Bab Tiga: Tahap Wawancara
Di tengah angin yang menderu, Gu Yun mengenakan jaket tipis dan melangkah keluar rumah dengan penuh harap. Setiap kali mengikuti pertemuan semacam ini, ia selalu sulit menahan gejolak kegembiraannya. Namun, setiap kali adiknya melihat ekspresi itu, pasti akan disambut dengan beberapa helaan napas putus asa.
Meski Gu Yun sangat yakin akan keberadaan Yayasan, kenyataannya ia sama sekali tidak tahu apa-apa tentangnya. Apa sebenarnya urusan Yayasan? Standar apa yang digunakan Yayasan untuk merekrut anggota? Di mana markas besar Yayasan itu? Ketika adiknya mengajukan tiga pertanyaan inti itu, Gu Yun pun tak mampu menjawab.
Menurutnya, orang-orang yang dipilih Yayasan pasti adalah yang terkuat di antara manusia. Ia merasa cukup mengetahui hal itu saja.
Alasan utama Gu Yun menaruh seluruh harapannya pada Yayasan adalah karena ia telah terlalu sering dikecewakan oleh mereka yang mengaku sebagai manusia tangguh. Seorang pria yang mengaku sebagai ahli tenaga dalam, yang membanggakan diri bisa mengalahkan dua puluh orang sekaligus, setelah bertanding dengannya secara bersih, malah menuntutnya atas tuduhan penganiayaan. Pada akhirnya, Gu Yun harus membayar tiga puluh ribu yuan sebagai ganti rugi agar masalah itu mereda.
Gu Yun benar-benar tidak paham. Dalam pertarungan, hidup dan mati adalah takdir, kehilangan lengan atau kaki adalah hal lazim. Mengapa orang-orang yang mengaku kuat itu, baru kehilangan satu kaki saja sudah menangis meraung-raung, sungguh tidak pantas disebut orang tangguh.
Sebaliknya, di antara arwah jahat justru banyak yang benar-benar kuat. Seperti makhluk merah menyerupai manusia yang mengaku jelmaan ketakutan semalam, hanya bisa dianggap kelas satu di antara arwah jahat. Barangkali semua manusia kuat yang pernah ia temui pun tak cukup untuk menjadi lawan baginya.
Gu Yun menarik napas panjang, berusaha menghapus kenangan pahit itu. Benar saja. Kekuatan manusia sejati tersembunyi di dalam Yayasan!
Dengan keyakinan seperti itu, Gu Yun turun dari kereta bawah tanah. Kerumunan orang yang memenuhi peron membuatnya agak kebingungan. Meskipun sudah lebih dari sepuluh tahun ia tinggal di dunia ini, ia tetap tidak bisa menyesuaikan diri dengan kepadatan manusia dan rumitnya bangunan di sini.
Di peron tertulis Kota Wanluo, namun tidak ada satu pun penunjuk jalan yang bisa membantunya menemukan tujuan. Kampung halamannya dulu, dari ujung desa sudah bisa melihat ujung satunya. Selain rumah-rumah warga, hanya ada dua bangunan penting: ‘Toko Senjata’ dan ‘Kedai Minuman Kecil’, keduanya hanya satu lantai, dan masuk sedikit saja sudah bisa melihat pemiliknya.
Tidak seperti sekarang, di tengah lautan manusia, bahkan ia sendiri pun sulit menebak siapa pemilik toko. Gu Yun masih lebih suka arsitektur sederhana dan polos seperti masa lalu.
Untungnya, pada pertemuan Yayasan sebelumnya, ia membeli alat penunjuk arah dari petugas pemeriksa. Petugas itu berkata, sesama anggota Yayasan akan saling tertarik, jadi sekalipun ia celaka, alat ini masih bisa membantunya. Melihat keinginan Gu Yun yang besar untuk bergabung, petugas itu menjual alat penunjuk arah miliknya seharga seratus dua puluh delapan yuan.
Namun, sejak membelinya, Gu Yun belum pernah sekalipun menggunakannya. Karena sudah setahun berlalu sejak pertemuan terakhir.
Gu Yun mengikuti petunjuk yang diajarkan petugas itu, menekan tombolnya. Jika berjalan lancar, seharusnya muncul dua angka di layar, menunjukkan jaraknya dengan anggota Yayasan lain. Selain itu, alat pemantau jarak ini juga memiliki beberapa mode.
Jika muncul ikon es, itu berarti segalanya aman.
Begitu ikon berubah menjadi matahari kecil, itu pertanda ada peringatan bahwa arwah jahat ada di sekitar.
Wajah Gu Yun sontak berubah. Sebab, bagaimanapun ia menekan tombol, tidak ada angka yang muncul di layar.
Tak ada pilihan lain. Dalam keadaan darurat, ia hanya bisa meminta bantuan orang lain. Petugas pemeriksa itu sama sekali tidak pernah memberitahunya apa artinya jika layar tidak menampilkan angka.
“Permisi, saya sedang menuju lokasi wawancara Yayasan, tapi alat penunjuk arah saya bermasalah. Saya kurang paham soal alat elektronik, bisakah Anda membantunya?”
Mendengar itu, senyum manis di wajah petugas informasi di konter mendadak kaku. Namun karena profesionalisme, ia tetap mengambil alat penunjuk arah yang diberikan Gu Yun dan memeriksanya dengan seksama.
“Maaf, bisakah Anda jelaskan dulu apa itu wawancara Yayasan?”
Gu Yun merasa senyum petugas itu agak aneh. Giginya rapat menekan bibir, bahunya sedikit bergetar, kuku telunjuk kanan menusuk punggung tangan kirinya. Senyumnya terlihat seperti menahan amarah.
“Ini iklan yang saya temukan.” Gu Yun menyerahkan selebaran ‘Rekrutmen Yayasan Gelombang Kedua!’ yang ia simpan hati-hati.
Entah mengapa, petugas itu semakin gemetar.
“Oh, jadi tempat itu ya...” Ia menggigit punggung tangannya, menahan tawa. “Keluar dari pintu nomor 4, belok kiri di pertigaan pertama sampai ujung, Anda akan sampai.”
“Terima kasih.”
“Oh, ya…” Petugas itu mengembalikan alat penunjuk arah milik Gu Yun. “Yang Anda pegang itu namanya remote AC, tidak ada angkanya karena baterainya habis… Semoga wawancaranya sukses!”
Gu Yun mengangguk sebagai tanda terima kasih, lalu pergi. Ia tak pernah peduli dengan ejekan orang lain. Baginya, mayoritas manusia di dunia ini sama sekali tidak percaya pada keberadaan arwah jahat, bahkan tidak tahu ancaman yang sedang mereka hadapi.
Mengikuti petunjuk petugas, Gu Yun akhirnya menemukan lokasi wawancara Yayasan. Saat ia tiba, lokasi itu sudah dikelilingi banyak orang membentuk satu lingkaran penuh.
Di tengah kerumunan, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan celana panjang cokelat dan kemeja putih. Gu Yun berdiri di pinggiran kerumunan. Pria itu memejamkan mata, menyatukan jari telunjuk dan tengah di keningnya, memasang raut penuh misteri.
Sepertinya persaingan kali ini cukup ketat, gumam Gu Yun dalam hati seraya melirik sekeliling.
Tiba-tiba, pria paruh baya itu membuka matanya lebar-lebar.
Tatapannya cepat menyapu kerumunan, akhirnya berhenti tepat pada Gu Yun di ujung barisan.
Keduanya sama-sama tertegun.
“Kamu! Auramu terlalu menyilaukan! Apakah kamu benar-benar manusia?”
Mengikuti arah telunjuk pria itu, semua orang serempak menoleh ke Gu Yun.
Gu Yun sangat terkejut. Sejak datang ke dunia ini, baru kali ini ada seseorang yang mampu melihat jati dirinya!
Tak salah lagi! Pria paruh baya itu pasti anggota resmi Yayasan!
“Karena kau sudah melihatnya, aku tak perlu lagi menyembunyikan apa pun…”
Gu Yun berdeham, mengingat kata-kata yang ia siapkan semalam untuk wawancara.
“Kaum kami telah berperang tanpa henti melawan Ras Dewa di planet ekstrem. Di antara mereka, aku unggul dalam kekuatan fisik, daya mental, dan keterampilan bertarung. Para tetua mengirimku ke planet ini untuk mencari harta karun agung. Kini, demi melindungi harta itu, aku ingin bersekutu dengan kalian guna memperoleh lebih banyak informasi tentang arwah jahat.”
Begitu kata-kata itu meluncur, suasana langsung hening.
Semua orang tampak tak percaya.
Perang melawan Ras Dewa? Harta karun agung? Arwah jahat?
“Orang ini gila, ya?”
“Aneh banget, nggak ngerti sama sekali.”
“Pasti dia suruhan si bapak itu.”
“Sial, tadi hampir saja aku percaya omongannya.”
“Kalian nggak ngerti, itu trik lama, dia pura-pura jadi suruhan, sebentar lagi pasti minta uang.”
“Parah banget, perlu dilaporin polisi nggak?”
Dihujani hinaan seperti itu, Gu Yun tak berkata sepatah pun. Yang penting baginya hanyalah reaksi pria paruh baya itu. Karena itu mewakili sikap Yayasan terhadapnya.
Lalu, di bawah tatapan Gu Yun, pria paruh baya itu tiba-tiba memuntahkan darah kental.
Dia jatuh berlutut, tangan kiri menekan perut, tangan kanan terentang sia-sia, hanya bisa menyaksikan kerumunan yang susah payah ia kumpulkan bubar dalam hitungan menit.
“Kamu…!”
Pria itu bicara terbata-bata, penuh amarah.
“Kamu, bagaimana kau mau mengganti kerugianku!”