Bab Lima Puluh Tiga: Aku Paling Membencimu (Bagian Satu)
Selama beberapa jam berikutnya, Gu Yun terus berkeliaran di sekitar sekolah.
Dari hutan kecil ke lapangan olahraga, lalu dari lapangan olahraga ke gedung kelas. Namun, sebelum sempat naik ke lantai atas, ia sudah diusir oleh para guru di kantor lantai satu yang mengira dirinya pengangguran gelandangan.
Apa pun pekerjaannya, Gu Yun selalu menekuninya dengan sungguh-sungguh.
Karena itu, setiap kali menemukan seorang murid, ia akan segera menghampiri dan bertanya, “Siapa teman sekelas yang paling kamu benci?”
Pertanyaan itu tajam dan blak-blakan, langsung menghantam lubuk hati. Terlebih ketika ia berhadapan dengan murid-murid yang berjalan berkelompok kecil, biasanya mereka akan tergagap-gagap dan kesulitan menjawab untuk sementara waktu.
Tanpa sadar, ia kembali berkeliaran ke bawah gedung olahraga. Tepat di hadapannya terbentang lapangan basket terbuka. Saat itu para murid sedang mengikuti pelajaran olahraga, dan Gu Yun menemukan sebuah anak tangga untuk duduk. Ia pun terpaku menyaksikan permainan tersebut.
Meski anak-anak di dunia ini sangat lemah, mereka hidup dengan penuh kegembiraan.
Pertengahan November, musim dingin sudah semakin dekat. Para murid mengenakan seragam musim dingin, berlari bolak-balik di antara dua tiang basket sambil terus mengejar bola yang melompat-lompat di tengah kerumunan.
Mengikuti lintasan bola basket itu, pandangan Gu Yun kemudian jatuh pada guru olahraga yang berdiri membelakanginya di pinggir lapangan.
Pemandangan yang agak menghangatkan hati.
Entah mengapa, hal itu mengingatkannya pada masa kecil, ketika para tetua mengajari mereka berbagai hal.
Inilah dunia tempat adiknya hidup. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Gu Yun menyingkirkan segala pikiran yang mengganggu dan menenangkan diri untuk mengamati semua yang ada di hadapannya.
Tidak. Ini belum waktunya beristirahat.
Sang tetua pernah berkata, seorang pejuang tidak boleh berhenti melangkah. Setelah mati, ia akan memperoleh tidur panjang dengan sendirinya.
Setelah berusaha sepanjang siang, Gu Yun akhirnya memperoleh hasil sementara dari penyelidikannya.
Sun Zheng unggul jauh dengan dua puluh tujuh suara, disusul Bai Fei dengan tiga belas suara. Anehnya, nama Hu Wei sama sekali tidak muncul dalam daftar itu.
Namun, ternyata ada tiga bocah lancang yang memberikan suara kepada Gu Tiantian.
Seorang laki-laki dan dua perempuan.
Gu Yun tentu saja tidak bisa membiarkannya. Ia menghabiskan lebih dari setengah jam untuk memberikan bimbingan psikologis kepada mereka. Inti nasihatnya adalah agar mereka pandai menemukan kebaikan dan keindahan sejati dalam hidup, serta tidak membiarkan rasa iri dan kebencian membutakan mata.
Ketiganya sangat tersadarkan setelah mendengarnya, lalu segera mengubah pilihan.
Mereka mengalihkan suara mereka kepada Gu Yun.
Dalam penyelidikan besar-besaran mengenai “teman sekelas yang paling dibenci” itu, Gu Yun meraih kemenangan telak atas Sun Zheng dengan perolehan gemilang sebanyak empat puluh dua suara, sekaligus menduduki peringkat pertama dengan kokoh.
Kemenangannya tak tergoyahkan.
Kalau begitu, orang yang akan diserang berikutnya…
Mungkin dirinya sendiri?
Bagaimanapun juga, ia sudah sedemikian dibencinya.
Pikirannya segera terputus oleh suara gaduh dari lapangan. Entah sejak kapan, para murid yang tadi mengejar bola basket telah membentuk lingkaran dan menunjuk-nunjuk ke lantai dua gedung olahraga.
Gu Yun berdiri, mundur beberapa langkah, lalu mendongak.
Di lantai dua gedung olahraga terdapat tribun terbuka. Saat ini Sun Zheng sedang berdiri bersandar pada tribun, sementara di hadapannya berdiri seorang gadis dengan wajah merah padam.
“Pokoknya, begitulah kejadiannya.” Sun Zheng mengangkat bahu. “Aku sudah muak.”
Sun Zheng, si bajingan!
Para siswa laki-laki yang menonton menggertakkan gigi dengan geram dan penuh kemarahan.
Semua orang tahu Sun Zheng adalah seorang bajingan. Selama tiga tahun di sekolah menengah, kejadian semacam ini hampir selalu terulang dari waktu ke waktu.
Namun, bagian yang paling aneh adalah, meskipun para siswi juga tahu bahwa Sun Zheng seorang bajingan, tetap saja ada gadis-gadis yang mendekatinya seperti laron menerjang api.
Selalu ada orang yang mengira dirinya adalah gadis pilihan takdir, satu-satunya dari sepuluh ribu, yang mampu membuat Sun Zheng kembali ke jalan yang benar dengan pesonanya sendiri.
Cih, perempuan.
Benar-benar hidup dalam khayalan.
Walaupun sangat membenci Sun Zheng, sebagian besar siswa laki-laki yang menonton sebenarnya berharap dapat bertukar posisi dengannya.
Bocah itu jago bermain basket, menjadi pengatur serangan utama tim sekolah, berwajah tampan, dan keluarganya tampaknya cukup berada. Memang ia bajingan, tetapi ia sangat royal. Saat berpacaran, ia juga tak pernah pelit memberikan hadiah.
Mengapa semua keberuntungan itu hanya jatuh kepada Sun Zheng seorang?
Tak bisakah sedikit dibagi kepada mereka?
“A-aku paling membencimu!”
Setelah meneriakkan itu, gadis di hadapan Sun Zheng berbalik dan berlari masuk ke gedung olahraga.
Teriakannya dipenuhi kesedihan yang mendalam. Bahkan orang-orang di bawah pun dapat mendengarnya dengan jelas.
Namun, Sun Zheng hanya mengorek telinganya dengan kelingking, seolah sudah terbiasa. Pada awalnya ia memang masih merasa bersalah, tetapi sekarang ia sudah sama sekali tidak terganggu.
Tak ada sedikit pun rasa bersalah dalam dirinya. Sebaliknya, ia malah dipenuhi harapan akan pertemuan romantis berikutnya.
Di tengah cercaan para penonton, Sun Zheng memiringkan wajah ke arah bawah dan memasang ekspresi mengejek.
Dalam sekejap, kebencian semua orang pun memuncak.
Pada saat itulah Gu Yun akhirnya mengerti mengapa Sun Zheng begitu dibenci. Jika siang tadi ia masih sedikit menyukai bocah yang gemar berolahraga ini, kini yang tersisa hanyalah rasa jijik.
Selain itu, Gu Yun benar-benar tidak habis pikir.
Ia mengakui bahwa dirinya agak cerewet dan sering gagal membaca suasana, tetapi apakah ia benar-benar bisa dibenci sampai separah Sun Zheng?
Dari empat puluh dua suara itu, pasti ada yang memilihnya tanpa mengikuti kata hati.
Setelah mengejek para siswa laki-laki di bawah, Sun Zheng menopangkan lengannya ke belakang dan bersiap kembali ke gedung olahraga untuk melanjutkan latihan.
Tentu saja ia tidak menganggap orang-orang di bawah penting. Hanya anggota tim sekolah dan pemain cadangan yang boleh berlatih di lantai dua gedung olahraga. Dengan kata lain, orang-orang yang berkumpul di bawah saat ini hanyalah sekumpulan ikan kecil yang mengamuk tanpa daya.
Namun, detik berikutnya, terdengar suara kaca pecah dari belakangnya.
Pagar baja antikarat di tribun tiba-tiba miring ke satu sisi. Dorongan Sun Zheng barusan tampaknya menjadi jerami terakhir yang mematahkan punggung unta.
Suara makian dari bawah berubah menjadi seruan terkejut.
Yang jatuh lebih dahulu adalah pecahan kaca, disusul pagar yang patah, kemudian Sun Zheng yang sama sekali tidak sempat mengatur kembali keseimbangannya.
Semuanya terjadi dalam sekejap. Secara naluriah, Sun Zheng mengulurkan tangan, berusaha meraih tepian tribun.
Namun, tangannya hanya menyambar udara kosong.
Tepat di depan tribun terbentang lantai beton. Pecahan kaca yang lebih dahulu jatuh membentuk deretan duri tajam yang mengarah ke atas.
Melihat hal itu, banyak siswa menutup mata.
Memang benar, mereka biasanya sangat membenci Sun Zheng. Namun, tak seorang pun pernah benar-benar menginginkan kematiannya.
Hanya guru olahraga yang berhasil bereaksi dan berlari beberapa langkah. Namun, akal sehatnya segera mengatakan bahwa dengan jarak sejauh ini, Sun Zheng sudah tidak mungkin diselamatkan.
Waktu seolah berhenti pada detik itu.
Lalu…
Orang-orang melihat Gu Yun mencengkeram lengan Sun Zheng dan mengangkatnya seperti mengangkat seekor anak ayam. Sun Zheng sempat tertegun, kemudian memegangi lengan kanannya erat-erat sambil menjerit kesakitan.
Jeritan itu membuat semua orang tersadar. Guru olahraga segera berlari menghampiri, menempuh tiga langkah sekaligus.
“Lengannya terlepas dari sendi. Bawa dia ke ruang kesehatan.”
Gu Yun melepaskan tangannya dan berkata demikian.
Walaupun Sun Zheng biasanya berolahraga, secara fisik ia sebenarnya hanya sedikit lebih tinggi daripada anak-anak seusianya. Ketika ditarik dari udara seperti itu, lengannya tentu tidak mampu menahan gaya hentakan balik.
Namun, jika Gu Yun tidak menangkapnya, Sun Zheng pasti sudah mati.
Ini bukan kecelakaan yang disebabkan oleh pagar tribun yang lapuk karena usia. Gu Yun memperhatikan bahwa ketika Sun Zheng jatuh, pecahan kaca yang berserakan di tanah seolah-olah ditegakkan oleh suatu kekuatan. Titik jatuh Sun Zheng kebetulan tepat berada di atas pecahan-pecahan kaca itu.
“Siapa kau?” tanya guru olahraga tanpa mampu menahan rasa penasaran.
Para murid mungkin tidak memahami apa yang terjadi, tetapi sebagai guru olahraga, ia tidak mungkin tidak mengerti.
Gaya bekerja secara timbal balik. Tarikan tadi seharusnya membuat lengan Gu Yun menerima hentakan yang jauh lebih besar, karena ia hanya menggunakan satu tangan untuk menahan Sun Zheng.
Namun, Gu Yun sekarang tampak baik-baik saja.
“Satpam malam.”
Setelah meninggalkan kalimat itu, Gu Yun mengepalkan laporan penyelidikan di tangannya, lalu pergi tanpa menoleh.
Semua yang baru saja dilihatnya telah membuktikan bahwa insiden penyerangan sebelumnya bukanlah rumor.
Di sekolah menengah ini, memang benar-benar ada roh jahat!