Bab Tiga: Menapaki Menara Tangga Langit
"Satu hari lagi, Menara Tangga Langit akan dibuka di tempat ini. Siapa pun yang berusia di bawah 35 tahun boleh ikut serta. Mereka yang berhasil melewati lantai lima belas akan diterima sebagai murid luar, sementara yang gagal mencapai lantai tersebut dinyatakan gugur dalam ujian."
"Selain itu, Menara Tangga Langit penuh dengan bahaya. Sedikit kecerobohan bisa merenggut nyawa. Ukurlah kemampuan diri sendiri, jangan gegabah ataupun ceroboh."
"Semua yang lulus ujian harap berkumpul di sini tiga hari lagi untuk berangkat menuju Sekte Bintang Ilusi. Gunakan tiga hari ini untuk menyelesaikan urusan pribadi kalian. Jangan sampai terlambat, karena kami tidak akan menunggu yang tidak hadir," ucap Tetua Merah dengan tenang.
"Su Bai, apakah kau akan pergi ke Menara Tangga Langit besok?" tanya Mo Qian di dalam penginapan.
"Ya, aku harus mencobanya. Bagaimanapun, ini adalah satu-satunya kesempatanku, bukan?"
"Tapi Menara Tangga Langit itu berbahaya."
"Berkultivasi memang selalu mengandung bahaya. Bahkan jika tubuh layu dan jiwa sirna, aku tidak akan menyesal. Tanpa keberanian menantang maut, bagaimana mungkin seseorang bisa menjadi abadi?"
"Su Bai, menurutmu apakah Kakek Lin mengkhawatirkan kita?"
"Tentu saja, kita sudah pergi selama beberapa hari."
"Setelah besok selesai, kita bisa pulang," ujar Su Bai sambil menatap langit-langit kamar. Entah apa yang sedang ia pikirkan; mungkin ia merenungkan apakah besok ia bisa berhasil menaklukkan menara itu. Jika gagal, ke mana lagi ia harus pergi? Bagaimana caranya ia bisa kembali ke Wilayah Dewa Dao? Meskipun tak ada lagi kerabat yang tersisa di sana, ia selalu merasa ada sesuatu yang memanggilnya untuk kembali.
Di angkasa, sesosok bayangan yang tak jelas rupa dan wujudnya, dengan aura yang membuat ruang dan waktu di sekitarnya tampak terdistorsi, sedang mengamati kota kecil itu. Samar-samar ia bergumam, "Lumayan, hanya saja Menara Tangga Langit mungkin..." Sosok itu perlahan menghilang. Tak seorang pun di kota itu, bahkan para petinggi Sekte Bintang Ilusi, menyadari kehadirannya.
Pagi hari tiba, suara hiruk-pikuk mulai terdengar.
Setelah menyantap bakpao dan menyelesaikan administrasi penginapan, Su Bai dan Mo Qian menuju pusat kota, lokasi Menara Tangga Langit, menunggu dimulainya ujian. "Su Bai, apakah kau benar-benar akan masuk? Aku merasa ini tidak aman. Menara ini begitu tinggi dan memiliki banyak lantai. Jika terjadi bahaya, para tetua mungkin tidak sempat menyelamatkanmu."
"Jangan khawatir, aku akan segera keluar. Jangan lupa, kita masih harus pulang."
Dengan suara berderit, gerbang besar Menara Tangga Langit perlahan terbuka, namun tak seorang pun berani melangkah masuk. Lebih dari lima ratus orang menunggu perintah dari tetua Sekte Bintang Ilusi. Su Bai berdiri di barisan terluar, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
"Di dalam menara terdapat bahaya besar, harap ukur kemampuan kalian masing-masing. Dilarang keras saling membunuh di dalam. Jika merasa tidak sanggup melanjutkan, kalian bisa berbalik arah untuk keluar. Waktu ujian adalah tiga jam. Silakan masuk," ucap Tetua Wang dari Sekte Bintang Ilusi sebelum bergeser memberi jalan.
"Serbu!"
"Kakimu menginjak kakiku!"
"Siapa yang menyentuhku?"
Sepuluh lantai pertama menara membentuk ruang tersendiri. Mereka yang masuk tertegun melihat tangga panjang yang membentang di depan mata, merasa sangat bersemangat seolah tidak ada persaingan di sana.
Su Bai menatap tangga di depannya, lalu melangkah maju. *Wung*, Su Bai tiba-tiba berada di dimensi lain. Di hadapannya terhampar lautan api dengan hawa panas yang menyengat. "Ruang Ilusi. Capai sisi lain lautan api untuk naik ke tingkat berikutnya. Mundur berarti menyerah," sebuah suara bergema dari kehampaan.
Su Bai menatap sisi lain lautan api, lalu melihat ke bawah. Tanah yang diinjaknya telah menghitam akibat panas, mengeluarkan asap tebal.
Satu langkah diambil, tubuhnya langsung dilalap api. Langkah kedua, dunianya berputar. Saat tersadar, Su Bai mendapati dirinya kembali di anak tangga pertama. Ia membatin, "Ternyata ini ujian keberanian untuk terus maju, meski api membakar tubuh, jangan pernah menyerah."
Di luar menara, tiba-tiba muncul lebih dari seratus orang; mereka adalah peserta yang gugur di ujian pertama.
"Tidak! Aku hanya menarik kakiku sedikit, mengapa itu dianggap gagal? Tidak adil!"
"Benar, tidak adil!"
Tentu saja Sekte Bintang Ilusi mengabaikan protes mereka. Hal seperti ini terjadi setiap tahun, dan mereka tidak akan terpengaruh sedikit pun. Orang-orang di dalam menara pun tidak akan mendengar keributan di luar.
Su Bai melangkah ke anak tangga kedua. Tiba-tiba kakinya terasa berat, seolah ada beban satu kati menindihnya. Ia mengabaikannya dan melangkah ke anak tangga ketiga. "Hm? Kali ini lebih berat? Rasanya seperti sepuluh kati. Untungnya ini tidak menghalangi langkahku. Dibandingkan tingkat pertama, ini terasa sedikit lebih ringan."
Langkah keempat dua puluh kati... kelima empat puluh kati... keenam delapan puluh kati...
Saat Su Bai menginjakkan kaki ke langkah ketujuh, tekanan hebat menerjang. Ia merasa seolah berpindah ke dunia yang berbeda. Begitu menginjak anak tangga ketujuh, Su Bai tersungkur. Rasanya seperti ada gunung yang menindihnya, membuat kepalanya tertunduk dan kakinya tak mampu bergerak.
'Apakah aku akan berhenti di sini? Aku tidak rela. Masih banyak urusan yang belum kuselesaikan. Aku harus berjuang, aku harus menjadi kuat.'
"Aaaargh!" Suara raungan rendah keluar dari mulutnya.
Su Bai berjuang keras, mencengkeram anak tangga kedelapan. Dengan tubuh gemetar, ia perlahan merangkak naik. *Wung*, Su Bai kembali ke dimensi lautan api. "Ruang Ilusi. Bertahanlah di tengah lautan api selama tiga puluh detik. Gagal berarti menyerah." Begitu suara itu hilang, sebuah bola api seukuran kepalan tangan melesat ke arahnya. Tanpa sempat berpikir, Su Bai menghindar ke samping. Menyusul bola kedua... ketiga... hingga kesepuluh.
Pemandangan berubah. Su Bai kembali berada di anak tangga kedelapan. Ia menatap tangga di bawahnya, teringat kejadian tadi. Jika reaksinya tidak cepat, ia pasti sudah tersingkir.
Su Bai mengangkat kakinya, melangkah ke sembilan... sepuluh... sebelas... hingga lima belas. Su Bai mencapai puncak lantai lima belas dan resmi bergabung dengan Sekte Bintang Ilusi. Dalam sekejap mata, puluhan tahun berlalu. Su Bai telah tumbuh dari seorang pemuda menjadi pria paruh baya dengan raut wajah tegas, memegang pedang panjang. Ia telah bertransformasi dari seseorang tanpa kultivasi menjadi ahli tingkat Zhou Tian, hanya selangkah lagi menyamai Pemimpin Sekte, Huan Wuji.
Puluhan tahun lagi berlalu. Su Bai telah menjadi pria tua berambut putih, mengenakan jubah putih. Ia duduk di depan sebuah puncak gunung, menatap murid-murid baru sambil tersenyum, "Bagus, bagus, bagus." Namun, sepanjang hidupnya ia tidak pernah menemukan Wilayah Dewa Dao. Sebagai ahli tingkat Raja, ia kini tidak memancarkan aura apa pun, tampak seperti orang biasa. Namun, tak seorang pun menyangka bahwa sang legenda besar itu akhirnya kehilangan kultivasinya setelah pedang di tangannya dipatahkan oleh jenius lain dalam sebuah duel di Wilayah Dewa Ilusi, lalu dikembalikan ke sekte dalam keadaan hancur.
Lebih tak terduga lagi, sejak saat itu Su Bai kehilangan semangat hidup. Ia hanya duduk diam di depan pintu sebuah puncak gunung sepanjang hari, menatap kejauhan. Hari demi hari, tanpa henti. Kultivasinya perlahan memudar seiring waktu, hingga akhirnya ia hanya menyisakan legenda tentang kejayaan masa lalu.
"Bangun." Sebuah suara bergema di dalam kesadarannya.
*Boom.* Ingatan itu menyerbu. Ini adalah ilusi! Aku masih di anak tangga! Su Bai terbangun dengan keringat dingin membasahi tubuhnya. Pengalaman itu terasa begitu nyata, seolah ia benar-benar telah menjalaninya.
Su Bai melihat ke bawah, menyadari ia tidak berada di anak tangga. Ia melihat sekeliling dengan perlahan dan mendapati dirinya sudah berada di luar menara.
"Su Bai," panggil Mo Qian. "Kau tidak apa-apa? Tidak masalah jika gagal kali ini, masih ada kesempatan berikutnya."
"Aku gagal? Benarkah aku gagal?" Su Bai termenung, tak percaya.
"Waktunya habis, kau dibawa keluar oleh tetua. Hanya empat orang yang berhasil di Menara Tangga Langit kali ini," hibur Mo Qian. Namun, Su Bai tidak mendengarkannya. Ia berucap pelan, "Ayo pergi, kita pulang ke Kota Hexing menemui Kakek Lin."
Sepanjang jalan, Su Bai terus melamun, tak mendengar kata-kata penghiburan Mo Qian. Tiga hari kemudian, mereka tiba di Kota Hexing.
"Kakek Lin, aku pulang!" seru Mo Qian sambil mendorong pintu dengan tergesa.
"Kakek Lin?" Ke mana perginya Kakek Lin? "Su Bai, ayo cepat bantu cari Kakek Lin."