Bab Empat: Orang Ini Jelas Sangat Kuat, Tapi Sifatnya Polos dan Lugu

Dunia ini terlalu berbahaya. Sepuluh Mil Bunga Persik 2785字 2026-03-26 15:29:54

Reaksi pria paruh baya itu membuat Gu Yun sangat bingung.

Menurutnya, meskipun ruang wawancara dipenuhi banyak orang, sebagian besar di antaranya hanyalah pelengkap belaka. Walaupun mereka diterima oleh yayasan secara luar biasa, mereka pasti tidak akan bertahan hidup lebih dari tiga bab, hanyalah karakter figuran. Dengan cara ini, ia secara tidak langsung menyelamatkan nyawa mereka sekaligus menghemat waktu panitia dalam menyeleksi peserta. Bukankah ini seperti yang sering dikatakan orang, kebahagiaan ganda?

“Mengapa Anda marah?”

“Kau masih punya nyali bertanya kenapa aku marah!? Semua tamuku kabur karena kau!”

“Bisa jadi ini justru hal yang baik. Begitu mereka mendengar soal arwah jahat, mereka langsung bubar. Itu tandanya mental mereka lemah. Menurutku, mereka tak layak membuat yayasan membuang-buang waktu.”

“Mereka punya uang, kau punya?”

Tatapan tajam pria paruh baya itu menelusuk. Ia sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan Gu Yun. Yayasan itu hanya sekadar tren di kalangan pecinta hal mistis, jelas hanya sebuah gimmick, dan mengumpulkan anak-anak muda di sini tentu saja untuk mempromosikan keahlian ramalannya. Atau jangan-jangan benar ada yang percaya yayasan itu sungguh-sungguh ada?

Mendengar itu, Gu Yun baru menyadari sesuatu. Ia mengeluarkan uang pendaftaran yang sudah ia siapkan dari saku celananya dan menyerahkannya pada pria paruh baya itu.

Pria itu menunduk melihat setumpuk uang kertas di tangannya, dari seratus ribu hingga koin lima ratus perak yang sudah jarang ditemui, segala nominal ada. Jelas uang itu dikumpulkan dalam waktu lama.

Ia kembali memandang Gu Yun.

Sikap Gu Yun saat menyerahkan uang sangat tulus.

Pria paruh baya itu pun paham. Anak muda ini bukan pesaingnya yang sengaja datang membuat keributan, melainkan hanya orang polos yang lugu.

“Wah, lumayan juga. Baiklah, ikut aku, akan kuramal nasibmu.”

Ia mengajak Gu Yun duduk di salah satu tempat di luar peron stasiun kereta bawah tanah. Dalam perjalanan, ia mengambil beberapa lembar uang receh untuk membeli sebotol minuman soda asin untuknya dan Gu Yun.

“Ceritakan, kau ingin tahu apa?”

Menurutnya, anak muda seperti Gu Yun biasanya gelisah karena urusan cinta atau pekerjaan.

“Lokasi semua arwah jahat di Kota X.”

“Pfft—!” Pria paruh baya itu menyemburkan soda asin dari mulutnya.

Hobi anak ini memang benar-benar hardcore!

“Kau kenapa lagi?” Gu Yun benar-benar tidak mengerti kenapa pria paruh baya ini selalu terkejut.

Meskipun sudah terbiasa dengan lingkungan keras, Gu Yun tidak pandai dalam urusan mencari orang. Sayangnya, arwah jahat di Kota X sangat licik, tak hanya bersembunyi di siang hari dan beraksi di malam hari, tetapi juga bersekongkol dengan manusia.

Saat Gu Yun tengah malam mencari arwah jahat di depan sekolah Gu Tiantian dengan membawa palu, ia pun ditangkap polisi yang kebetulan lewat. Polisi yang menginterogasinya pun merasa sulit berkomunikasi dengannya.

Ia sudah menjelaskan bahwa ia keluar untuk bertarung dengan arwah jahat demi melindungi harta karun besar, namun polisi itu tetap saja berulang kali menuntut penjelasan tujuan aslinya. Mereka pun hanya saling menatap semalaman. Hingga pagi menjelang, polisi itu akhirnya tak tahan lagi dan membebaskannya, namun palu yang katanya sudah diberkahi dan dibeli online seharga tiga ratus dua puluh delapan ribu rupiah, tetap disita.

Saat itulah Gu Yun sadar, ia membutuhkan sekutu yang bisa menutupi kekurangannya.

“Aku mau tanya dulu, kalau kau sudah tahu lokasi mereka, apa yang akan kau lakukan?”

“Aku akan menangkap semuanya sekaligus.”

“Kau gila!” Wajah pria paruh baya itu berubah drastis. Ucapan Gu Yun membangkitkan kenangan buruk baginya.

“Anak muda, aku tahu kau sedang mencari sensasi, merasa diri hebat hingga tak mempedulikan apa pun. Tapi di dunia ini, orang yang punya kemampuan khusus bukan hanya kau seorang. Mataku ini bisa melihat hal-hal yang tak bisa dilihat orang biasa.”

“Kalau begitu, kau pasti bisa menemukan sarang arwah jahat itu, kan?”

Gu Yun merasa senang. Sepertinya usahanya selama ini mulai membuahkan hasil.

“Tidak, kau sama sekali tak tahu apa-apa tentang arwah jahat!” Suara pria paruh baya itu meninggi.

“Selain aura dan peruntungan seseorang, aku memang bisa melihat makhluk-makhluk aneh yang tak tampak oleh manusia biasa. Tapi tahukah kau kenapa aku hanya menggunakan kemampuan ini untuk meramal, tidak pernah mencampuri urusan dunia lain?”

Itu karena...

Orang-orang yang pernah berurusan dengan arwah jahat, tak pernah berakhir dengan baik.

Dulu memang ada yang mencoba mencari nafkah dengan mengusir arwah, tapi saat mayat mereka ditemukan, keadaannya sangat mengenaskan hingga tak ada yang sanggup melihatnya.

“Ingatlah, dengan kekuatan manusia, mustahil melawan arwah jahat, bahkan yang terlemah sekalipun!”

“Aura dan peruntungan itu maksudnya apa? Jelaskan lebih rinci!” Gu Yun justru tersenyum.

Ia selalu tertarik pada orang-orang yang mengaku punya kemampuan khusus. Apa pun yang dikatakan pria itu setelahnya, sama sekali tidak ia dengarkan.

Pria paruh baya itu memandang Gu Yun, tiba-tiba teringat sebuah lirik lagu masa kecilnya.

Tersenyum di hadapan bahaya...

Tidak bisa, anak ini terlalu polos. Kalau begini terus, ia juga bisa tertular kebodohan ini.

“Itu artinya seperti tertulis, setiap orang dikelilingi aura tertentu, kepribadian dan identitas sedikit banyak memengaruhi kuat-lemahnya aura itu.”

Setelah berbicara, akhirnya ia paham mengapa aura Gu Yun tampak begitu cemerlang.

Orang ini, saking polosnya, aurnya terlihat sangat kuat.

“Pria yang mengenakan jas hujan di sana adalah manajer sebuah perusahaan; wanita berambut pendek itu wanita karier yang cekatan; orang di sebelahnya ibu rumah tangga, pemuda berkacamata itu penggemar pakaian wanita, dan konsultannya yang cantik di depan meja...”

“Ada apa dengan dia?” Gu Yun semula mendengarkan dengan penuh minat, tiba-tiba pria paruh baya itu terdiam.

“Dia manusia hebat, ya?”

“Bukan, dia akan mati.”

Dari kejauhan, konsultan cantik itu tampak tersenyum manis, tapi di sekitarnya menyebar aura hitam yang menandakan pertanda buruk. Arus hitam pekat itu terus mengumpul di tengah dahinya.

Inilah yang dulu disebut orang tua, "dahi menghitam tanda bahaya".

Tapi, melihat arah peruntungan dan meramalkan masa depan adalah dua hal berbeda. Walau tahu kematian akan datang, tetap saja tak tahu bagaimana caranya.

Teroris yang tiba-tiba menerobos kerumunan? Plafon yang runtuh karena lapuk? Peralatan elektronik yang korsleting? Atau...

Tak bisa, kemungkinannya terlalu banyak, tak mungkin ditebak.

Dalam situasi seperti ini, meski ingin memperingatkan pun...

Di detik berikutnya, ekspresi di wajah pria paruh baya itu membeku.

Ia melihat Gu Yun yang tadinya di sampingnya, entah sejak kapan sudah berdiri di depan konsultan cantik itu.

“Halo.”

“Eh, halo.” Konsultan itu segera mengenali Gu Yun yang berwajah serius. Orang yang mengira remote AC sebagai penunjuk arah memang jarang.

Ekspresi Gu Yun cukup membuatnya merinding.

“Bagaimana hasil wawancaranya?” tanya konsultan itu hati-hati.

“Prosesnya lancar sekali. Aku ke sini ingin memberitahumu, barusan paman di sana bilang kau akan mati, jadi berhati-hatilah.”

Sambil berkata, Gu Yun menunjuk ke arah pria paruh baya yang duduk di bangku, mencoba menutupi wajahnya dengan kedua tangan.

Aksi ini membuatnya semakin mencurigakan.

Pikiran Gu Yun sangat sederhana.

Saat di perjalanan, konsultan itu telah membantunya menemukan tempat wawancara. Sesuai nasihat para tetua, budi sekecil apa pun harus dibalas berkali lipat.

Kini konsultan itu mendapat musibah, Gu Yun tentu tak akan tinggal diam.

“Ah, baik, begitu ya, terima kasih atas peringatannya.”

Konsultan itu tersenyum, tapi nyaris menangis.

Gu Yun mengangguk.

Sering kali, satu kalimat peringatan sederhana bisa menyelamatkan nyawa seorang anak muda.

Tapi entah mengapa.

Setelah ia memperingatkan konsultan itu, pria paruh baya itu segera digiring pergi oleh para satpam yang datang beramai-ramai.