Bab Empat Puluh Lima: Segala Urusan Mereda, Berakhir Sepenuhnya
Melepas kepergian para pembawa rezeki itu, Lin Yu menatap sekte yang kini porak-poranda. Ia tidak lagi berminat untuk berlama-lama di sana, bahkan sekadar tempat untuk beristirahat pun tidak tersisa.
"Sudah waktunya, kita juga harus pergi."
Lin Yu memandang Qing Feng dan berkata santai.
"Kurasa kau juga ingin segera membagikan kebahagiaan ini kepada seseorang."
"Soal organisasi pembunuh bayaran itu, kita selesaikan saja saat bertemu lagi nanti."
Beberapa hari ke depan ia pasti tidak bisa pergi ke mana-mana karena aliran dana dari berbagai sekte harus segera diurus.
"Baiklah, kita bertemu lagi di sini tujuh hari lagi."
Qing Feng mengangguk pada Lin Yu.
Meski ekspresi wajahnya masih tampak dingin, di lubuk hatinya, belum pernah ia begitu ingin menemui Mei Hua Shisan, muridnya, dan membagikan kabar baik ini kepadanya.
Lin Yu mengiyakan. Waktu tujuh hari sudah lebih dari cukup bagi sekte-sekte itu untuk mengirimkan uang kompensasi.
Berpamitan dengan Qing Feng, ia memerhatikan sosok pria itu yang mulai menjauh sambil membawa kepala pemimpin pembunuh bayaran, lalu mendesah pelan.
Terkadang, dunia yang menjunjung hukum rimba seperti ini memiliki keuntungannya sendiri, setidaknya seseorang bisa membalas budi dan dendam dengan tuntas.
Bayangkan jika hal itu terjadi di tempat seperti Pulau Jiwa Ayam, berjalan di jalanan sambil menjinjing sebuah kepala pasti akan menjadi pemandangan yang sangat mengerikan, tetapi di Negeri Xuanwu, hal itu tampaknya biasa saja.
'Mungkin aku memang lebih cocok dengan tempat seperti ini?'
Lin Yu tertawa kecil, terhibur oleh pemikirannya sendiri, lalu dalam sekejap sosoknya menghilang dari puncak bukit yang berantakan itu dan melesat turun menuju kota kecil di kaki gunung.
Sebelumnya, untuk mengantisipasi kemungkinan pemimpin pembunuh bayaran mendatangi sekte, Lin Yu telah memindahkan para murid dan Mei Hua Shiyin ke kota kecil itu untuk bersembunyi.
Ia pun tidak menutupi situasi pelik yang sedang mereka hadapi dari orang-orang tersebut.
Ketika Qing Feng datang sebelumnya dan menciptakan keributan besar, tidak seorang pun dari mereka yang bersuara, dan sejak saat itu Lin Yu sudah merasa kecewa pada mereka.
Kini adalah saat yang tepat untuk menyaring mereka dengan baik.
Jika mereka semua berniat pergi, itu pun tidak masalah, ia bisa merekrut murid-murid baru dari awal.
Bagaimanapun, teknik kultivasi yang akan ia gunakan di masa depan telah dimodifikasi dan hampir sepenuhnya berbeda dari ilmu dasar Sekte Burung Terbang.
Biarlah ia sendiri yang menjadi pendiri sekte baru itu!
Terbang turun dari gunung tidak membutuhkan waktu dua menit bagi Lin Yu. Diperkirakan pada saat ini Qing Feng, Pangeran Busuk, dan yang lainnya masih berjalan merayap menuruni lereng. Memiliki sayap benar-benar sangat cepat.
Bebas berbuat sesuka hati.
Setibanya di kota kecil, Lin Yu menyapu pandangannya ke sekeliling dari udara.
Para anggota sekte ditempatkan secara terpisah dalam beberapa kelompok, dan selain dirinya, tidak ada yang mengetahui lokasi satu sama lain.
Langkah ini diambil untuk memastikan tingkat keamanan tertentu.
Setidaknya, jika sesuatu yang buruk terjadi, mereka tidak akan tertangkap sekaligus dalam sekali sapuan.
Setelah mengamati sekeliling, Lin Yu merasa sedikit terkejut.
Ternyata tidak banyak murid yang melarikan diri dari tempat persembunyian yang telah ia sediakan.
Setelah berkeliling dan mengumpulkan mereka kembali, jumlah yang pergi ternyata hanya sekitar seperlima dari total keseluruhan.
'Masih bisa diterima.'
Lin Yu tidak terlalu pilih-pilih terhadap para murid ini.
Selama dirinya ada, Sekte Burung Terbang akan tetap berdiri. Bakat para anggota lainnya tidak menjadi hal yang ia pedulikan.
Setelah mengabsen para murid, menenangkan mereka agar bisa berkonsentrasi berkultivasi, serta memberi tahu bahwa masalah telah diselesaikan, Lin Yu berbalik dan melangkah menuju sebuah rumah warga di dalam kota kecil itu.
Itu adalah sebuah gang terpencil, dengan deretan rumah satu lantai beratap rendah yang berbaris di kedua sisi jalan.
Suasana di sana tampak sangat miskin.
Tak lama kemudian, langkah kaki Lin Yu berhenti di depan sebuah rumah kecil yang tampak biasa saja.
Ia mengulurkan tangan dan mengetuk pintu kayu itu dengan lembut.
"Tok, tok tok."
Tidak ada suara dari dalam, tetapi Lin Yu bisa merasakan kehadiran seseorang yang perlahan-lahan mendekat.
"Ini aku, semuanya sudah baik-baik saja."
Senyum terukir di wajah Lin Yu saat ia berbicara kepada sosok di balik pintu.
Mendengar suara Lin Yu, pintu kayu yang tipis itu langsung terbuka lebar, memperlihatkan sesosok wajah cantik yang dipenuhi rasa gembira.
"Lin Yu!"
Mei Hua Shiyin menatap pria di hadapannya dengan mata penuh keheranan dan sukacita. Tanpa ragu sedikit pun, ia langsung menghambur ke dalam pelukan pria itu.
Sepasang mata yang memikat itu tampak sedikit memerah, basah oleh genangan air mata.
"Syukurlah, kau baik-baik saja, syukurlah kau tidak kurang suatu apa pun..."
Mei Hua Shiyin selama ini tidak pernah suka mengekspresikan emosinya secara terlalu terang-terangan.
Kurangnya rasa aman membuat cara itu selalu membuatnya merasa seolah-olah sedang ditelanjangi di hadapan orang lain.
Oleh karena itu, ia paling terbiasa mengungkapkan perasaannya melalui cara-cara lain.
Sama seperti perilakunya yang kerap menggoda Lin Yu sehari-hari.
Selain Lin Yu, Mei Hua Shiyin tidak pernah memperlakukan orang lain dengan cara seperti itu.
Hanya saja hari ini, di detik ia melihat wajah Lin Yu, benteng pertahanan di dalam benaknya yang terus tegang akhirnya runtuh seketika.
Tidak ada yang tahu bagaimana ia melewati hari-hari ini, dan tidak ada yang tahu seberapa besar rasa takut yang menghantuinya setiap saat.
Ia tidak takut menghadapi organisasi pembunuh bayaran bersama Lin Yu, dan ia juga tidak takut bertarung sampai titik darah penghabisan, bahkan jika harus gugur karena kehabisan tenaga.
Setidaknya dengan begitu, ia mati di sisi orang yang dicintainya.
Namun, demi keselamatannya, Lin Yu justru dengan tegas mengirimnya pergi.
Di satu sisi ia ingin mati bersama kekasihnya, tetapi di sisi lain ia menyalahkan diri sendiri karena merasa tidak cukup kuat dan hanya akan menjadi beban.
Di tengah perasaan yang saling bertentangan itu, Mei Hua Shiyin ditinggalkan di kota kecil, setiap hari hanya bisa berdiri bagaikan batu pemandant suami, menatap ke arah Sekte Burung Terbang di puncak gunung dengan harapan melihat secercah tanda kehidupan.
Untungnya, segala kesulitan sebelumnya tidak sia-sia, dan kini ia akhirnya mendapatkan apa yang paling ia nantikan.
Namun, sebelum Mei Hua Shiyin sempat mencurahkan kerinduannya, saat masih berada dalam pelukan Lin Yu, ia mencium aroma bau darah dari tubuh pria itu.
"Kau terluka?!"
Mei Hua Shiyin mendadak mendongakkan kepalanya, wajah cantiknya dipenuhi kepanikan.
"A-aku akan pergi mencari tabib sekarang juga. Kau istirahatlah yang benar di sini, aku akan segera..."
Melihat Mei Hua Shiyin yang begitu khawatir hingga kehilangan akal sehatnya, Lin Yu tidak bisa menahan tawa.
Ia langsung mengulurkan tangan merangkul bagian belakang lutut wanita itu, mengangkat tubuhnya, lalu berjalan masuk ke dalam rumah sembari menendang pintu hingga tertutup.
"Apakah aku terluka parah atau tidak, bukankah aku sendiri yang lebih tahu?"
"Ini hanya luka luar biasa. Pergilah merebus air sebentar, aku ingin membersihkan diri, lalu mengoleskan obat dan membebatnya dengan perban."
Menurunkan Mei Hua Shiyin di atas tempat tidur, Lin Yu ingin membuktikan bahwa ucapannya benar, lalu mengulurkan tangan meraih bagian depan bajunya dan merobeknya.
Pakaian hitam ketat itu seketika hancur berkeping-keping dan berjatuhan ke lantai.
Tubuhnya yang tegap dan kokoh terpampang di hadapan Mei Hua Shiyin.
Meskipun ini bukan pertama kalinya melihatnya, rasa malu seorang gadis tetap saja ada.
Namun, Mei Hua Shiyin tidak memalingkan pandangannya karena malu, sebaliknya ia justru mengulurkan tangan dengan penuh rasa iba, menyentuh lembut satu demi satu luka di tubuh Lin Yu.
Luka-luka kecil itu sebagian besar diakibatkan oleh terjangan energi pedang saat ia bertarung sengit melawan pemimpin pembunuh bayaran.
Lawan bertarung dengan mempertaruhkan nyawa, jadi wajar saja jika ia menderita cedera tingkat ini.
Untungnya, seperti yang dikatakan Lin Yu, semua itu hanyalah luka luar, dan hanya itulah kerusakan yang mampu ditimbulkan oleh pemimpin pembunuh bayaran tersebut.