Bab 37: Mulutnya manis sekali, persis seperti sudah diolesi obat pencahar.
Di sisi lain, Su Wuyao keluar dari ruang kelas dan melirik ponselnya.
Sopir dari kediaman utama sudah menunggu di gerbang sekolah.
Su Wuyao menyimpan ponselnya dan hendak beranjak pergi, saat terdengar suara yang memanggilnya, "Kakak."
"Ada apa?"
Su Wuyao mendongak dan menatap Su Ruo yang berjalan ke arahnya.
"Kakak, bolehkah aku ikut denganmu mengunjungi Kakek?"
Su Wuyao menatapnya dengan heran, "Kau tidak tahu jalannya?"
Sudut bibir Su Ruo melengkung tipis, "Tentu saja tahu, hanya saja aku ingin pergi bersama Kakak."
Su Wuyao menjawab, "Oh, tidak bisa. Pergilah sendiri saja."
Su Ruo mengerucutkan bibir, suasana hatinya seketika meredup, "Apakah Kakak tidak suka aku pergi ke rumah Kakek?"
Nah, mulai lagi. Aroma kemunafikan yang pekat ini.
Belum sempat Su Wuyao menanggapi, terdengar suara seseorang yang membela di sampingnya, "Kamu ini sombong sekali. Kakek itu bukan milikmu seorang, kenapa tidak boleh membiarkan Ruo-ruo ikut?"
Su Wuyao tidak memedulikan orang tersebut, melainkan menatap Su Ruo lebih dulu, "Apakah nilai bahasa Indonesiamu hasil menyontek? Pemahamanmu begitu buruk, bagaimana bisa masuk ke kelas unggulan?"
Wajah Su Ruo menjadi kaku.
Tanpa menunggu lawan bicara membalas, Su Wuyao beralih menatap gadis yang tadi membela Su Ruo, "Kamu siapa?"
Gadis itu mendongakkan dagu, "Aku teman sekelas Su Ruo."
Su Wuyao menimpali, "Oh, kukira kau ibunya! Kenapa? Mengurusi urusan orang lain sampai sebegitunya, kalau ada truk pengangkut sampah lewat di depan rumahmu, apakah kau juga akan mengambil sendok untuk mencicipi rasanya?"
"Kenapa kau memaki orang?" Wajah gadis itu menghitam karena kesal.
Su Wuyao menjawab, "Maaf sekali ya, membuatmu tersinggung. Bicara saya memang tidak enak didengar, tidak seperti dirimu. Mulutmu saat bicara begitu manis, seperti habis diolesi obat pencahar."
"Pfft—" Terdengar suara tawa dari belakang.
Gadis itu menoleh dan melihat Shen Huaijing serta Zhou Mian yang baru saja keluar dari belakang Su Wuyao. Wajahnya memerah padam, ia menatap tajam ke arah Su Wuyao, lalu berbalik dan berlari pergi.
Mata Su Ruo berkedip, ia berpura-pura sedih dan berkata dengan nada tidak setuju, "Kakak, jika kau tidak ingin aku mengunjungi Kakek, tidak usah saja. Tapi kau tidak seharusnya bicara seperti itu pada temanku. Gadis itu perasaannya halus, bagaimana jika dia berpikiran pendek dan terjadi sesuatu?"
Su Wuyao menjawab, "Kalau berpikiran pendek, cari dokter. Kalau terjadi sesuatu, cari polisi. Kalau masih tidak bisa, transfer saja 500 padaku, aku yang akan mengurus pemakamannya."
Su Ruo terdiam.
Su Ruo tidak bisa memenangkan debat dengannya, akhirnya ia memasang wajah kecewa dan berbalik pergi.
"Kak Wu, keren!" Di belakang, Zhou Mian mengacungkan jempol ke arahnya.
Mulut Kak Wu ini daya rusaknya sebanding dengan AK-47, asal bicara, dan sasarannya tidak pandang bulu.
Su Wuyao tidak memedulikan mereka, ia melangkah menuju gerbang sekolah.
"Kak Wu, tunggu aku." Zhou Mian buru-buru mengejarnya.
Su Wuyao bertanya, "Kenapa? Kau juga mau ikut mengunjungi kakekku?"
Zhou Mian tertawa kecil, "Urusan berkunjung ke rumah kakek nanti saja. Apa kau punya waktu? Aku traktir minum teh susu, sekalian bicara soal bisnis besar kita yang bernilai ratusan juta?"
Su Wuyao menjawab, "Tidak ada waktu!"
Zhou Mian tertegun.
Bukannya, bisnis besar bernilai ratusan juta itu tidak layak mendapatkan sedikit saja waktunya?
Su Wuyao berkata, "Aku benar-benar ada urusan!"
"Tidak apa-apa, aku punya banyak waktu. Kau mau ke mana? Aku temani, kita bisa mengobrol di jalan," bujuk Zhou Mian pantang menyerah.
Su Wuyao meliriknya, "Terserah kau saja kalau mau ikut!"
Sopir sudah menunggu di gerbang sekolah.
Setelah naik ke dalam mobil, Su Wuyao memberi perintah pada sopirnya, "Jangan pulang dulu, pergi ke pasar barang antik."