Bab 13: Jika Tak Bisa Akur, Sebaiknya Lebih Sering Mencari Penyebab dalam Diri Sendiri
Halaman (1/3)
Su Ruo berkata, “Hari ini hari pertama masuk sekolah. Aku khawatir Kakak belum terbiasa setelah baru datang, jadi aku sengaja kemari untuk melihat keadaanmu.”
Su Wuyao menarik lengannya dari genggaman gadis itu. “Oh, kalau begitu kau bisa pulang. Aku cukup terbiasa.”
Su Ruo tampaknya sudah terbiasa dengan sikap Su Wuyao yang dingin dan acuh tak acuh. Mendengar itu, wajahnya tidak berubah sedikit pun. “Syukurlah. Di kelas 13 juga ada beberapa teman sekolahku dulu. Kalau Kakak tidak bisa bergaul dengan yang lain, aku bisa membantu menanyakannya.”
“Tidak perlu. Aku orangnya mudah diajak bergaul. Kalau masih tidak bisa akur denganku, kusarankan mereka lebih banyak mencari masalahnya sendiri.”
Senyum Su Ruo membeku sesaat. Meskipun tahu bahwa cara berpikir lawan bicaranya sering kali melompat ke sana kemari dan sesekali melontarkan ucapan yang sulit ditanggapi orang lain, ia tetap saja kadang dibuat tercekat oleh kata-kata gadis itu.
Tentu saja, hanya sesaat. Setelah itu, ekspresinya kembali seperti semula.
“Hehe, Kakak benar-benar pandai bercanda. Kita semua murid baru, jadi wajar kalau ada saat-saat ketika kepribadian kita tidak cocok atau pendapat kita berbeda. Kakak tidak boleh bersikap seperti di rumah. Kakak harus belajar bergaul dengan baik bersama semua orang.”
“Ucapan Kakak tadi, cukup katakan di depanku saja. Jangan mengatakannya di depan orang lain.”
“Kenapa tidak boleh? Lagi pula, aku tidak sedang bercanda denganmu. Dalam hidup, kita harus memperluas sudut pandang. Kalau menghadapi masalah, lebih baik mencari penyebabnya dari orang lain, lebih banyak mencurigai orang lain, dan lebih sedikit menyalahkan diri sendiri. Kalau aku melakukan kesalahan, berarti orang lainlah yang salah. Kalau aku membuat orang lain muak dan aku merasa senang, itu urusanku. Kalau orang lain membuatku muak, berarti dia yang sakit. Jangan terlalu sering bertanya kepada diri sendiri kenapa, tapi lebih sering tanyakan kepada orang lain: memangnya kenapa?”
Su Ruo terdiam.
Untuk sesaat, ekspresi Su Ruo tampak aneh. Ia tidak tahu harus berkata apa.
Bagaimana bisa seseorang mengucapkan kata-kata setebal muka itu tanpa sedikit pun merasa terbebani secara psikologis?
Pantas saja dia dibesarkan di panti asuhan—benar-benar kurang didikan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Benar-benar kasar dan tidak beradab.
Namun, itu juga bagus. Setelah gadis itu menyinggung semua orang di sekitarnya, Su Ruo bahkan tidak perlu melakukan apa pun. Gadis itu akan tersingkir dengan sendirinya dari Haicheng dan keluarga Su dalam keadaan mengenaskan.
Lalu kenapa kalau dia anak kandung?
Keluarga Su sama sekali tidak mungkin membiarkan seseorang yang memusuhi semua orang dan terus mendatangkan masalah bagi keluarga tetap tinggal di sana.
“Sudahlah, kau pulang saja.” Su Wuyao merasa tidak ada lagi yang perlu dibicarakan dengannya. Ia berbalik dan hendak kembali ke kelas.
“Kakak…” Namun, Su Ruo kembali memanggilnya.
Su Wuyao mengangkat pandangan. “Masih ada urusan?”
“Tidak ada. Aku hanya ingin mengingatkan Kakak.”
Su Ruo tersenyum. “Aku tahu Kakak orangnya terus terang dan tidak tahan diperlakukan tidak adil. Namun, ini Haicheng. Tempat ini mungkin agak berbeda dari tempat tinggal Kakak sebelumnya. Kakak sebaiknya lebih berhati-hati agar tidak mendatangkan masalah bagi keluarga. Terutama ada seseorang yang harus Kakak ingat untuk dijauhi.”
“Siapa?”
“Shen Huaijing!”
“Dia kenapa?”
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Su Ruo tersenyum kecil. “Tidak ada apa-apa. Aku hanya mendengar bahwa latar belakang keluarganya sangat kuat. Bahkan keluarga Su pun tidak mampu menyinggungnya.”
“Selain itu, temperamennya juga tidak terlalu baik. Pokoknya, kalau bisa tidak memancingnya, sebaiknya Kakak jangan memancingnya.”
“Oh, kau terlambat mengatakannya!” Dia sudah memancingnya!
Bukan hanya memancingnya, dia bahkan sudah menjebaknya.
“Apa?” Su Ruo tidak mendengar dengan jelas.
Su Wuyao melambaikan tangan. “Tidak apa-apa. Maksudku, terima kasih atas peringatanmu. Aku sudah mengerti. Aku mau masuk, kau juga cepat pulang.”
Meskipun tidak tahu apa tujuan gadis itu, niatnya jelas tidak mungkin benar-benar baik.
Cukup didengarkan saja. Tidak perlu menganggapnya terlalu serius.
Sorot mata Su Ruo berkilat. Ia menatap punggung Su Wuyao selama beberapa saat sebelum berbalik dan pergi.
Tadi seharusnya ia salah dengar. Baru hari pertama sekolah, tidak mungkin gadis itu sudah memiliki hubungan apa pun dengan Shen Huaijing.
Halaman (3/3)