Bab 144 Cahaya Musim Panas

Sang Raja Iblis kembali bertindak. Nian Du Jiao 2481字 2026-03-30 07:10:42

"Tiansan, sehari tak jumpa, rasanya seperti tiga musim gugur." Begitu Wang Zi'an terhuyung-huyung berjalan kembali, sesosok bayangan bangkit dan langsung melompat ke arahnya dengan tak sabar.

Wang Zi'an sendiri sudah agak goyah berdiri, dan ditambah lagi seseorang tiba-tiba menubruk pelukannya. Meskipun tubuh orang itu mungil, ia tetap terdorong sempoyongan dan nyaris terjatuh.

"Yang benar itu: begitu jarang bersua, rasanya seperti tiga musim gugur," ralat Wang Zi'an dengan wajah masam.

Begitu selesai berbicara, ia baru sadar bahwa dirinya telah terpancing ke dalam ucapan yang melenceng. Sambil mendengus kesal, ia mengoreksi dengan gemas, "Maksudku: sehari tak berjumpa, rasanya bagaikan tiga musim gugur."

"Kurang lebih sama saja lah. Yang penting Tiansan bisa paham dan mengerti maksudnya," jawab Hiraka Ryuo sambil melepaskan diri dari tubuh Wang Zi'an, lalu memandangnya dengan mata berbinar-binar penuh kegembiraan.

Sudah sebulan ia meninggalkan keluarga Wang, dan baru kali inilah ia bisa menemui Tiansan lagi.

Selama dua atau tiga tahun sebelum bulan lalu, saat tak bisa menemui Tiansan, Hiraka Ryuo memang sempat merasa rindu.

Namun, rasa rindu itu tidak terlalu mendalam.

Seiring berjalannya waktu, perasaan itu perlahan-lahan memudar.

Akan tetapi, begitu mereka bertemu kembali, gelombang emosi itu meledak dengan kedahsyatan yang luar biasa.

Terutama setelah mereka harus berpisah sekian lama.

Kerinduan siang dan malam membuat setiap hari terasa bagaikan setahun lamanya.

"Bukankah tadi kubilang tidur saja dulu dan kita bertemu besok pagi?" Wang Zi'an mengeluarkan kartu kamar dan membuka pintu.

Hiraka Ryuo baru tiba di Kota Yong malam ini, dan waktunya pun belum terlalu larut.

Namun, Wang Zi'an tadi pergi keluar bersama Da Bing dan kawan-kawan untuk menikmati bir, keong, serta sate, sehingga pulangnya agak malam.

Di tengah-tengah acara nongkrong itu, Wang Zi'an menyuruh Hiraka Ryuo—yang baru saja turun dari pesawat—untuk langsung beristirahat di hotel tempatnya menginap.

Gadis itu pura-pura menurut di permukaan, tetapi begitu masuk kamar, ia terus menunggu Wang Zi'an kembali.

Selama menunggu, ia sebenarnya merasa sedikit cemas kalau-kalau Wang Zi'an benar-benar "berkeliaran" dan tidak pulang.

Atau yang lebih parah lagi, membawa pulang cinta semalam yang bisa dibeli dengan uang.

Jika itu yang terjadi, Hiraka Ryuo tidak tahu harus berbuat apa.

Meskipun ia tidak terlalu keberatan, tetap saja melihat hal seperti itu tidaklah menyenangkan.

Terpengaruh oleh lingkungan dan pola didikan yang berbeda, Hiraka Ryuo tahu bahwa para wanita di Provinsi Matahari yang pandai mengurus rumah tangga terkadang tidak hanya membiarkan suami mereka mencari kesenangan di luar, bahkan ada yang memberi dorongan.

Mereka bilang, sesekali melakukan hal itu justru bisa menjaga, bahkan mempererat keharmonisan hubungan suami istri.

Bagaimanapun juga, para lelaki adalah makhluk karnivora, dan satu-satunya pria yang tidak memakan daging hanyalah seorang biksu.

Namun, menjadi seorang biksu bukanlah hal yang bisa dilakukan oleh sembarang orang; persyaratannya sangat ketat dan tinggi.

Tanpa gelar master, seseorang bahkan tidak akan memiliki daya saing jika ingin menjadi biksu.

Hiraka Ryuo mengikuti di belakang Wang Zi'an sambil bergumam, "Begitu jarang bersua, rasa..."

"Jarang bersua kepalamu!" Wang Zi'an memotong ucapan Hiraka Ryuo dengan sebuah tepukan ringan di kepala.

Hiraka Ryuo mengusap pantatnya sambil bertanya, "Apa aku salah ngomong lagi?"

"Orangnyakan sudah ketemu, kalau ada yang mau dibicarakan, cepat katakan, lalu kembalilah beristirahat." Hal pertama yang dilakukan Wang Zi'an setibanya di dalam kamar adalah menyalakan lampu, kemudian menghidupkan AC.

Provinsi Gui terletak dekat dengan laut, sehingga panas di musim panas terasa begitu lembap dan sangat tidak nyaman.

Meskipun cuacanya panas, Wang Zi'an tidak menanggalkan pakaiannya atau bertelanjang dada.

Di rumah pun ia sering berpenampilan rapi dan sopan, meskipun yang ada di sana hanya Ivanka dan Li Kexin.

"Jangan mengusirku dong, aku mau menyiapkam air mandimu." Hiraka Ryuo mencari kesibukan sendiri dan melangkah masuk ke kamar mandi untuk mengisi bak.

"Tidak usah pakai bak mandi, bak mandi umum itu tidak bersih, dan jangan pakai air panas," kata Wang Zi'an tanpa berniat melarang, seraya berjalan untuk mengganti sandalnya.

"Baiklah, baiklah." Hiraka Ryuo selesai mengisi air, lalu membersihkan wastafel.

Wang Zi'an mengganti sandalnya dan masuk dengan membawa pakaian ganti.

Jika bukan karena kedatangan Hiraka Ryuo, ia pasti sudah langsung melemparkan pakaian kotornya ke atas tempat tidur dan keluar dengan bertelanjang dada usai mandi.

Namun, hal itu jelas tidak bisa dilakukan sekarang.

Wang Zi'an mandi di dalam kamar mandi berdinding kaca, sementara Hiraka Ryuo mencuci pakaian gantinya dengan tangan di wastafel sebelah.

Keduanya mengobrol ngalor-ngidul tentang urusan rumah tangga hingga hal-hal di dalam dan luar industri hiburan.

Ketika nama Wu Tao disebut, Hiraka Ryuo tampak begitu gembira.

Lagu baru Wu Tao benar-benar tenggelam, setidaknya sama sekali tidak ada harapan untuk masuk ke tangga lagu Fengyun.

Lagu baru Song Shishu pun tengah berjuang dengan susah payah; memang sudah masuk dua puluh besar, tetapi untuk menembus sepuluh besar masih entah kapan.

Sebaliknya, lagu baru Wang Zi'an dan Ivanka, meskipun tidak langsung mencuat sukses dalam waktu sehari semalam, berhasil mendobrak masuk tangga lagu Fengyun secara bersamaan pada hari ketiga.

Sebagian orang menyukai versi bahasa Matahari, sementara yang lain menyukai versi bahasa Kanton, membuat para penggemar dari kedua belah pihak saling berdebat sengit di kolom komentar.

"Perempuan itu, memang sudah sepatutnya begitu!" Hiraka Ryuo menunjukkan permusuhan yang begitu kentara terhadap Wu Tao tanpa sedikit pun menutup-nutupinya.

Wang Zi'an tidak menunjukkan reaksi apa pun. Meskipun jalan <i>comeback</i> Wu Tao sempat sedikit dijegal olehnya, ia toh tidak sampai memutus sumber rezeki orang lain perempuan itu.

Orang itu tetap bisa hidup dengan sangat berkecukupan.

Hanya saja pendapatannya sedikit berkurang.

Tindakan agensinya sendiri, Luan Gao Entertainment, yang berupaya menghancurkannya itulah yang benar-benar tidak ada bedanya dengan pembunuhan, bahkan jauh lebih kejam daripada pembunuhan.

"Tiansan, aku juga belum mandi." Di dalam kamar, usai merapikan dan menggantung pakaian di jemuran tiang, Hiraka Ryuo berbisik kepada Wang Zi'an yang sedang duduk di kursi sambil mengeringkan rambutnya.

AC telah menyala selama belasan menit, membuat udara di dalam kamar terasa sangat sejuk.

"Kalau begitu, cepat sana kembali dan mandi. Setelah selesai, langsung tidur, besok aku harus merekam lagu untukmu," ujar Wang Zi'an.

Hiraka Ryuo mengerucutkan bibirnya.

Melihat gadis itu tetap duduk terpaku di atas tempat tidur tanpa ada niat untuk beranjak kembali, Wang Zi'an bangkit, menarik tangannya, dan mengusirnya keluar kamar.

Setelah mengusir Hiraka Ryuo, Wang Zi'an kembali ke tempat tidur, berbaring setengah bersandar pada kepala ranjang.

Begitu dibiarkan sepi dan tenang, Wang Zi'an menghela napas panjang.

Bunga-bunga yang bermekaran kian memesona mata dan mengaburkan pandangan, pantas saja orang bilang industri hiburan tidak mengenal cinta.

Secara relatif, godaan di lingkaran ini terlalu besar.

Bahkan jika para wanita cantik itu hanya berdiri atau duduk diam di sana, kehadiran mereka tetap saja merupakan sebuah godaan bagi orang-orang di sekitarnya.

Bukannya wanita cantik di luar sana sedikit; justru wanita cantik di masyarakat umum jauh lebih banyak dan lebih menonjol.

Hanya saja mereka tersebar di berbagai bidang dan tempat yang berbeda.

Sebagai seseorang yang berkecimpung di dunia ini, Wang Zi'an mau tak mau akan sering bersentuhan dengan banyak wanita yang tingkat kecantikan visualnya jauh lebih tinggi daripada bidang-bidang lainnya.

Di rumah, saat tidak sedang berduaan secara khusus dengan Ivanka atau yang lainnya, sisi gelap di dalam hati Wang Zi'an masih bisa diredam dengan sangat baik.

Namun malam ini, ia merasa jika hal itu dibiarkan terus, ia tidak akan sanggup lagi menahannya.

Jika ia tidak segera mengusir Hiraka Ryuo, cepat atau lambat masalah akan timbul.

Sinyal yang dipancarkan oleh gadis itu begitu kentara, dan betapa pun rendahnya kepekaan emosional Wang Zi'an, ia tetap dapat menangkapnya dengan sangat jelas.

"Tiansan, sepertinya dia benar-benar sudah tidak menyukai perempuan lagi." Sesampainya di kamarnya, Hiraka Ryuo mengirim pesan kepada Ivanka dengan perasaan cemas.

Beberapa waktu lalu, Ivanka sempat mengungkapkan kecurigaannya ini kepada Hiraka Ryuo.

"Ah?" Ivanka yang belum tidur dan sedang menunggu kabar langsung merasa semakin panik begitu menerima pesan itu.

"Kalian berdua benar-benar tidak pernah melakukannya?" Hiraka Ryuo mengirim pesan untuk bertanya kepada Ivanka.

Ivanka menjawab dengan nada sangat frustrasi, "Belum pernah, bahkan sebenarnya dia tidak pernah menyatakan cinta padaku."

"Ah?" Kecemasan Hiraka Ryuo semakin menjadi-jadi.

Dalam urusan percintaan, menaklukkan seorang pria adalah hal yang paling mustahil untuk dilakukan jika memang tidak ada ketertarikan.

Ibarat seekor anjing yang terbiasa makan daging dan tulang, jika kau memberinya rumput, ia tentu tidak akan mau memakannya.

"Dulu saat bersama Tiansan, apa kau yakin dia menyukai wanita?" Ivanka balik bertanya kepada Hiraka Ryuo.

"Ya, aku yakin, seratus persen yakin!" tegas Hiraka Ryuo.

Ivanka lantas mengembuskan napas lega. "Kalau begitu, pasti karena hantaman dan tekanan yang diterimanya dalam dua atau tiga tahun terakhir ini yang memicu gangguan psikologis padanya, bukan bawaan sejak lahir. Jadi, dia masih bisa diselamatkan."

"Akan tetapi, Tiansan sekarang sepertinya tidak menyukai wanita bertubuh tinggi sepertimu, dan juga tidak menyukai yang seperti aku. Entah kalau gadis seperti Eika, apakah bisa membuatnya berubah pikiran," ucap Hiraka Ryuo sambil teringat pada sahabat masa kecilnya itu.