Bab 32: Ketulusan hati boleh diberikan, uang tidak.
“Baiklah! Tapi, di mana kamarku?”
Su Wuyiao bukanlah orang yang suka mengorek sesuatu sampai ke akar-akarnya. Karena orang itu tidak menjelaskan, ia pun tidak melanjutkan pertanyaannya.
Kepala pelayan memanggil seorang pelayan untuk mengantar Su Wuyiao melihat kamarnya, sementara ia sendiri pergi ke ruang kerja sang kakek.
Setelah melaporkan hal itu kepada sang kakek, lelaki tua itu mengernyitkan alis dan menyatakan bahwa ia sudah mengerti.
“Nanti suruh seseorang mengantarkan beberapa set pakaian lagi. Cucu perempuan keluarga Su tidak mungkin sampai tidak memiliki beberapa pakaian yang pantas.”
“Baik!”
Sang kakek menunduk menatap tulisan di atas meja. Semakin lama dipandang, semakin ia menyukainya. Ia lalu kembali memberi instruksi kepada kepala pelayan, “Sebentar lagi bawa tulisan ini untuk dibingkai, lalu gantungkan di ruang kerjaku.”
“Saya akan segera mengurusnya.”
Kepala pelayan pun melangkah maju sesuai perintah. Dengan sangat hati-hati, ia menggulung dan menyimpan tulisan itu, bersiap membawanya untuk dibingkai.
Tiba-tiba, pandangannya jatuh pada selembar tulisan lain yang sebelumnya dibuat Su Wuyiao.
“Eh? Kenapa ini terlihat seperti jimat?”
“Jimat?” Sang kakek mengangkat kepala dan menatapnya.
Kepala pelayan menunjuk lembaran itu. “Dulu cucu kecil saya sering menangis pada malam hari, jadi saya membawanya menemui seorang guru besar. Beliau menggambar jimat keselamatan untuknya. Bentuknya tampak cukup mirip dengan yang ini.”
Sang kakek kembali memperhatikan “tulisan” itu dengan saksama.
Sebelumnya ia mengira gadis itu hanya mencoret-coret sembarangan. Namun, setelah melihatnya lagi, ia menyadari bahwa gadis itu mengawali goresannya dengan begitu alami dan menggerakkan kuas dengan lancar. Meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya digambar gadis itu, di dalamnya terkandung pesona kaligrafi. Semakin lama dipandang, entah mengapa tubuh dan pikirannya terasa semakin segar.
Sang kakek terdiam sejenak sebelum berkata, “Simpan juga yang ini. Hati-hati, jangan sampai rusak.”
Su Wuyiao melihat kamar yang telah disiapkan Kakek Su untuknya. Kamar itu luas dan lapang, jauh lebih besar daripada kamarnya sebelumnya di kediaman keluarga cabang kedua.
Kediaman cabang kedua memiliki tiga orang anak, dan kamar-kamar terbaik sudah lama mereka tempati.
Selain itu, Su Ruo juga memiliki ruang musik dan ruang dansa pribadi. Ketika Su Wuyiao tiba-tiba kembali, ia hanya bisa ditempatkan di loteng—sempit, kecil, dan bentuknya tidak beraturan. Satu-satunya kelebihan kamar itu barangkali hanyalah ketenangannya.
Setelah melihat kamar yang disiapkan sang kakek untuknya, Su Wuyiao pun tahu betapa tidak diinginkannya ia oleh kedua orang tua yang hanya berstatus sebagai orang tuanya itu.
Ia mengamati kamar tersebut sekilas, meletakkan barang-barangnya, lalu turun ke lantai bawah.
Kebetulan, ia melihat seorang pelayan keluarga Su mendorong sebuah gerobak kecil berisi setumpuk cabang pohon persik yang telah dipangkas dari halaman.
“Tunggu sebentar.”
Su Wuyiao menghentikan pelayan itu, lalu menunjuk cabang-cabang persik liar di dalam gerobak. “Dari mana asalnya?”
“Itu berasal dari sebatang pohon persik liar yang tumbuh di halaman belakang rumah kami. Tuan Besar merasa pohon itu memiliki keindahan alami, jadi ia membiarkannya tetap tumbuh. Namun, beberapa waktu lalu pohon itu tersambar petir. Kami tidak tahu apakah masih bisa bertahan hidup, jadi para pelayan memangkasnya,” jawab kepala pelayan, yang suaranya terdengar dari belakang Su Wuyiao.
“Bolehkah aku mengambilnya?” tanya Su Wuyiao sambil menunjuk cabang-cabang persik yang telah dipangkas.
Itu adalah kayu yang tersambar petir, bahkan berasal dari pohon persik liar.
Khasiat penolak bala yang dimilikinya benar-benar luar biasa.
“Tentu saja boleh. Namun, untuk apa Nona Cucu menginginkannya?”
“Aku ingin membuat sesuatu untuk Kakek.”
“Dengan kayu ini?” Kepala pelayan tampak terkejut.
“Benar.” Su Wuyiao mengangguk. “Dulu aku pernah belajar mengukir. Aku ingin mengukir sebuah benda kecil untuk Kakek, dan kayu ini sangat cocok. Tapi, Kakek tidak akan membencinya hanya karena kayu ini tidak berharga, kan?”
“Tentu saja tidak. Niat Nona Cucu saja sudah sangat berarti. Apa pun yang Nona berikan, Tuan Besar pasti akan sangat senang.” Kepala pelayan menghiburnya dengan senyum hangat.
Dengan usia dan kedudukan sang kakek, benda berharga apa yang belum pernah ia lihat? Yang paling penting justru ketulusan di balik pemberian itu.
“Kalau begitu, syukurlah!”