11 Bertahan Hidup di Alam Liar
Halaman (1/3)
Yezizi tidak cepat saat merangkak dengan menendangkan kaki. Ia pun langsung meniarap di tanah, lalu berguling sekali demi sekali. Dengan cara itu, ia bergerak jauh lebih cepat daripada sebelumnya dan segera menjauh satu meter dari Serigala Perak.
Namun, baru saja agak menjauh, ia sudah dicolek dan ditarik kembali oleh Serigala Perak. Tubuh mungilnya didorong agar mendekati daging dan memakannya.
Yezizi kembali berguling. Baru saja menjauh sedikit, ia sudah ditarik kembali.
Menyadari anaknya tidak mau bekerja sama, Serigala Perak menekan tubuhnya dengan satu cakar, lalu menggigit serat daging dan memasukkannya ke dalam mulut si anak.
Yezizi tampak seperti kura-kura kecil yang terbalik telentang. Keempat anggota tubuhnya bergerak liar, tetapi bagaimanapun juga ia tidak bisa membalikkan badan.
Ia mengatupkan mulut rapat-rapat sambil menggoyangkan kepala ke kiri dan kanan.
Ia tidak mau makan daging mentah!
Tidak mau, tidak mau, tidak mau!
Serigala Perak merasakan penolakan kuat dari anaknya. Ia memiringkan kepala dengan bingung, tidak mengerti mengapa si anak tidak mau makan daging.
Menurut pengetahuannya, anak serigala seusia ini seharusnya sudah bisa mencabik daging sendiri. Karena menyadari anak itu belum tumbuh gigi, Serigala Perak dengan sabar merobek daging menjadi potongan-potongan kecil.
Serigala adalah hewan karnivora. Bahkan anak serigala pun sangat menyukai daging. Begitu sudah bisa makan daging, mereka tidak akan mau minum susu. Lalu mengapa anak ini begitu berbeda? Bahkan daging pun tidak disukainya?
Serigala Perak diliputi kekhawatiran. Anak ini sudah begitu rapuh, juga sangat pemilih dalam makanan. Jika terus begini, risikonya untuk mati sebelum besar akan semakin tinggi.
Dalam naluri seekor serigala, semakin banyak daging yang dimakan, semakin kuat tubuhnya. Hanya dengan menjadi lebih kuat seseorang bisa bertahan hidup.
Mungkinkah ia tidak pernah makan daging, sehingga belum tahu betapa lezatnya daging?
Bantalan cakar Serigala Perak bergeser dan menekan seluruh dahi Yezizi, termasuk bagian matanya. Dengan cakar yang lain, ia mengait dua serat daging, meletakkannya di mulut Yezizi, lalu melipat cakarnya dan mengusapkannya.
Pandangan Yezizi langsung gelap, dan ia tidak bisa menggelengkan kepala. Ia menggigit rapat-rapat, bersikeras tidak mau membuka mulut.
Bibir dan wajah anak itu terkena lapisan tipis darah dari daging. Jika tidak melihatnya secara saksama, orang mungkin mengira telah terjadi pembunuhan. Namun, anak manusia yang wajahnya belepotan darah itu justru menggerak-gerakkan tangan dan kakinya dengan riang di bawah cakar Serigala Perak.
Jangan makan daging mentah! Tidak mau, tidak mau, jangan makan!
Serigala Perak menekannya cukup lama, tetapi daging itu tidak masuk sedikit pun. Melihat betapa kuat penolakan anaknya dan menyadari bahwa ia benar-benar tidak bisa menyuapkannya, akhirnya ia menyerah.
Ia menatap anak yang berada di bawah cakarnya dengan cemas. Ukurannya jelas hampir sama dengan saudara-saudaranya. Serigala kecil Perak Satu sangat lincah dan sehat, bahkan makan paling banyak di antara serigala seusianya. Namun, anak ini begitu rapuh sampai-sampai tidak sanggup menahan satu cakar, tubuhnya pun jauh lebih kecil daripada saudara-saudaranya, dan ia malah pemilih soal makanan.
Bagaimana anak sekecil ini bisa tumbuh besar?
Serigala Perak benar-benar dibuat pusing oleh anaknya.
Keempat anggota tubuh Yezizi masih bergerak-gerak. Ia hanya berfokus untuk melawan. Tak lama kemudian, ia tiba-tiba merasa kepalanya menjadi ringan. Gunung Lima Jari di dahinya sudah disingkirkan, dan mulutnya pun tidak lagi terasa ditekan oleh sesuatu yang lengket.
Ia mengintip dengan membuka sedikit celah matanya. Sebelum sempat melihat jelas, ia buru-buru memejamkannya lagi. Setelah beberapa saat, ia kembali mengintip diam-diam. Kali ini ia melihat Serigala Perak menundukkan kepala dan menatapnya. Mata serigala itu jelas dipenuhi kekhawatiran.
“Uu—”
Yezizi tahu bahwa dirinya telah membuat sang serigala cemas. Namun, ia bukan anak serigala sungguhan, melainkan anak manusia. Ia benar-benar tidak sanggup menerima makan daging mentah, baik secara mental maupun fisik. Meskipun leluhur manusia pernah menjalani kehidupan dengan memakan daging mentah dan meminum darah, ia tidak ingin berevolusi mundur menjadi manusia purba!
Serigala Perak menundukkan kepala. Lidahnya menjilati pipi si anak, membersihkan seluruh noda merah dari daging yang tadi diusapkan ke wajahnya.
Anak kecil yang sebelumnya kotor itu kembali bersih dan putih.
Saat Serigala Perak berusaha menyuapi Yezizi daging, Perak Satu dan tiga anak serigala lainnya sudah selesai membagi habis hasil buruan.
Perut Perak Satu semakin membulat. Setiap kali berlari, perutnya bergoyang-goyang. Sungguh menggemaskan.
Ia berlari kembali ke sarang dan melolong dengan penuh semangat. Mata bulatnya langsung melihat setumpuk daging cincang di tepi sarang. Padahal perutnya sudah bulat kekenyangan, ia tetap memandang daging itu berulang kali dengan penuh keinginan, seolah belum puas dan masih ingin makan.
Halaman (1/3)
Halaman (2/3)
Pada akhirnya, daging itu tetap masuk ke perut Perak Satu. Saat makan, ia sesekali menoleh untuk melihat Yezizi. Jelas ia tahu bahwa tumpukan daging itu sebenarnya disiapkan untuk siapa.
Mata serigalanya dipenuhi rasa iba dan simpati.
Daging selezat itu tidak bisa dimakan. Adik serigala sungguh malang.
Yezizi tidak tahu apa yang dipikirkan Perak Satu. Karena tidak makan daging, ia hanya bisa minum susu. Saat itu ia sedang tengkurap di perut Serigala Perak, mengisap susu dengan nikmat, perut mungilnya naik turun.
======
Kawanan serigala baru kembali pada tengah malam.
Yezizi tidak tahu kapan mereka pergi. Namun, berdasarkan pengalaman sebelumnya, mereka biasanya beristirahat semalam lalu berangkat pagi-pagi keesokan harinya. Artinya, kali ini mereka pergi hampir lima hari.
Suara kawanan serigala membangunkan Yezizi. Serigala Perak bangkit tanpa suara dan meninggalkan sarang. Merasakan udara dingin, Yezizi memeluk Perak Satu erat-erat.
Gua itu gelap gulita. Penglihatannya tidak jelas dan ia hanya bisa melihat bayangan-bayangan hitam samar.
Yezizi menegakkan telinganya dan berusaha mendengarkan. Suara kawanan serigala tidak terlalu keras, tetapi dalam kesunyian tengah malam, suara sekecil apa pun terdengar berkali-kali lipat lebih jelas. Samar-samar ia mendengar lolongan penuh kegembiraan yang sengaja direndahkan, serta bunyi berat ketika hasil buruan diletakkan di tanah.
Yezizi menduga kawanan serigala memperoleh hasil buruan yang melimpah.
Ia benar-benar merasa senang. Semakin banyak makanan yang dimiliki kawanan itu, semakin besar peluang mereka untuk bertahan hidup.
Tak lama kemudian, sesosok raksasa yang lebih hitam daripada kegelapan berjalan mendekat tanpa suara. Yezizi sama sekali tidak takut. Ia bahkan memanggilnya dengan lolongan kecil, karena tahu bahwa itu adalah Induk Serigala.
Serigala Perak berbaring dan melingkari kedua anaknya. Yezizi, yang tadi masih merasa sedikit kedinginan, seketika kembali hangat.
Ia menggesekkan tubuh ke perut lembut Serigala Perak, lalu tertidur dengan tenang.
Namun, saat langit mulai terang, Yezizi terbangun karena kedinginan. Serigala Perak baru saja pergi, tetapi sarang yang hangat segera menjadi dingin.
Di dalam sarang hanya ada Yezizi dan Kak Serigala yang saling berpelukan dalam tidur. Ia menarik tangan dan kaki kecilnya yang semula terjulur ke luar, menyelipkannya ke dalam bulu tebal, lalu tidak lupa mencengkeram ekor Kak Serigala, berusaha menariknya agar lebih dekat.
Perak Satu tidak membuka mata. Ia hanya menggeser tubuhnya, hampir sepenuhnya menindih tubuh kecil Yezizi.
Barulah Yezizi kembali merasa hangat.
Ia memutar kepala. Wajahnya yang tidak tertutup bulu terasa dingin membeku.
Selama beberapa hari terakhir, Serigala Perak hanya tinggal di sarang dan menemani Yezizi selama tiga hari tanpa beranjak sedikit pun. Setelah memastikan bahwa anak itu sudah melewati masa paling rawan kematian, ia mulai keluar pagi dan pulang menjelang malam.
Memang tidak banyak buruan di sekitar wilayah sarang, tetapi Serigala Perak pergi lebih jauh. Meskipun tidak menemukan kawanan hewan buruan, ia tetap bisa mendapatkan satu atau dua ekor. Hewan-hewan itu kemudian menjadi makanan bagi anaknya.
Kawanan serigala juga sedang pergi saat ini.
Cuaca semakin dingin. Dalam satu malam saja, suhu turun beberapa derajat. Yezizi memperkirakan suhu saat itu tidak lebih dari lima belas derajat, dan di luar pasti lebih dingin lagi.
Ia sendiri sudah agak tidak tahan dengan suhu seperti ini. Jika terus turun, bagaimana ia bisa melewati musim dingin?
Yezizi terpaksa mengakui satu kenyataan: musim dingin baru saja dimulai.
Untungnya, setelah matahari terbit, suhu perlahan naik sedikit. Kali ini Yezizi menolak keinginan Kak Serigala yang ingin terus menggendongnya bermain.
Melihat adik serigala tidak mau turun bermain, Perak Satu tak kuasa menolak panggilan anak-anak serigala lainnya. Ia pun berlari kecil turun dan bermain bersama mereka.
Yezizi juga tidak menganggur di dalam sarang. Ia terus menggerakkan tangan dan kaki kecilnya, melatih kemampuan berguling, lalu merangkak dengan menendangkan kaki agar tubuhnya menjadi hangat.
Setelah melewati krisis kelaparan, menjaga kehangatan tubuh menjadi hal terpenting berikutnya baginya.
Yezizi telah menjelajahi seluruh bagian gua selama beberapa hari terakhir. Batu besar tempatnya berada dapat dikatakan sebagai lokasi terbaik: letaknya tinggi dan berada di bagian terdalam sarang.
Tubuh serigala ditutupi bulu tebal. Selama berada di dalam sarang, mereka dapat melewati musim dingin dengan aman. Karena itu, tidak ada perlengkapan penghangat apa pun di dalam gua.
Halaman (2/3)
Halaman (3/3)
Hal pertama yang terpikir olehnya adalah api. Namun, belum tentu ada kayu kering atau rumput kering di dalam gua, dan dengan tangan kecilnya, ia juga tidak mungkin menyalakan api dengan cara menggesekkan kayu.
Yezizi menatap kedua tangannya. Ia membuka kelima jari pendeknya lalu mengepalkannya kembali. Tenaganya lumayan, tetapi tetap tidak bisa melakukan banyak hal.
Mungkin karena sebelumnya ia terus-menerus sakit atau kelaparan, meskipun sudah berusaha makan, minum, dan berolahraga, tangannya masih tidak berisi. Namun, ia juga tidak sampai tinggal kulit dan tulang seperti orang yang kelaparan parah.
Menyalakan api dengan menggesekkan kayu hanya bisa dicoba setelah tubuhnya sedikit lebih besar. Yezizi memeras otak, tetapi akhirnya hanya bisa mengalihkan perhatian pada sarang.
Mungkinkah rumput kering ini ditenun menjadi selimut untuk menghangatkan tubuh?
Yezizi meniarap di dalam sarang, mengangkat kepala, lalu mencabut segenggam rumput kering. Sarang rumput yang baru saja dirapikan dan dipadatkan kembali menjadi berantakan.
Dengan perasaan bersalah, ia menepuk-nepuknya. Ia merasa Induk Serigala mungkin akan marah lagi saat pulang. Namun, demi menjaga kehangatan, dimarahi pun tidak apa-apa!
Saat masih kecil, Yezizi pernah belajar merajut. Memang bahan ini bukan benang wol dan ia juga tidak memiliki jarum panjang, tetapi merajut pada dasarnya memiliki prinsip yang sama. Ia sangat percaya diri. Ia mencabut helai demi helai rumput, lalu meluruskannya.
Yezizi tidak tahu rumput apa ini. Bentuknya tidak seperti daun kering yang lembut, lebih mirip akar daun. Setelah lama dijadikan alas sarang, rumput itu menjadi sangat lembut.
Ia menyusun beberapa helai secara vertikal, lalu menyilangkan helai lainnya secara horizontal.
Pada awalnya, jari-jarinya tidak terlalu menurut. Namun, setelah berusaha cukup lama, ia berhasil menyelipkan satu helai rumput.
Yezizi menyipitkan mata sambil tersenyum. Ternyata mudah sekali!
Ia tidak lagi memedulikan bahwa gerakannya mungkin tampak tidak sesuai dengan usianya. Bagaimanapun, di dalam sarang hanya ada dirinya seorang manusia. Tidak ada yang akan melihatnya. Kawanan serigala juga tidak akan mengerti apa yang dilakukannya, jadi keanehan itu tidak akan ketahuan.
Demi mendapatkan perlengkapan untuk menghangatkan diri, ia akan berjuang sekuat tenaga!
Hanya saja, mengerjakannya sambil meniarap ternyata sangat melelahkan. Ia harus terus-menerus mengangkat kepala. Yezizi tak henti-hentinya menggeliat dan mengubah posisi. Tiba-tiba ia menyadari bahwa dirinya sudah bisa duduk!
Kalau dipikir-pikir, itu memang masuk akal. Ia lahir pada tanggal dua Mei, dan sekarang musim dingin akan segera tiba. Sudah waktunya ia bisa duduk.
Karena terlalu bersemangat, tubuh Yezizi kehilangan keseimbangan. Ia jatuh telentang ke belakang, tangan dan kakinya terangkat di udara.
Ia meronta sebentar sebelum akhirnya bisa duduk kembali.
Yezizi merentangkan kedua kaki pendeknya. Ia mencondongkan kepala dan pusat berat tubuhnya ke depan. Karena tidak berhati-hati, tubuhnya terlalu condong dan ia kembali jatuh ke depan.
Yezizi: “...”
Ternyata duduk adalah pekerjaan yang membutuhkan keterampilan.
Setelah mencoba beberapa kali, akhirnya ia menemukan posisi dan sikap tubuh terbaik, lalu berhasil duduk dengan mantap.
Yezizi bersandar pada dinding batu. Di atas kedua kaki pendeknya terbentang tiga helai rumput yang telah ditenun miring dan berantakan sebagai awal selimut. Ia mengambil sehelai rumput lagi dan melanjutkan pekerjaannya.
Mungkin karena duduk membuatnya tidak lagi banyak bergerak, tak lama kemudian Yezizi mulai merasa kedinginan. Ia membungkus tubuhnya lebih rapat dengan selimut kecilnya yang kotor.
Sebelumnya, selimut kecil itu hanya dililitkan seperti rok, menutupi tubuhnya dari ketiak ke bawah. Kini ia turut membungkus kepalanya.
Salah satu sudut selimut kecil itu memiliki bentuk seperti tudung. Ia mengenakannya di kepala, lalu bersusah payah membungkus seluruh tubuhnya sampai rapat. Yang terlihat hanya wajah dan kedua tangan kecilnya.
Saat itu Yezizi merasa sangat bersyukur. Untung saja ia tidak dibuang dalam keadaan telanjang. Kalau begitu, ia pasti harus berlari-lari tanpa pakaian.
Yezizi sangat menghargai baju katun kecil dan selimut kecil yang dikenakannya. Jika tidak ada hal tak terduga, kedua benda itu akan menemaninya sampai ia keluar dari hutan belantara.
Halaman (3/3)