajawali Sakti.
Zhou He malas menonton semuanya, ia hanya memilih episode turnamen para pahlawan dan menontonnya dengan kecepatan dipercepat.
Hingga pukul sebelas tiga puluh malam, baru ia selesai menonton. Ia pun bergegas mencuci muka, kemudian mandi, barulah mengemudikan mobil keluar rumah.
Tujuannya tetap seperti biasa—jalan buntu di tengah pegunungan.
[Selamat datang di layanan navigasi Pengantar Barang. Destinasi kali ini: dunia Pendekar Rajawali Sakti, Kabupaten Yongxing, penjara kantor pemerintahan daerah.]
[Perhatian: dalam lima detik, lorong ruang-waktu akan dibuka. Mohon pengemudi bersiap-siap.]
[5, 4…1, lorong ruang-waktu telah dibuka. Silakan segera masuk.]
…
Di dunia Pendekar Rajawali Sakti, di penjara kantor pemerintahan Kabupaten Yongxing.
Penjaga penjara, Liu Dagou, membawa sepiring kecil asinan dan dua buah mantou putih besar. Ia berjalan ke depan salah satu sel, lalu meletakkan makanan itu di lantai.
“Liu Tieshou, waktunya makan.”
“Aku datang, aku datang!” Liu Tieshou yang sedang tidur langsung terbangun, memanggil-manggil dan bergegas merangkak mendekat.
“Bisakah aku keluar sekarang? Aku benar-benar tak sempat ke turnamen para pahlawan!” Liu Tieshou memegang celana Liu Dagou, teman sekampungnya.
“Tieshou, aku sudah bilang, kalau kau hanya pergi ke rumah hiburan Zui Chun Lou saja sih tak apa, tapi kenapa harus mengejar wanita yang diincar pejabat daerah? Mana bisa kau keluar sekarang?” ujar Liu Dagou.
“Pejabat daerah itu masih memaafkanmu karena dulu kau berhasil mengusir perampok gunung, jadi kau hanya dipenjara sebulan. Tinggal dua puluh hari lagi, sabarlah.”
“Lagipula, meski kau keluar sekarang, tetap tak akan sempat. Dari sini ke kediaman keluarga Lu di Dashengguan jaraknya seribu li,” tambah Liu Dagou sambil menggelengkan kepala.
“Tapi bukankah turnamen para pahlawan masih sepuluh hari lagi? Kalau aku berangkat sekarang, masih bisa sampai,” sanggah Liu Tieshou.
“Kau mabuk atau bodoh, sih? Begitu ingin ikut turnamen sampai lupa hari? Turnamen itu dimulai hari ini!” ujar Liu Dagou.
“Apa? Tidak mungkin, mustahil aku salah ingat…” Liu Tieshou tampak sangat tak percaya.
“Sabar saja dua puluh hari lagi,” Liu Dagou menghela napas, lalu berbalik dan pergi.
“Sial, sial! Kenapa harus minum, kenapa lupa hari, kenapa semua jadi begini?” Liu Tieshou menyesali diri sendiri.
“Sangat disayangkan, undangan yang kudapat dengan susah payah, ini adalah kesempatan langka untuk bertemu para pendekar besar dunia persilatan.”
Liu Tieshou meratap, lalu menepuk lantai dengan tangan kanannya hingga lantai batu biru itu retak-retak.
Tiba-tiba, terdengar suara aneh dari balik dinding.
Sesaat kemudian—
“Braaakk!” Sebuah ledakan keras terdengar dan tembok penjara itu berlubang besar.
“Siapa di sana?” Liu Tieshou terkejut, segera berdiri waspada menatap ‘kotak besi’ yang menerobos tembok penjara.
Para narapidana lain yang melihat kejadian itu langsung meringkuk di sudut sel, tak berani bergerak sedikit pun.
“Ehem! Kau Liu Tieshou, kan?” Zhou He mengintip dari jendela mobil, menghirup debu dan terbatuk dua kali.
“Benar, aku Liu Tieshou. Siapa engkau? Mengapa menerobos penjara kantor pemerintahan?” tanya Liu Tieshou dengan waspada.
“Ada apa? Ada apa?” Saat itu, Liu Dagou datang bersama empat atau lima penjaga lain.
“Yang penting kau Liu Tieshou. Cepat naik, aku akan mengantarkanmu ke turnamen para pahlawan!” kata Zhou He.
“Turnamen para pahlawan? Siapa engkau? Kenapa ingin mengantarku?” tanya Liu Tieshou, masih penuh kecurigaan.
“Aku Zhou He. Kau sendiri yang memesan jasaku, lupa?” kata Zhou He.
“Aku yang memesan? Eh… apa? Benarkah? Pesanan yang kubuat dalam mimpi benar-benar dijemput orang?” Liu Tieshou benar-benar terkejut.
“Ini apa? Kotak besi sebesar ini?”
“Apakah kotak besi ini yang menerobos tembok penjara?”
“Luar biasa kuat, bisa merobohkan tembok penjara!”
“Dari mana datangnya biksu ini? Bukannya harusnya duduk tenang di vihara, malah berani membebaskan narapidana? Liu Tieshou, jangan nekat, jangan kabur!” Liu Dagou yang terkejut segera mengeluarkan kunci.
“Biksu?” Zhou He menoleh heran, tapi segera paham. Di zaman dulu, rambut adalah pemberian orang tua, orang zaman dulu tak akan mencukur kepala, kecuali para biksu.
Jelas, Liu Dagou mengira Zhou He yang berambut pendek sebagai seorang biksu.
“Ayo cepat naik, kalau terlambat mereka akan masuk ke sini,” Zhou He membungkuk dan membuka pintu penumpang.
“Ah… ya… aku segera naik… naik?” Liu Tieshou berjalan ke depan mobil, melihat Liu Dagou sudah membuka kunci, ia pun langsung naik tanpa mempedulikan keterkejutannya.
“Tutup pintunya, tarik saja,” kata Zhou He sambil menyalakan mesin.
“Baik, baik.”
“Bam!” Dengan suara keras, Liu Tieshou menutup pintu mobil.
“Jangan biarkan mereka kabur, serbu! Tangkap mereka!” Liu Dagou mencabut golok besar, melompat dan menebaskan goloknya ke kap mobil.
“Klang~~~!”
Dalam sekejap, golok Liu Dagou hancur berkeping-keping, bahkan telapak tangannya ikut terluka.
Belum sempat penjaga lain menyerang, Zhou He sudah memasukkan gigi mundur, menginjak pedal gas dan mobil pun langsung melaju keluar penjara.
Zhou He memberi perintah, “Aktifkan mode terbang.”
Dalam sekejap, sayap muncul di kedua sisi mobil.
[Mode terbang diaktifkan.]
Dalam hitungan detik, mobil van itu melesat naik ke udara setinggi seratus meter.
“Duk duk… duk duk…”
“Ter… terbang?”
“Apa-apaan ini, bisa terbang?”
“Jangan-jangan… ini barang para dewa?”
Di bawah, para penjaga yang melihat mobil melayang ke udara begitu terkejut hingga golok mereka terlepas.
…
“Kau… kau ini Buddha dari dunia para dewa?” tanya Liu Tieshou gemetar ketakutan di dalam mobil.
“Buddha? Tidak, aku hanya datang dari dunia lain untuk memenuhi pesananmu. Yang perlu kau tahu, aku akan mengantarkanmu ke turnamen para pahlawan,” jawab Zhou He dengan tenang. “Lagipula, aku bukan biksu.”
“Te… terima kasih, Dewa!” ujar Liu Tieshou menangkupkan tangan hormat.
“Jangan panggil aku Dewa, cukup Zhou He saja,” Zhou He merinding mendengar sebutan itu.
“Baik, baik!” Liu Tieshou segera mengangguk.
Zhou He pun tak menghiraukannya lagi, ia mengambil ponsel dan membuka navigasi bawaan.