Bab 23 Dia adalah Sosok yang Penuh Pembangkangan
“Sudah kubilang, seharusnya aku tidak menjemputmu kembali. Baru berapa hari di sini, kau sudah membuat masalah sebesar ini.”
Ibu Su berbicara dengan amarah yang kian meluap, sorot matanya seolah memancarkan api yang nyata. Akhirnya, ia berkata kepada gadis itu, “Mulai besok, kau tidak perlu lagi pergi ke sekolah. Aku akan segera mengurus kepindahanmu.”
Meskipun Su Wuyao tidak terlalu peduli di mana ia harus bersekolah, ia memiliki sifat yang sangat keras kepala. Semakin orang lain melarangnya melakukan sesuatu, semakin ia ingin melakukannya. Terlebih lagi, ia merasa SMA Satu cukup baik dan belum ingin pindah saat ini.
Ia menatap Ibu Su dan mengingatkan, “Jika aku pindah sekolah, apa kalian tidak takut dia akan melampiaskan balas dendamnya kepada orang lain? Misalnya, adikku tersayang?”
Mendengar itu, Ibu Su sontak tenang dan menatap Su Ruo dengan cemas, “Bagaimana kalau kau juga pindah sekolah saja, Ruo-ruo?”
“Tidak bisa!”
Wajah Su Ruo menegang seketika, ia segera menolak. Ia hanya ingin menyingkirkan Su Wuyao dari SMA Satu, bukan berarti ia sendiri ingin pergi. Menyadari reaksinya yang terlalu berlebihan, ia segera mencari alasan, “Ibu, aku tidak ingin pindah. Ibu tahu sendiri, kelas unggulan di SMA Satu adalah yang terbaik di seluruh Kota Hai. Sulit bagiku untuk bisa masuk ke sana, aku tidak ingin melewatkan kesempatan yang begitu berharga.”
“Lagi pula, Tuan Muda Shen bukanlah orang yang tidak masuk akal. Aku yakin dia tidak akan melampiaskan ketidaksukaannya pada Kakak kepadaku.”
Su Wuyao menyela dengan santai, “Belum tentu. Bukankah tadi kau sendiri yang bilang kalau dia adalah orang yang pendendam? Kalau dia tidak bisa menemukanku, bukankah dia akan mencarimu? Lagipula, kau baru saja mempertontonkan drama persaudaraan yang manis denganku di depannya hari ini. Kalau aku jadi dia, saat tidak menemukan target utamanya, bukankah aku akan mencari orang yang paling dekat dengannya?”
Su Ruo menggigit bibir bawahnya, lalu mendongak dengan ekspresi seolah sedang diperlakukan tidak adil, “Kak, aku tahu masuk SMA Satu mungkin tidak ada artinya bagimu, tapi bagiku itu sangat penting.”
Kata-kata itu terdengar seolah-olah Su Wuyao sengaja ingin mengusirnya dari sekolah.
—
Di sisi lain, kediaman keluarga Zhou.
Begitu melangkah masuk, Zhou Mian melihat ayahnya sedang duduk di ruang tamu.
“Ayah, bagaimana perasaan Ayah setelah menggunakan jimat yang kuberi kemarin?”
“Jimat apa?”
Oh, Ayah Zhou baru teringat. Tadi malam putranya pulang dan memberikan selembar jimat, tetapi karena terburu-buru pergi untuk urusan bisnis, ia tidak terlalu memikirkannya dan langsung memasukkannya ke dalam saku pakaiannya.
Namun, saat jamuan makan malam tadi malam, ia menemani klien minum cukup banyak. Biasanya, karena toleransi alkoholnya yang rendah, ia selalu harus dibopong pulang oleh asistennya setiap kali ada jamuan. Namun semalam, ia justru merasa semakin sadar saat terus minum, hingga akhirnya ia berhasil membuat kliennya tumbang lebih dulu. Ia sempat mengira daya tahan tubuhnya terhadap alkohol telah meningkat.
Mungkinkah itu efek dari jimat tersebut?
“Kemarin kau bilang itu jimat apa?” Ayah Zhou mencoba mengingat-ingat.
Zhou Mian mengingatkannya, “Jimat penyegar pikiran.”
“Benar, benar! Nak, apa kau masih punya jimat itu?” Jimat semalam tertinggal di pakaian yang ia ganti, kemungkinan besar sudah hilang. Padahal, nanti malam ia masih ada jamuan lagi dan ingin mengujinya sekali lagi.
“Masih ada, tapi persediaanku tidak banyak. Paling banyak aku hanya bisa memberikan dua lembar lagi untuk Ayah!” Bukan karena ia pelit, tetapi jika diberikan terlalu banyak, nilai dari jimat itu tidak akan terlihat.
Zhou Mian menambahkan, “Ayah tahu sendiri, jimat dari sang ahli biasanya sangat sulit didapatkan meski dengan harga mahal. Aku pun mendapatkannya karena kebetulan saja.”
Semua orang tahu prinsip bahwa barang yang langka itu berharga! Selain itu, jika terlalu murah, ia tidak bisa menunjukkan bakti dan perhatiannya kepada sang ayah.